Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Kesel tingkat dewa



Setelah drama didalam kamar kedua sejoli yang masih bisa di sebut pengantin baru tersebut, kini keduanya telah berada di dalam mobil. Memecah keramaian jalanan ibukota yang nampak macet karena disebabkan jam menunjukkan waktu makan siang hingga membuat jalan yang padat kini bertambah macet total.


Maya yang sedari tadi diam di sepanjang perjalanan membuat Aaron gelisah apalagi tatapannya enggan melihat ke arahnya.


Dipanggilpun percuma sebab Maya tak sekalipun menyahutinya apalagi meliriknya.


Bukannya apa- apa Maya bertingkah seperti itu alasannya sangat simple, Yaitu terlalu kesal dengan tingkah Aaron yang seenak jidatnya memberi tanda semacam itu dilehernya apalagi di bagian depan meskipun rambutnya terurai sekalipun tak mampu menutupinya.


Dengan gaya beginilah sekarang Maya, rambut terutai dengan syal yang menutupi lehernya. Risih sebenarnya tapi mau bagaimana lagi jika tak begini dirinya sangat malu keluar rumah.


"Sayang.." Panggil Aaron yang kesekian kalinya namun Maya masih setia diam dan memandang keluar cendela.


"Yaudah kalau kamu gini terus kita putar balik aja." Ujar Aaron yang sudah kehabisan akal dengan diamnya istrinya.


"Ehhh jangan dong." Sergah Maya memegang lengan Aaron yang hendak memutar balik kemudinya.


"Kamu diem terus My, aku jadi pusing ini belum lagi macet, udaranya panas lagi." Timpal Aaron mengeluarkan segala unek- uneknya yang sedari tadi didiami ole Maya.


"Kamu gerah apalagi aku by, Udah kayak lontong nih. Gara- gara kamu aku jadi jelmaan lontong sayur." Sergah Maya juga mengeluarkan rasa dongkolnya yang sedari tadi dipendamnya.


"Haha... Lontong sayur. Kenapa gak sekalian aja kupang basah sayang." Tawa Aaron lepas dengan penuturan Maya yang kelewat lawaknya.


"Ihhh nyebelin malah di ledekin." Timpal Maya menggembungkan pipinya, Membuat Aaron semakin tertawa lepas dengan tingkah Maya.


"Makanya kamu kalau di kasih tau jangan ngeyel Hummy aku udah berapa kali bilang kalau aku gak suka lihat kamu pamerin tubuh kamu itu ke semua orang, Apa yang ada pada dirimu semuanya adalah milikku." Ujar Aaron memegang dagu sang istri, Biarlah Maya kesal padanya karena dirinya banyak melarang .


Bukan apa- apa Aaron melakukan itu, ia hanya takut apa yang menjadi milikknya dinikmati oleh pria lain sungguh posesiv sekali bukan.


Dalam hatinya Maya tersenyum bahagia kala Aaron mengucapkan kata- kata manis seperti itu di depannya, Meskipun dalam keadaan cemberut namun penuturan sangat melambungkan hatinya terbang ke angkasa.


"Iya, Janji deh gak bakal kayak gitu lagi." Ucap Maya dengan senyuman mempesonanya sembari menjulurkan jari kelingking ke arah Aaron.


Aaron menautkan jari kelingking itu dengan perasaan tak terhingga dimana wanitanya bisa memahami kehendaknya tanpa melawan.


Cupppppp....


Kecupan hangat mendarat sempurna di bibir Maya dengan lembutnya hinggaaa....


***Tinnnnnn....


tinnnnn...


tinnn....


"Woyy jalan.." Teriak seseorang pengemudi yang berada di belakang mobil Aaron***.


Aaron mengangkat jempolnya ketika kaca mobil dibukannya, Sekarang gantian Maya yang tak bisa menahan tawanya dengan tingkah Aaron yang kelabakan akibat bunyi klakson ditambah lagi dengan bunyi teriakan seseorang.


Sungguh lucu menurut Maya, Ketika melihat wajah pias Aaron yang hampir saja mencumbunya namun gagal sebab jalanan sudah lenggang.


"Terus ketawa, durhaka banget jadi istri." Ucap Aaron melirik sekilas ke arah Maya yang tengah tertawa lepas hingga muncul butiran kristal di sudut matanya.


"Sumpah kamu lucu banget." Sahut Maya di selingi tawanya.


"Seneng banget kayaknya kalau suaminya digituin hah." Timpal Aaron lagi berniat memojokkan Maya dengan ucapannya.


"Seneng dong, kapan lagi lihat seorang Aaron Addison yang berwibawa ini ketakutan kayak maling ketangkap basahh hahah." Ucap Maya kembali ketawa lepas.


"Berhenti tertawa sayang atau kamu tau sendiri akibatnya." Sahut Aaron yang mulai kesal dengan kejailan Maya. Niatnya memojokkan sang istri nah ini malah dirinya yang di jaili habis- habisan oleh istrinya sendiri.


"Gak ngaruh." Sergah Maya menghapus air mata yang sudah mengenang di sudut matanya.


Tanpa di duga Aaron mengeram mobilnya hingga bisa dilihat di aspalannya ban mobil Aaron tercetak sempurna di jalan itu, Untung saja jalanan sepi.


"By kamu gila." Sergah Maya terhuyung ke depan, untung saja dirinya tak lupa memakai saltbeltnya.


"Kamu nantang aku sayang." Ujar Aaron mncodongkan tubuhnya ke arah Maya dengan raut tak terbaca.


"Sana ah, Nanti dengar klakson lagi tau rasa kamu by." Sahut Maya mendorong dada bidang Aaron namun yang di dorong tak bergerak sedikitpun.


Ctakkkk.....


Tanpa aba- aba dengan mudahnya Aaron mengangkat tubuh Maya setelah dengan mudahnya membuka saltbeltnya.


Maya terpekik ketika tubuhnya seperti tengah terbang dan itupun ulah sang suami.


"By.." Panggil Maya ketika Aaron mendudukkan dirinya di atas pangkuannya.


"Apa hmmm.?" Tanya Aaron menenggelamkan kepalanya di dada sintal sang istri.


"By jangan gini, kapan sampeknya coba." Ungkap Maya menangkup wajah Aaron yang sudah berhasil di raihnya.


"Aku sudah menelvon Revan sayang, Dokter kandungan itu akan stay kapanpun kita datang." Sahut Aaron santai menggenggam tangan yang tengah menangkup wajahnya.


"Kamu nyebelin." Sahut Maya mencebikkan bibirnya.


Cupppp...


Aaron mencium sekilas bibir ranum sang istri dengan lembut. Ketika tak ada balasan dari sang istri, dirinya memagut dengan intens dan lembut.


Seakan terhipnotis dengan sentuhan Aaron, Akhirnya Maya mengalungkan tangannya dileher sang suami sembari sesekali membalas ******* dan decapan sang suami.


Aaron tersenyum kala dirinya merasakan sang istri terbawa suasana dengan sentuhannya. Semua itu bisa di lihat dari cara Maya membalas ciumannya lebih agresif dari Aaron, Dan Aaron sangat menyukai hal itu.


Entah bagaiman ceritanya dress yang di pakai Maya sudah melorot ke bawah bersamaan dengan syal yang digunakannya tak tau rimbanya.


"By Mmmpptt.." Seru Maya mengeratkan pelukannya di leher Aaron kala Aaron menjelajahi leher sang istri.


"Nikmatilah sayang, Ini hukumanmu karna udah menertawakanku." Ucap Aaron dengan suara beratnya.


Penjelajahannya semakin ke bawah tepat di gundukan yang membuatnya selalu candu untuk menyesapnya dan mempermainkannya.


"Ouhhh by..." Racaunya semakin menenggelankan wajah sang suami di area tersebut.


Aaron sangat senang jika sentuhannya selalu dinikmati oleh sang istri walau awalnya harus memaksa namun jika sudah merasakan sentuhan dari Aaron, Maya selalu tak mampu menolak.


"Kamu menikmatinya sayang?." Tanya Aaron dengan suara seraknya.


"By sekarang by, aku mohon." Pinta Maya dengan wajah memelas sehingga membuat Aaron tak mampu menolaknya dan sebenarnya dirinya juga tak tahan dengan hasrat yang sudah bergejolak pada dirinya. Ingin menuntaskan, tetapi menunggu sang istri yang memintanya.


Aaron memencet tombol di sebelah kursinya agar tempat yang ditempati untuk bercinta terasa nyaman meski didalam mobil.


Dengan di desain sedemikian rupa dengan satu kali pencet tombol tersebut akan merubah kursi yang di tempatinya menjadi ranjang yang lumayan untuk dekorasi didalam mobil.


"By." Ucap Maya tercengang dengan keunikan mobil suaminya.


Aaron membuka celananya tanpa pakaian atasanya dan tanpa menunggu lama ia menghantam milik Maya yang masih dalam mode terkejutnya hingga membuatnya terpekik dengan ulah Aaron.


"Akhhh..." Pekikan Maya ketika benda tumpul itu menyeruak ke dalam intinya, Dirinya sendiri tak sadar lagi jika ****** ******** hilang entah kemana.


Untung Aaron memberhentikan mobilnya di jalan yang sangat sepi dan jauh dari pemukiman warga, Kalau tidak bisa diamuk masa mereka berdua dengan tindakan tak senonoh itu meskipun sudah menikah sekalipun.