
Pagi menjelang, Maya sebenarnya enggan masuk kantor karena kondisi Tiara belum sembuh total. Beberapa kali Maya mengajak Tiara untuk berobat kerumah sakit selalu saja ditolaknya. Akhirnya Maya menyerah dengan keras kepala yang dimiliki Tiara. Meskipun begitu Maya menyiapkan makanan untuk Tiara takutnya badannyabmasih lemah.
Maya turun dari lift menuju basement apertement, Ia menunggu taxi online yang sudah dipesannya. Namun sebelum taxi online tiba, Sebuah mobil lamborgini berhenti didepannya. Ya , Dia Aaron Adisson atasan sekaligus kekasih gelapnya.
''Maaf pak saya sudah memesan taxi online dan sebentar lagi nyampek.'' Ucap Maya ketika Aaron sudah membuka pintu mobilnya. Maya sengaja memanggil sang kekasih bapak sebab ada security yang melihat mereka ,Karna setau mereka Noahlah kekasih Maya bukan Aaron.
Aaron yang mengerti tentang kondisi saat ini hanya bisa mendesah frustasi.
''Cancel aja. Bos kamu sudah nyampek disini juga, Gak menghargai sekali kamu ini.'' Timpal Aaron. Maya menuruti kemauan sang atasan, Mengotak- atik ponsel pintarnya.
''Udah pak.'' Jelas Maya ketika dia sudah membatalkan taxi online yang sudah di pesannya.
Maya melangkahkan kakinya hendak memasuki mobil sang atasan namun ada sebuah tangan yang mencekalnya terlebih dulu.
''Noah..'' Maya membulatkan matanya.
''Ngapain masuk mobil dia.?Dan lu ,gua udah peringati lu berapa kali hah jauhi cewek gua. Apa lu masih gak ngerti juga.'' Tanya Noah penuh emosi. Dia menunjuk- nunjuk tepat di depan wajah Aaron.
''Noah udah ya, Aku yang salah . Pak Aaron ngembalikan notebook aku yang tertinggal dimobilnya.'' Bohong Maya. Ia takut Noah semakin emosi. Maya membawa Noah ke mobilnya dan ia juga masuk ke dalam mobil Noah. Untung dia membawa note book kalau enggak mungkin Noah udah curiga.
''Awas lu .'' Sebelum Noah masuk ke dalam mobilnya.
Aaron hanya bisa mengeram frustasi, Ia juga masuk ke dalam mobilnya melaju ke arah kantor. Setiba dikantor Aaron turun dengan wajah dinginnya, Karyawan banyak yang menyapa tapi tak dihiraukannya. Hatinya sakit melihat sang gadis lebih memilih rivalnya daripada dirinya.
''Aaaa Bajingannn'' Aaron menggebrak meja kerjanya dengan penuh emosi . Ia mengambil gagang telvon menghubungi seseorang.
Tuuuuttttt....
📞Kalau dia udah datang suruh keruanganku
📞 Siapa Bos???
📞Wanitaku
📞Oke.
tuuuutttttt.....
Aaron berjalan mondar- mandir di dekat cendela, Terpampang jelas dari sana pemukiman penduduk dan jalan raya yang begitu ramai.
'' Kemana Noah membawa Maya pergi kenapa sampai jam segini masih belum sampai juga. Segitu leletnya dia membawa Mobi'' Batin Aaron .
Disisi lain Maya yang baru sampai segera berlari ke menuju lift, Dengan nafas tersenggal- senggal. Merutuki lift menurutnya semakin lambat saja, Ia melihat jam tangannya dan dilihatnya dia hanya terlambat 3 menit mungkin Aaron bisa memakluminya.
Rambut yang lumayan kusut namun tak mengurangi kecantikannya, Berakaian sopan namu tetap elegan itulah Maya Afriaresa.
Ketika lift terbuka, Ia agak tergesa menuju ruangannya . Namun langkahnya terhenti ketika suara Ben mengejutkan dirinya.
''May dipanggil bos tuh diruangannya.'' Ucap Ben.
''Oh oke makasih ya Ben.'' Sahut Maya semabari tersenyum.
''Hati- hati ya kayaknya si bos lagi bad mood.'' Timpal Ben.
''Is Oke.'' Jawab Maya membentuk jarinya seerti huruf O👌.
Toookk..tokkk.
''Masuk'' Suara bariton Aaron membuat jantungnya merinding. Ia takut kejadian tadi pagi yang membuat mood Aaron memburuk.
''Ya Tuhan apa lagi ini. Apa aku mengambil jalan yang salah.''Batin Maya mengelus dadanya.
Maya menekan handle pintu hingga pintunya terbuka, Ia masuk dan tak menutup kembali pintunya takutnya Aaron akan macam- macam seperti di mobil tempo hari. Meskipun menikmatinya namun ia takut penyesalan yang selalu berada diakhir.
Aaron berdiri didepan cendela membelakangi Maya yang berdiri tepak di belakangnya.
''Maaf pak. Ada apa memanggil saya.'' Tanya Maya, Ia terlalu takut melihat Aaron meskipun ia membelakanginya ,Lebih baik menunduk menurutnya.
''Sudah jam berapa ini'' Aaron balik bertanya.
''Jam 7 lebih 4 menit pak.'' Jawab Maya.
''Lalu???'' Tanya Aaron lagi. Ia berbalik melihat wanita yang sedang menunduk. Aaron melihat dengan jelas kalau sang wanita sedang gugup. Ia ingat betul jika sang kekasih gugup ia akan meremas jarinya dan itu dilakukannya sekarang.
''Saya terlambat 4 menit.'' Sahut Maya masih setia menunduk.
''Kamu ingat peraturan dikantor ini.'' Aaron memasukkan tangannya kesakunya dan berjalan menuju pintu. Ia menutup pintu itu lalu menguncinya.
'' Ingat pak. Maaf saya tidak akan mengulanginya lagi.'' Sahut Maya lagi. Aaron kini berada di belakang Maya tak ada jarak di antara mereka namun Maya masih tak menyadari karna ia masih setia memandang tangannya yang ia remas.
''Jadi????'' Ujar Aaron menyila rambut Maya dan Memeluknya dari belakang. Maya hanya diam namun jantungnya berdetak tak karuan.
''hukumannya adalah kamu harus menuruti semua keinginanku sayang.'' Bisik Aaron ditelinga Maya dan tak lupa ia menggigit cuping itu dengan gemas. Membuat Maya menahan geli yang luar biasa.
'' A jangan gini deh. ini kantor.'' Maya melepaskan pelukannya, Ia sudah tak tahan dengan tingkah bosnya itu.
''Dari mana aja tadi sama Noah''Tanya Aaron kini ia mendudukkan dirinya disofa.
''Gak kemana cuma jalanannya yang macet. Jadi telat.''Ungkap Maya.
''Aku cemburu honey''Timpal Aaron memeluk Maya dari samping.
'' Aku gak ngapa-ngapain sama Noah A.'' Sahut Maya.
''Tapi kamu pegangan'' Ujar Aaron. Ia memandang lekat wajah Maya.
'' Cuma itu aja'' Timpal Maya.
''Udah ya aku kerja dulu. Oiya nanti malem aku ingin pulang cepat soalnya Tiara masih belum fit. Aku takut terjadi apa- apa sama dia.'' Sahut Maya .
'' Iya gak apa- apa. Nanti aku antar biar kamu hemat ongkos.''
''Terserah Aa aja. Aku keluar dulu.'' Maya hendak beranjak dari sofa dengan gesit Aaron menarik pinggangnya dan akhirnya Maya terjatuh dipangkuan Aaron.
''Ammpttt'' Aaron dengan ganasnya mencium mesra sang wanita. Ia tak memberikan ruang untuk sang wanita berbicara. Aaron sangat candu terhadap bibir manis sang kekasih, ingin selalu merasakannya. Tangan Maya mengalung diantara leher Aaron, Ia sangat menikmati ciuman itu meski dalam keadaan sadar ia menolak namun ketika sudah mendapat serangan dari sang pria yang dicintainya ia tak menolak.
Tangan Aaron berusaha membuka kancing kemeja Maya. Hasratnya semakin tak terkendalikan lagi ketika ia menjelajahi leher Maya dan hal itu membuat Maya mendesah. Sungguh sangat \*\*\*\* menurut pendengaran Aaron. Setelah berhasil membuka kancing kemeja Maya, Aaron semakin turun menenggelamkan wajahnya di antara gunung kembar milik Maya. Kenapa disebut gunung karna ukurannya membuat mata bisa merem melek.
Aaron terus mengulum gunung satunya dan yang satunya ia remas dengan gemas. Maya semakin menggelinjang disaat Aaron menghisapnya dengan kuat seperti bayi yang kehausan.
Brakkkkkk...(suara pintu terbuka dengan keras.)