
Hingga mereka sampai di lapangan, Aaron tak pernah melepaskan Maya dari pelukannya. Membalut tubuh wanitanya dengan jas yang telah di berikannya sewaktu di dalam toilet tadi.
Dirinya tak rela jika tubuh wanitanya terlihat oleh pria lain, cukup tadi sewaktu di pesta dirinya menahan amarah mendapati wanitanya memakai gaun kekurangan bahan dan banyak pria yang menatapnya lapar.
Kalau bukan karena rencana, Mungkin dirinya akan menghajar siapa saja yang telah berani melihat miliknya.
Kini mereka memasuki jet pribadi kuluarga Addison, Mewah dan berkelas itulah yang membuat siapa saja nyaman di dalamnya.
Aaron meletakkan Maya di kasur empuknya dengan jas yang masih membalut tubuhnya. Dahinya bercucuran keringat menandakan ia kegerahan meskipun di dalam jet sangatlah dingin.
"Ar buka napa jasnya itu kasian Maya kayak lontong kukus tuhh.?" Tunjuk Ben, Main nyelonong masuk ke kamar privacy Aaron. Membuat sang pemilik kamar melototkan matanya ke arah Ben.
"Pergi lu." Sergah Aaron hendak menutup pintunya.
"Bentar Ar, Ngintip dikit tubuh Ma..Aww Aaron sableng." Seru Ben ketika ia terpental ke lantai jet yang sudah lepas landas. Ia di dorong dengan kerasnya oleh Aaron, Sungguh membuat Ben mengumpat sang sahabat.
"Dasar sahabat gendeng lu Ar pelit amat sama gua." Teriak Ben sembari menggedor pintu kamar Aaron.
"Bodo." Teriak Aaron dari dalam kamar.
" Gua seneng lu balik lagi kayak dulu Ar." Batin Ben melangkahkan kakinya menjauh dari pintu laknat.
Aaron menaiki ranjang yang terdapat wanita yang masih setia memejamkan mata, Menyelami mimpi indah hingga dirinya enggan membuka mata.
Dengan hati- hati Aaron membuka jas yang membalut tubuh indah Maya, Terlihat keringat membasahi tubuh itu walau dengan cahaya remang. Aaron berusaha menelan salivanya ketika gundukan sang wanita hampir menyembul keluar.
Aaron berusaha memejamkan matanya namun tangannya berusaha membuka gaun laknat yang membuatnya terbakar cemburu.
"Ohh sayangg, kalau udah sah pasti udah gua masukin dirimu sayang... Ehhh gua kan udah masuk tapi sayang cuma jari." Batin Aaron memandang jarinya sendiri yang telah mempermaikan Maya berkali- kali.
Ia kembali melanjutkan aktivitasnya, Hingga kini tubuh Maya hanya menggunakan ********** saja. Membuang Gaun itu ke tong sampah, Dirinya kembali memasangkan piyama tidur pada tubuh wanitanya. Aaron memang sudah menyiapkan semuanya ketika mereka masih berada di pesta.
Hingga akhirnya ia harus bernafas lega setelah tugasnya rampung dan rapi. Dirinya juga ikut merebahkan tubuhnya di samping Maya, membawa tubuh Maya ke dalam pelukannya dengan erat.
Dirinya sangat rindu, memandang dengan lamat wanita yang meninggalkannya selama dua bulan lamanya. Membuat ia hampir depresi lalu membuatnya tak memikirkan dunianya lagi. Tak ada kata istirahat, Selama dua bulan tersebut hanya di isi dengan bekerja dan bekerja. Dirinya tak peduli dengan penampilannya, Yang Ia pedulikan hanya mengasah kemampuan taekwondo yang pernah ia pelajari semasa kuliah di perancis.
" Sayang jangan tinggalin aku lagi, aku tak bisa sayang. Apalagi tadi kamu menolak saat aku mengajak kamu bersamaku lagi, Aku bingung harus gimana. Maaf kalau udah bikin kamu kesakitan." Ucap Maya mengecup bibir Maya lama.
Aaron kembali memeluk wanitanya dengan erat, Memejamkan matanya agar bisa menemani wanitanya menyelami mimpi.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\* \*\*\*\*\*\*\*
Perjalanan memakan waktu dua puluh satu jam lebih mereka lewati. Jet pribadi mereka mendarat sempurna di bandara pribadi keluarga Addison .Maya masih setia memejamkan mata hingga kini dirinya berada di rumah minimalis yang dulu sempat ia datangi bersama dengan Aaron.
Mulai dari foto, accecoris dan masih banyak lagi lainnya kenangan tersebut. Merebahkan diri Maya lagi di kasur king size yang berada dalam kamar tersebut. Aaron pergi membersihkan tubuhnya yang lumayan gerah karena selama di pesawat ataupun di mobil, Ia tak perna melepaskan Maya walau sedetikpun.
Setelah selesai dengan ritualnya, Ia melihat ke arah ranjang dengan senyuman yang terus mengembang. Melangkahkan kakinya ke arah sang wanita, mengecup dahi, pipi dan turun ke bibir.
"Sebentar ya sayang, Aku tinggal sebentar mau masakin kamu makanan biar nanti kalau udah bangun kamunya langsung sarapan dan sekalian mau nemenin Ben dibawah." Ucapnya pada putri tidurnya, tak lupa mengecup kembali bibir itu.
Aaron menuruni tangga dengan riangnya, bersiul hingga membuat seseorang yang berada di dapur bingung dengan tingkah konyol Aaron yang menurutnya telah hilang dua bulan yang lalu. Namun kini sepertinya semuanya sudah kembali.
"Ciee yang udah ngebobol gawang nih, keliatan banget senengnya." Canda Ben mencolek dagu Aaron ketika ia sudah berada di dapur.
"Sok tau." Sahut Aaron dengan tangan yang sibuk mencuci sayuran.
"Itu keliatan" Timbal Ben menggepak kepunyaan Aaron lumayan keras. Membuat Aaron memekik seketika hingga meringkuk memegang juniornya, Antara ngilu dan nyeri semuanya menjadi satu.
"Benjimo sialaannn." Teriak Aaron bersimpuh dilantai, ia tak bisa mengungkapkan rasa sakit pada pejantannya.
Ben yang melihat itu tertawa lepas tanpa menghiraukan penderitaan yang Aaron alami saat ini. Menikmati pemandangan yang bisa membuat air matanya keluar saking lepasnya tawa Ben.
Aaron berusaha bangkit dari posisinya mencari pegangan yang bisa membantunya berdiri.
Meskipun agak kesulitan ia tetap berusaha, mengambil spatula dan berjalan ke arah Ben yang masih setia dengan tawa lepasnya. Mata terpejam itu terus mengeluarkan air mata ketika dirinya terus tertawa membayangkan betapa lucunya ekpresi Aaron ketika si ono kena sabetan tangannya.
Namun tawa itu tak berlangsung lama ketika Ben merasakan pejantannya terasa panas akibat pukulan benda keras.
"Brengsekk sakit bego." Pekik Ben memelototkan matanya ketika mendapati Aaron sudah berada di depannya tak lupa spatula yang dipegangnya.
"Rasain, Biar tau gimana rasanya." Ujar Aaron kembali mengangkat spatulanya, memukulnya sekali lagi membuat Ben semakin meringis. Digenggamnya anunya takut Aaron kembali memukulnya.
"Ampun Ar, gua cuma sekali sumpah rasanya pengen guling - guling." Ucap Ben mengiba dengan tangan yang masih setia memegang anunya.
"Sok atuh kalau mau guling- guling." Ujar Aaron.
"Tau ahhhh gua mau cabut aja, Anu gua babak belur nantinya." Timpal Ben berjalan keluar walau dengan tertatih- tatih. Ia takut anunya jadi sasaran Aaron terus- menerus.
"Pergi sono gak usah balik." Teriak Aaron ketika Ben membuka pintu utama.
"Helehh mentang- mentah udah ngebobol gawang sahabat lu yang tampan rupawan lu usir, Dasar gak tau terima kasih garong sialan." Teriak Ben membalas teriakan Aaron. Setelah berucap Ben menutup pintu dan segera pergi takutnya Aaron kembali murka dengan umpatannya.
Ben sangat bersyukur sahabatnya bisa kembali seperti sedia kala, tak seperti dua bulan belakangan ini yang membuat siapa saja enggan berurusan dengan Aaron yang terkenal keji.