
Di kediaman pak Arya...
"Kamu yakin ingin memberikan lahan itu pada adikmu? Bukankah ayah sudah melarangmu?" Tanya Hanum dengan suara lembutnya.
"Aku tau, tapi daripada dia berbuat ulah lagi. Lebih baik aku memberikan apa yang dia mau kan?" Jelasnya sambil menyimpan cangkir kopi ditangannya.
"Tapi bagaimana dengan perjodohan putri kita? Lahan itu akan jatuh ke tangan Kinan jika dia menikah dengan putranya Karina nantinya. Jika kita memberikannya pada Danu ... apa tidak jadi masalah?" Tanya Hanum lagi sambil mengambil sikap duduk disebelah suaminya.
"Tidak akan masalah jika Danu bisa membayarnya kan?" Jawabnya balik bertanya sambil menyunggingkan senyuman hangatnya.
"Kamu pikir dia mau mengeluarkan uang untuk menebus lahan itu?" Tanya Hanum masih tak mempercayai adik iparnya itu.
"Sudahlah yang penting kita pikirkan masa depan kedua putri kita, masalah lahan dan uang kita bisa mencari lagi kan? Kalau soal kebahagiaan, akan sulit menemukannya." Tutur Arya berusaha mengalihkan pembicaraan dan meraih koran harian dibawah mejanya.
"Pah, sepertinya kamu tidak mengerti ya ... Danu itu sangat serakah, dia juga tidak akan membiarkan putri kita bahagia. Jika dia menginginkan lahan itu, maka dia akan membuat putrinya menikah dengan Akira. Maka dia tidak akan keluar uang untuk menebus lahannya." Jelas Hanum sedikit menaikan nada bicaranya membuat Arya mengurungkan niatnya untuk membaca koran.
"Aku tidak masalah jika hanya lahan yang direbut olehnya, tapi kalau sampai dia membuat putriku bersedih ... aku tidak akan memaafkannya. Apalagi jika diperhatikan lagi, sepertinya Kinan mulai membuka hatinya untuk Akira." Lanjutnya memelankan suaranya sambil memperhatikan foto keluarganya yang terpajang di dinding kamarnya, menatap sosok putri pertamanya yang tersenyum lebar di dalam foto itu.
"Tenanglah, aku yakin Danu tidak akan berbuat sejahat itu kepada keponakannya. Jangan berpikiran buruk seperti itu." Tutur Arya sambil memeluk istrinya dengan erat.
***
"Bagaimana? Apa dia sudah mengabarimu?" Tanya Kiara terlihat bermalas-malasan di dalam ruang kerja Bayu, wanita itu bahkan sudah mengambil posisi duduk seenak jidatnya dengan mengangkat kedua kakinya keatas meja dan menyenderkan kepalanya pada senderan sofa yang di dudukinya.
"Turunkan kakimu itu!" Bentak Bayu tak di dengarkan.
"Ck, ayolah aku memang selalu seperti ini kan? Apa masalahnya?" Decaknya sambil memainkan heandphone ditangannya.
"Tak masalah bagiku, tapi jika ada yang melihatmu seperti ini ...." Jelas pria itu segera dipotong oleh acungan tangan Kiara.
"Aku ada jadwal mengajari Dea sore ini, apa si Dafa tidak akan memutuskannya hari ini?" Tanya Kiara membuat Bayu menghela nafas berat karena ucapannya benar-benar tak di dengarkan oleh sepupunya itu.
"Sudah lewat dua jam loh, masa berpikir saja sampai menghabiskan waktu berjam-jam sih? Padahal ini menyangkut kesembuhan ibunya loh? Apa dia kira tawaran kita hanya sebatas tulisan doang?" Lanjutnya mengoceh kesal.
"Mana perempuan itu makin lengket lagi! Si Kinan ngapain aja sih? Kenapa cowonya digodain kaya gini dia gak tau sih. Ko aku kesel ya ... arrrgh ...." Gumamnya sambil memperhatikan foto Delia dan Akira yang di kirim oleh mata-matanya.
"Kenapa tidak melabraknya saja? Itukan keahlianmu." Saran Bayu setelah selesai menikmati kopinya.
"Apa hubungannya denganku? Harusnya Kinan yang melabraknya, diakan tunangannya. Kenapa harus aku yang repot melabrak si pirang nyebelin ini?" Jelas Kiara dengan wajah kesalnya membuat Bayu tersenyum kaku kearahnya.
"Bodoh! Kau kan melarangku untuk melibatkan wanita itu. Sudah pasti dia tidak tau kalau Delia sedang berusaha mencuri perhatian Akira dibelakangnya." Jelas Bayu sambil beranjak dari tempatnya membuat Kiara terkekeh.
"Hhaha... kau benar, aku melarangmu ya. Yah lagipula kalau sampai dia tau, bukankah akan jadi masalah? Kinan itu tipe orang yang sulit diajak bekerja sama, dia pasti tidak akan mau mendengarkanku." Gumam Kiara sambil menurunkan kakinya kebawah meja.
"Tapi ya ... setidaknya dia bisa mewaspadai gerak-gerik wanita itu kan?" Lanjutnya kembali berteriak kesal sambil mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
"Sepertinya aku harus memanggilkan dokter untukmu ...." Ucap Bayu sambil menekan nomor dokter diheadphonenya, dengan cepat Kiara melemparkan bantal sofa pada wajah pria itu. Membuatnya memekik kesakitan dan mengurungkan niatnya setelah melihat tatapan Kiara.
Disisi lain, Kinan sedang sibuk berjalan-jalan di mall bersama dengan Fino. Sebenarnya Akira sudah menawarkan diri untuk mengantarnya berbelanja, tapi wanita itu menolaknya dengan keras membuat pria itu murung.
Tapi saat Kinan meminta di temani oleh Fino, Akira langsung meminta pria berambut ikal itu untuk datang ke mall meski awalnya dia menunjukan sikap cemburunya.
Namun saat melihat ekspresi puppy eyes Kinan yang mematikan, dia pun luluh dan meninggalkannya bersama Fino. Tentu saja Akira pergi setelah memberikan tekanan berat pada pria itu, membuat Fino berkeringat dingin saat merasakan aura mengerikan majikannya itu.
"Hem, enaknya kita pergi kemana dulu ya?" Jawabnya sambil berpikir.
"Ke sana!" Lanjutnya sambil menunjuk kearah toko jam tangan, dengan cepat dia menarik tangan Fino menuju ke toko itu.
"Jam tangan?" Gumam Fino terlihat kebingungan saat memasuki toko jam tangan mewah dihadapannya.
"Bu–bukannya tuan bilang nona mau berbelanja pakaian untuk lusa?" Lanjutnya bertanya.
"Bodoh! Siapa juga yang mau berbelanja pakaian mewah yang gak enak dipakai itu ...." Ucap Kinan membuat Fino terkejut.
"Itu hanya alasan supaya dia tidak mengikutiku, lagipula dia ada meeting hari ini. Jadi aku tidak mengizinkannya bolos kerja." Lanjutnya menjelaskan sambil melihat-lihat jam tangan disekitarnya.
"Hee..." Gumam Fino masih setia mengekori wanita berambut coklat itu.
"Menurutmu jam tangan mana yang paling bagus?" Tanya Kinan membuat Fino kembali terkejut.
"Aku tidak tau selera kaum pria itu seperti apa, dari sekian banyak hadiah yang bisa diberikan. Hanya jam tangan yang terlintas dikepalaku ...." Lanjutnya sambil melipat tangannya diatas dada.
"Hadiah?" Tanya Fino dengan ekspresi polosnya itu.
"Ya, untuk hadiah ulang tahunnya Akira ... apa sebaiknya aku tidak perlu membelikannya hadiah ya?" Gumamnya membuat senyuman lebar Fino memancar.
"Hadiah apapun pasti tuan akan menerimanya, apalagi nona Kinan yang memberikannya." Tutur pria itu masih mempertahankan senyuman hangatnya.
"Hadiah apapun? Barang bekas pun termasuk?" Tanya Kinan sambil melirik kearah Fino.
"Eh? I–itu ...." Jawabnya tergugup sambil tersenyum kaku.
"Kau bilang hadiah apapun pasti diterimanya kan?" Tanyanya lagi membuat Fino kebingungan.
"Tapi jangan barang bekas juga non ...." Jawab Fino tak di dengarkan.
Kinan sudah berlari kearah pelayan toko saat mendapati jam tangan yang menarik perhatiannya. Wanita itu sedang memilih jam tangan mana yang akan di belinya, bahkan dia sampai meminta rekomendasi dari pelayan itu.
"Uwah yang ini cantik ya ...." Gumam Kinan saat melihat jam tangan yang baru dikeluarkan oleh si pelayan toko.
"Benar, warnanya juga bagus." Puji Fino ikut tersenyum saat melihat mata berbinar Kinan yang tak bisa lepas dari jam tangan dihadapannya.
"Apa Akira akan menyukainya?" Tanya Kinan mengejutkan Fino saat wajah mereka saling berhadapan.
"Te–tentu saja." Jawab pria itu sambil mengalihkan pandangannya kesembarang arah.
"Kalau begitu tolong bungkus yang ini ya mba." Ucapnya sambil tersenyum manis kearah pelayan itu.
"Ini pertama kalinya aku membelikan hadiah untuk seorang pria dengan menggunakan uangku sendiri." Lanjutnya masih tersenyum lebar menunggu jam tangan yang sedang dibungkus oleh pelayan toko.
"Tuan pasti akan menyukainya ...." Ucap Fino ikut tersenyum saat melihat Kinan melirik kearahnya, lalu beberapa detik kemudian wanita itu menganggukan kepalanya setuju dan kembali memasang senyuman lebarnya.
xxx