Dea & Kinan

Dea & Kinan
89. Rencana rahasia 2



"Haa..." Guman Kinan sambil menghela nafas lelah, menghempaskan tubuhnya diatas sofa ruang tengah rumahnya.


Fino langsung mengantarnya pulang setelah pembicaraannya dengan Karina selesai. Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 12:03 Pm.


"Kenapa tante Karina sangat menginginkanku menjadi menantu dikeluarganya? Dia bilang tiga hari lagi aku akan bertemu di rumah ayah? Apa itu artinya di hari itu aku akan mengunjungi ayah?" Ocehnya merasa bingung sendiri.


"Apa jangan-jangan ...." Tuturnya, 'keluarga Akira akan melamarku disana?' Lanjutnya dalam hati merasa terkejut sendiri dengan pikirannya.


"Gak mungkin kan? Pasti bohong, ya ... firasatku, hanya firasat. Jangan terlalu dipikirkan, tenangkan dirimu. Siapa tau mereka ingin membicarakan soal lahan pertanian, ya pasti begitu." Ucapnya sambil bangkit dari tempat duduknya dan bergegas masuk ke dalam kamarnya sambil terus mengoceh, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


Disisi lain...


Terlihat sosok Kiara yang sedang berbincang serius dengan Bayu di kediamannya. Mereka sedang duduk di dalam ruangan pribadi Kiara sambil menikmati lemon tea yang dibawakan pelayan.


"Jadi bagaimana?" Tanya Kiara setelah menyimpan kembali cangkir tehnya ke atas meja.


"Aku sudah memberikan banyak waktu untukmu. Tidak kah kau harus melaporkan semua informasi yang sudah kau dapat?" Lanjutnya menatap Bayu dengan begitu serius.


"Ya aku memang sudah menyelidiki semuanya, dan mendapatkan banyak informasi," jelas Bayu setelah meneguk teh ditangannya.


"Jadi?" Tanya Kiara sambil menyenderkan tubuhnya pada senderan sofa di belakangnya.


"Seperti yang kita duga, kau tau maksudku kan?" Jawab Bayu membuat Kiara melotot terkejut saat mendengar jawaban pria itu.


"Jadi mereka benar-benar mengincar lahan itu?" Guman Kiara sambil memijat keningnya yang mulai berdenyut.


"Bukan hanya itu, mereka berencana merebut beberapa perusahaan yang dipegang oleh Akira. Kau tau kan? Akira memegang kendali beberapa perusahaan besar yang dipercayakan padanya oleh tuan Wira? Dan Delia adalah putri tunggal tuan Danu, putri yang sedikit merepotkan jika kita biarkan begitu saja." Jelas Bayu semakin membuat Kiara pusing.


"Merepotkan ya, itu berarti dia lumayan cerdas juga. Anak dan ayah sama-sama pintar membuat rencana ya, tapi sayangnya kita sudah mengetahui rencana besarnya." Gumam Kiara sambil merubah posisi duduknya, mengangkat salah satu kakinya dan menumpangkannya pada kaki satunya.


"Apa kau akan memberitau masalah ini pada Kinan? Keluarganya sedang berada dalam posisi yang sulit saat ini. Jika Akira sampai tergoda oleh Delia dan sampai menikahi wanita itu, maka lahan pertanian itu akan jatuh pada wanita itu. Keluarga pak Arya pun akan jatuh pada keterpurukan, mereka tidak akan memiliki apapun lagi untuk bertahan hidup. Bagaimana dengan nasib mereka jika mereka jatuh miskin?" Jelas Bayu membuat Kiara menghela nafas lelah.


"Jangan sampai lupa kalau keluarga Wira juga berada dalam masalah jika wanita itu berhasil menjadi istrinya Akira." Tutur Kiara menatap lelah kearah Bayu.


"Kau benar ...." Gumam Bayu sambil menyenderkan tubuhnya pada senderan sofa yang di dudukinya.


"Tapi kau benar-benar sudah berubah ya, ku kira kau akan memanfaatkan situasi ini untuk mendekati Akira lagi." Lanjutnya setelah menghela nafas berat.


"Aku sudah memutuskan untuk menyerah padanya, dan membiarkannya memilih kebahagiaannya sendiri. Lagipula aku merasa malu pada diriku sendiri, aku menganggap Kinan sebagai penghalang hubunganku bersama Akira, tapi gadis itu tak pernah menganggapku sebagai rivalnya, Dia malah terlihat bodo amat, meski kau mengancam untuk menyebarkan kebenaran soal pertunangan bohongan mereka, wanita itu terlihat cukup tenang dan pasrah meski ...." jelasnya panjang lebar sambil memperhatikan cangkir teh dihadapannya.


'Mungkin karena dia belum menyadari perasaannya pada Akira. Dia juga sampai menyelamatkanku dari para preman itu...' Lanjutnya dalam hati.


"Yah lagipula itu sudah berlalu, lupakan saja. Saat ini kita fokus pada rencana kita saja, aku ingin lihat reaksi mereka saat rencananya gagal." Ucap Kiara sambil tersenyum sinis.


"Kau benar ... jadi? Apa kau akan melibatkan Kinan? Atau kita bergerak tanpanya?" Tanya Bayu kembali meraih cangkir tehnya.


"Hem ...." Gumam Kiara sambil memegangi dagunya dan mulai memikirkan rencananya, "sepertinya tidak, hanya saja aku punya rencana." Lanjutnya sambil tersenyum kearah Bayu, membuat pria itu mengernyitkan dahinya.


"Kak!" Teriak Dea di ambang pintu dapur mengejutkan Kinan.


"Jangan teriak-teriak!" Ucapnya sambil mematikan kran air wastafel dihadapannya, kebetulan saat itu dia baru selesai mencuci piring.


"Aku ingin membahas soal rencana rahasia kita." Jelas Dea sambil tersenyum lebar.


Kini gadis itu mulai melangkahkan kakinya memasuki dapur. menarik kursi di dekat meja makan dan mendudukinya.


"Kenapa tiba-tiba ingin membahasnya?" Tanya Kinan ikut duduk di depannya.


Saat ini Dea mulai menarik nafas sedalam mungkin dan menghembuskannya secara perlahan. Matanya yang sempat tertutup pun mulai tebuka kembali, menatap kakaknya dengan serius.


Untuk sesaat Kinan merasa takut ketika bertemu pandang dengannya, secara mereka sudah lama tidak pernah membicarakan hal serius. Jika pun membicarakan hal serius, pasti nanti akhirnya akan ditutup dengan candaan juga.


"Aku ingin membawakan lagu Wiz Khalifa ft Charlie Puth - See You Again, bagaimana menurutmu?" Tanyanya membuat Kinan menghela nafas lega, dia pikir Dea akan meminta lagu yang lebih sulit untuk dibawakan pada acara ulang tahun pernikahan Karina nanti.


"Kau yakin bisa membawakannya dengan memainkan kecapi kan?" Tanyanya sedikit ragu, tapi gadis berambut hitam itu malah tersenyum lebar membuat perasaan ragu sang kakak menghilang.


"Jangan meragukan kemampuanku." Ucapnya begitu percaya diri dengan kemampuan bermain alat musiknya.


Sejak kecil Dea memang selalu tertarik dengan berbagai alat musik, dia bahkan sampai mempelajarinya. Sejauh ini alat musik yang bisa dimainkannya hanya gitar, piano, dan biola. Untuk alat musik tradisional dia hanya bisa memainkan Kecapi, itupun karena ajaran dari sang nenek.


"Yah terserah kau saja, ngomong-ngomong ... bagaimana dengan cita-citamu? kau bilang ingin menjadi seorang dokter kan? apa kau serius?" Tutur Kinan sambil menghela nafas pasrah dan mengalihkan pembicaraan mereka.


"Kalau begitu hafalkan lagunya ya, untuk urusan musik serahkan padaku," ucapnya begitu bersemangat, "Kalau soal cita-citaku, aku memang serius ingin menjadi seorang dokter. Aku akan mengikuti ujian masuk universitas minggu depan, jadi do'akan aku. Semoga aku lulus ujian." Lanjutnya.


"Bagaimana jika kau gagal?" Tanya Kinan membuatnya menghela nafas berat, sejujurnya dia juga tak ingin mengatakan hal itu. Tapi wanita itu memang sedikit mencemaskan sang adik.


"Yah berarti aku tinggal mengambil ujian masuk untuk jalur guru saja." Jawabnya sambil menopang dagunya dengan punggung tangan kirinya.


"Bagaimana kalau meminta bantuan pada Megan? kau tau? dia salah satu mahasiswa pintar dijurusan kedokteran." Tutur Kinan membuat Dea tenganga dan menjatuhkan tangannya keatas meja.


"Jadi dia calon dokter?" Tanyanya begitu terkejut membuat wanita itu segera menganggukan kepalanya dengan mantap.


"Kenapa aku tidak tau?" Lanjutnya bertanya-tanya.


"Karena pekerjaanmu selalu bertengkar dengannya." Ucap Kinan sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah pintu dapur, berniat meninggalkan Dea disana.


"Tapi kerjaannya cuma bermalas-malasan di rumah loh. Apa dia bisa disebut mahasiswa pintar? dan apa wajahnya terlihat seperti seorang dokter?" Oceh Dea membuat Kinan kembali menghela nafas berat.


"Kenapa tidak kau tanyakan saja pada orangnya?" Sarannya sebelum benar-benar pergi meninggalkan Dea di dalam dapur.


"Se–seriusan dia calon dokter?" Gumam Dea masih merasa tak percaya dengan indra pendengarannya.


xxx