Dea & Kinan

Dea & Kinan
125. Bintang dan Bulan



Setelah melakukan pernikahan dengan Akira dan tinggal di kediaman keluarganya selama beberapa hari akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke rumah kecilku, meninggalkan segala kemewahan dan perlakuan khusus para pelayan di rumah suamiku itu.


Aku tinggal di kamarku bersama dengan Akira membiarkan Megan tinggal sendirian di rumah satunya, tapi adik iparku itu masih sering datang untuk makan malam dan sarapan pagi seperti biasanya. Bedanya dia tinggal sendirian sekarang.


Kemudian waktupun berputar dengan cepat, kontrak Dea dengan ibu mertuaku juga telah usai tepat pada satu tahun kelulusannya. Dan kini adik kecilku itu sedang menempuh pendidikannya di luar negri dengan pengawasan dari keluarga Delia yang secara suka cita menampungnya sampai dia lulus kuliah.


Ayah dan ibu kembali menempati rumahku setelah waktu sewa Akira dan Megan habis. Megan memutuskan untuk kembali ke rumah keluarganya karena dekat dengan rumah sakit keluarganya yang sudah dipercayakan kepadanya untuk dikelola tahun ini. Selain itu keluarga bibi juga memutuskan untuk kembali ke rumah kakek dan nenek, lalu menjual rumah mereka untuk menambah modal usaha paman.


Ku dengar paman dan paman Danu mulai bekerja sama untuk memulihkan perusahaan paman Danu yang sempat di isukan akan bangkrut. Kemudian lahan pertanian yang sempat digadaikan itu pun masih dipercayakan kepada ayah untuk di kelola.


Dan aku bersama Akira, kami tinggal di kota X dalam waktu yang cukup lama. Sejak aku menikah dengannya, dia memberikan banyak sekali kebahagiaan yang tak pernah ku duga sebelumnya.


Banyak waktu yang telah ku lalui bersamanya, siapa sangka dia yang begitu pekerja keraspun pernah mengalami kegagalan dalam pekerjaannya. Dan selama satu tahun terakhir aku hidup bersamanya, aku melihat begitu banyak ekspresi wajahnya yang tak bisa ku lihat sebelumnya.


Selama itu pula aku semakin mencintai suamiku itu sampai akhirnya kami diberikan kebahagiaan yang begitu besar dengan hadirnya makhluk kecil yang ada di dalam rahimku.


Betapa bahagianya kami saat itu, bahkan masih ku ingat dengan jelas ekspresi suamiku itu. Tapi kebahagiaan kami tak berlangsung lama, saat usia kandunganku mencapai tiga bulan. Aku harus kehilangan calon buah hatiku karena mengalami keguguran akibat kelelahan.


Setengah tahun lamanya aku meratapi kepergian buah hatiku, akhirnya kami kembali dikaruniai sepasang buah hati. Kali ini aku benar-benar tak diizinkan untuk bekerja di toko kue, bahkan di rumah pun aku tak boleh melakukan pekerjaan berat selain melipat pakaian dan membantu bi Inah memasak di dapur.


Akira juga sampai menghandle semua pekerjaannya di rumah karena tak ingin berjauhan denganku, dia tak ingin membiarkan kejadian setengah tahun lalu kembali terjadi. Dia juga tau betul kalau aku ini cukup keras kepala dan sulit diatur, maka dia harus mengawasiku secara langsung.


Selama sembilan bulan aku mengandung si kembar sampai mereka tumbuh menjadi gadis manis dan jagoan tampan. Tak pernah sekalipun perhatian Akira berkurang padaku, dia juga sangat menyayangi anak-anaknya dan selalu meluangkan waktu untuk mereka di tengah-tengah kesibukannya.


***


Hari ini aku dan Akira mengajak Bintang dan Bulan untuk berkunjung ke rumah nenek cantik yang tak lain adalah ibu mertuaku. Si kembar memang selalu memanggil neneknya dengan sebutan nenek cantik.


"Ku dengar hari ini Dea kembali dari luar negri ya." Suara Akira membuka pembicaraan kami di dalam mobil.


"Ya, jika dia pergi sesuai jadwal, harusnya sore ini dia sampai." Jawabku sambil melirik suamiku yang sedang fokus dengan kemudinya.


"Kalau Megan tau, dia pasti kegirangan." Gumamnya sambil terkekeh.


"Wajar saja, sudah lama mereka tak bertemu kan? terakhir kali mereka bertemu saat aku melahirkan si kembar." Tuturku sambil melihat kebangku belakang dimana kedua anak ku sedang sibuk dengan buku dan gamenya.


Jika diperhatikan lagi, Bulan putriku itu memang lebih mirip dengan Akira. Sedangkan Bintang, dia lebih mirip denganku, termasuk dengan sifatnya yang senang sekali bermain game.


"Hampir enam tahun lamanya mereka menjalani hubungan jarak jauh." Tutur Akira membuatku mengangguk cepat.


"Dan hari ini tepat lima tahunnya Bintang dan Bulan." Lanjutku sambil tersenyum dan langsung mendapatkan senyum balasan dari suamiku.


"Wah nanti di rumah nenek cantik ada om Megan ya." Ucap Bintang begitu antusias.


"Bulan mau main sama om Megan." Lanjut sang adik tak kalah antusiasnya.


"Nanti di rumah nenek jangan nakal ya," tuturku kembali mengingatkan mereka. Pasalnya mereka selalu mengerjai beberapa pelayan di rumah ibu sampai membuat mereka kelelahan.


Si kembar Bintang dan Bulan ini memang terbilang aktif dan tak pernah kehabisan tenaga meski bermain seharian.


Sesampainya di rumah ibu, kami disambut oleh Ayah dan Ibu bersama dengan Fino di depan pintu rumah.


Bintang segera berhambur memeluk kakeknya setelah turun dari dalam mobil dan berlarian menghampiri nenek dan kakeknya yang tersenyum hangat pada cucunya itu.


Sedangkan Bulan, gadis kecilku ini malah tak mau turun dari pangkuan ayahnya.


"Ayo sayang, nenek mau gendong kamu nak." Lanjutku berusaha membujuknya.


"Nenek cantik sama Bintang aja." Suara mungil Bintang mengalihkan perhatian sang nenek.


"Jagoan nenek sudah besar ya ...." Gumam ibu sambil membalas pelukan Bintang yang sempat memeluk kakinya dengan erat.


"Om Fino." Ucap Bulan sambil melentangkan kedua tangannya, memberikan isyarat pada pria berambut ikal itu.


Ah rupanya dia ingin di gendong oleh Fino, lihatlah ekspresi sang nenek yang menunjukan raut kesedihan diwajahnya saat melihat cucunya yang lebih tertarik pada pelayannya.


"Sayang ...." Suara Akira terdengar begitu lembut lalu melirik tajam kearah Fino, membuat pria itu bergidik ngeri saat merasakan aura mengancam yang keluar dari tubuh majikannya itu.


"Ini dia, posesifnya keluar lagi." Gumamku merasa kasihan pada pria berambut ikal itu.


"Om Fino gendong." Suara Bulan lebih keras dari sebelumnya.


"Sayang," Bisik ku pada Akira, dia yang mengerti dengan maksudku pun mulai memberikan putrinya pada Fino meski dengan berat hati.


"Kalau begitu bawa masuk Bulan kedalam. Nenek sudah pesen kue ulang tahun buat kalian loh. Masuk dulu yuk," Tutur Ayah sambil berjalan masuk bersama Bintang yang sudah berlari kegirangan memasuki rumah besar sang kakek saat mendengar ada kue di dalam rumahnya.


"Yuk masuk, kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh." Lanjut ibu sambil menggandeng tanganku memasuki kediaman mewahnya.


Ku lihat Akira menatap Fino dengan tatapan dinginnya setelah mendengar pria itu ingin menikahi putrinya, entah apa yang Bulan bicarakan bersama dengan pria itu sampai membuat ayahnya merasa kesal. Bahkan Fino yang juga merasakan aura mengancam yang ditunjukan oleh suamiku itupun hanya bisa mematung di tempatnya dengan senyuman kakunya.


"Om Fino beneran mau nikahin Bulan?" Suara Bulan membuatku sedikit terkejut terutama saat melihat senyuman polosnya itu.


"Ah–itu ... hhaha." Jawabnya sambil melirik ke arah Akira yang semakin menunjukan aura mengancamnya.


"Cucuku ini memang cantik sih, jadi wajar saja kalau om Fino menyukaimu ya ...." Goda ibu membuat putranya semakin jengkel.


'Rupanya selain aku, dia juga mencintai putrinya sebesar itu ....' Batinku merasa sedih sekaligus bahagia saat melihat betapa besarnya rasa cinta seorang ayah pada putri tercintanya.


Melihat keluargaku berkumpul seperti ini ... entah kenapa aku merasa sedih saat mengingat kehamilan pertamaku yang bisa dibilang gagal. Seandainya saat itu aku tidak keguguran, mungkin anak ku itu akan bersama denganku dan keluarga besarnya disini, bersama kedua adik kembarnya juga.


"Ada apa?" Suara Akira mengejutkanku.


"Wajahmu terlihat sedih, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Lanjutnya sambil menggenggam tanganku yang sudah duduk disebelahnya.


"Tidak ada." Jawabku berusaha memberikan senyuman terbaik ku padanya.


"Jangan berbohong padaku." Ucapnya membuatku menghela napas pasrah dan kembali memperhatikan si kembar yang sedang bermain kejar-kejaran bersama Fino dan kakeknya.


"Hanya mengingat anak pertama kita, aku pikir jika aku bisa menjaganya dengan baik. Mungkin dia masih hidup dan ada bersama kita saat ini." Jelasku segera mendapat pelukan hangat dari Akira.


"Aku mengerti perasaanmu ... untuk sekarang hilangkan wajah bersedihmu itu. Hari ini adalah hari istimewa untuk si kembar kan? Aku yakin kamu tak mau terlihat menyedihkan dihadapan mereka." Tutur Akira sambil melepaskan pelukannya.


"Ya kamu benar, terima kasih." Ucapku sambil memperhatikan putra-putriku yang masih berlarian kesana-kemari bersama dengan Fino dan Kakeknya.


Lalu ku rasakan tangan Akira meraih puncak kepalaku dengan lembut, menatapku penuh kehangatan sambil menunjukan senyuman lebarnya. Senyuman yang selalu membuatku ikut tersenyum saat melihatnya.


xxx