
Fino yang sibuk menyetir mobil pun mulai menghubungi Nyonya Karina, memintanya untuk mengirimkan beberapa orang untuk membantunya menghentikan mobil Bayu.
Dan lagi, sepertinya pria itu juga sudah menyadari kalau mobilnya sedang di ikuti. Itulah kenapa dia terus berputar-putar dan tak kunjung berhenti disuatu tempat.
"Ck, hallo nyonya... nyonya ? Ini aku Fino, tolong jawab panggilanku nyonya ? Apa anda mendengarku ?" Tutur Fino sambil memegangi AirPods di telinganya.
"Nyonya ?" Lanjutnya sambil memutar setir mobilnya kearah kanan, berusaha menyalip mobil Bayu yang semakin melaju dengan cepat.
"Kau salah nomor bodoh !" Suara Akira mengejutkan Fino.
"Tu-tuan ? Maafkan saya, saya benar-benar tidak memperhatikan" Lanjutnya merasa tidak enak karena sudah mengganggu waktu majikannya itu.
"Ada perlu apa menghubungi ibu ? Dan lagi, tugas yang ku berikan padamu masih belum selesai kau kerjakan ? Kapan kau bisa menyelesaikannya ?" Tuturnya mulai terdengar kesal.
"Maaf tuan, untuk saat ini saya sedang sibuk-" Jelas Fino sambil menginjak rem mobilnya secara mendadak, hampir saja dia menyerempet seorang penyebrang jalan.
"Cih ! Tak akan ku biarkan lolos !" Ucap Fino kembali menancap gas untuk mengejar mobil Bayu yang sudah melaju cukup jauh dari mobilnya.
"Haah... mau ku sambungkan dengan nomor ibuku ?" Tawar Akira setelah menghela nafas lelah saat mendengar ucapan Fino yang terdengar kesal.
"Ah itu, kirimkan saja beberapa anak buah tuan untuk membantuku menghentikan mobil yang membawa nona Kinan, akan ku kirimkan lokasinya..." Jelas Fino terburu-buru.
"Apa katamu ? Kinan ? Siapa yang membawanya ?" Tanya Akira merasa panik, bagaimana tidak ? Seorang Fino kaki tangannya bisa sampai serepot itu mengurusi wanita yang bahkan belum sampai dikenalkan dengan benar olehnya.
"Pria yang bersamanya saat di taman, tuan juga mengenalinya. Dia membuat nona tak sadarkan diri dan membawanya pergi dari rumahnya, jadi..." Jelas Fino terhenti saat mendengar suara Akira yang meminta dikirimkan lokasinya saat itu juga.
***
"Kau mau kemana ?" Tanya Kiara mengikuti langkah Akira yang terlihat buru-buru berjalan menuju parkiran mobil.
"Aku ada urusan, pulanglah..." Jawab Akira tak melirik kearah Kiara sedikitpun, pikirannya terlalu fokus pada masalah yang ada dihadapannya sekarang.
"Tidak mau, aku ikut !" Ucap Kiara langsung naik kedalam mobil Akira tanpa mendengar persetujuan atau penolakan dari pria itu.
Kiara hanya bisa memperhatikan ekspresi kesal dan cemas yang terpancar dari wajah Akira. Dia tak berani mengulangi pertanyaannya, biar bagaimana pun dia sudah asal naik kedalam mobilnya tanpa mendengarkan persetujuan darinya.
Saat ini Akira sedang sibuk menyetir mobilnya setelah mengerahkan beberapa anak buahnya untuk pergi ke lokasi yang dikirimkan oleh Fino.
"Kenapa kau bisa tau kalau pria itu membawa Kinan pergi dari rumahnya ? Dan lagi, apa maksudnya dengan tak sadarkan diri ?" Tanya Akira berusaha membuat Fino berbicara. Sejak keluar dari kantornya, Akira tak pernah mematikan sambungan telponnya. Dan sekarang, pria itu juga sudah memasang AirPods di telinganya.
"Itu... Hhaha aku tak sengaja melihatnya saat baru sampai disana. Aku ingin menemui tuan, tapi malah melihat situasi seperti itu. Dan aku juga tidak melihat tanda-tanda keberadaan tuan, jadi aku memutuskan untuk mengikuti mobil itu..." Jelas Fino mencari-cari alasan.
"Tuan, dia menuju kearahmu !" Lanjutnya membuat Akira mempercepat laju mobilnya.
Disisi lain...
"Sial ! Mereka berencana mengepungku ya..." Gumam Bayu mempercepat laju mobilnya.
Kinan yang masih tak sadarkan diri dengan kedua tangannya yang terikat oleh sebuah kain putih, perlahan mulai membuka matanya dan melihat ke sekeliling.
'Mobil ?' Batinnya bertanya-tanya dan langsung melihat kearah spion mobil Bayu, matanya membelalak terkejut saat melihat mata pria itu melihatnya dengan tatapan kesal.
Mungkin karena wanita itu sudah sadarkan diri. Padahal dia berniat untuk membuatnya tertidur lebih lama, namun sepertinya rencana yang dibuatnya gagal total.
"Mau membawaku kemana ? Cepat hentikan mobilnya !" Teriak Kinan berusaha bangkit dari posisi terbaring menyampingnya itu, 'Tanganku...' Lanjutnya saat menyadari tangannya terikat kain panjang yang melilit tanganya dengan handle pintu mobil pria itu dengan erat.
"Untunglah aku membawa pakaian yang ku beli untukmu, aku jadi bisa menggunakannya untuk mengikat tanganmu..." Gumam pria itu membuat Kinan merinding.
'Sebenarnya apa yang dia inginkan dariku ? Kenapa dia begitu terobsesi denganku ?' Batinnya mulai merasa takut pada sosok Bayu yang masih menjadi misteri untuknya.
"Lepaskan aku !" Ucap Kinan berusaha melepaskan tangannya, tapi percuma. Ikatannya terlalu kuat dan lagi kakinya juga sudah terikat, menyatu dengan sesuatu yang ada dibawah kursi mobilnya.
Aksi saling kejar-kejaranpun masih terjadi dan belum ada tanda-tanda Bayu akan tertangkap.
***
Setelah melakukan aksi saling kejar cukup lama, akhirnya mobil pria bernama Bayu itu berhasil dihentikan oleh Akira dan semua anak buahnya yang ikut serta dalam penyelamatan Kinan.
Fino segera turun dari mobilnya saat melihat Akira sudah keluar lebih dulu dari mobilnya, diikuti oleh seorang wanita cantik yang pernah mengisi hidupnya.
"Akira ?" Gumam Kiara merasa sakit saat melihat pria yang dicintainya mengabaikannya, tak perduli dengan kehadirannya dan malah mengkhawatirkan perempuan lain yang jelas-jelas baru dikenalnya beberapa bulan terakhir ini.
"Keluar !" Teriak Akira sambil memukul kaca mobil Bayu.
"Tuan..." Ucap Fino saat melihat Kinan yang tersiksa akibat tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya.
Pria itu semakin kesal dan kembali berteriak meminta Bayu keluar dari dalam mobilnya setelah melihat Kinan meringis kesakitan, berusaha melepaskan dirinya dari ikatan itu.
Dengan berat hati, pria itupun membuka pintu mobilnya dan segera keluar memenuhi keinginan Akira. Memasang senyuman angkuh dan sok kerennya pada sosok Akira yang sudah mengepalkan kedua tangannya dengan gemas.
Lalu tanpa pikir panjang, pria itupun lepas kendali dan segera menghajar Bayu dengan beberapa pukulan di wajah dan ulu hatinya.
"A-akira hentikan" Tutur Kiara merasa tak tega melihat sepupunya dipukuli tanpa ampun olehnya.
"Urus dia !" Perintah Akira pada beberapa anak buahnya yang sendari tadi hanya bisa menonton aksi tuannya.
Dengan cepat mereka membawa Bayu, meninggaklan Akira yang sudah menarik Fino keluar dari dalam mobil pria itu. Lalu mengambil alih pekerjaan pria itu untuk melepaskan ikatan yang melilit di kedua tangan dan kaki Kinan.
"Pelan-pelan bodoh !" Ucap Kinan saat tangannya ditarik oleh Akira.
"Kenapa kau bisa berakhir seperti ini ?" Tanya Akira masih berekspresi kesal.
"Biar saya bantu tuan" Ucap Fino merasa tak enak karena hanya memperhatikan Akira dari luar mobil.
"Diam disitu !" Ucap Akira penuh penekannan membuat Fino tak berani membantah ucapannya.
"Wajahmu... berhenti memasang ekspresi seperti itu. Aku tidak suka melihatnya" Tutur Kinan membuat Akira menghentikan aksinya untuk sesaat.
"Jadi selama ini kau benar-benar memperhatikanku ya ? Sampai-sampai ekspresiku saja dikomentari..." Ucapnya membuat Kinan merasa malu, "Jadi ekspresi seperti apa yang kau sukai ?" Lanjutnya bertanya dengan suara menggodanya.
"Lepaskan dulu ikatannya, tanganku pegal !" Ucap Kinan mengalihkan pembicaraan dan membuat pria itu kembali fokus pada pekerjaan melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Kinan.
Setelah selesai melepaskan ikatannya, Akira pun membawa Kinan ke mobilnya dan membiarkan anak buahnya membawa mobil Bayu ke kediaman pria itu.
"Beritau kelakuannya pada keluarganya !" Ucap Akira pada salah satu anak buahnya sambil melirik tajam kearah Bayu yang sudah tertunduk lemas didalam mobil anak buahnya, wajah Bayu terlihat babak belur akibat pukulan keras yang dilayangkan oleh Akira.
"Akira ?" Tanya Kiara mulai memberanikan diri untuk berbicara lagi saat melihat Kinan sudah duduk manis di dalam mobilnya, duduk di kursi depan yang seharusnya menjadi tempatnya duduk disebelah Akira.
"Fino ! antarkan dia pulang" Ucap Akira melirik kearah Kiara membuat wanita itu tersentak.
"Baik tuan" Ucap Fino menerima perintah dari Akira.
Pria itu sudah berjalan kesisi lain mobilnya dan mulai masuk kedalam mobilnya, meninggalkannya yang masih berdiri diluar mobil.
'Kanapa ? seharusnya tidak seperti ini, aku... aku benar-benar...' Batin Kiara merasa kesal saat melihat kepergian mobil Akira dihadapannya.
"Mari saya antar pulang nona" Ucap Fino tak digubris oleh wanita itu.
xxx