Dea & Kinan

Dea & Kinan
07. Weekend



"Udah sore ko belum pulang juga ...." Gumam Kinan sambil rebahan diatas sofa dan bermain game di heandphonenya, "Beneran pulang bawa big cola sama keripik balado gak ya?" Lanjutnya sambil meletakan heandphonenya.


"Hah... bosen pengen ngelakuin sesuatu, tapi mager ...." Tutur Kinan masih menunggu kedatangan adiknya.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka bersamaan dengan suara Dea.


"Dea ...." Ucap Kinan langsung bangkit dari posisi terbaringnya dan bergegas menemui adiknya yang masih sibuk membuka sepatunya di depan pintu, "Dea dea dea." Lanjutnya memanggil nama adiknya berkali-kali.


"He? Big cola sama keripik baladonya mana?" Tanya Kinan saat menyadari adiknya tidak membawa pesanannya.


"Gak jadi beli," jawab Dea dengan nada kesalnya dan berjalan menuju kamarnya, "Dasar cowo nyebelin, awas aja kalo ketemu lagi ...." Lanjutnya mengoceh membuat Kinan kebingungan dan mematung ditempatnya berdiri saat ini.


"Big cola dan keripik baladoku ...." Gumam Kinan dengan mata berkaca-kacanya memperhatikan kepergian adiknya.


***


Matahari sudah kembali ke peraduan, hari mulai gelap dan aku sangat kesal sekarang karena Dea tidak menepati janjinya.


"Mati sana mati ...." Ucapku sambil bermain game di heandphoneku dengan perasaan kesal, "Arrrrgh... kenapa malah aku yang mati!?" Lanjutku semakin kesal.


"Kak aku lapar nih, hari ini masak apa?" Tanya Dea yang sudah berdiri dibelakang sofa yang ku duduki.


"Gak masak." Jawabku singkat.


"Ha? Terus aku makan apa?!" Tanya Dea menaikan nada suaranya.


"Makan angin." Jawabku masih fokus pada layar heandphoneku.


"Kau ini." Ucap Dea sambil menghela nafas dan pergi menuju dapur.


"Kak! Persediaan mie udah abis?" Teriak Dea dari dapur, "Kenapa gak bilang stoknya udah abis? Kan aku bisa beli lagi ...." Lanjutnya yang sudah berdiri dihadapanku.


"Kan tugas belanja mingguan bukan tugasku, harusnya kau bisa tau persediaan apa aja yang abis saat melihat isi kulkas dan lemari gantung." Jelasku mulai kehabisan tenaga.


"Tingkat kemalasannya hari ini benar-benar maksimal ya, padahal tadi pagi masih bersemangat." Gumam Dea sambil duduk dikursi putar yang menghadap kearahku, "Hem... kayanya aku kelupaan sesuatu deh, tapi apaan ya?" Lanjutnya bergumam.


"Gak bisa, aku gak bisa berpikir, perutku terlalu lapar ...." Ucapnya membuatku bangkit dari sofa dan bergegas pergi kedapur untuk menyiapkan makan malam untuk Dea.


"He? Berubah pikiran?" Tanya Dea yang sudah duduk dikursi dan menopang dagunya dengan tangan kanan di atas meja makan, "Nasi goreng?" Lanjutnya bertanya, namun tak ku jawab karena apa yang dikatakannya memang benar, aku sedang memasak nasi goreng saat ini.


"Habiskan!" Ucapku sambil memberikan nasi goreng buatanku kepada Dea.


"I–iya... tapi tolong hentikan ekspresi mengerikanmu itu! Kau membuatku takut." Tutur Dea nyaris berteriak.


Ku putuskan untuk kembali keruang tengah dan bermain komputer seperti biasanya.


"Woii!" Ucap Dea mengejutkanku, membuatku refleks melihat kearahnya yang sudah berdiri disamping meja komputerku dengan ekpresi marahnya, "Kau mau membunuhku ya?" Lanjutnya berteriak.


"Apa sih? Berisik tau!" Ucapku sambil memalingkan wajahku darinya.


"Nasi gorengnya dikasih cabe rawit berapa biji?" Tanyanya masih terdengar kesal.


"Hhaha... itu hukuman buat orang pelupa." Ucapku menatapnya dengan tajam.


Aku memang sengaja membuat nasi goreng pedas untuknya karena merasa kesal dengan ingatan labilnya itu. Jadi aku mengiris banyak cabe rawit sekecil mungkin supaya Dea tidak menyadarinya. Dan sekarang aku sangat puas melihatnya kepedasan seperti itu.


"Pe–pelupa?" Tanyanya dengan ekspresi wajah tanpa dosanya.


"Kau janji membelikan big cola dan keripik balado pagi tadi, sampai aku bersabar menunggu kepulanganmu dan menyambut kedatanganmu dengan gembira, tapi apa yang ku dapatkan? Tidak ada! Padahal aku sangat ingin meminum cola dan memakan keripik balado ...." Jelasku berapi-api membuat Dea tak bisa berkutik.


"Ha... aku lupa, jadi itu yang aku lupakan, maaf ...." Gumamnya mengakui kesalahannya, "Tapi gak seharusnya kau balas dendam dengan cara memasakan nasi goreng pedas disaat aku sedang sangat lapar!" Lanjutnya berteriak.


"Aaa... apa yang kau lakukan!?" Teriak ku tak terima dengan perlakuannya.


***


"Yeay weekend." Teriak Kinan berlari kearah komputernya.


"Mandi gak?!" Ucap Dea penuh penekanan saat keluar dari kamar mandi mengejutkan Kinan.


"Nanti sore." Jawab Kinan sambil melangkahkan kakinya kearah kursi putarnya.


"MANDI!!" Teriak Dea sambil melemparkan bantal sofa ke kepala kakaknya, membuatnya memekik kesakitan.


"Hobi banget lemparin bantal ke kepalaku, kalau aku geger otak gimana coba?" Gumam Kinan sambil berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Gak mungkin kepalamu sampai geger otak cuma karena dilemparin bantal." Jelas Dea yang mendengar gumaman kakaknya itu, dan gadis itu menatap Kinan dengan tajam penuh dengan ancaman agar kakaknya mau mandi.


"Siapa tau kan?" Tanya Kinan menyangkal penjelasan adiknya.


"Udah cepet mandi sana!" Ucap Dea sambil menghela nafas.


'Kalau aku melawan bisa-bisa dia gangguin aku lagi waktu main game.' Batin Kinan sambil masuk kedalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Kinan pun segera menyiapkan sarapan pagi dan makan pagi bersama dengan Dea.


"Hari ini aku mau belanja seperti biasanya, kakak bersih-bersih rumah utama ya ...." Jelas Dea setelah menelan makanan dimulutnya.


"Hee... gak mau, hari ini aku harus menyelesaikan misi game ku." Tolak Kinan.


"Kau bisa melakukannya setelah selesai bersih-bersih kan? lagian besok kita kedatangan tamu kan? Jangan bilang kau lupa? Kau lupa kan? Iya kan?" Tanya Dea mulai menatap Kinan dengan mata tajamnya.


"Oh jadi besok ya." Gumam Kinan sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya.


"Oii!" Bentak Dea.


"Jadi kakak bersih-bersih rumah, dan aku pergi berbelanja," jelasnya, "Kau harus membersihkannya sampai bersih. Jangan mempermalukan dirimu, besok kau harus menerima tamu tanpaku. Jadi bersikap dewasalah." Lanjutnya menjelaskan apa yang ada didalam pikirannya.


"He? Sendiri?" Tanya Kinan setelah menelan makanan dimulutnya.


"Iya, besok kan aku harus sekolah. Jadi kau harus menanganinya sebaik mungkin, yang dewasa ingat itu!" Jawab Dea.


"Hee... tidak mau, Dea izin aja dulu, jangan sekolah dulu, satu hari aja ...." Rengek Kinan membuat emosi Dea memuncak.


"Kau harus bisa melakukannya tanpaku, kau bukan anak kecil lagi, jangan terus-terusan bergantung pada adikmu." Jelas Dea membuat Kinan murung.


"Aku selesai," ucap Dea setelah selesai menghabiskan sarapan paginya, "Aku pergi belanja dulu." Lanjutnya meninggalkan kakaknya di dapur.


"Deaaa..." Rengek Kinan yang belum selesai makan.


***


"Ha melelahkan." Gumam Kinan yang sedang tiduran dilantai untuk mendinginkan tubuhnya yang kepanasan dan membiarkan angin masuk melalui jendela yang sengaja dibuka.


"Pada akhirnya aku bersih-bersih sendiri, Dea sengaja banget jam segini belum pulang." Lanjutnya sambil melihat jam tangan yang menunjukan pukul sebelas siang.


'Tapi udah lama banget aku tidak bisa sebebas ini ... biasanya aku akan mempertahankan akting pemalasku saat bersama dengan Dea, tapi kadang malah jadi kebiasaan ....' Batin Kinan dengan mata kantuknya, dan kini wanita itu mulai memejamkan matanya perlahan.


xxx