Dea & Kinan

Dea & Kinan
124. Akira & Kinan



"Sebenarnya berapa banyak tamu undangan yang datang hari ini? Kenapa semakin larut malah semakin banyak yang datang?" Gumam Kinan memperhatikan beberapa tamu undangan yang baru datang dan menyelamatinya.


"Apa kau lelah?" Bisik Akira mengejutkan wanita itu.


"Kau pikir ini menyenangkan?" Tanya Kinan ikut berbisik.


"Memangnya kau pikir ini tidak menyenangkan?" Jawab Akira balik bertanya, "padahal ini hari pernikahan kita loh." Lanjutnya membuat Kinan tersipu.


'Ya–dia benar sih, tapi tetap saja aku tak suka berlama-lama diacara seperti ini. Rasanya ingin pergi dan menghirup udara segar. Tapi tak bisa, karena aku adalah pemilik acara hari ini.' Batin Kinan sambil menghela napas pasrah.


"Oii." Ucap Akira mengejutkannya.


"Selamat ya ...." Tutur Manda menarik perhatian Kinan.


"Manda?" Gumam Kinan menerima jabat tangan dan pelukan dari wanita itu.


"Aku mendapat undangan dari adikmu, aku juga sudah mengetahui semuanya dari Dafa. Maafkan semua kesalahanku ya ...." Jelasnya membuat Kinan tersenyum saat sorot mata Manda terlihat berkaca-kaca mengingat semua perlakuan buruknya pada Kinan.


"Sudah lama ku maafkan ko." Ucapnya membuat Manda kembali memeluk Kinan sebelum meninggalkannya dengan Akira.


"Sudah baikan?" Tanya Akira segera mendapat sikutan maut dari istrinya.


"Apa?" Lanjutnya bertanya membuat Kinan refleks menunjukan senyuman lebarnya pada Akira.


***


Setelah melalui banyak hal, akhirnya hari ini tiba. Aku benar-benar tak pernah menyangka akan menikah dengan Akira.


Rasanya bahagia bisa melihat senyuman kedua orang tuaku yang memperhatikanku dari tempat mereka, bersama dengan tante Karina dan suaminya.


Ku perhatikan wajah Akira yang tak seperti biasanya, membuatku bertanya-tanya mungkinkah dia juga merasa bahagia sepertiku sekarang?


Biar bagaimanapu dulu dia tidak jadi menikah kan? Dan itu pasti membuatnya sedih dan sempat membenci sosok Kiara. Tapi sekarang, dia menikahiku. Apa dia merasa bahagia?


"Ada apa?" Tanya Akira menyadarkanku.


"Wajahku memang tampan, berhenti melihatku seperti itu." Lanjutnya membuatku segera mengalihkan pandanganku kesembarang arah untuk menyembunyikan rasa maluku karena ketahuan memperhatikannya diam-diam.


"Bohong, kau boleh melihatku sesukamu." Ucapnya lagi sambil menarik daguku kearahnya, dan kulihat senyuman lebar yang ditunjukannya padaku.


"Maunya." Ucapku kembali memperhatikan tamu undangan yang masih berdatangan sampai tanpa sadar aku juga malah tersenyum mendengar ucapannya.


Ku lihat Dea sedang berbincang bersama Fani, Rafi dan Megan disudut ruangan. Lalu beralih pada sosok Fino yang berbincang bersama dengan Bayu dan Dev tak jauh dari tempat Kiara dan Manda yang sedang berbincang didekat anak tangga.


Rasanya malam ini begitu panjang, bahkan waktu baru menunjukan pukul 08:15 pm. Acaranya masih tersisa satu jam empat puluh lima menit lagi sampai selesai.


"Ku dengar Dea akan kuliah di luar negri, apa itu benar?" Tanya Akira sambil meraih tangan kiriku.


"Ya, setelah kontraknya dengan tante Karina selesai." Jawabku tak meliriknya sedikitpun.


"Kau ini. Ibuku sudah menjadi ibumu juga, berhenti memanggilnya tante. Panggil dia ibu atau–" Jelasnya membuatku terlihat bodoh dihadapannya.


"Seriusan?" Gumamku.


"Tentu saja, ibuku juga ibumu sekarang." Jawab Akira kembali menunjukan senyumannya.


"Kepalamu bermasalah ya?" Tanyaku membuat senyumannya memudar.


"Apa maksudmu?" Tanyanya memasang ekspresi datarnya.


"Hari ini kau banyak sekali tersenyum, membuatku takut ...." Jelasku membuat pria disampingku ini terlihat kesal.


"Begitu baru benar." Lanjutku saat melihat ekspresi kesal Akira yang membuat perutku terasa geli.


"Haah ... kau benar-benar menyebalkan ya." Gumam Akira membuatku melirik kearahnya saat aku sedang diam-diam mentertawakannya.


Ku lihat dia juga melirik kearahku dan tersenyum jahil padaku.


"He?" Tanyaku tak mengerti dengan maksud senyuman dan tatapannya itu.


Lalu ku rasakan bibirnya mengecup keningku dengan lembutnya, membuatku mematung beberapa saat. Mencoba untuk memahami apa yang baru saja terjadi padaku.


Lalu ku dengar beberapa orang berteriak kegirangan melihat aksi Akira yang menciumku tanpa pikir panjang didepan para tamu undangan, barulah aku tersadar dengan situasiku saat ini.


"Apa yang kau lakukan?" Bisikku merasa kesal dengan tindakannya bersamaan dengan rasa panas diwajahkku.


Tapi pria itu malah tersenyum lebar tak memperdulikan ucapan orang-orang disekitarnya. Dia bahkan tak terlihat malu sedikitpun, dan itu malah membuatku semakin malu karnanya.


"Maunya sih mencium bibirmu, tapi–" Tuturnya segera ku hentikan.


"Kalau kau melakukannya, aku tak akan membiarkanmu hidup." Jelasku membuatnya menghela napas lelah.


"Kau tau? Aku ini suamimu sekarang, aku bebas melakukan apapun pada istriku kan?" Tuturnya sambil berbisik dengan wajah datarnya.


"Ya–ya ... tapi gak ditempat umum juga!" Jelasku penuh penekanan sambil membalas bisikannya.


"Jadi kau sudah menyerahkan dirimu padaku sepenuhnya ya." Bisiknya malah membuatku semakin malu sekaligus jengkel dengan nada bicaranya yang menyebalkan seperti biasanya.


'Ya karena kau suamiku, maka kau berhak atas diriku kan? Kalau bukan suamiku sudah ku hajar sejak tadi.' Batinku menggerutu kesal mencoba untuk menghilangkan suara Akira yang terus menggodaku.


"Ngomong-ngomong bagaimana dengan luka ditanganmu itu?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Lebih baik dari kemarin-kemarin." Jawabku.


"Syukurlah ibu menyiapkan gaun berlengan panjang lainnya, jadi lukamu bisa disembunyikan ... padahal aku ingin melihatmu mengenakan gaun utama kita malam ini, tapi aku tak bisa membiarkan lukamu ditonton banyak orang." Tuturnya terlihat kecewa membuatku sedikit bersalah juga.


Tapi aku bersyukur karena mendapatkan luka ini, kalau tidak. Tante Karina pasti memaksaku untuk mengenakan gaun yang lebih terbuka dari yang ku kenakan sekarang. Dan itu benar-benar tak nyaman untuk ku, aku sudah mencobanya dihari itu. Jadi aku tau gaun itu nyaman atau tidak, tapi ya bisa ku katakan gaunnya sangat cantik.


"Kau hanya ingin memamerkan tubuh istrimu pada tamu undangan ya?" Tanyaku melirik tajam kearahnya.


"Ya karena tubuhmu bagus, aku ingin membuat semua wanita disini merasa iri padamu." Jelasnya sambil tersenyum lebar.


"Kau ini benar-benar tau caranya membuat orang lain merasa kesal ya ...." Gumamku membayangkan semua tamu menghujatku karena menikah dengan Akira, pria yang katanya diincar banyak perempuan diluaran sana.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 10:30 pm sekarang, acara penikahan Akira dan Kinan pun sudah usai.


Keluarga Kinan pun sudah kembali ke rumah Dea bersama putri bungsunya dan Megan, meninggalkan Kinan di rumah besar milik keluarga Akira.


Mereka memang diminta untuk tinggal benerapa hari sebelum akhirnya pindah ke rumah Akira yang disewa dari keluarganya Kinan.


Pria itu memahami perasaan Kinan yang belum bisa berjauhan dengan adiknya, maka dia memutuskan untuk tinggal di rumah Kinan yang dia sewa, setidaknya sampai Dea pergi ke luar negri untuk melanjutkan pendidikannya.


Setelah Dea pergi untuk melanjutkan kuliahnya, maka mereka juga akan pindah ke rumah Akira di kota X. Rumah yang pernah ditempati Kinan selama bekerja di perusahaan game milik Akira di kota itu.


"Dia benar-benar tertidur dengan pulas ya ...." Gumam Akira yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya.


Matanya langsung tertuju pada sosok Kinan yang sudah terlelap diatas tempat tidurnya.


"Sepertinya hari ini sangat melelahkan untukmu ya." Lanjutnya sambil mengelus wajah istrinya dengan lembut setelah berjalan mendekati tempat tidurnya.


Tampaknya wanita itu kelelahan dan langsung tidur setelah memasuki kamar Akira, dia bahkan tak mengganti gaun pengantinnya dan tak membersihkan riasan wajahnya. Sedangkan Akira yang sudah berada di dalam kamar mandi tak menyadari kedatangan Kinan karena saat itu dia memang sedang membersihkan dirinya di kamar mandinya.


xxx