Dea & Kinan

Dea & Kinan
85. Halte bus



Waktu sudah menunjukan pukul 04:00 Pm, langit sore sudah mendung sejak sejam yang lalu. Dan sekarang rintik hujan mulai berjatuhan kembali menyapa daratan.


Dengan lesu kembali ku hela nafas berat saat merasakan udara dingin yang menyapa tubuhku tanpa permisi. Padahal aku sudah mengenakan jaket lebar untuk ukuran pria, tapi tetap saja udaranya terasa menusuk pori-pori kulitku.


"Aku benar-benar membenci hujan," gumamku masih berdiri di halte bus bersama beberapa orang lainnya, orang-orang yang hanya numpang berteduh tanpa berniat pulang dengan mengendarai bus. Menunggu jemputan dari orang-orang terdekatnya.


'Kenapa juga mereka harus berteduh disini? Aku jadi tidak bisa duduk kan.' Batinku menggerutu kesal saat melihat tempat duduk yang sudah terisi penuh dibelakangku.


Bahkan para remaja itu tidak memberikan sedikit tempat untuk si nenek yang berdiri disampingnya.


"Kalau begini pasti akan macet di jalan," tutur seorang wanita berpakaian formal di sampingku sambil memperhatikan jam tangannya.


Ku alihkan perhatianku pada air hujan yang semakin deras, membuatku kembali menghela nafas berat berulang kali.


"Sial! Motorku pake mogok segala lagi." Suara seorang pria yang ku kenali.


"Kyaa... dia tampan sekali." Teriak beberapa gadis remaja dibelakangku.


"Siapa dia? Anak kuliahan kah?" Lanjut seseorang dengan suara bisikannya.


Entah kenapa keributan itu malah membuatku merasa penasaran, dengan ragu ku gerakan kaki ku untuk melangkah mundur, hanya satu langkah. Dan kini mataku berhasil menangkap sosok seorang pria yang sedang memegangi helm ditangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terus merapikan rambut basahnya.


"I–itu kan?" Gumamku saat menyadari sosok pria itu, ya tidak salah lagi. Dia adalah Megan.


"Bagaimana bisa dia berkeliaran disekitar sini? Kampusnya? Bukankah arahnya berlawanan?" Lanjutku bergumam masih memperhatikannya.


Ketika sedang sibuk memikirkan kebingungan itu, mataku malah bertemu pandang dengannya. Tiba-tiba saja matanya terlihat berbinar dan senyumannya mulai mengembang, tangan kiri yang sempat sibuk merapikan rambutnya pun mulai terangkat menyapaku.


"Dea." Ucapnya cukup keras sampai membuat para gadis remaja itu membisu dan melirik kearahku dan kearah Megan secara bergantian.


"Pa–pacarnya kah?" Bisik seseorang membuatku tersentak.


"Mu–mungkin ...."


"Yah sayang banget,"


"Tapi mereka terlihat serasi ya?"


"Kau benar, yang satu tampan yang satunya cantik. Sama-sama tinggi lagi."


Begitulah bisikan mereka yang berhasil membuatku segera membuang wajah dari tatapan Megan. Mencoba menyembunyikan wajahku dari para remaja itu, memeganginya dengan kedua telapak tanganku.


'Haa... ingin mencari lubang dan masuk kesana ....' Batinku merasa malu sendiri dengan pembicaraan meraka.


"Permisi," suara Megan lebih dekat dari sebelumnya.


"Loe baik-baik aja De?" Lanjutnya membuatku refleks melihat kearahnya yang sudah berdiri disampingku, bahkan tangan kirinya sudah bertengger dibahuku.


'He? Jadi tadi dia mengatakan permisi pada wanita disampingku?' Batinku saat menyadari wanita itu bergeser memberikan ruang untuk Megan.


"Loe demam? Wajah loe merah loh," Tanyanya lagi masih memegangi bahuku.


"De–demam?" Tanyaku tergugup.


"Kyaaa..." Teriak beberapa remaja itu kembali mengejutkanku, bahkan Megan juga sampai terperajat saat mendengar suara teriakan mereka.


Aku sendiri sadar kenapa mereka berteriak histeris seperti itu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama jika berada dalam posisi mereka.


Ya benar, saat ini wajah Megan terbilang cukup dekat dengan wajahku. Rasanya jantungku hampir melompat ke luar jika teriakan itu tidak menyadarkanku.


"Gu–gue gak demam beg*!" Bentak ku sambil mendorongnya perlahan, menjauhkan tubuhnya dariku.


"He? Be–beg*?!" Ucapnya terlihat kesal.


'Bodo amatlah, pokoknya aku ingin segera pulang. Jadi ... hujan tolong cepatlah berhenti, atau bus nya tolong cepatlah sampai. Selamatkan aku dari makhluk menyebalkan ini.' Batinku terus berkomat kamit meminta sesuatu yang tak mungkin, biar bagaimanapun hujannya malah semakin deras. Jika diperhatikan lagi, tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Lalu jalanan mulai macet, sudah pasti busnya akan terlambat datang. Dan sialnya lagi, jantungku semakin berdegup dengan cepat saat mengetahui sosok Megan yang masih berdiri disampingku.


"Loe kedinginan ya?" Tanyanya membuatku kembali melirik kearahnya.


"Kalau gitu apa boleh buat." Lanjutnya mengeluarkan headphone di dalam saku jaketnya yang, basah?


"Hallo? Fino–" Ucapnya membuatku kebingungan.


"Hem, jemput gue di halte bus dekat sekolahan SMA Y. Bawain baju ganti juga." Lanjutnya masih sibuk menelpon.


"Sekarang! Jangan pake lama." Tegasnya sebelum menutup panggilannya.


"Loe beg* ya?" Tanyaku membuatnya melirik tajam kearahku.


"Udah tau jalanan macet, hujannya juga deras. Malah minta Fino datang cepat ...." Lanjutku menjelaskan.


"Yah itu kan pinter-pinter si Fino cari jalan lain. Gue cuma gak mau motor gue terus kehujanan di parkiran sana!" Tuturnya sambil menunjuk kearah kafe di sebrang jalan.


"He? Loe dari sana?" Tanyaku.


"Cewe lain lagi kan? Gue paham ko, semua laki-laki kan gitu." Tuturku sambil memperhatikan tetesan hujan yang terjun bebas menyapa jalanan beraspal.


"Semua ya?" Gumamnya membuatku menganggukan kepalaku.


"Kakak loe juga. Terakhir kali gue pulang sekolah ... kapan ya? Pokoknya gue pernah lihat dia keluar dari kafe itu dengan seorang perempuan ...." Jelasku berusaha mengingat kejadian saat itu.


'Dan lagi ... mantan gue juga ninggalin gue karena cewe lain.' Lanjutku dalam hati sambil menghela nafas berat.


30 Menit sudah kami menunggu kedatangan Fino, Megan juga tak banyak bicara lagi. Terlihat jelas bahwa tubuhnya menggigil kedinginan sekarang. Wajar saja, pakaiannya basah kuyup dan hujan juga tak kunjung mereda.


"Lepas jaketmu bodoh!" Bentak ku membuatnya terkejut.


"Kalau dilepas malah makin dingin." Jelasnya membuatku geram.


"Kalau gak dilepas loe bisa masuk angin beg*!" Bentak ku lagi sambil merebut helm ditangannya, membiarkannya melepas jaket yang dikenakannya.


"Si Fino kurang ajar! Udah dibilangin datangnya cepet. Malah ngaret setengah jam ...." Gerutunya terdengar kesal sambil mengambil sikap duduk dibangku halte.


Semua orang yang berteduh di halte sudah meninggalkanku satu persatu saat jemputan mereka tiba, dan sisanya pergi dengan bus yang tiba di halte lima belas menit yang lalu.


Aku juga ingin segera pulang dan berniat naik bus. Tapi melihat kondisi Megan yang menyedihkan seperti saat ini, ku urungkan niatku untuk meninggalkannya. Fino juga masih di dalam perjalanan, katanya sepuluh menit lagi dia sampai.


"Haa..." Ucapku kembali menghela nafas berat.


"Berhenti menghela nafas seperti itu! Bikin gue jengkel aja." Bentaknya membuatku terkejut.


Wajahnya terlihat pucat sekarang, dan tubuhnya semakin menggigil. Ingin rasanya memarahinya, kenapa? Karena dia begitu bodoh. Jika tau hujannya lebat dan motornya mogok, kenapa dia tidak kembali ke dalam kafe saja? Disana jauh lebih baik dan hangat kan? Tapi dia malah berlari ke halte bus untuk berteduh sampai kedinginan seperti saat ini.


"Dasar bodoh!" Ejek ku sambil melepaskan tas sekolahku dan membuka jaket hitam yang ku kenakan.


"Lepas pakaianmu itu." Lanjutku membuatnya menatap mataku.


"Ha?" Tanyanya dengan ekspresi tak bersahabat.


"Gue bilang buka baju loe! Ba-ju loe!" Jawabku penuh penekanan, "terus pake ini." Lanjutku sambil melemparkan jaketku ke pangkuannya.


"Loe gila?" Tanyanya membuatku geram dan segera duduk disampingnya.


"Loe bisa kedinginan." Lanjutnya menghentikan tindakanku yang hampir memarahinya.


"Ha? Pakaian gue kering gak basah kaya loe. Jadi gak akan terlalu dingin. Udah sih pake aja jaketnya, lepas dulu bajunya. Gue yakin loe lebih kedinginan dari gue, keliatan dari muka loe." Jelasku membuatnya membisu.


"Harusnya tadi gue paksa loe pulang naik bus aja bareng gue. Sekarang bus terakhir pun datangnya masih satu jam lagi, apa gue panggil taxi aja ya?" Lanjutku bergumam sambil memainkan kakiku, sedangkan pandanganku terfokus pada langit-langit halte bus.


"Gak usah!" Ucapnya membuatku terkejut, ku lihat Megan sudah mengenakan jaketku. Entah kenapa aku merasa lega karena hari ini aku menggunakan jaket lebar, seandainya aku mengenakan jaket perempuan. Mungkin aku akan tertawa saat melihat sosok Megan yang mengenakan jaketku.


"Fino sudah sampai." Lanjutnya membuatku melihat kearah mobil hitam yang sudah berhenti di depan halte, bahkan aura mengerikan di tubuh Megan mulai mengalir keluar. Mungkin merasa kesal dengan keterlambatan Fino.


"Ma–maaf saya terlambat tuan muda, tadi nyonya–" Jelas Fino terhenti setelah keluar dari dalam mobilnya. Pria itu mulai berkeringat dingin saat melihat Megan memelototinya, sedangkan aku hanya bisa tersenyum kaku melihat kelakuan Megan.


"Bawa motornya kebengkel!" Ucapnya sambil memberikan kunci motor ke tangan Fino, membuat pria itu kebingungan.


"Hukuman karena datang terlambat!" Lanjutnya sambil merebut helm ditanganku dan memberikannya pada Fino.


"Apa maksud loe?" Tanyaku merasa takut sendiri saat mengetahui sifat aslinya. Pria ini benar-benar mengerikan jika sedang marah.


"A–anda yakin tuan muda? apa anda bisa menyetir dengan kondisi tubuh tuan yang seperti ini?" Tanya Fino gelagapan, merasa khawatir dengan kondisi Megan.


"Fi–fino benar. Biar dia saja yang menyetir mobilnya ya." Bujuk ku berusaha meyakinkannya.


"Ayo pulang!" Ajaknya tak mendengarkanku.


"Dengerin gue! biarkan Fino yang nyetir mobilnya, gue gak mau ya berakhir di rumah sakit. Mana ujian nasional tinggal beberapa minggu lagi, kalau gue sampai sakit bisa gawat!" Ocehku merasa nyawaku dalam bahaya.


"Kalau gitu loe balik bareng Fino aja!" Ucapnya sambil masuk kedalam mobil membuatku mematung ditempat.


'He? dia bilang apa?' Batinku mulai merasa kesal dengan kelakuan menjengkelkannya.


"Tu–tuan tolong dengarkan saya, biarkan saya yang mengemudikan mobilnya tuan ...." Bujuk Fino masih tak di dengarkan.


"Biarkan saja. Ayo pergi!" Ucapku merebut payung besar ditangan Fino, lalu menarik tangannya kearah penyebrangan jalan.


"Tu–tunggu nona, tuan muda ...." Ucapnya tak ku dengarkan.


"Menyebalkan!" Gumamku merasa kesal sendiri, dan kini ku lihat mobil hitam yang dikendarai Megan mulai melesat jauh meninggalkanku dan Fino di depan penyebrangan jalan.


"Nona?" Tanya Fino membuatku segera melepaskan tanganku yang sempat mencengkramnya dengan erat.


"Ma–maaf ...." Ucapku sambil menggaruk kepala bagian belakangku masih memegangi payung yang melindungiku dan Fino dari tetesan air hujan.


xxx