Dea & Kinan

Dea & Kinan
115. Terbuka 2



"Aku gak tahan lagi!" Teriak Dea langsung menghubungi kakaknya yang masih bekerja di luar kota.


"Gak aktif?" Lanjutnya terlihat kesal.


"Udah si, lagian dia disana bareng Fino." Suara Megan membuat gadis itu mendengus kesal sambil melempar heandphonenya keatas sofa.


"Iya dia bareng Fino, tapi seenggaknya telpon gue sekali kek ... dan lagi gue gak akan memaafkan si Fino. Awas aja kalau dia udah balik, abis dia sama gue!" Jelas gadis itu membuat Megan bergidik ngeri saat merasakan aura menyeramkan yang keluar dari tubuh Dea.


"Lagian, loe bukannya belajar buat ujian nasional hari senin. Malah sibuk mikirin kak Kinan, yakin nilai loe aman?" Tutur Megan berusaha mengalihkan topik pembicaraannya.


"Masih ada hari esok, besok gue baru belajar." Jawabnya sambil menyenderkan tubuhnya disofa ruang tengah.


"Loe gak bosen main game itu mulu? Ganti game lain kek." Lanjut Dea yang melihat Megan tampak asik dengan game yang sedang dimainkannya.


Pria itu sedang duduk di depan layar komputer Kinan sambil memainkan konsol game ditangannya.


"Gak, gue mau namatin ni game dulu baru main game yang lain." Jawab pria itu tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari layar komputer dihadapannya.


"Hee... emangnya calon dokter boleh males-malesan kaya gitu ya?" Ejek Dea tak diperdulikan oleh Megan.


"Arrgh... kalah lagi gue!" Teriak Megan membuat Dea terkejut.


"Loe mau buat gue jantungan?!" Ucap Dea sambil melempar bantal sofa kearah Megan, bantal sofa yang langsung mendarat mulus diatas kepala pria itu.


"Sakit woi!" Geram Megan.


"Balik gih! Udah malem juga–" Ujar Dea bersamaan dengan suara pintu yang diketuk dari luar.


"Siapa?" Tanya Megan membuat gadis itu segera berjalan kearah pintu rumah dengan malasnya.


"Jangan-jangan kak Kinan balik De." Lanjut Megan membuat gadis itu segera berlari kearah pintu dengan penuh semangat.


"Benar-benar berubah 180°. Pft ... terlihat seperti anak kecil yang menunggu kepulangan orang tuanya." Gumam Megan sambil geleng-geleng kepala saat melihat kelakuan tetangganya itu.


Dea segera memutar knop pintu rumahnya sambil berteriak memanggil nama kakaknya, namun langkahnya terhenti saat mendapati kedua orang tuanya yang berdiri dihadapannya dengan senyuman lebarnya.


"Ibu? Ayah?" Gumamnya sambil mencubit pipinya untuk memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi.


"Ada apa denganmu nak?" Suara pak Arya membuat Dea segera terjun kedalam pelukan pria itu.


"Huwaaa... Dea kangen banget sama Ayah." Teriak gadis itu setengah bahagia bercampur haru mengingat kakaknya tak ada di rumah saat ini.


"Hhaha... putri ayah kangen nih bu." Goda pak Arya membuat istrinya tersenyum geli.


"Dea juga kangen sama ibu." Lanjut gadis itu segera memeluk ibunya.


"Ibu juga kangen sama Dea." Tutur bu Hanum sambil mengelus kepala belakang putri bungsunya itu.


"Dimana Kinan?" Tanya pak Arya membuat Dea segera melepaskan pelukannya.


"Kakak ada pekerjaan di luar kota," jawab Dea.


"Eh, ibu kira kakakmu kerja di rumah ...." Ucap bu Hanum.


"Siapa De? Kenapa gak dibawa masuk?" Suara Megan mengejutkan gadis itu. Dia lupa dengan kehadiran pria itu di rumahnya.


"Wah ada nak Megan, apa kabar nak?" Sapa pak Arya sambil tersenyum ramah kearah pria itu, pria yang sudah berdiri tepat dibelakang putri bungsunya.


"Kalian sudah makan malam?" Tanya bu Hanum yang masuk ke dalam rumahnya diikuti langkah Dea, Megan dan pak Arya.


"Udah, ibu sama ayah udah makan? Mau Dea buatkan makanan?" Jawab gadis itu dengan sangat antusias.


"Memangnya Dea udah pintar masak?" Tanya sang ayah sedikit menggoda putrinya itu.


"Kalau harus diberi nilai sih, nilai masakannya masih ada 70 poinlah. Belum bisa mengalahkan masakan kak Kinan yang memiliki poin 100." Jawab Megan ikut menggoda tetangganya itu.


"Kalau gitu besok gue gak akan masakin sarapan pagi buat loe lagi ya!" Tutur gadis itu penuh penekanan membuat kedua orang tuanya tertawa.


"Wah, putri ibu sudah pada besar ya. Dea juga sudah bisa hidup mandiri, ibu jadi tidak khawatir untuk menikahkan kakakmu." Tutur bu Hanum setelah puas tertawa.


"Eh ko gitu sih? Dea belum mau berpisah sama kakak ya." Teriak Dea tak menghentikan langkah ibunya yang sudah berjalan memasuki dapur rumahnya.


"Suatu saat nanti kamu juga akan menikah nak. Kedua putri ayah harus menikah, ayah gak mau punya putri perawan tua dikeluarga ayah." Tutur pak Arya sambil mengelus kepala Dea yang masih berdiri di dekat ayahnya.


"Ih ayah ngomongnya itu loh ...." Ucap Dea langsung mendapat senyuman hangat dari sang ayah yang memang sangat murah senyum pada siapapun.


"Kalau loe galak-galak terus kaya gitu. Ya gak heran kalau ujung-ujungnya loe bakal jadi perawan tua." Tutur Megan yang sudah kembali duduk di depan komputernya.


"Hah? Kau bilang apa?!" Ucap Dea penuh penekanan membuat pria itu segera bersiul tak menanggapi kekesalan Dea yang menatapnya penuh ancaman dibelakangnya.


***


Terlihat seorang wanita berambut pirang memasuki kediaman tuan Danu dengan ekspresi kesalnya. Selain itu langkahnya juga di ikuti oleh beberapa pria berbadan kekar dengan jas hitam dan kacamata hitam yang dikenakannya.


"Sampai kapan kalian mau mengikutiku?" Suara Delia membuat pergerakan ketiga pria berjas hitam itu terhenti.


"Maaf nona, tuan meminta kami untuk membawa nona ke ruangannya." Jawab salah satunya membuat wanita itu menghela napas lelah.


"Pergilah! Aku bisa pergi sendiri!" Ucapnya segera pergi ke arah ruangan pribadi tuan Danu yang tak lain adalah ayahnya Delia.


'Padahal aku tak berniat untuk pulang. Siapa sangka ayah akan menyuruh orang-orang itu untuk menjemputku secara paksa. Menyebalkan!' Gerutunya dalam hati sebelum memasuki ruang kerja sang ayah.


Disisi lain...


"Jadi pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Akira di depan beranda rumahnya, duduk manis diatas kursi yang tersedia disana sambil menikmati teh hangat buatan Kinan yang sudah lama tak dia rasakan.


"Ya. Jadi aku memutuskan untuk pulang besok, aku khawatir jika meninggalkan Dea sendirian di rumah." Jawab Kinan yang juga duduk disebuah kursi yang menghadap kearah Akira dengan sebuah meja yang menjadi penghalang mereka.


"Ku kira kau akan disini bersamaku sampai pekerjaanku selesai, jadi kita bisa pulang bersama nantinya." Tutur Akira terlihat murung.


"Aku tidak bisa menunggu sampai lusa. Kau tau kan lusa nanti Dea akan menghadapi ujian nasional? Aku ingin memastikan pola makannya selama aku masih bisa bersamanya." Tuturnya membuat Akira terdiam untuk beberapa saat.


"Kau benar. Setelah kita menikah nanti, aku akan memiliki banyak waktu denganmu. Jadi aku akan membiarkanmu bersama Dea untuk sementara waktu. Nikmatilah waktu kebersamaan kalian." Ucap pria itu menyetujui perkataan Kinan dengan senyum kemenangan diwajahnya.


"Banyak waktu? Entahlah ... kau sendiri sangat sibuk dengan pekerjaanmu itu. Aku tidak yakin kau bisa memiliki banyak waktu untuk ku." Tutur Kinan sambil bangkit dari tempat duduknya dan segera masuk kedalam rumah Akira tanpa banyak bicara lagi.


'Waktu kami untuk bersama tak akan lama lagi kan? Entah kenapa ini malah membuatku semakin gugup. Padahal acaranya tinggal beberapa hari lagi, tapi perasaan gugupku sudah menguasaiku secepat ini. Memalukan!' Lanjutnya mengoceh berusaha untuk menenangkan dirinya.


Disisi lain Akira masih anteng duduk diteras rumahnya sambil menikmati sisa teh hangat didalam cangkirnya, dan sesekali menghela napas lelah saat mengingat perkataan Kinan soal kesibukannya dalam mengurusi pekerjaannya.


xxx