
Hari ini Kinan mulai sibuk membuat kue pesanan tante Karina dengan bantuan para karyawan toko kue itu.
Wajah wanita itu juga tampak teduh dan berseri-seri, entah karena diberikan kepercayaan untuk membuatkan kue oleh Karina atau karena ada penyebab lain.
"Wah tampaknya hari ini bos sedang bahagia ya?" Goda seorang karyawan pria berusia 19 tahun dengan gaya rambut belah tengahnya.
"Jangan menggoda nona Kinan bodoh!" Umpat seorang gadis seusianya sambil menjewer kuping pria itu.
"Hhaha tak apa, aku memang sedang bahagia hari ini." Jelas Kinan membuat pertengkaran mereka terhenti.
'Mungkin lebih ke perasaan tidak sabar ... aku ingin segera memberikan hadiah ini untuk Akira. Kira-kira bagaimana reaksinya saat aku menghubunginya sore nanti?' Lanjutnya dalam hati sambil membayangkan ekspresi Akira yang mungkin akan diperlihatkan padanya.
Disisi lain, Bayu dan Kiara kedatangan tamu di kantornya. Raut wajah mereka terlihat lega saat melihat sosok Dafa yang berjalan menghampiri mereka yang sedang duduk disofa menikmati teh hangat yang disajikan oleh pelayan kantor.
"Akhirnya kau datang juga." Ucap Kiara sambil memberikan senyuman manisnya.
"Duduklah." Lanjut Bayu mempersilahkan, membuat pria itu segera duduk di tempat yang masih kosong.
"Jadi bagaimana? Apa kau mau bekerja sama dengan kami?" Tanya Kiara tanpa basa-basi.
"Ya, aku bersedia bekerja sama dengan kalian. Dengan persyaratan yang kalian tawarkan padaku." Jawabnya sambil memberikan surat perjanjian ketangan Kiara.
"Ah sudah kau tanda tangani ya ...." Gumam wanita itu sambil melihat surat perjanjian ditangannya.
"Jadi apa yang harus ku lakukan?" Tanya Dafa tak ingin membuang waktu bersama Kiara dan Bayu.
"Mudah saja, hanya mengawasi majikanmu. Dan laporkan setiap gerak-gerik dan rencananya padaku." Jawab Kiara sambil memberikan senyuman sarkasnya.
"Jadi mata-mata ya ...." Gumam Dafa sambil menghela nafas lelah.
"Kalau bisa gagalkan rencananya juga, tentu saja jangan sampai dia tau kalau kau yang menggagalkan setiap rencananya itu." Lanjut Bayu sambil meletakan cangkir teh ditangannya.
"Gagalkan?" Tanyanya.
"Ya, setiap dia merencanakan sesuatu dan kau melihatnya melakukan sesuatu yang mencurigakan. Selidiki dan gagalkan rencananya ...." Jawab Bayu.
"Aku akan langsung mengurus semua kebutuhan ibumu. Jadi bekerjalah dengan baik, jangan sampai aku melakukan hal jahat dengan mencabut perawatannya." Tutur Kiara sambil bangkit dari tempat duduknya membuat Dafa menengadah memperhatikan senyuman wanita itu.
"Jangan mengecewakan kami. Aku tidak akan suka jika mengetahui kau bermain-main dengan kami." Lanjut Bayu sambil menepuk bahu Dafa.
"Aku heran pada kalian, bukankah dulu kalian bermusuhan dengan Kinan? Kenapa sekarang malah berada dipihaknya?" Gumam Dafa bertanya-tanya.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 09:45 Pm, aku baru selesai menghias kue coklat pesanan tante Karina bersama dengan beberapa karyawan toko.
"Akhirnya selesai juga." Ucap Aldi sambil memijat bahunya yang pegal.
"Yeay..." Lanjut Ririn berteriak bahagia memperhatikan mahakaryanya.
"Terima kasih ya sudah membantuku hari ini." Tuturku merasa tertolong dengan bantuan mereka berdua, ya sejujurnya yang membantuku ada banyak. Tapi mereka sudah ku izinkan pulang sore tadi.
"Gak masalah bos, udah lama juga kita gak sesibuk ini." Jelas Aldi sambil tersenyum lebar.
"Setelah ini kalian bisa pulang, datang lagi pagi-pagi ya. Bantu aku untuk membawa kue nya ke kediaman tante Karina." Tuturku membuat mereka tersenyum.
"Siap!" Ucap mereka bersamaan.
"Ah ya, untuk meja yang itu ... kami sudah selesai menghiasnya. Nona bisa memeriksanya," lanjut Ririn sambil memperlihatkan senyuman manisnya.
"Semoga sukses ya bos acara kejutannya." Ucap Aldi sambil mengacungkan ibu jarinya dan memperlihatkan senyuman lebar yang menunjukan deretan gigi putih nan rapinya.
"Terima kasih banyak." Tuturku membalas senyuman mereka.
"Tapi bos, bos yakin tidak ingin kami tinggal? Setidaknya sampai tuan Akira tiba." Tanya Aldi tampak khawatir.
"Jangan khawatir, aku sudah menghubunginya sejak sore tadi. Tak akan lama lagi dia pasti datang." Jelasku berusaha meyakinkan mereka, meski sebenarnya aku tidak yakin. Soalnya aku baru mengirimkan pesan padanya satu jam yang lalu, dan belum ada balasan darinya.
"Baiklah kalau begitu kami pamit sekarang, jangan sampai kami merusak acara kejutannya." Tutur Ririn sambil tersenyum jahil dengan tatapan menggodanya.
"Apaan sih." Gumamku merasa salah tingkah.
"Udah ayo balik, jangan menggoda bos terus. Mari bos ...." Ucap Aldi sambil menggeret tangan gadis itu menuju pintu keluar.
Ku langkahkan kaki ku kearah lemari es di dapur dan mengeluarkan sebuah kue coklat kecil yang ku buat khusus untuk merayakan ulang tahun Akira.
"Harusnya dia datang pukul sepuluh, masih ada waktu lima belas menit lagi. Tapi kenapa pesanku belum di balas ya?" Gumamku bertanya-tanya sambil memeriksa heandphoneku.
'Sejak kapan aku menunggu pesan balasan darinya? seperti bukan diriku saja.' Lanjutku dalam hati sambil memasukan kembali heandphoneku kedalam tas kecil yang tersimpan diatas kursi kosong disamping tempat duduk ku.
***
"Nofi!" Teriak seorang perempuan melalui heandphone Fino.
"Nofi?" Tanya Fino kembali mendekatkan heandphonenya setelah sempat menjauhkannya dari telinga saat mendengar suara wanita yang melengking meneriakinya dengan panggilan Nofi.
"Kalau malem nama loe jadi Nofi," Ejeknya membuat pria itu kebingungan.
"Ini gue Kiara, loe dimana? Akira bareng loe kan?" Lanjutnya bertanya.
"Sejak kapan nona Kiara menggunakan bahasa gaul seperti itu?" Gumam Fino merasa syok.
"Saya baru sampai di rumah nyonya, tuan Akira masih di kantor." Lanjutnya membuat Kiara kembali berteriak memanggilnya dengan sebutan "Nofi."
"Balik ke toko kue tante Karina gak?!" Tanya Kiara terdengar mengancam.
"Ha?" Gumam pria itu memasang ekspresi bingungnya.
"Balik ke toko kue tante Karina sekarang juga!" Lanjutnya menegaskan.
"Ke–kenapa saya harus pergi kesana?" Tanya Fino masih tak mengerti dengan perintah wanita itu.
"Udah loe balik sana aja dulu. Temenin si Kinan." Jawab Kiara sebelum mematikan sambungan telponnya.
"Nona Kinan?" Gumanya sambil memperhatikan layar heandphonenya.
"Banyak miss call dari nona Kinan, kenapa aku baru menyadarinya." Lanjutnya segera memutar arah mobilnya dan mulai melaju dengan kecepatan tinggi.
Setelah menghabiskan waktu selama tiga puluh menit menempuh perjalanan jauh dengan kecepatan tinggi. Akhirnya Fino sampai di parkiran toko kue yang dituju.
Dengan cepat pria itu keluar dari dalam mobilnya dan berlari kedalam toko saat melihat sosok Kinan yang sudah terlelap dimeja pelanggan dengan beralaskan tangan sebagai batal kepalanya.
Dilihatnya jam dinding di dekat meja kasir, waktu sudah menunjukan pukul 10:15 Pm.
"Kenapa nona Kinan malah tidur disini?" Tanyanya sambil berjalan mendekati wanita itu, lalu matanya beralih pada kue coklat yang sudah tersaji di dekat tangan Kinan bersama dengan bungkusan kado berukuran sedang.
"Ah, ulang tahun tuan." Lanjutnya saat menyadari tanggal lahir majikannya.
"Tapi masih ada waktu satu jam empat puluh lima menit lagi. Kenapa tidak merayakannya di rumah saja?" Gumamnya sambil mengeluarkan heandphonenya dari dalam saku jas hitamnya.
Pria itu langsung mengirimkan pesan untuk Akira setelah mengambil foto Kinan yang terlelap menunggu kedatangan Akira secara diam-diam, lalu meminta Akira segera datang ke toko kue milik ibunya secepatnya. Tapi tak ada balasan dari pria itu.
Satu jam kemudian, Kinan terbangun dari tidurnya saat mendengar suara alarm yang membangunkannya.
"Leherku ...." Gumam wanita itu sambil memijat tengkuknya dan mematikan alarm di heandphonenya.
"Nona sudah bangun." Suara Fino mengejutkannya.
"Kenapa kau ada disini? Akira?" Tanyanya sambil mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, mencari sosok Akira yang mungkin sudah tiba.
"Tuan masih sibuk di kantor," jelas Fino dengan suara ragunya.
"Ah, seperti yang ku duga ...." Gumamnya telihat lelah.
"Sebaiknya saya antar pulang nona sekarang, besok pagi kan nona harus pergi ke rumah nyonya untuk menghadiri undangan dari beliau." Tutur Fino mengingatkan wanita itu.
"Ya, kau benar ... kenapa juga aku harus repot-repot mempersiapkan kejutan untuk orang bodoh itu?!" Gumamnya sambil bangkit dari tempat duduknya dan segera meraih tas kecil miliknya yang tersimpan diatas kursi kosong disampingnya.
"Nona kue dan hadiahnya?" Tanya Fino tak menghentikan langkah Kinan.
"Makan saja kuenya dan ambil hadiahnya untukmu. Aku mau pulang ...." Jawabnya sambil berhenti di depan pintu toko.
"Cepat keluar, mau aku kunci pintunya." Lanjutnya membuat Fino bergegas dengan kedua tangannya yang sibuk membawa piring Kue coklat dan bungkusan hadiah berukuran sedang.
xxx