Dea & Kinan

Dea & Kinan
81. Pertemuan tak terduga



Semua tamu undangan sudah tiba, acara makan malam pun dimulai setelah tuan Wira memberikan beberapa patah kata ucapan terima kasih kepada semua tamu undangan.


Disisi lain Karina sedang sibuk dengan beberapa tamu perempuan seusianya, bahkan kedatangan Hanum dan Arya pun berhasil mengejutkan Dea dan Kinan.


Mereka tidak tau kalau orang tuanya pun ikut diundang dalam perayaan spesial tuan Wira, maka dari itu saat melihat sosok kedua orang tuanya berjalan memasuki ruang tamu yang luas nan megah itu. Dea segera berlari mendekati ibunya.


Gadis itu langsung memeluk ibunya dari belakang, mengejutkan wanita berusia 37 tahun dihadapannya.


"Dea jangan bersikap seperti ini," Bisik ibunya membuat gadis itu segera melepaskan pelukannya.


"Kenapa ibu tidak bilang kalau ibu dan ayah juga diundang oleh tante Karina?" Tanya Dea masih menggenggam tangan ibunya.


"Bagaimana dengan ujian prakterknya?" Tanya pak.Arya membuat Dea menyeringai.


"Lancar dong. Dea juga mendapat nilai paling bagus berkat bantuan Fani dan Rafa." Jawab Dea begitu percaya diri.


Saat sedang asik berbincang, tiba-tiba saja Karina dan Wira berjalan mendekati mereka. Membuat Dea segera mundur ketika merasakan aura serius yang tercipta diantara mereka.


Megan yang melihat Dea kembali langsung menggoda gadis itu.


"Bagaimana temu kangennya?" Tanyanya membuat Dea kesal sekaligus malu.


"Sudah lama Dea tidak bertemu dengan ibu, terakhir kali saat ibu datang ke rumah. Wajar saja jika dia langsung berlari menemui ibu dan ayah saat melihat mereka ada disini." Jelas Kinan setelah meminum jus cair digelasnya.


"He..." Gumam Megan tak bisa berkata apapun lagi.


"Jadi kenapa kalian tidak duduk berdampingan? Bukankah sebaiknya kalian duduk bersama?" Tanya Kiara memperhatikan Akira yang duduk bersama beberapa rekan kerjanya, bahkan Delia sepupu Kinan dan Dea saja bisa duduk disamping pria itu.


"Biarkan saja, aku lebih suka duduk bersama orang-orang yang ku kenali. Melelahkan jika harus memasang ekspresi tersenyum setiap waktu." Tutur Kinan kembali meminum jus cair digelasnya.


"Soal pembicaraan sore tadi. Kau yakin ingin melakukannya kak?" Tanya Dea membuat wanita itu segera melirik kearahnya.


"Pembicaraan apa?" Tanya Kiara dan Megan bersamaan.


"Rahasia!" Jawab Kinan menutup pembicaraan itu.


"Hee... ayolah beritau aku. Pembicaraan apa yang kalian maksud?" Rengek Kiara.


"Soal masa depan Dea." Jawab Kinan asal bicara.


"Ha?" Tanya Dea tampak terkejut, namun ekspresinya segera berubah saat melihat tatapan kakaknya.


"A-ah ya, aku memutuskan untuk menjadi seorang guru awalnya. Tapi setelah melihat semua nilaiku, ku pikir aku akan mencoba menjadi seorang dokter saja. Sudah lama aku menginginkannya, hanya saja aku merasa kurang percaya diri. Tapi..." Jelas Dea terhenti ketika melihat Kinan menatapnya bingung. Ini pertama kalinya dia membicarakan soal masa depannya, itupun saat dia merubah keputusannya untuk menjadi seorang Dokter setelah dia bercita-cita menjadi seorang guru.


"Hha-haha... itu masih belum pasti ko, aku akan memikirkannya lagi." Lanjut Dea berusaha untuk tetap tertawa ketika kakaknya terus menatap dirinya dengan penuh pertanyaan.


"Ku pikir cita-citamu itu bagus." Ucap Megan membuat gadia itu refleks melihat kearahnya.


Dengan cepat Megan memegangi kepala Dea dengan lembut, lalu memberikan senyuman terhangatnya. Membuat rona merah diwajah gadis itu mencuat, bahkan degupan jantungnya pun semakin berpacu.


Karin dan Kiara yang melihat pemandangan langka itu hanya bisa memperhatikan mereka sambil tersenyum lebar.


"Enaknya, aku jadi ingin punya kekasih lagi..." Gumam Kiara menyadarkan Megan dan Dea. Dengan cepat pria itu melepaskan tangannya dari kepala Dea. Lalu lembali fokus pada hidangan dihadapannya.


"Aku tidak takut." Lanjutnya membuat Dea menghela nafas pasrah saat melihat kakaknya malah tertawa dihadapannya.


Untunglah tempat mereka berjauhan dengan tamu penting yang diundang oleh keluarga Wira. Bukan hanya tamu penting yang menghadiri acara makan malam hari ini, bahkan keluarga Wira meminta mereka untuk membawa putra putri mereka keacara penting ini.


Maka dari itu tempat merekapun dipisah antara orang tua dan anak muda seperti Dea dan Megan. Tamu penting berada dilantai atas sedangkan mereka berada dilantai dasar.


"Permisi nona," ucap Fino mengejutkan Kinan dengan kehadirannya.


"Tuan Akira meminta nona untuk menemuinya diluar." Lanjutnya berbisik pada telinga Kinan, dengan cepat wanita itu melirik kearah meja Akira berada. Rupanya pria itu sudah pergi dari sana.


***


Ku langkahkan kaki ku menuruni beberapa anak tangga dan berjalan kearah air mancur di halaman depan rumah Akira.


Hembusan angin malam ini juga terasa lebih dingin, samar-samar tercium bau tanah. Menandakan hujan akan segera turun malam ini.


"Fino bilang diluar kan? Dimana?" Gumamku bertanya-tanya mencari sosok Akira yang ingin menemuiku.


Ku raih heandphone di dalam saku pakaianku dan mencari nomor Akira. Setelah menemukannya aku langsung menelponnya, tapi tak ada jawaban darinya.


Dua kali, tiga kali ku coba tetap saja tak ada jawaban. Sampai panggilan terakhir tetap saja tak ada jawaban, bahkan dia sengaja mematikan heandphonenya.


"Ni anak maunya apa sih? Tadi ingin menemuiku sekarang malah susah dihubungi. Menjengkelkan!" Gerutuku merasa kesal.


Ku putuskan untuk kembali ke dalam rumah, namun langkahku terhenti saat merasakan seseorang mencekal tangan kananku.


"Kenapa terburu-buru seperti itu?" Suara seseorang yang tak asing bagiku, suara yang sudah lama tak ku dengar. Dengan cepat ku balikan tubuhku menghadap kearahnya. Memperhatikan pria berjas abu dihadapanku.


***


"Maaf membuat kalian menunggu." Ucap Akira kembali duduk ditempatnya.


Kiara dan Dea yang melihat kedatangan Akira hanya bisa memperhatikannya secara diam-diam. Apalagi mereka sama-sama tau kalau Delia menaruh perasaan pada sosok Akira.


Dan Dea tau benar sifat buruk sepupunya itu. Sejak kecil dia dan Kinan tak pernah akrab karena Delia memang dibesarkan diluar negri oleh ibunya. Sedangkan ayahnya sengaja tinggal disini untuk mengurusi perusahaan besarnya. Perusahaan yang hapir gulung tikar itu.


Lalu saat usia Delia menginjak 14 tahun. Dia tinggal bersama ayahnya dan sekolah ditempat yang sama dengan Dea dan Kinan sampai lulus SMP. Usia Delia hanya terpaut satu tahun lebih muda dari Kinan.


"Kinan lama juga ya pergi ke toiletnya ...." Tutur Kiara sambil menyimpan gelas ditangannya.


"Kakak gak tersesat kan? Secara rumah ini begitu luas–" Tanya Dea segera dihentikan oleh senyuman Kiara.


"Banyak pelayan perempuan yang berkeliaran diluar ruangan ini, mereka pasti akan menunjukan jalannya pada Kinan. Jangan khawatir," jelasnya membuat Dea menghela nafas lega.


Disisi lain Delia sudah meminta izin untuk pergi ke toilet pada Akira. Tapi dari gerak geriknya tampak mencurigakan, ditambah lagi tatapan matanya yang begitu serius menatap sesuatu yang begitu jauh dari jangkauannya. Senyuman ramah yang sempat ditunjukan pada beberapa tamu yang menyapanya pun langsung memudar saat kakinya berhasil mencapai pintu keluar yang masih terbuka lebar.


Hembusan angin yang cukup kencang pun menyambut kedatangannya, tatapannya masih terlihat serius memperhatikan sosok Kinan dengan seorang pria yang sudah berdiri di dekat air mancur.


xxx