Dea & Kinan

Dea & Kinan
119. Baikan



Setelah dijemput paksa dan dikurung di dalam rumah selama beberapa hari, akhirnya Delia dipanggil ke ruangan pribadi ayahnya untuk membahas kembali soal rencana mereka yang terbongkar dihadapan Akira.


Bahkan mereka sampai bertengkar hebat karena Delia tak mau melanjutkan rencana ayahnya. Dia memutuskan untuk berhenti menjadi pion ayahnua dan memutuskan untuk pergi dari rumahnya.


Wanita itu benar-benar sudah dikuasai oleh amarah sekarang, tatapannya hanya tertuju pada hal yang ada dihadapannya sampai tak memperdulikan teriakan sang ibu yang terus memanggil namanya dengan isak tangis yang tak kunjung berhenti saat mengetahui keputusan putrinya yang memilih pergi dari rumahnya.


"Delia!" Teriak Nadia masih tak diperdulikan oleh putrinya, bahkan langkah kaki wanita itu malah semakin melebar hingga akhirnya Delia memutuskan untuk berlari dengan semua perasaan kecewa bercampur dengan perasaan kesalnya.


Nadia yang tak kuasa menahan amarahnya pun langsung bergegas pergi keruangan pribadi suaminya. Memasuki ruangan itu dengan pintu yang didorong dengan kasar sampai mengeluarkan suara gebrakan cukup keras, membuat Danu terkejut barang sesaat.


"Kenapa kau membiarkan putri kita pergi dari rumah?" Tanya Nadia berjalan mendekati meja kerja Danu dengan wajahnya yang sudah dibanjiri air mata dan sorot mata yang begitu tajam.


"Biarkan saja dia, aku tak butuh anak sepertinya." Jawab Danu membuat sang istri segera menarik kerah kemeja suaminya dengan kasar, memperpendek jarak diantara mereka yang terhalang oleh meja kerja dihadapan mereka.


"Kau sadar dengan apa yang kau katakan?" Tanya wanita itu terlihat murka, "Dia putrimu, putri tunggal kita. Bagaimana kau bisa bersikap tak perduli seperti ini pada keluargamu sendiri? Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? Apa yang bisa kita lakukan?" Lanjutnya tak merendahkan nada bicaranya sambil melepaskan tangannya dikerah kemeja suaminya.


"Jika itu terjadi maka terjadilah." Suara Danu terdengar malas sambil mendelikan matanya membuat kesabaran istrinya habis.


Nadia yang tak kuasa menahan amarahnya pun langsung melayangkan tamparan keras kepada suaminya, membuat Danu tersentak dan melirik kearah Nadia. Menatapnya penuh tanya, berusaha memahami apa yang dirasakan sang istri.


"Seharusnya aku tak pernah menerima perjodohan itu denganmu." Ucapnya sambil menjauhi suaminya.


"Satu lagi yang harus kau ingat, musuhmu ada dimana-mana Danu. Kalau sampai sesuatu terjadi pada putriku, aku tak akan pernah memaafkanmu." Lanjutnya sebelum meninggalkan ruang kerja suaminya.


Danu yang mendengar perkataan istrinya itu hanya bisa mematung ditempatnya sambil memegangi wajahnya yang ditampar oleh istrinya dengan keras.


"Apa yang ku lakukan?" Gumamnya merasa kesal sendiri dengan tindakan yang sudah dia lakukan terhadap keluarganya.


Sepertinya mata hatinya sudah terbuka akibat tamparan keras yang dilayangkan oleh sang istri.


Pria itu terlihat merenungi semua perbuatannya selama ini, mengingat kembali momen-momen penting bersama keluarga kecilnya itu.


***


Kinan yang sudah selesai mencoba gaun pengantinnya pun berniat untuk segera pulang ke rumahnya setelah berpamitan dengan Karina.


Namun langkahnya terhenti saat melihat sosok Delia yang berjalan lunglai di sebrang jalan dengan penampilan lusuh.


"Apa yang terjadi padanya?" Gumam Kinan memutuskan untuk menyebrang dan mengejar langkah Delia yang terlihat menyedihkan.


Tanpa pikir panjang wanita itupun segera mendaratkan telapak tangan kanannya dibahu Delia. Membuat langkah wanita berambut pirang itu terhenti dan melirik kearah kedatangan Kinan.


"Ada apa?" Tanyanya sinis dengan tatapan tajamnya.


"Seharusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu? Kenapa kau–" Jawab Kinan balik bertanya sambil melepaskan tangannya dari bahu sepupunya.


"Bukan urusanmu." Jawabnya kembali melangkahkan kakinya kesuatu tempat.


Kinan yang tak bisa membiarkan Delia sendirian dalam kondisinya yang bisa dibilang menyedihkan itu hanya bisa mengikutinya dari belakang.


"Berhenti mengikutiku!" Ucap Delia penuh penekanan sambil menghentikan langkahnya.


"Mana bisa aku membiarkanmu pergi sendirian." Jelas Kinan membuat wanita itu berdecak kesal.


"Apa lagi yang kau tunggu? Cepat pergi dari sini, persiapkan dirimu untuk menghadapi pernikahanmu. Jangan menggangguku!" Lanjut Delia memutuskan untuk kembali berjalan meninggalkan Kinan, sayangnya wanita berambut coklat itu tak memperdulikan perkataan sepupunya dan kembali mengikuti langkah Delia dengan sabar.


"Kau!" Ucap Delia sambil berbalik badan menghadap kearah Kinan dengan sorot mata kesalnya.


"Maaf." Balas Kinan dengan tatapan sendunya seolah dia mengerti dengan perasaan sepupunya.


Delia yang merasa kesal pun semakin dibuat kesal oleh perkataan Kinan, "kenapa meminta maaf padaku? Untuk apa kau meminta maaf?" Tuturnya dengan suaranya yang mulai bergetar, entah karena perasaan kesalnya atau ada perasaan lain yang mengusiknya.


"Maaf karena aku keras kepala." Jelas Kinan dengan tatapan sendunya.


"Melihat penampilanmu seperti ini, kau pasti kabur dari rumahmu kan?" Lanjutnya bertanya.


"Bukan urusanmu." Ketus Delia kembali membalikan badannya dan kembali melanjutkan langkah kakinya yang berjalan tanpa arah.


"Kau mau kemana?" Tanya Kinan masih tak digubris.


"Dimana Dafa? Kenapa dia tidak bersamamu?" Lanjutnya bertanya.


"Dia dipecat." Jawabnya singkat.


"Kau tidak mau pulang?" Tanya Kinan lagi.


"Bagaimana kalau ikut aku pulang ke rumahku." Lanjutnya kembali menghentikan langkah Delia.


"Kenapa kau bersikap baik padaku?" Tanyanya sambil memperhatikan pijakannya.


"Karena Delia sepupuku, dan lagi usiaku lebih tua darimu. Bisakah kau bersikap lebih sopan padaku." Jawab Kinan sambil meraih puncak kepala Delia, membuat wanita itu terperajat.


"Tapi aku kan sudah bersikap jahat padamu, aku juga sudah merencanakan hal-hal buruk untuk menggagalkan pernikahanmu dengan Akira. Kejadian beberapa tahun lalu juga semuanya karena–" Tutur Delia segera terhenti saat melihat Kinan sudah berdiri dihadapannya dan memeluknya dengan erat.


"Aku tidak mengerti." Lanjutnya dengan mata berkaca-kacanya.


"Mau seperti apapun sifatmu, kau tetap sepupuku. Bagaimana bisa aku membencimu?" Tutur Kinan berhasil membuat wanita itu menitikan air matanya.


"Yah meskipun aku masih kesal dengan tindakanmu yang sudah membuatku terpuruk dan tak bisa mewujudkan impianku." Lanjutnya membuat Delia terkejut dan mengingat soal cedera Kinan.


"Ma–maaf." Bisik gadis itu membuat Kinan tersenyum.


"Jadi kita baikan?" Tanya Kinan masih dengan senyumnya melepaskan pelukannya dan menatap mata Delia yang berair.


"Memangnya selama ini kita musuhan ya?" Jawab Delia balik bertanya sambil menyeka air matanya.


"Kau meledek ku ya?!" Ucap Kinan penuh penekanan membuat Delia tertawa.


'Entah kenapa rasanya sesenang ini bisa kembali berbincang dengan Delia tanpa tekanan.' Lanjutnya dalam hati masih memperhatikan Delia yang belum puas mentertawakannya.


Sampai akhirnya terdengar suara mengerikan dari dalam perut Delia yang berhasil menghentikan tawanya, dan merubah wajahnya menjadi merah padam menahan malu.


"Heee... jadi kau lapar ya." Ejek Kinan membuat wanita itu segera memukul bahunya dengan kesal, masih dengan rona merah diwajahnya.


xxx