Dea & Kinan

Dea & Kinan
84. Akira



Pagi ini udara terasa lebih dingin karena hujan sudah turun sejak pukul 03:00 Am. Dea yang sudah bersiap dan sedang melakukan sarapan pagi bersama Kinan dan Akira pun terlihat murung. Gadis itu benar-benar tidak suka hujan.


"Haa..." Ucapnya menghela nafas mencuri perhatian Akira yang sedang asik mengunyah makanan didalam mulutnya.


"Jangan bermalas-malasan jika sedang makan!" Tutur Kinan penuh penekanan membuat Dea meletakan sendok ditangannya pada piring dihadapannya.


"Kenapa harus turun hujan di awal bulan sih? Dan kenapa harus dihari sepenting ini? Pagi-pagi pula ...." Ocehnya merasa kesal sendiri.


"Bukannya bagus?" Tanya Kinan menarik perhatian Dea, "gak akan ada upacara kan," lanjutnya kembali menyantap makanannya.


"Aku lebih memilih upacara daripada hujan dipagi hari ... jalanan becek, dingin, halte bus mendadak penuh. Padahal mereka gak naik bus ...." Jelasnya dengan nada malas.


"Kalau gitu biar hari ini aku antar ke sekolah." Tutur Akira sambil meraih gelas dihadapannya.


"Seriusan?" Tanya Dea kembali bersemangat.


"Jangan memanjakannya, dia harus bisa belajar mandiri dalam situasi apapun." Ucap Kinan membuat semangat Dea kembali menurun.


"Tak apa, sekali-kali. Lagipula hari ini aku tidak ada kejaan," jelasnya sambil bangkit dari tempat duduknya, "Habiskan dulu sarapannya." Lanjutnya membuat Dea mengangguk girang.


"Sekarang siapa yang bertingkah seperti anak kecil?" Tanya Kinan bersamaan dengan kepergian Akira. Tapi sepertinya Dea tak mendengarkan perkataan kakaknya.


Disisi lain Megan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah Kinan setelah menyimpan payung disudut pintu, dia juga terburu-buru saat membuka sandalnya.


"Sial aku kesiangan ...." Ocehnya sambil berlari kearah Dapur berpapasan dengan Akira.


"Akhirnya bangun juga." Ucap Akira saat melihat adiknya masuk kedalam Dapur.


"Aku datang." Ucap Megan sambil tersenyum lebar pada sosok Kinan dan Dea yang melihat kedatangannya.


Dengan cepat pria itu menarik kursi dihadapannya dan segera duduk disana.


"Aku selesai." Suara Dea mengejutkan Megan yang sedang serius memilih menu makanan yang akan dia santap pagi ini.


"Hati-hati dijalannya," tutur Kinan saat melihat Dea berlari meninggalkan Dapur.


"Ya." Teriak Dea.


***


Megan sudah pergi ke kampusnya setengah jam yang lalu, Akira juga sudah kembali ke rumahnya. Hujan pun sudah reda menyisakan udara dingin yang perlahan tersapu oleh sinar mentari yang mulai menampakan dirinya, memberikan kehangatan untuk semua makhluk hidup.


Aku masih anteng di dalam kamarku dengan segudang pekerjaan yang belum selesai. Banyak klien yang memusingkanku dengan meminta revisi pada gambaran yang mereka pesan.


"Arrgh... madunya habis," ucapku sambil membuang sachet madu ditanganku kedalam tempat sampah kecil di dekat meja kerjaku.


Ku regangkan tubuhku untuk melemaskan semua otot tubuhku yang mulai terasa pegal. Setelah merasa baikan ku gerakan kembali tanganku untuk menyelesaikan pekerjaanku.


"Padahal masih pukul sembilan pagi, tapi udah sibuk..." Suara Akira menggangguku.


Seperti biasa, dia berdiri diluar jendela kamarku, menopang dagunya dengan salah satu tangannya. Memperhatikanku yang ... menurutku tidak begitu menarik memperhatikan pekerjaan orang lain. Tapi entah kenapa dia begitu menikmatinya.


"Kembalilah saat makan siang nanti, jangan menggangguku!" Pintaku tanpa melirik kearahnya sedikitpun.


Karena tak kunjung ada jawaban, ku hentikan sejenak pekerjaanku dan melirik kearah jendela kamarku. Dan betapa kesalnya aku saat Akira tak ada disana, setidaknya dia harus menjawab ucapanku supaya aku tidak merasa bicara sendirian.


"Mencari siapa?" Suara Akira kembali mengejutkanku, kali ini suaranya lebih dekat.


Dengan cepat aku melihat kearah pintu kamarku. Ku sapati sosok Akira yang sedang berdiri diambang pintu sambil melipat kedua tangannya diatas dada bidangnya.


"Jangan mengejutkanku!" Ucapku sambil melempar gumpalan kertas kearahnya, tapi dengan mudahnya dia menghindari lemparan kertasku.


"A–apa?" Tanyaku merasa takut jika dekat-dekat dengan Akira, karena aku tidak bisa menebak isi pikirannya sejak dia berhasil mencuri ciuman pertamaku. Bodoh memang.


"Ini." Ucapnya sambil mengeluarkan sesuatu di dalam saku jaketnya, lalu memberikan madu sachet yang masih tersegel dalam dus kecil ditangannya.


"Madu?" Tanyaku memperhatikan dus kecil ditangannya.


"Dan–" Ucapnya sambil mendekatkan dirinya kearahku, sorot matanya berhasil membuat jantungku berdegup dengan cepat. Rona merah diwajahnya juga menarik perhatianku.


'Sa–sadarlah Kinan!' Batinku berusaha menyadarkan diriku saat aku hampir terbawa suasana, dengan cepat ku rebut dus kecil ditangan Akira dan menjauhkan wajahnya dengan benda itu.


"Ja–jangan macam-macam! aku tak akan membiarkanmu melakukan hal itu lagi!" Tuturku sambil memalingkan wajahku darinya.


"A–apa yang kau pikirkan?" Tanya Akira membuatku melihat kearahnya.


"He?" Gumamku.


"Aku hanya melihat gambaran dibelakangmu, tubuhmu menghalangi pandanganku jadi–" Jelasnya membuatku merasa malu setengah mati, "Haa..." Lanjutnya kembali mendekatkan dirinya padaku, dengan cepat ku tutupi wajahku dengan dus yang masih ku genggam. Berharap dia tak dapat melihat wajahku.


"Hhaha... Jangan–jangan kau berpikir aku akan melakukan hal itu lagi?" Tawanya semakin menjatuhkanku, sedangkan aku hanya bisa membisu dan mengintip ekspresinya diantara jari-jari tanganku dan dus yang ku pegang.


"Jadi kau mengharapkannya ya," Lanjutnya sambil tersenyum.


"Tidak! bukan begitu–" Ucapku terhenti saat tangan Akira meraih tangan kananku, membuat wajahku terlihat olehnya saat tanganku ditarik olehnya.


"Hhaha... wajahmu seperti kepiting rebus sekarang ...." Jelasnya sambil tertawa.


"Berhenti meledek ku!" Bentak ku sambil memukul kepalanya dengan refleks, membuatnya memekik kesakitan.


"Kau ini!" Ucapnya penuh penekanan.


"Rasain." Balasku sambil berkacak pinggang menatapnya angkuh.


"Kalau tau begini aku akan mencium mu lagi supaya kau bisa diam." Gumannya membuatku semakin kesal.


"Memangnya setelah kau berhasil mencuri ciuman pertamaku, aku akan membiarkanmu melakukannya lagi? tentu saja tidak akan se–" Jelasku terhenti saat melihatnya membisu menatapku dengan intens.


"Se–sekarang apa?" Tanyaku merasa salah bicara.


"Kau bilang aku mencuri ciuman pertamamu?" Tanyanya membuatku merasa dipermalukan olehnya.


'Bodoh! kenapa kau mengatakan hal itu? bisa-bisa dia jadi besar kepala, dan lagi apa yang coba kau tunjukan dengan mengatakan itu?' Batinku menggerutu kesal memaki diriku sendiri.


"Jadi itu ...." Gumam Akira menyadarkanku, punggung tangannya mulai menutupi mulutnya bahkan tubuhnya sudah berbalik kearah lain, meperlihatkan punggung kokohnya kearahku.


"A–apa yang kau pikirkan?" Tanyaku berusaha membuatnya bicara, "A–akira? kau baik-baik saja?" Lanjutku merasa khawatir padanya, tiba-tiba saja dia menjadi diam. Padahal seharusnya dia menggodaku jika dia mengetahui itu ciuman pertamaku, atau melakukan hal-hal yang bisa membuatku merasa kesal padanya.


***


Akira masih mematung ditempatnya dengan rona merah yang sudah menghiasi wajahnya, punggung tangan kanannya pun masih setia menutupi mulutnya. Sedangkan Kinan tampak kebingungan memperhatikannya dari belakang.


'Aku tidak salah dengar kan? dia bilang itu ciuman pertamanya ... jadi karena itu dia menangis?' Batinnya mencoba mengingat semua momen dihari itu.


'Ah sial kenapa sekarang jantungku malah berdegup secepat ini? saat mengingat wajah menangisnya ....' Lanjutnya dalam hati sambil meremas sweater hitam yang dikenakannya, meremasnya dengan erat diantara dada bidangnya.


"A–akira?" Tanya Kinan masih tak didengarkan.


xxx