Dea & Kinan

Dea & Kinan
113. Ingatan yang tersisa 2



Hari semakin larut, lamunanku semakin jauh berkelana. Mengingat kisah masa kecilku bersama dengan Delia.


Rasanya saat itu kami benar-benar dekat meski hanya bertemu selama tiga hari, waktu yang sangat singkat untuk membangun sebuah hubungan dan kenangan.


Saat itu, di hari pertama pertemuan ku dengan Delia, kami tak banyak bicara, di hari itu Delia juga mendapatkan perlakuan buruk dari beberapa anak nakal di dekat perkebunan. Tapi di hari kedua dan ketiga, aku berhasil berteman dengannya. Kami pun sibuk bermain bersama di halaman belakang rumah kakek bersama dengan Dea.


Lalu saat gadis kecil itu harus kembali ke negara asalnya, raut wajahnya benar-benar terlihat sedih. Bahkan sorot matanya mengatakan dia tak ingin pergi, namun bibi tetap membawa putrinya kembali ke negaranya karena liburan sekolah hampir usai.


Mereka memang sengaja datang berlibur dihari terakhir liburan sekolah Delia, jadi Delia tak memiliki kesempatan untuk mencari teman dan mendapatkan teman baru di negara ayahnya.


Jika harus mengingat semuanya, rasanya aku sangat merindukan kebersamaan kami dulu.


"Aku ragu dia masih mengingatnya ...." Gumamku dibawah langit berbintang sambil mengingat Delia versi anak-anak.


"Apa yang kau pikirkan?" Suara Akira mengejutkanku, refleks ku balikan tubuhku kearah sumber suara itu dan mendapati sosok Akira yang sudah mengenakan celana training dengan sweater hitam berlengan panjang dan sebuah handuk putih yang melingkar dilehernya.


Ku lihat dia menarik lengan bajunya hingga ke siku, kemudian tangan kanannya sibuk mengeringkan rambut basahnya dengan ujung handuk. Sepertinya dia baru selesai mandi.


"Keringkan yang benar, jika tidak kepalamu bisa sakit." Tuturku sambil meraih handuk yang melingkar dilehernya dan menggunakan handuk itu untuk mengeringkan rambutnya.


"Kenapa kau belum tidur?" Tanyanya terdengar ragu.


"Aku belum ngantuk ... bisakah tundukan kepalamu sedikit? Leherku pegal jika harus menengadah terus," jawabku membuatnya terkejut saat mataku bertemu tatap dengan matanya.


Lalu ku lihat sebersit rona merah yang menghiasi wajahnya saat dia menundukan kepalanya untuk menuruti perkataanku.


"Kenapa tubuhmu begitu kecil? tidak bisakah kau tumbuh sedikit lebih besar lagi?" Gumamnya dengan nada mengejek.


"Jangan mengejek ku! begini-begini tubuhku lebih tinggi dari teman-teman seusiaku." Belaku sambil mengeringkan rambut Akira.


"Tapi tidak lebih tinggi dari adikmu." Ejeknya lagi dengan nada bicara datarnya, entah kenapa saat mendengar nada bicaranya aku malah merasa tambah kesal dan segera menyudahi mengeringkan rambut pria itu.


"Kau tidak kedinginan berdiri disini sejak tadi?" Lanjutnya bertanya sambil mengeringkan rambutnya barang sesaat ketika aku berhenti mengeringkan rambutnya.


Untuk beberapa detik mataku tak bisa berpaling saat melihat ekspresi malu-malu yang ditunjukan Akira secara terang-terangan.


Bahkan matanya tak bisa berhenti bergerak mencari sesuatu untuk dilihatnya, mencoba untuk menghindari tatapan mataku.


'Hee... jadi dia juga bisa berekspresi seperti itu? Imutnya ....' Batinku bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa tubuhku bersama dengan tubuh Akira yang sedang berdiri di beranda rumah. Membuat aroma tubuhnya tercium oleh indra penciumanku.


'Shamponya kah?' Batinku saat tak sengaja menghirup aroma wangi ditubuhnya itu dan melupakan rasa kesalku padanya.


"Bagaimana dengan keningmu?" Tanya Akira mengejutkanku, bersamaan dengan sentuhan tangannya yang menyentuh keningku dengan lembut.


"Hem... apa memarnya bisa hilang saat acara pernikahan kita nanti?" Lanjutnya bergumam membuatku terkejut sekaligus merasa malu dengan jarak yang dia berikan padaku saat ini.


Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya yang bisa membuat jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya, dengan cepat ku palingkan wajahku darinya, mencoba untuk menutupi rasa maluku darinya.


"Ada apa? apa kau tidak merindukanku?" Tanyanya sambil meraih daguku, membuat wajahku sedikit menengadah kearahnya dan kembali bertemu tatap dengannya.


'Apa yang dia? sia-sia saja aku memalingkan wajahku darinya ... dia tak akan melakukan itu lagi kan?' Batinku bertanya-tanya saat melihat sorot mata teduh yang ditunjukannya padaku, lalu ingatan dihari ulang tahunnya saat dia membalas ciumanku mulai teringat kembali membuat jantungku semakin berpacu. Mengingat perasaanku saat itu malah membuatku semakin terbawa suasana.


***


Angin kembali berhembus menerpa rambut basah Akira dan Kinan. Degupan jantung merekapun semakin berpacu saat mereka tak bisa berhenti memperhatikan wajah orang yang dicintainya, orang yang dirindukannya selama beberapa hari ini.


'Gawat! dia bahkan tak memakiku atau memberikan perlawanan. Bagaimana sekarang? haruskah aku menciumnya lagi?' Batin Akira bertanya-tanya sambil membalas tatapan serius Kinan yang tak kunjung berpaling darinya.


'Ini pertama kalinya aku melihat rambutnya yang seperti ini, jadi Akira kalau berponi seperti ini ya ... apa dia bisa melihatku? apa rambutnya tak mengganggu penglihatannya?' Batin Kinan bertanya-tanya sambil memperhatikan rambut Akira selagi pria itu memperhatikan bibir merah miliknya, bahkan tanpa sadar dia mulai mendekatkan wajahnya dengan sang pujaan hati.


'Apa dia akan diam saja?' Batin Akira merasa heran saat melihat Kinan yang tak memberikan perlawanan padanya.


'Apa yang dia lihat?' Lanjutnya dalam hati sambil menatap mata Kinan yang terlihat berbinar memperhatikan perubahan rambut Akira yang tak disadari oleh pria itu.


"Permisi tuan." Suara Fino mengejutkan Akira dan Kinan saat pria itu hendak mendekatkan bibirnya dengan bibir Kinan setelah memastikan apa yang dilihat oleh Kinan. Meski sebenarnya dia tak menyadari apa yang dilihat oleh Kinan sampai berekspresi seperti itu.


Dengan cepat Akira berbalik badan menghadap ke arah kedatangan Fino.


"Ma–maaf mengganggu anda, saya tidak tau kalau ada nona ...." Tutur pria itu merasa malu sendiri, terlihat dari semburat merah samar diwajahnya.


"Tidak perlu khawatir, tubuhnya memang kecil. Jadi wajar saja kalau kau tak melihatnya," jelas Akira sambil melirik kearah Kinan dan segera mendapat pukulan keras dari wanita itu karena tak terima dikatai kecil olehnya.


"Aw!" Pekiknya ketika merasakan pukulan Kinan dipunggungnya.


"Hemph." Gumam Kinan sambil mengibaskan rambutnya dan segera pergi ke kamarnya, meninggalkan Akira dan Fino di beranda rumahnya.


"Jadi ada apa?" Tanya Akira menyadarkan Fino yang sempat melihat kepergian Kinan.


"Kamarnya sudah saya siapkan, dan untuk jadwal besok–" Jelas Fino segera dihentikan oleh Akira.


"Untuk jadwal besok, kita bahas besok saja. Aku akan pergi beristirahat sekarang, selamat malam." Tutur pria berambut hitam itu sambil berjalan menuju ke kamar yang sudah disiapkan oleh Fino.


"Baiklah kalau itu maunya, aku juga harus pergi beristirahat karena tubuhku sudah sangat lelah sekarang," Gumam Fino sambil menutup pintu rumah Akira dan berjalan menuju kamarnya.


"Hooamz..." Lanjutnya menguap sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


'Sepertinya aku datang diwaktu yang kurang tepat.' Batinnya merasa bersalah sambil menutup pintu kamarnya dari dalam.


Disisi lain, Kinan sudah terbaring di tempat tidurnya sambil memperhatikan langit-langit kamar yang ditempatinya.


"Sekarang Dea lagi apa ya? dia pasti kesepian di rumah ...." Gumamnya sambil membayangkan raut wajah Dea saat merasa kesepian.


Lalu ingatan lama kembali membayanginya, membuatnya menghela napas lesu saat mengingat kelakuan Dea yang sering menunggu orang tuanya pulang kerja di depan pintu rumah selama berjam-jam.


"Ku harap kebiasaan anehnya itu segera hilang." Lanjutnya kembali bergumam, mencoba menepis semua kemungkinan buruk yang terbayang olehnya, bayangan tentang Dea yang menunggunya di depan pintu rumah dengan raut wajah kesepian.


'Mana mungkin itu terjadi! yang ada anak itu menungguku dengan ekspresi menakutkannya.' Batinnya kembali menepis semua pikiran negatifnya sambil berbalik badan kearah samping kanan dan melihat langit malam yang terlihat indah dibalik kaca jendela kamarnya.


Dengan sengaja wanita itu tak menutup tirai jendelanya dan membiarkan keindahan langit malam terlihat dibalik kaca, memanjakan indra penglihatannya sebelum terlelap dalam tidurnya.


"Aku jadi mengkhawatirkan pola makannya, apa anak itu makan dengan benar ya? Jangan sampai dia jatuh sakit disaat ujian nasional tinggal tiga hari lagi ...." Lanjutnya masih bergumam mengkhawatirkan Dea dengan matanya yang mulai terpejam secara perlahan.


xxx