Dea & Kinan

Dea & Kinan
15. Berburu Kecoa ?



Malam hari di kediaman Kinan.


"Sepertinya malam ini mereka tidak bergabung dengan kita ya ...." Tutur Dea setelah menelan roti di dalam mulutnya.


"Karena siang tadi kami pergi ke pasar." Ucap Kinan membuat Dea berhenti menggigit roti ditangannya dan melirik kearah Kinan dengan tatapan melotot saking terkejutnya.


"Kau bilang apa tadi?" Tanya Dea, "Kalian pergi ke pasar?" Lanjutnya memastikan kembali ucapan kakaknya yang membuat Kinan segera menganggukan kepalanya sebagai jawaban 'Iya'.


"Pantesan aja cuaca hari ini agak labil ya, ternyata gara-gara kakak toh." Ejek Dea kembali menggigit roti ditangannya membuat Kinan jengkel.


"Tapi kenapa seorang Kinan mau repot-repot pergi ke pasar? Padahal setiap aku ajak selalu nolak," tutur Dea kembali bertanya, "apa jangan-jangan karena Megan ya ?" Lanjutnya sambil tersenyum jahil.


"Hem.., Gara-gara dia aku sampai harus repot-repot keluar rumah." Ucap Kinan membuat Dea menjatuhkan roti ditangannya keatas piring yang berada tepat di bawah tangannya.


"Serius?" Ucapnya terkejut sambil menggebrak meja makan dihadapannya membuat Kinan terperajat.


"Apa sih?!" Tanya Kinan dengan nada kesal, "Jangan mikir yang aneh-aneh deh, aku keluar rumah cuma buat nyariin dia yang nyasar gak tau kemana. Padahal udah aku kasih peta biar gak nyasar, malah dijatuhin gak tau dimana. Gara-gara dia aku sampai harus lari keliling kompleks buat nemuin tu anak." Lanjut Kinan menjelaskan dengan nada kesalnya dan diakhiri dengan gigitan roti ditangannya.


'Tapi malah ketemu di taman kompleks sebelah.' Batin Kinan sambil mengingat kejadian siang tadi.


"Hee... padahal aku udah agak seneng kalau kakak suka sama tu orang. Lagian kakak kan udah lama menjomblo. Jadi aku pikir, udah saatnya kakak jatuh cinta dan mulai fokus memikirkan masa depan kakak, taunya cuma ...." Gumam Dea sambil meraih roti yang sempat dijatuhkannya dan kembali memakannya.


"Suka sama orang juga ada kriterianya. ya kali suka sama anak dibawah umurku." Jelas Kinan setelah meneguk air minumnya.


"Hee... jadi kakak juga punya kriteria pria idaman ya?" Tutur Dea sambil tersenyum jahil, "Jadi kalau boleh tau ... kriterianya yang seperti apa? Biar nanti Dea bantu cariin deh." Lanjutnya menggoda Kinan sambil unjuk gigi.


"Rahasia." Jawab Kinan membuat Dea berteriak kecewa, "Udah ah, kalau udah selesai tolong beresin ya. Aku mau lanjut nonton anime, bye-bye ...." Lanjutnya sebelum menghilang di ambang pintu dapur.


"Dasar kakak." Ucap Dea menghabiskan potongan roti terakhir di tangannya.


Sementara itu di kediaman Akira dan Megan.


"Hee... kenapa kita gak makan malam di rumah kak.Kinan lagi? Kenapa malah makan di rumah? Padahal aku mau makan masakan kak Kinan lagi ...." Gumam Megan yang sedang malas-malasan mengunyah makanan di dalam mulutnya, selagi tangan kanannya terus mengaduk-ngaduk nasi dipiringnya. Seperti tidak mau menghabiskan makanan yang sudah susah payah dibuatkan oleh kakaknya itu.


"Makan yang bener!" Ucap Akira menatap Megan penuh ancaman, membuat pria itu merinding dan dengan cepat melahap semua jatah makanannya tanpa banyak berbicara lagi.


'Kalau dilihat-lihat, sifatnya itu sebelas dua belas dengan Dea ya... sama-sama nyeremin kalau lagi marah.' Batin Megan sambil menelan makanan terakhir di dalam mulutnya dan memperhatikan Akira yang sedang menikmati makanannya dengan tenang.


***


Waktu menunjukan pukul 10:00 Pm, dimana sebagian orang sudah terlelap dalam tidurnya, terutama anak kecil yang biasanya sudah terlelap pada pukul 08:00 Pm. membuat suasana malam hari menjadi semakin sunyi.


Terlihat sosok Megan yang sedang asik menonton televisi di rumahnya, mendadak mengecilkan volume televisinya saat mendengar teriakan seorang gadis yang membuat Akira juga keluar dari kamarnya untuk memastikan apa yang baru saja didengar olehnya.


"Suara apa itu?" Tanya Akira kepada Megan yang sudah meliriknya.


"Kayanya dari rumah kak.Kinan deh." Jawab Megan membuat Akira bergegas menuju pintu rumahnya diikuti oleh Megan. dan merekapun pergi kerumah Kinan bersama-sama.


Setelah mereka berjalan beberapa langkah dari rumahnya, merekapun sampai di depan rumah Kinan dan mulai mengetuk pintu rumahnya sebanyak tiga kali. Namum belum ada jawaban, hanya ada suara benda-benda jatuh dan teriakan seseorang.


"Cepat usir!"


"Jangan mengarahkannya padaku, buang keluar sana!"


"Kyaaa..."


"Jangan teriak-teriak, malu di denger tetangga!"


"Makanya cepat buang, jangan main-main!"


"Kyaaa, sudah ku bilang jauhkan dariku!"


Begitulah suara yang didengar oleh Akira dan Megan.


"Apa yang mereka lakukan?" Tanya Megan membuat Akira mengetuk pintu rumah Kinan sekali lagi.


"Permisi." Ucap Akira setelah mengetuk pintu rumahnya.


Lalu terdengar suara langkah kaki yang berjalan cepat kearah pintu, kemudian terdengar suara kunci dan knop pintu yang berputar.


"Ah kalian ...." Ucap Kinan saat melihat Akira dan Megan berdiri di depan pintu.


"Ku bilang buang!" Teriak Dea yang melemparkan bantal sofa ke kepala Kinan, membuat gadis itu memekik dan melepaskan kecoa yang di pegangnya. Membuat Akira dan Megan mundur satu langkah karena terkejut dengan kecoa yang tiba-tiba terlempar kearah mereka.


"Me–mengejutkan, ku kira ada maling." Tutur Megan sambil menghela nafasnya.


Gadis yang bisa menjadi lebih kejam dari biasanya, hanya karena satu ekor atau dua ekor kecoa. dia bisa saja masuk ke rumah sakit karena ulah adiknya yang asal melempar barang kearahnya hanya karena melihat kecoa berkeliaran di dekat Kinan.


"Oii Kinan! Sa–satu lagi masuk ke dapur tuh. Cepet buang, buang!" Teriak Dea yang masih sibuk menyelamatkan dirinya dengan berdiri di anak tangga.


"Hee... tinggal pukul pake sandal aja ko susah ...." Tutur Kinan dengan nada malasnya, "Tenagaku sudah habis nih. Tangkap sendiri aja sana!" Lanjutnya sambil menguap dan segera menutupnya dengan tangan kirinya.


"Jangan main-main, cepat tangkap dan buang. Kalau enggak, aku gak mau pergi ke pasar lagi! Cepat tangkap!" Oceh Dea merasa ketakutan.


"Kalau gitu biar aku saja." Ucap Megan yang sejak tadi mematung memperhatikan percakapan kakak beradik itu.


Pria itupun langsung masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Akira. betapa terkejutnya Megan saat memasuki Dapur dan melihat ke kacauan di sana.


'Gara-gara kecoa bisa sampai berantakan seperti ini ya ....' Batin Megan berkeringat dingin.


"Jadi kau tidak takut sama kecoa?" Gumam Akira sambil melirik kearah Kinan yang sedang berdiri di sampingnya. Memperhatikan Dea yang ketakutan berdiri di anak tangga sambil melihat kearah Megan yang sedang berburu di dapur rumahnya.


"Su–sudah ketemu belum?" Tanya Dea tergagap.


"Belum. Kecoanya masuk ke bawah rak piring ...." Jelas Megan segera mendapat lemparan sandal dari Dea.


"Aduh," ucap Megan ketika sebuah sandal mendarat di atas kepalanya, "apaan sih pake lempar-lempar sandal segala." Lanjutnya sambil melihat kearah Dea yang terlihat ketakutan.


"Jangan sebut namanya!" Teriak Dea membuat Megan tak berkutik.


"Aku bantu cari deh." Ucap Akira sambil berjalan ke arah dapur untuk membantu Megan berburu kecoa sekalian membereskan beberapa perabotan yang sudah berceceran di lantai.


"Udah sih besok lagi aja. Lagian kecoanya juga gak akan masuk ke kamarmu De ...." Tutur Kinan.


"Gak mau, pokoknya harus di basmi malam ini juga. Lagian sejak awal ini semua salah kakak yang jarang buang sampah. Padahal aku udah bilang, buang sampahnya sehari dua kali. Tapi kau malah menimbunnya dulu di dapur." Jelas Dea dengan ekspresi pucatnya.


"Hee... kan tugas beres-beres rumah bukan tugasku. Tugasku cuma masak doang. Jadi yang salah bukan aku dong." Tutur Kinan yang sudah berjalan ke arah ruang tengah.


"Berisik! Aku kan sibuk sekolah, harusnya kau ngerti dong." Teriak Dea mulai kesal.


"Ketemu." Ucap Megan sambil memegang kumis kecoanya dengan ibu jari dan jari telunjuknya.


"Kyaaa..." Teriak Dea sambil memejamkan matanya.


"Cepat buang bodoh!" Ucap Akira sambil menjitak kepala adiknya, membuat Megan memekik.


"Sabar napa." Guman Megan segera membuangnya ke luar rumah, sedangkan Akira segera mencuci tangannya di wastafel dan segera mengeringkannya.


'Tak ku sangka, gadis galak sepertinya bisa takut dengan kecoa ya, ku kira gadis sepertinya tak akan takut dengan apapun ....' Batin Megan sambil melirik ke arah Dea berusaha meyakinkan dirinya kalau yang dilihatnya malam ini bukanlah sebuah mimpi.


"Apa loe liat-liat?!" Ucap Dea menatapnya dengan tajam membuat tubuh Megan merinding.


"Udah kan? Cepat tidur sana. Aku mau nonton anime lagi." Tutur Kinan sambil berjalan kearah kursi putarnya.


"Tapi ini udah malam loh." Ucap Akira sambil melihat kearah Kinan.


"Hoo... bergadang ya." Ucap Megan bersemangat.


"Tidur sana! Jangan bergadang! Dan cuci tanganmu dulu, jangan jorok!" Ucap Dea penuh penekanan kepada Kinan, membuat gadis itu melirik tajam kearah adiknya.


"Emangnya salah siapa coba? membangunkanku dan berteriak histeris memintaku untuk berburu kecoa malam-malam begini? Padahal aku baru bisa tidur." Jelas Kinan membuat adiknya berkeringat dingin dan merasa bersalah, "Awas aja kalau sampai lupa beli cola." Lanjutnya dengan tatapan mengancam.


"Tidak ada cola! lagian Megan yang membuang sisanya. jadi cola nya batal." Tutur Dea mulai melangkah menaiki anak tangga.


"Mana ada!" Ucap Kinan yang sudah membalikan badannya menghadap kearah Dea yang sudah menaiki beberapa anak tangga.


"Perjanjiannya kan kalau kau berhasil mengusir semuanya. tapi yang terakhir kau gagal, jadi tidak perlu merengek." Jelas Dea membuat Kinan geram.


"Siapa yang merengek?" Teriak Kinan merasa kesal, "Yang merengek itu kan kau sendiri! pokoknya kau harus membelikanku cola, kalau tidak. aku akan membawakan semua kecoa itu ke dalam kamarmu!" Lanjutnya mengancam.


"Haa?!" Ucap Dea sambil melirik tajam ke arah Kinan.


"Mereka ini ...." Gumam Megan sambil tersenyum melihat kakak beradik itu saling menatap tajam penuh ancaman.


"Berisik seperti biasanya." Lanjut Akira ikut tersenyum melihat kelakuan Kinan dan Dea.


xxx