Dea & Kinan

Dea & Kinan
60. Pembicaraan Kinan dan Akira 2



Akira yang merasa heran dengan aura yang diciptakan oleh Kinan pun mulai menghela nafas lelah dan membalas tatapan wanita itu dengan tatapan seriusnya.


Memperhatikan wajah Kinan yang begitu serius memandangi wajahnya. Memikirkan apa yang akan dia katakan untuk menjawab pertanyaan wanita dihadapannya.


"Kenapa aku harus menyukaimu ?" Ucap Akira balik bertanya membuat Kinan segera menghela nafas lelahnya dan mulai berkacak pinggang dengan salah satu tangannya.


"Aku benci mengatakannya tapi aku cukup peka untuk menyadari perasaanmu padaku. Meski perasaanmu masih labil, tapi kau harus tau satu hal-" Jelas Kinan menghentikan ucapannya dan kembali melanjutkannya setelah mengambil nafas panjang.


"Aku tidak suka berurusan dengan pria labil sepertimu, aku juga tidak memiliki alasan untuk membantumu mewujudkan keinginanmu yang ingin melindungi reputasi keluargamu itu. Aku tidak mau melakukan pertunangan dengan pria yang tidak ku cintai, jadi berhentilah melibatkanku dalam urusan pribadimu" Lanjutnya membuat Akira merasa geram.


Kini pria itu kembali memperpendek jaraknya dengan Kinan, menatap wanita itu dengan begitu tajam membuat tubuh Kinan menegang merasakan ancaman Akira.


"Tentu saja kau harus membantuku mewujudkannya, kau ingat keluargaku sudah berjasa dalam menyelesaikan masalah keluargamu dan dirimu. Lalu aku masih memegang rahasia besarmu, jangan sampai aku menggunakan Dea untuk melindungi reputasi keluargaku. Kau pasti tidak mau aku membongkar semuanya pada Dea kan ?" Jelas Akira membuat suasana bertambah berat.


Kinan yang mendengar ucapan pria itupun hanya bisa membisu menatapnya dengan serius.


'Aku melupakannya...' Batin Kinan mulai berkeringat dingin, membayangkan wajah bersalah adiknya yang ditunjukan pada dirinya saat mendengar semua kebenaran yang diberikan oleh Akira.


'Tapi harus melakukan pertunangan dengan pria bodoh ini... bagaimana bisa aku melakukannya ? Aku bahkan tidak pernah mencintainya, dia juga tidak benar-benar melihatku sebagai seorang perempuan. Hanya memanfaatkanku untuk melindungi reputasi keluarganya. Aku...' Lanjutnya mengoceh dalam hati dan berheti saat mendapatkan sebuah ide untuk menghentikan keinginan egoisnya itu.


Kinan langsung tersenyum manis kepada Akira, membuat pria itu mengernyitkan dahinya karena merasa bingung dengan perubahan sikapnya.


"Setelah ku ancam baru bersikap sok manis" Gumam Akira kembali menggaruk kepalanya yang bahkan tak terasa gatal.


"Baiklah aku akan membantumu dengan satu syarat" Tuturnya membuat Akira kembali menatapnya dengan tajam.


"Aku bahkan bisa membongkar rahasiamu kapan saja, tapi kau masih berani meminta syarat dariku. Bukankah itu tidak adil ?" Tanya Akira membuat Kinan tersenyum angkuh padanya.


"Satu minggu, jika dalam waktu satu minggu kau tidak bisa melupakan Kiara dan membuatku jatuh cinta padamu. Maka aku bebas menolak perjodohan ini denganmu. Tentu saja aku juga akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku, tapi pertunangan atau perjodohan itu hanya bisa berlaku jika kau berhasil membuatku jatuh cinta padamu-" Jelas Kinan terhenti saat tiba-tiba Akira meraih kepalanya, membuat Kinan menengadah menatap mata Akira yang melihatnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


Lalu pria itu mulai mengecup bibir Kinan dengan lembut, sontak membuat wanita itu terperajat merasakan bibir Akira yang menempel lembut dengan bibirnya, kemudian mel*matnya membuat darahnya berdesir saat merasakan bibir pria itu semakin menekan bibirnya secara perlahan.


'A-apa yang dia lakukan ? Kenapa ? Bibirnya ? Ci-ciuman pertamaku...' Batin Kinan merasakan air matanya merembes keluar, pikirannya kacau sampai dia tidak bisa memberikan perlawanan kepada pria dihadapannya, pria yang masih anteng mencium bibirnya.


"Aku hanya perlu membuatmu jatuh cinta kan ?" Tanya Akira yang sudah melepaskan ciumannya dan membuka matanya saat selesai berbicara.


Matanya membelalak terkejut saat melihat air mata Kinan yang sudah merembes keluar, wajahnya sudah memerah dan tangan kanannya sudah meremas jaket dibagian dada sebelah kirinya dengan gemas.


"A-apa yang-" Tanya Akira terhenti saat melihat Kinan menatapnya dan menutup mulutnya dengan punggung tangan sebelah kirinya.


"Aku membencimu !" Ucap Kinan sambil berlari kedalam kamarnya dan menguncinya dari dalam. Meninggalkan pria itu diruang tengah seorang diri.


"Apa yang ?" Guman Akira merasa bersalah, "Aku sampai terbawa suasana saat melihat ekspresi menggemaskannya itu, tanpa dia mintapun... sepertinya aku sudah jatuh cinta padanya" Lanjutnya sambil membayangkan wajah Kinan saat menatapnya dengan tajam dan tersenyum angkuh padanya.


'Aku jadi ingin menjinakannya...' Batin Akira melirik kearah pintu kamar Kinan sambil tersenyum geli saat mengingat semua ekspresi menggemaskan Kinan yang selalu ditunjukan pada Dea.


***


'Aku benar-benar lengah...' Lanjutnya dalam hati kembali mengingat saat-saat Akira menciumnya dengan gerakan cepat, sampai dia tak bisa menghindarinya. Bersamaan dengan itu bayangan Kiara dan Akira berkelebat cepat merasuki kepalanya, bayangan saat mereka berciuman di depan rumah Akira. Lalu semua bayangan foto mereka berdua yang dilihat oleh Kinan kemarin malam.


"Kenapa ? Bukankah dia masih mencintai Kiara ?" Gumam Kinan merasa dipermainkan oleh Akira.


Kemudian matanya tertuju pada jari manis ditangan kanannya, dengan cepat dia menghapus air mata yang membasahi wajahnya dan memperhatikan sebuah cincin berlian yang sudah melingkar dijari manisnya.


"Cincin ?" Gumamnya tak menyadari cincin yang sudah melingkar dijari manisnya.


Dengan cepat dia mengingat kejadian saat Akira mencium bibirnya, ketika pikirannya melayang tak karuan. Kinan sempat merasakan tangan Akira yang menyentuh jari manisnya dengan hati-hati, dan saat dia terusik dengan tindakan Akira. Pria itu berhasil mencuri perhatiannya dengan menekan bibirnya sebelum menghentikan ciumannya.


'Jadi saat itu... dia memasang cincin ini ?' Batin Kinan merasa terkejut sekaligus malu pada dirinya yang tidak bisa melakukan perlawanan pada pria itu.


"Dia !" Lanjutnya mengumpat kesal.


Ketika Kinan sedang asik berdebat dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba saja terdengar beberapa suara diluar rumahnya.


"Ada apa ? apa yang-" Gumamnya bertanya-tanya.


"Sudah merasa baikan ? cepatlah keluar, mereka sudah datang untuk meliput kita" Teriak Akira membuatnya terkejut.


"Mereka ? meliput ? jangan bilang mereka semua adalah wartawan ?" Gumamnya bertanya-tanya.


"Cepat keluar ! jangan sampai aku mendobrak pintunya dan menggendongmu keluar dari sana !" Ucap Akira membuat Kinan segera membuka pintunya dan mendapati pria itu sudah tersenyum sinis dihadapannya.


"Anak pintar..." Pujinya sambil memegangi kepala Kinan, dengan cepat wanita itu menepis tangan Akira.


"Dimana cincinmu ?" Lanjutnya bertanya saat melihat jari manis Kinan yang tak mengenakan cincin yang sudah dia pasang dengan susah payah olehnya.


"Tau tuh, aku tidak pernah menerima cincin darimu..." Jelasnya sambil memalingkan wajahnya kesembarang arah.


"Aku sudah memasangnya saat sedang menciummu, bagaimana tidak ada di jarimu ?" Tanya Akira mulai panik, kemudian matanya melihat tangan kanan Kinan yang mengepal menyembunyikan sesuatu dari pria itu. Sedangkan Kinan, wajah wanita itu sudah memerah saat mendengar ucapan Akira yang berbicara soal mencium dirinya.


'Dasar tidak tau malu ! bagaimana bisa dia mengatakannya seenteng itu ?' Batin Kinan mulai merasa kesal.


"Cepat pakai cincinnya !" Ucap Akira membuat Kinan terperajat.


"Apa maksudmu ?" Tanya Kinan tetap berpura-pura tidak tau.


"Jangan menguji kesabaranku, cepat kenakan cincinnya... atau aku harus melakukan hal itu lagi padamu supaya kau mau menurut ?" Ancam Akira sambil mendekatkan wajahnya pada Kinan, membuatnya segera memasang kembali cincin yang sudah dilepasnya dan mengambil jarak aman dari pria itu.


'Cih, beraninya mengancam ! awas saja kau ya, aku akan membalas perbuatanmu' Batin Kinan benar-benar merasa dongkol dengan ancaman yang diberikan padanya.


xxx