
Setelah berbincang di kafe pinggir kota, Bayu pun mengajak Kinan berjalan-jalan menuju taman kota.
Waktu sudah menunjukan pukul 10:30 Am saat mereka tiba di taman. Kinan meminta Bayu untuk membelikannya minum, bukan tanpa alasan. Dia hanya ingin terbebas darinya sebentar saja dan memikirkan ulang soal rencana yang dimilikinya. Untunglah pria itu menuruti keinginannya dan pergi mencari mesin penjual minuman otomatis terdekat.
'Sampai saat ini rencanaku hanya mengikuti permainanya saja. Dia juga selalu bersikap waspada padaku, belum sepenuhnya mempercayai keputusanku untuk menerima perjodohan itu...' Batin Kinan sambil menghela nafas berat.
"Arrgh... kenapa aku malah berurusan dengan orang sepertinya ?!" Geramnya sambil mengacak-ngacak rambut panjangnya dengan frustasi.
Kemudian bayangan wajah ibu dan ayahnya Kinan kembali menghantuinya. Membuat wanita itu semakin frustasi saat mengingat ucapan kedua orang tuanya yang meminta putrinya untuk menuruti kemauan pak.Darma dah putranya.
Bahkan saat itu Kinan tak bisa memikirkan rencana lain untuk meyakinkan orang tuanya. Lalu tiba-tiba saja dia mengangguk lemah menyetujui permintaan ayah dan ibunya.
Disisi lain...
"Loe gila ngajakin gue mata-matain kakak loe ? Mending kita balik aja yuk" Tutur Fani yang sedang bersembunyi dibalik semak-semak bersama dengan Dea.
Semak-semak yang berada dekat dengan bangku taman yang sedang diduduki oleh Kinan. Meski begitu Kinan tak menyadari keberadaan mereka, mungkin karena sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Berisik loe ! Gue pengen tau siapa tu cowo nyebelin yang berani deketin kakak gue ?" Tolak Dea sambil meremas dedaunan dihadapannya dengan kesal, "Dan lagi gue gak nyangka kakak gue mau keluar rumah bersama cowo asing itu..." Lanjutnya malah merengek pada Fani.
"Ssttt... kita bisa ketauan bodoh ! Kenapa malah merengek sih ?" Bisik Fani membuat Dea bungkam.
"Pulang-pulang malah nguntitin kakak sendiri !" Lanjutnya menatap rendah pada Dea.
Ya, mereka baru saja pulang sekolah. Kebetulan saat itu mereka ingin pergi ke taman kota setelah berkunjung ke perpustakaan untuk melakukan belajar kelompok bersama Rafa.
"Kenapa disaat seperti ini gue gak bisa labrak tuh cowo ?" Geram Dea mengeluarkan aura tebal disekitar tubuhnya saat melihat Bayu kembali membawa dua kaleng cola ditangannya.
"Kalau loe labrak ya loe ketauan ngawasin merekalah bodoh !" Ucap Fani menyadarkan sahabatnya itu, "Awas aja kalau sampai bertindak bodoh, gue bakal kabur duluan ninggalin loe !" Lanjutnya mengancam.
"Cih" Ucap Dea mendecih kesal membuat Fani refleks mencubit pipi gadis itu dengan gemasnya.
"A-aa.. aw lepwasin !! Swakit tau !" Bisik Dea nyaris berteriak.
"Harusnya loe berterima kasih sama gue karena gue manu nemenin loe, padahal gue pengen balik bareng Rafa..." Jelasnya masih mencubit pipi Dea dengan gemas, tak memperdulikan pipinya sudah memerah akibat cubitannya itu.
***
Di dalam sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari taman kota.
"Awasi terus pergerakan mereka !" Ucap seseorang melalui earphone yang dikenakan oleh seorang pria berkacamata hitam yang sedang memegangi setir mobilnya.
"Jika sudah ada tanda-tanda yang ku sebutkan. Maka segera hubungi aku" Lanjut suara itu mengakhiri panggilannya.
Disisi lain ada seorang pria yang baru keluar dari dalam mobilnya diikuti oleh seorang wanita cantik yang menarik perhatian pria berambut ikal didalam mobil itu.
"Seperti kata nyonya, tuan Akira akan membawa nona Kiara ke taman kota. Dan secara kebetulan nona Kinan dan pria itu juga datang ke tempat ini. Mari kita perhatikan mereka semua" Gumamnya mulai tersenyum lebar sambil mengunyah permen karet dimulutnya.
'Sepertinya aku agak bersalah pada tuan Akira, soal permintaannya... aku sudah menyelesaikannya kemarin malam berkat bantuan nyonya Karina. Padahal aku ingin memberitaunya dan mendapat pujian darinya, namun nyonya melarangnya. Mau tak mau aku harus mengikuti permainan nyonya, tolong maafkan aku tuan...' Batin Fino yang melihat raut wajah Akira yang menahan kesal, memaksakan dirinya untuk terlihat baik dihadapan Kiara.
Sebelum Fino berhasil menyelesaikan tugas dari Akira. Dia pergi ke rumah keluarga Arya bersama dengan nyonya Karina dan tuan Wira, mereka berdua melakukan pembicaraan serius bersama keluarga besarnya.
Bahkan Nyonya Karina bersikap terang-terangan ingin menjadikan Kinan sebagai putrinya, menantu dari keluarga besarnya sebagai imbalan dari bantuan yang akan dia berikan.
"Kau benar-benar sudah melupakanku ya ?" Tanya Karina dengan nada kesalnya
"Aku benar-benar melupakanmu saat itu..." Tutur Hanum tak merasa tidak enak pada sahabatnya itu.
"Kau terlihat meremehkan pengaruh keluarga Wira ya..." Gumam Karina merasa murung.
"Tidak bukan begitu, aku sangat menghormati keluargamu. Aku senang kau mau membantu keluarga kami, tapi... aku sudah menjodohkan Kinan dengan putranya pak.Darma" Jelas Hanum berusaha menenangkan sahabat baiknya itu.
"Itulah kenapa aku merasa kesal padamu sekarang !" Ucap Karina sambil menunjukan wajah kesalnya.
"Bisa-bisanya kau melupakanku disaat kau butuh bantuan. padahal aku ini sahabatmu" Lanjutnya sambil memalingkan wajahnya kesembarang arah.
"Sudah-sudah tidak perlu memasang ekspresi seperti itu, kau bilang akan mendapatkan Kinan bagaimanapun caranya kan ?" Tutur Wira mulai angkat bicara, mencoba menenangkan istrinya.
"Aku sudah siapkan semuanya, jika kalian mau aku bisa menyelesaikannya hari ini juga. Tentu saja dengan syarat yang harus kalian penuhi..." Lanjutnya menjelaskan.
"Soal putri kami, apa kalian tidak salah pilih ? dia bukan putri yang bisa diandalkan, sifatnya juga tidak sebaik yang terlihat, mungkin saja kalian akan menyesal nantinya. Aku hanya tidak ingin kalian menanggung malu nantinya..." Tutur Arya menjelek-jelekan putrinya sendiri membuat Hanum menyikut tangan suaminya dengan kesal. Bagaimanapun Kinan adalah putrinya, bagaimana bisa dia menjelek-jelekan putrinya sendiri.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku sangat ahli menilai karakter seseorang. Dan aku yakin dengan kemampuanku itu" Tutur Karina kembali bersemangat, "Jadi berikan Kinan padaku" Lanjutnya membuat Arya dan Hanum memasang senyuman kaku. Mereka benar-benar tak bisa berkata apapun lagi setelah melihat semangatnya Karina.
Lalu Wira pun menyelesaikan masalah keluarga Arya dengan menemui Darma secara langsung. Sedangkan Karina, dia masih sibuk berbincang dengan Hanum dan Arya.
"Ingat ya, jangan biarkan Bayu tau soal pembatalan perjodohan mereka. Aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk melihat perasaan putraku yang sebenarnya, kalian tau sendiri kan bagaimana dinginnya putraku itu ? dia selalu menyembunyikan perasaannya dan itu membuatku jengkel" Jelas Karina panjang lebar.
"Pokoknya aku akan membuat situasi dimana mereka akan saling menyadari perasaannya satu sama lain, setelah mereka menyadarinya maka permainan ini juga akan selesai..." Lanjutnya sambil tersenyum jahil.
"Kau yakin merencanakan hal ini untuk putamu ?" Tanya Hanum langsung mendapat anggukan cepat dari sahabatnya itu.
Fino yang sudah mendengar semua rencana dari Nyonya Karina pun mau tak mau harus membantunya. Dan saat ini dia ditugaskan untuk mengawasi Akira dan Kinan.
xxx