
Waktu sudah menunjukan pukul 09:20 Pm, terlihat sosok Akira yang baru memasuki kediamannya.
"Tuan." Sapa Fino saat melihat Akira yang berjalan kearah Megan.
"Fino?" Tanyanya.
"Saya pikir tuan tidak akan datang." Tutur pria itu sambil tersenyum.
"Mana mungkin aku tidak datang, bisa-bisa ibu menghabisiku." Gumamnya dengan ekpresi ketakutannya.
"Ah dimana wanita itu?" Lanjutnya bertanya sambil mengedarkan pandangannya, mencari sosok Kinan yang belum terlihat olehnya.
"Oh nona Kinan, dia sedang bersiap." Jawab Fino sambil tersenyum.
"Bersiap?" Tanya Akira langsung mendapat anggukan dari pria itu.
"Ngomong-ngomong tuan, semalam nona Kinan memberikan bungkusan ini untuk saya. Tapi saya rasa akan lebih baik jika tuan yang menerimanya ...." Jelas Fino sambil memperlihatkan bungkusan kecil ditangannya.
"Kenapa kau memberikan barang yang sudah diberikan padamu ... jangan menghinaku!" Ucapnya terlihat kesal.
"A–anu tuan ... bukankah saya sudah mengirimkan foto nona pada tuan? Disana juga ada barang ini," jelas Fino berusaha mengingatkan majikannya.
"Itu loh, hari dimana nona Kinan ingin berjalan-jalan di mall. Hari itu saya menemaninya membeli barang ini, harusnya nona memberikannya langsung pada tuan kemarin malam. Tapi karena tuan tidak datang, nona jadi marah dan memberikan barang ini pada saya ... sa–saya pikir akan lebih baik jika tuan membukanya dulu." Lanjutnya menjabarkan semua kejadiannya.
Dengan cepat Akira merebut bungkusan itu dan membuka kotak kecil yang membungkus jam tangan cantik didalamnya.
"Ini?" Tanyanya sambil melirik kearah Fino.
"Nona Kinan yang memilihkannya sendiri untuk tuan, apa tuan suka?" Jawabnya tak mendapat respon khusus dari majikannya.
"Kalau tuan tidak mau, biar saya yang kenakan." Lanjutnya membuat pria berambut hitam itu segera memberikan kotak jam tangan itu kepada Fino dan memakai jam tangan yang dihadiahkan untuknya.
"Ko–malah dikasih kotaknya?" Gumam Fino merasa kecewa.
"Aku akan mengenakannya, simpan itu di kamarku." Tutur Akira sambil berjalan kearah Megan yang sedang berbincang bersama kedua orang tuanya.
"Selamat ulang tahun pernikahan ayah, ibu." Ucap Akira saat sampai ditengah-tengah keluarganya.
"Akira," Ucap Karina tampak kesal dan segera mencubit pipi putranya dengan gemas.
"Kau terlambat." Lanjutnya.
"Sudahlah sayang, maklumi saja. Belakangan ini Akira memang selalu sibuk dengan pekerjaannya." Tutur Wira berusaha menenangkan istrinya.
"Aduduh sakit bu, ampun ...." Ringis Akira berusaha melepaskan tangan ibunya.
"Kenapa mereka disana?" Tanya Megan mencuri perhatian Karina dan Akira.
Lalu mereka semua mulai memperhatikan Kinan dan Dea yang sudah berdiri diatas panggung portable. Panggung yang disediakan disudut ruangan dekat dengan pintu menuju taman bunga.
Mata Akira langsung membelalak takjub saat melihat sosok Kinan yang mengenakan baju adat sunda dengan rambutnya yang terikat. Sedangkan Megan masih terpaku pada sosok Dea yang sudah mencuri perhatiannya sejak dia menemuinya dikamar ibunya.
Semua orang mulai berbisik, bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan diatas panggung dengan mengenakan pakaian adat seperti itu. Dan sebagian lagi sibuk berbisik mengenai penampilan Kinan dan Dea yang terlihat cantik dengan pakaian adat yang dikenakannya.
"Sebenarnya ibu yang meminta mereka mengisi acara kosong setelah penyambutan." Tutur Karina sambil tersenyum lebar kepada putra-putranya.
"Ha?" Tanya Megan masih tak mengerti.
"Nikmati saja penampilan mereka ...." Jawab Karina membuat fokus kedua putranya kembali tertuju pada sosok Dea dan Kinan.
Kedua wanita itu mulai bersiap diposisi masing-masing. Dea mulai duduk ditempat yang sudah disediakan dengan kecapi yang sudah tersaji dihadapannya. Sedangkan Kinan mulai meraih mic wireless yang diberikan padanya oleh pembawa acara.
"Dea bisa bermain kecapi?" Tanya Megan semakin syok saat melihat Dea mulai memainkan kecapi dihadapannya dengan membawakan lagu See You Again dari Wiz Khalifa ft Charlie Puth.
Lalu suara Kinan mulai mengisi ruangan itu. Membuat semua tamu undangan mematung saat mendengar suara indahnya.
"Ini?" Tanya Akira.
"Indah bukan?" Tanya Karina sambil tersenyum kearah putranya.
"Saat pertama melihat rekaman mereka ketika pentas seni SMP, ibu juga sampai terkejut ...." Lanjutnya menjelaskan.
"Ya, bu.Hanum yang memperlihatkan rekamannya padaku." Jawab Karina sambil tersenyum lebar.
"Ku kira Dea yang akan menyanyi ...." Gumam Megan tampak kecewa dan kembali mengingat suara Dea saat gadis itu bernyanyi dengan ketiga anak kecil yang dititipkan padanya.
"Kenapa wajahmu kecewa begitu?" Tanya Karina membuat Megan segera mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk.
"Ti–tidak ada, Hha–haha ...." Jawabnya berusaha untuk tertawa.
'Kinan ....' Batin Akira masih terpaku pada sosok Kinan yang sedang bernyanyi.
***
'Akhirnya selesai juga ....' Batin Kinan setelah selesai turun dari atas panggung diikuti oleh Dea.
"Haa... udah lama gak main kecapi, kira-kira penampilanku barusan bagus gak ya?" Tanya Dea mulai mengoceh.
"Bagus ko." Ucap Megan mengejutkan kakak beradik itu.
"Loe ngejek ya?" Tanya Dea melirik tajam ke arah Megan.
"Gak lah, gue serius. Tadi itu bagus ...." Jawabnya sambil tersenyum lebar membuat Dea tak berkutik memperhatikan paras tampan pria itu.
"Ah ya, tadi kak Akira bilang mau bertemu dengan kak Kinan di taman." Lanjut Megan membuat Kinan menghela nafas lelah.
"Kenapa aku perduli?" Gumamnya masih kesal dengan kejadian semalam.
"Udah sih tinggal temui dia." Ucap Kiara mengejutkan mereka bertiga dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
"Gila jantung gue!" Ucap Dea dan Megan bersamaan.
"Hay kalian ...." Sapa Kiara sambil tersenyum lebar pada Dea dan Megan yang masih mengelus dadanya.
"Tadi itu penampilan yang bagus. Kalian sudah menjadi perbincangan hangat dianatara para tamu undangan." Tutur Bayu yang sudah berdiri dibelakang Kiara.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Kinan.
"Mau kemana?" Tanya Dea sambil mencekal tangan kakaknya itu.
"Ganti baju." Jawabnya memasang ekspresi datarnya.
"Nanti saja, temui kak Akira dulu." Larang Dea sambil mendorong tubuh Kinan kearah pintu keluar disampingnya.
"Tidak mau!" Tolak Kinan berusaha menghentikan Dea, namun tenaga gadis itu terlalu besar sampai dia tak bisa melakukan perlawanan.
***
"Dasar mereka!" Umpatku merasa kesal dengan perlakuan Dea dan Kiara yang memaksaku untuk menemui Akira di taman.
Ku langkahkan kaki ku menuju taman belakang rumahnya sambil menikmati hembusan angin yang menyapaku.
"Itu dia." Gumamku saat melihat sosok Akira yang sedang berdiri dibawah pohon, lalu mataku menangkap seorang perempuan berambut pirang yang sedang berdiri disampingnya.
"Uwah ... dia memintaku datang menemuinya, tapi dia sedang sibuk dengan wanita lain. Benar-benar menyebalkan ...." Gerutuku sambil menghentikan langkah kaki ku dan mulai memperhatikan mereka secara diam-diam.
"Tunggu! kenapa aku malah bersembunyi? bukankah orang bodoh itu yang memanggilku kesini?" Lanjutku kembali melangkahkan kaki ku kearah Akira berdiri.
Lalu hembusan angin kembali menerpa rambutku bersamaan dengan Akira dan Delia yang melihat kedatanganku.
"Kinan?" Tanya Delia menatap mataku dengan tatapan misteriusnya.
"Akhirnya datang juga." Lanjut Akira sambil menyibak rambutnya membuatku menghela nafas berat.
"Jadi? ada perlu apa repot-repot memanggilku kesini?" Tanyaku tak ingin berbasa-basi dengan pria yang tak menghargaiku.
Ya, entah kenapa aku masih menyimpan dendam padanya karena tidak membalas pesanku dan tak datang menemuiku di toko kue tante Karina.
Lalu sekarang dia malah sibuk berduaan dengan Delia, 'perasaan apa ini? tidak mungkin kan aku cemburu ... ya, pasti tidak mungkin. Tidak mungkin!' Batinku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha menepis semua pikiran anehku.
xxx