Dea & Kinan

Dea & Kinan
91. 11 Februari 2



Waktu sudah menunjukan pukul 03:00 Pm, aku memutuskan untuk kembali ke rumah setelah selesai melihat-lihat dapur toko dan mendengarkan semua masalah kurangnya pelanggan dari para karyawan toko.


"Kalau begitu tolong siapkan semua bahannya besok, aku akan datang lagi lusa nanti. Kita akan membuat kue besar pesanan tante Karina," tuturku membuat mereka semua tersenyum.


"Dan jangan lupa–" Lanjutku terhenti saat merasakan seseorang memeluk tubuhku dari belakang, bahkan semua karyawan yang sedang berdiri dihadapanku pun ikut melotot terkejut membuatku merasa penasaran sekaligus kesal dengan tindakan kurang ajarnya.


"Tu–tuan?" Ucap salah satu karyawan itu membuatku segera melihat kearah sampingku, melihat kepalanya yang sudah bertengger dibahuku.


"A–akira? a–apa yang kau lakukan?" Tanyaku begitu terkejut dengan kehadirannya.


"Le–lepaskan aku!" Lanjutku mencoba melepaskan tangannya yang sudah melingkar dipinggangku.


"Kau lama sekali keluarnya ... aku sampai bosan menunggumu di luar." Jelasnya masih memeluk ku dengan erat.


'Dia bahkan tak memperdulikan semua karyawan dihadapanku, dan berani sekali dia memeluk ku seperti ini?!' Batinku menggerutu kesal saat melihat beberapa karyawan mulai berbisik satu sama lain. Entah apa yang mereka bisikan, aku sampai malu sendiri melihat tatapan mereka.


"Lepaskan bodoh!" Ucapku sambil menginjak kaki Akira membuat pria itu meringis dan melepaskan pelukannya.


"Ma–maafkan aku ya ...." Tuturku pada semua karyawan itu.


"Kenapa kau minta maaf pada mereka? yang diinjak itu kaki ku tau!" Ucap Akira membuatku refleks menyikut tangannya.


"Hhaha... tidak perlu minta maaf bos, kalian kan sudah bertunangan." Tutur seorang karyawan pria berambut hitam dengan mata sipitnya.


"Bo–bos?" Gumamku merasa terkejut dengan panggilan yang dia berikan padaku, ya memang aku yang akan bertanggung jawab dalam mengurusi toko kue ini. Tapi bos? panggilan itu rasanya sedikit memalukan untuk ku.


"Masih belum mau pulang?" Tanya Akira mengejutkanku.


"Wah tuan Akira datang untuk menjemput nona Kinan ya ...." Tutur seorang karyawan perempuan memberikan tatapan berbinarnya.


"Kalau begitu aku serahkan sisanya pada kalian ya," tuturku membuat mereka menganggukan kepalanya dengan kompak.


"Ayo pergi." Lanjutku sambil menggeret tangan Akira.


"Jangan lakukan hal itu lagi! Kau benar-benar membuatku kesal." Ocehku masih menggeret tangan Akira.


"Kenapa kau merasa kesal begitu? bukankah setiap wanita sangat suka diperlakukan seperti itu?" Gumamnya membuatku melepaskan tangannya.


"I–itu, pokoknya jangan lakukan lagi!" Teriak ku mulai tergugup saat bertemu pandang dengannya setelah membalikan tubuhku kearahnya.


'Kenapa dia datang menjemputku? padahal aku tidak pernah menghubunginya,' Batinku bertanya-tanya, 'jangan-jangan tante Karina? tidak salah lagi ... kenapa dia melakukan ini padaku?' Lanjutku merasa kesal sendiri.


"Kinan?" Suara Akira mengejutkanku.


"A–ayo pulang!" Ajak ku sambil melangkahkan kaki kearah mobil Akira yang masih terparkir di halaman toko.


"Aku datang bukan untuk membawamu pulang." Ucapnya mengejutkanku.


"He? apa?" Tanyaku kembali memutar tubuhku kearahnya.


"Kita akan pergi ke rumah orang tuamu, ibu baru saja menelponku dan memintaku untuk membawamu kesana." Jelasnya sambil berjalan mendekatiku.


"Ha? jangan-jangan ...." Gumamku terhenti saat mengingat perkataan tante Karina beberapa hari yang lalu, perkataannya soal pertemuannya denganku tiga hari mendatang.


Tapi ini sudah lewat tiga hari, ku kira tante Karina berbohong atau membatalkan rencananya itu. Tapi ternyata mengundurnya.


"Masuk." Ucap Akira membukakan pintu mobil bagian depan, membuatku masuk ke dalam mobilnya. Lalu dia berlari kearah lainnya dan segera masuk ke dalam mobilnya, memasukan kunci mobilnya dan memasang sabuk pengamannya.


"Jadi kenapa aku harus menemui tante Karina di rumah orang tuaku?" Tanyaku sebelum Akira memutar kunci mobilnya.


"Kita akan tau setelah sampai disana." Jawabnya membuatku semakin penasaran.


'Bau parfume ini?' Batinku saat mencium wangi parfume perempuan yang familiar.


"Hee... jadi sebelum menjemputku kau mengantar Delia dulu ya?" Gumamku sambil melihat keluar jendela mobil disampingku.


"Delia?" Tanyanya.


"Aku sangat mengenal bau parfumenya ...." Jelasku.


Entah kenapa aku merasa kesal saat mengingat wajahnya. Aku juga merasa tak suka jika dia dekat-dekat dengan Akira. Ada apa denganku sebenarnya? tak biasanya aku seperti ini, sejak kapan aku perduli pada pria bodoh itu?


Mataku mulai memperhatikan sebuah cincin yang masih melingkar di jari manisku, entah kenapa aku jadi menyukainya dan tak ingin melepaskannya.


"Kenapa kau terlihat kesal begitu?" Tanya Akira mengejutkanku.


"Bukan urusanmu." Jawabku kembali memperhatikan pemandangan diluar jendela mobilnya.


"Dasar aneh." Ucapnya.


***


Di kediaman Kinan, terlihat sosok Dea yang baru sampai di rumahnya. memasuki rumahnya dengan tergesa-gesa. Menyimpan tas sekolah di atas sofa ruang tengah, lalu kembali berlari keluar rumah dengan terburu-buru.


Megan yang baru sampai di halaman rumahnya pun merasa heran melihat gadis berambut hitam itu berlarian menjauhi rumahnya dengan terburu-buru.


"Ada apa dengannya?" Gumamnya sambil melepaskan helm dikepalanya, lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya setelah membuka kunci pintunya.


"Ah iya ...." Ucapnya saat mengingat sesuatu, dengan cepat dia berjalan ke luar rumah dan memeriksa kotak surat di depan rumahnya.


"Apa hari ini dia mengirimkan surat lagi?" Gumamnya bertanya-tanya, "Kenapa juga aku mengharapkannya?!" Lanjutnya merasa malu sendiri.


Pria itu pun mulai membuka kotak suratnya dan benar saja dugaannya, sebuah surat dengan amplop berwarna merah muda masih tersegel tergeletak di dalam kotal surat itu.


"Hee ... loe dapat surat lagi?" Suara Dea yang berdiri di belakang Megan membuat pria itu terkejut setengah mati.


"Ngagetin gue aja loe! bukannya tadi lari kearah sana?" Ucap Megan sambil menunjuk kearah jalanan yanh di lalui Dea.


"Gue baru beli kuota." Jelas Dea sambil menghela nafas lelah, mengingat dirinya baru saja berlari dengan kecepatan penuh menuju konter di ujung jalan.


"Ku–kuota?" Gumam Megan.


"loe lari kesetanan cuma buat beli kuota?" Lanjutnya memasang ekspresi terkejutnya.


"Suka-suka gue dong! lagian gue ...." Ucap Dea terhenti saat mengingat pesan singkat yang dikirimkan kakaknya padanya.


Kinan mengirimkan pesan singkat pada Dea, memberitau gadis itu bahwa hari ini dia akan menemui ibunya. Ada kemungkinan wanita itu akan pulang besok siang. Dan karena hal itu Dea terburu-buru membeli kuota untuk menghubungi kakaknya melalui panggilan video.


"Kakak ...." Lanjutnya malah merengek membuat Megan kembali terkejut.


"Loe udah minum obat De?" Tanya Megan merasa takut dengan gadis itu.


"Apa maksud loe?!" Bentak Dea memasang ekspresi mengerikannya.


"Ini dia! udah lama gue gak liat ekspresinya yang satu ini. aura menakutkannya juga ...." Gumam Megan bergidik ngeri, dengan cepat pria itu berjalan ke arah rumahnya. Meninggalkan Dea di depan rumahnya.


"Tunggu gue woii! jangan kabur!" Teriak Dea tak di dengarkan, cepat-cepat pria itu mengunci rumahnya dari dalam.


'Selamat.' Batinnya sambil mengelus dadanya.


xxx