Dea & Kinan

Dea & Kinan
41. Malam tahun baru



"Kak..." Ucap Megan masuk ke dalam dapur tepat pada saat Kinan baru selesai memasak. Pria itu menjinjing sesuatu ditangannya, dan wajahnya juga sudah memerah.


"Mau makan? Kebetulan aku baru selesai memasak." Tanya Kinan berusaha mencairkan suasana yang terasa berat baginya.


"Bu-bukan itu. A–aku mau minta tolong boleh?" Jawabnya balik bertanya dengan mata berbinarnya.


"Selama aku bisa membantumu." Jawab Kinan setelah menghela nafas lelah.


"Aku membelikan ini untuk Dea, tolong buat dia memakainya saat mau ke acara festival nanti. Tapi jangan bilang ini pemberian dariku." Jelasnya sambil memberikan tas itu pada tangan Kinan.


"He?" Gumam Kinan tak berkutik saat tiba-tiba pria itu berlari keluar dapur dengan cepatnya, "ada apa dengannya? Main lari aja." Lanjutnya sambil melihat isi tas itu.


"Uwaaah cantik sekali pakaiannya ... sangat bagus. Pasti cocok untuk Dea–" Oceh wanita itu dengan mata berbinar-binarnya, "Jangan-jangan ... apa Megan menyukai Dea ya?" Lanjutnya bertanya-tanya.


Disisi lain...


"Uwaaah... jantungku rasanya mau copot. Padahal cuma pegang tangannya doang, tapi rasanya benar-benar ... mungkin karena hanya ada aku dan kak Kinan disana, jadi suasananya terasa lebih berat sampai aku kesulitan bernapas." Gerutu Megan di dalam kamarnya.


"Sebenarnya aku ingin memberikan pakaian itu untuk kak.Kinan, tapi ... aku rasa Dea lebih pantas mengenakannya. Awas saja kalau dia tidak mengenakannya, aku benar-benar akan mencubit pipinya lebih kencang dari pada cubitanku pagi tadi." Lanjutnya sambil menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 07:00 Pm. Terlihat Kinan sedang sibuk menjawab telpon yang diterima olehnya.


"Kenapa tidak mengangkatnya lebih cepat? Aku sudah menghubungimu sejak sore tadi ...." Oceh seseorang dari heandphone Kinan, dengan cepat dia memeriksa nama si penelpon dan di dapatinya nama 'Akira.' disana.


"Berisik! Kau menggangguku. Memangnya tidak bisa menelpon sekali? Dan lagi aku ingat sudah memperingatimu untuk tidak menelponku lagi!" Tutur wanita itu tampak kesal setelah mendekatkan kembali heandphone ditangannya ke telinganya.


"Kau harus bertanggung jawab." Ucapnya membuat Kinan mematung saking terkejutnya.


"Haa?!" Ucap Kinan menaikan nada suaranya sambil memikirkan perkataan Akira yang tiba-tiba meminta pertanggung jawaban darinya.


"Gara-gara ulahmu yang berteriak mengaku-ngaku sebagai tunanganku saat di restoran waktu itu. Semua orang di kantorku mulai menyebarkan gosip aneh dan sekarang aku harus terkurung di rumah orang tuaku ...." Jelasnya segera dihentikan oleh Kinan.


"Kau sendiri ikut bersalah tau! Jangan melemparkan semuanya padaku! Coba saja waktu itu kau menyangkalnya, dan tidak membawaku ke acara penyambutan mantanmu itu. Mungkin masalah seperti ini juga tidak akan muncul, memangnya kau saja yang merasa dirugikan?" Tutur Kinan dengan emosi meluap-luap.


'Gara-gara dia. Ibuku sampai mendesak ku untuk melakukan perjodohan dengannya dengan alasan omongan tetangga, yah salahku juga sih mengaku-ngaku sebagai tunangannya. Padahal aku bisa mengaku-ngaku sebagai pacarnya saja, tapi tetap saja itu tidak disengaja kan? Jika saja malam itu bukan dia yang aku tarik. mungkin ada orang lain yang akan menjadi korban dari masalahku.' Lanjutnya dalam hati.


"Kau dengar?" Tanya Akira menyadarkan lamunan wanita itu.


"Apa?" Jawab Kinan berteriak sambil memijat keningnya yang mulai berdenyut.


"Kau harus menemaniku besok, Ibu ingin bertemu denganmu." Jawabnya.


"Kenapa aku harus menurutimu?" Tanya Kinan tak mendapat jawaban karena sambungan telponnya malah terputus, "dia mematikan sambungannya? Dasar tidak sopan!" Lanjutnya semakin kesal dan segera memasukan heandphone ditangannya ke dalam saku celana jeansnya.


Gadis itu tampak cantik dengan balutan gaun berwarna merah muda selutut, dia juga mengenakan jaket berwarna sama untuk menghangatkannya saat diluar nanti. Mengingat hari ini dia akan menonton kembang api berasama kakak dan sahabat tercintanya. Rambutnya juga terikat satu seperti biasanya, dan wajahnya terlihat cantik dengan make up natural yang digunakannya.


"Adik ku ini cantik sekali." Ucap Kinan segera terjun kepelukan Dea dan memeluk gadis itu dengan eratnya, Membuat gadis itu terkejut dan nyaris terjatuh.


"Se–sesak ...." Ucap Dea tak di dengarkan.


"Kau sudah besar ya ...." Lanjutnya sambil tersenyum pada adiknya dengan posisi yang masih memeluk tubunya.


"Tentu saja. Usiamu juga sudah menua, cepat cari jodoh sana!" Tutur Dea segera membuat Kinan melonggarkan pelukannya dan melangkah mundur sambil memasang ekspresi sedihnya.


"Kau sudah tidak membutuhkanku lagi ya ...." Gumamnya dengan mata berkaca-kacanya, "tak ku sangka hari ini akan tiba." Lanjutnya mulai terisak.


"Gak usah drama deh." Ucap Dea membuat Kinan segera tertawa karena aktingnya terbongkar dengan mudah oleh sang adik.


"Bagaimana? Kau suka pakaiannya? Pas tidak?" Tanya Kinan setelah selesai tertawa dan menyeka air matanya akibat tertawa dengan terbahak-bahak.


"Hem, tapi kenapa merah muda? Dan lagi sejak kapan kau suka membelikanku pakaian feminim? Biasanya juga membelikanku kaos dan sweater." Tutur Dea merasa heran.


"Kalau itu ...." Jawab Kinan merasa tidak enak jika memberitau adiknya kalau pakaian itu bukan dia yang membelikannya, "su–sudah jam segini. Sebaiknya kita bergegas, Megan pasti sudah menunggu diluar. Fani juga sudah menunggu ditempat, jadi ayo pergi." Lanjutnya sambil mendorong tubuh adiknya menuju pintu keluar rumah.


"Aku bisa jalan sendiri." Ucap Dea tak didengarkan.


Benar saja dugaan Kinan. Saat ini Megan tampak terkejut ketika melihat Dea yang baru keluar dari rumahnya. Perlahan rona merah diwajah pria itu mulai mencuat, matanya terfokus pada wajah cantik Dea dengan mulutnya yang mengatup. Meski dia sangat ingin memujinya, tapi mulutnya benar-benar tak bisa diajak kompromi. Alhasil yang keluar malah bertentangan dengan apa yang dipikirannya.


"Seperti model." Guman Megan saat melihat tubuh tinggi Dea dan wajah cantik yang dimiliki gadis itu.


"Apaan sih loe?!" Ucap Dea ketus.


"Kalian pergi duluan ya, nanti aku menyusul. Aku akan mengubungi kalian, sekarang aku mau ke toilet dulu." Tutur Kinan tiba-tiba saat melihat Fani yang bersembunyi di balik pohon dekat rumah tetangga di sebrang jalan.


"Hee... aku akan menunggu." Ucap Dea tak kamu menuruti ucapan kakaknya.


"Pergi sana. Ajak Megan berkeliling, bukannya dia yang paling semangat dan tak sabar menantikan malam ini? Jadi tunjukan sisi bagus dari festival tahun ini." Jelas Kinan membuat wajah pria itu berbinar-binar sampai membuat Dea luluh.


"Baiklah aku duluan. Jangan lama-lama ya." Ucap Dea sambil menggeret Megan dengan tangan kanannya.


"Pergi juga ...." Gumam Kinan merasa lega. Kemudian Fani pun berlari memasuki halaman rumah Kinan dengan senyuman lebarnya.


"Ayo lakukan dengan cepat." Lanjutnya mempersilahkan Fani masuk.


Mereka pun pergi ke kamar Dea dan segera menghias kamarnya dengan beberapa dekorasi ulang tahun yang dibawa oleh Fani.


xxx