Dea & Kinan

Dea & Kinan
123. Pergi



Ku lihat layar heandphoneku yang mendapatkan pesan masuk dari Dea. Dengan cepat aku membuka pesan itu dan mendapati foto Kinan bersama dengan Akira yang sedang berdansa dengan jas hitam dan gaun pengantin putih yang dikenakan Kinan.


"Mereka memang serasi." Gumamku tak kuasa menahan senyumanku.


"Ada apa nona?" Suara Dafa mengejutkanku.


"Lihat deh, mereka serasi ya." Jelasku sambil memperlihatkan foto Akira dan Kinan yang ku dapatkan dari Dea.


"Benar." Ucapnya menyetujui perkataanku.


"Ngomong-ngomong ... apa nona baik-baik saja tak menghadiri acara pernikahan mereka hari ini?" Lanjutnya bertanya sambil menjauhkan tubuhnya dariku, yang memang kami sedang duduk bersebelahan didalam taxi.


"Mau bagaimana lagi, hari ini aku harus kembali ke rumah ibuku diluar negri. Ayah memintaku untuk mengurus perusahaannya disana, makanya kau ikut denganku kan?" Jelasku mencoba untuk menutupi perasaanku.


'Ah... aku jadi ingin berfoto bersama mereka.' Lanjutku dalam hati kembali memperhatikan foto mereka diheandphoneku.


Lalu ku lihat pesan masuk berikutnya yang dikirim oleh Dea, ku lihat fotonya yang tersenyum lebar bersama dengan kedua sahabatnya dan Megan disampingnya.


"Aku juga bisa pamer sepertinya." Gumamku merasa kesal sendiri dan segera menarik tangan Dafa tanpa peringatan, memperdekat jaraknya denganku.


Lalu ku ambil fotoku bersama Dafa yang duduk disampingku dan mengirimnya kepada Dea.


"Hhehe..." Tawaku merasa puas dengan hasilnya dan menjauhkan diriku dari Dafa.


"Nona benar-benar membuatku terkejut." Gumamnya membuatku refleks menoleh kearahnya dan menatap sorot matanya yang sulit digambarkan, namun ada sebersit rona merah diwajahnya.


"Maaf." Ucapku merasa malu sendiri saat melihatnya salah tingkah.


Kemudian ingatanku kembali berputar saat aku bertukar pesan dengan Dea beberapa hari terakhir ini. Kami memang sering membahas soal Dafa yang katanya menyukaiku, dan aku tak mempercayainya. Tapi setelah melihat tingkah lakunya, aku merasa pesan singkat dari Dea memang benar adanya.


Sesampainya di bandara kami langsung turun dari taxi, dan ku kirimkan pesan singkat pada Dea sebelum pergi.


Aku akan menunggumu. Begitulah isi pesannya, ku dengar dia akan kuliah di luar negri. Dan saat aku tau dia akan pergi ke negara kelahiran ibuku, aku jadi bersemangat. Dan tak sabar menunggu kedatangannya.


***


Terlihat sosok Kiara yang mengenakan dress berwarna biru tua berlengan pendek dengan bagian punggungnya yang terekspos dengan rambut Low ponytail-nya.


"Aku jadi ingin menikah juga." Tuturnya sambil merangkul tangan sepupunya yang berdiri disampingnya.


"Kenapa harus merangkul tanganku?" Tanya Bayu merasa tak nyaman dengan perlakuan Kiara.


"Biar saja. Lagipula kau masih sendiri, kalau sudah punya pacar baru protes." Jelasnya membuat pria itu bungkam.


"Mereka benar-benar serasi ya." Suara Wulan yang berdiri disamping Kiara sambil memperhatikan Akira dan Kinan yang masih berdansa dihadapan tamu undangan.


"Siapa sangka mereka akan menikah mendahului kita." Lanjut Dev sambil merangkul calon istrinya.


"Ngomong-ngomong siapa yang menyusun acara dansa mereka? Bukannya dalam undangan tak ada acara dansa seperti ini ya?" Tanya Wulan pada Kiara.


"Siapa lagi kalau bukan tante Karina." Jawab Kiara sambil melihat kearah Karina yang sedang duduk bersama Hanum.


"Apa ini semacam acara kejutan?" Tanya Wulan sambil tersenyum memperhatikan Kiara yang terlihat bahagia melihat putranya berdansa dengan menantu idamannya.


"Loe gila!" Suara Dea mendekati Kiara dan yang lainnya.


"Berisik." Balas Megan yang berbalik badan menghadap Dea.


"Kalian gak sekalian nikah hari ini juga?" Goda Kiara memperhatikan kedekatan Dea dan Megan dihadapannya.


"Ha?!" Ucap mereka bersamaan.


"Ujian nasionalnya kan udah beres De, jadi kalau mau nikah juga aman-aman aja." Lanjut Bayu ikut menggoda gadis berambut hitam itu.


"Siapa juga yang mau nikah sama ni anak?" Tanya Dea melirik tajam kearah Megan.


"Emangnya gue juga mau nikah sama loe?" Lanjut Megan membalas tatapan Dea.


"Aduduh sekarang aja bilangnya gak mau, beberapa tahun kemudian nikah juga." Goda Wulan sambil tersenyum lebar.


"Nah." Lanjut Kiara menyetujui ucapan sahabatnya itu.


"Berisik!" Ucap Dea dan Megan bersamaan.


"Balikin heandphone gue heh!" Lanjut Dea mengingatkan Megan yang memang sengaja merebut heandphone gadis itu karena mengabaikannya.


"Gak mau! Lagian salah loe sendiri cuekin gue. Gue lagi ngomong juga, bukannya didengerin ...." Tolak Megan menjauhi Kiara dan yang lainnya.


"Megan." Ucap Dea tak berani berteriak, dengan cepat dia mengejar pria itu.


"Apa gak papa mereka berlarian seperti itu?" Tanya Wulan merasa khawatir dengan Dea yang memakai dress berwarna maroon senada dengan heels yang dikenakannya.


"Biarkan saja, lagian mereka lari keluar." Jawab Bayu kembali memperhatikan Akira dan Kinan yang baru selesai melakukan dansa.


"Tapi heelsnya ... sepertinya Dea belum terbiasa memakai heels." Guman Wulan merasa cemas sendiri.


***


"Berhenti!" Teriak Dea yang sudah lelah berlarian mengejar Megan diluar rumah mewahnya.


Karina memang sengaja mengadakan pesta pernikahan putranya di kediamannya, dia bilang tak ada tempat yang lebih bagus dari tempat tinggalnya. Meski awalnya Akira mengusulkan untuk mengadakan pesta di hotel milik kakeknya, tapi Karina menolaknya.


Terpaksa pria itu mengalah, sedangkan keluarga Kinan hanya bisa ikut-ikutan kemauan Karina saja. Bagi mereka dimanapun tempatnya tak akan jadi masalah yang penting pernikahannya bisa berjalan dengan lancar.


"Kenapa? loe nyerah?" Tanya Megan yang juga terlihat ngos-ngosan.


"Ngaca oii," ucap Dea sambil mengatur napasnya.


"Ah ini benar-benar melelahkan." Lanjutnya sambil melepaskan heels yang dikenakannya.


Megan yang baru menyadari gadis itu mengenakan heels pun mulai mendekatinya dan memperhatikan kaki Dea.


"kenapa dibuka? kaki loe lecet?" Tanyanya sambil berjongkok dihadapan Dea untuk memastikan kaki gadia itu baik-baik saja.


"Enggak, cuma pegel–" Jawab Dea terhenti saat melihat bibinya tiba bersama dengan suami dan putranya.


"Kenapa diluar De?" Tanya wanita yang mirip dengan ayahnya.


"Lagi ngangin bi, hehe .... " Jawab Dea sambil terkekeh.


"Uwah Adam udah besar ya." Lanjutnya sambil mencubit putra kecil bibinya yang digendong oleh suaminya.


"Kenapa heelsnya dilepas?" Tanya pria yang menggendong Adam.


"Ini–" Jawab Dea terhenti saat merasakan kakinya digelitiki oleh Megan.


"Megan!" Teriak Dea saat melihat pria itu kabur sambil tertawa renyah karena puas menjahilinya.


"Itu?" Tanya bibinya Dea memperhatikan kepergian Megan.


"Ah dia Megan, adiknya Akira." Jawab Dea.


"Hee ...." Gumam bibinya Dea terlihat jahil.


"Masuk yuk." Lanjut ayahnya Adam sambil berjalan mendahului Dea dan istrinya.


"Jadi Dea kapan nyusul?" Goda bibinya membuat Dea terkejut.


"Apaan sih bi, masih lama juga. Dea mau kuliah dulu, belum mau nikah." Jelas Dea terlihat malu-malu.


"Bibi kira kamu mau nikah muda." Tuturnya sambil tersenyum jahil.


"Hhaha ... mana ada, bibi ini ada-ada aja deh." Ucap Dea mengikuti langkah bibinya setelah mengenakan kembali heelsnya.


"Jadi nikahnya sama Megan nih?" Bisiknya kembali mengejutkan Dea.


"Apaan sih bi." Ucap Dea membuat wanita itu tak kuasa menahan tawanya saat melihat ekspresi Dea yang mudah dibaca dengan rona merah diwajahnya.


xxx