Dea & Kinan

Dea & Kinan
40. Patah hati 2



Dea hanya bisa mematung merasakan tangan Megan yang masih mencubitnya dengan rasa gemas.


"Ada apa?" Tanya Megan langsung melepaskan cubitannya dan menatap bingung kearah Dea yang sudah merona.


"Kepo loe!" Ucap Dea segera memalingkan wajahnya dari Megan, 'Hee... kalau dilihat dari dekat, Megan manis juga ya. Haa... jantungku sampai mau copot, dia benar-benar berniat untuk membunuhku ya?' Lanjutnya dalam hati sambil mencuri-curi pandang dari Megan.


Tapi pria itu malah asik memperhatikan langit dan menyandarkan tubuhnya pada kepala kursi yang didudukinya, kemudian menghela nafas berat.


"Bener-bener galau ni anak." Guman Dea memasang ekspresi lelahnya.


"Loe juga lagi galau tuh ...." Ledek Megan tak mengalihkan pandangannya dari langit yang sedang dilihatnya.


"Cuma sakit sedikit, Lagian gue belum sepenuhnya suka sama kakak loe." Jelas Dea ikut menyenderkan tubuhnya pada kepala kursi yang didudukinya.


"Ha?" Tanya Megan meminta penjelasan yang lebih rinci, terlihat dari ekspresi yang dipasang olehnya.


"Budek loe! Gue bilang, gue belum sepenuhnya suka sama kakak loe. lagian gue udah tau kalau dia tertarik dengan kakak gue saat dia mulai nanya-nanya soal kak Kinan saat mengantarku pergi ke sekolah setiap paginya ...." Jelas Dea memperjelas semuanya.


"Terus loe gak mau berjuang buat mendapatkan hati kakak gue gitu? Nyerah gitu aja gitu?" Tanya Megan.


"Gue mah gampang kalau urusan cowo. Yang gak gampang itu kakak gue, kak.Akira tertarik sama kakak gue aja, gue udah bersyukur banget. Sisanya tinggal seberapa bisa dia menarik perhatian kakak gue. Soalnya selama ini dia selalu nolak banyak cowo dan sibuk dengan dunianya sendiri ...." Jelas Dea terdengar lelah saat menceritakan soal kakaknya yang masih menjomblo.


"Tadi aja bilangnya gak akan nyerahin kakak loe ke sembarang lelaki." Gumam Megan sambil melirik kembali kearah Dea.


"Ya iyalah gue gak akan menyerahkan kakak gue kesembarang lelaki, dan tak akan semudah itu mereka mendapatkan kakak gue." Bentak Dea membuat Megan segera menutup telinganya.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 10:00 Am. Fani datang berkunjung ke rumah Dea untuk membahas soal rencana ulang tahun Kinan yang akan mereka rayakan malam nanti.


Fani dan Dea segera pergi ke rumah Megan untuk membahas rencananya, agar Kinan tidak mendengar obrolan penting mereka.


"Kenapa musti di rumah gue?" Tanya Megan merasa kesal dengan paksaan Dea dan Fani yang memintanya untuk menggunakan rumahnya.


"Udah sih lagian cuma bahas rencana awal doang. Gak akan lama ...." Tutur Dea yang sudah duduk manis di sofa ruang tamu rumah Megan.


"Soal festivalnya bagaimana? Kita jadi kesana?" Tanya Fani mengalihkan perhatian Dea.


"Jadiiii ...." Teriak Megan kegirangan membuat Dea dan Fani terkejut.


"Giliran festival aja ribut." Gumam Dea sambil tersenyum kaku kearah pria itu.


"Biarin." Ucap Megan sambil memeletkan lidahnya dan menarik bagian bawah mata sebelah kanan dengan tangan kanannya.


"Bocah!!" Ucap Dea membuat Fani tertawa.


Setelah melakukan perdebatan panjang dan memastikan rencananya dengan seksama. Merekapun mengusaikannya tepat pada pukul 10:45 Am.


"Gue balik dulu ya, belum cuci piring nih." Ucap Dea kepada Fani dan Megan.


"Gue juga ikut." Ucap Fani sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Ya enggaklah, siapa juga yang mau repot-repot bantuin loe. Maksud gue tuh, gue juga mau balik. Ikut keluar rumahnya barengan, gitu ...." Jelas Fani membuat Dea kesal dan segera meninggalkannya.


"Ah iya." Ucap Fani membalikan badannya kearah Megan yang masih duduk di sofanya, "Hhehem..." Lanjutnya malah tersenyum lebar pada Megan, membuat pria itu mengernyitkan dahinya.


"Aku ingin meminta bantuan kak Megan boleh kan?" Tanya Fani semakin membingungkan Megan.


"Ba–bantuan apa?" Tanya Megan merasa ragu bahwa dia bisa membantu gadis itu.


"Soal ulang tahunnya Dea." Jawab Fani kembali tersenyum lebar.


"Ulang tahun Dea?" Gumamnya bersamaan dengan Fani yang segera duduk kembali di sofanya.


"Biasanya setiap tahun, aku selalu merencanakannya dengan kak.Kinan. dan aku juga merencanakannya dengan Dea, hem... bagaimana menjelaskannya ya" Jelas Fani mulai berfikir dan mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya.


"Gini gini, sekarang kan Dea sedang sibuk mengurus rencana kejutan untuk kakaknya. Karena hari ini kak.Kinan sudah masuk usia 22 tahun, tapi besok adalah hari ulang tahunnya Dea. Jadi ulang tahun mereka cuma beda satu hari. Biasanya aku juga merencanakan kejutan untuk Dea bersama kak.Kinan tanpa sepengetahuanya, dan aku ikut membantu Dea untuk merayakan ulang tahun kakaknya. Jadi biasanya Dea merayakan ulang tahun kakaknya pada malam hari, dan kak Kinan merayakan ulang tahun Dea saat tengah malam." Jelasnya membuat Megan mematung.


"Mereka benar-benar seperti anak kembar ya ...." Guman Megan membuat Fani kebingungan, "Itu loh, kadang ada beberapa perempuan yang melahirkan anak kembarnya di akhir tahun, detik-detik menjelang tahun baru. Anak pertama lahir di akhir tahun dan anak kedua lahir di awal tahun, berbeda beberapa menit" Jelasnya membuat Fani ber'Oh' ria.


"Pokoknya aku mau minta bantuan dari kak Megan." Ucap Fani segera kembali pada pembahasan awal dan merekapun mulai membahas rencana yang dibuat oleh Fani.


***


Pukul 03:45 Pm, di kediaman Kinan.


"Mandi gak?!" Ancam Dea yang sudah memasang ekspresi menakutkan seperti biasanya.


"Nanti ... 5 menit lagi ya." Jawab Kinan sambil berkeringat dingin.


"Gak ada! Mandi sekarang, cepet mandi!!" Teriak Dea berhasil membuat Kinan bergegas dari tempatnya.


"Lain kali aku harus mengunci pintu kamarku ...." Gerutu Kinan merasa kesal karena adiknya sudah mengganggu pekerjaannya.


Setelah membersihkan tubuhnya, Kinan pun segera kembali ke kamarnya dengan mengenakan kaos putih polos yang tertutupi oleh sweater biru tua dengan celana jeans abu-abu selutut. Rambutnya juga sudah terikat satu dengan rapi dan menyisakan poni panjang yang menjuntai hingga ke bahunya.


"Kak!" Teriak Dea membuat Kinan segera keluar dari kamarnya.


"Apa sih? pake teriak-teriak segala." Tanya Kinan.


"Gak masak?" Tanyanya yang berdiri di depan pintu dapur.


"Lagi males ah ... lagian kita kan mau ke festival. disana juga kita bakal banyak jajan." Jawab Kinan membuat Dea merasa Kesal dan segera pergi kearah pintu rumahnya.


"Mau kemana?" Tanya Kinan merasa heran melihat adiknya pergi begitu saja tanpa mendebatnya lebih banyak. Biasanya dia akan berteriak atau melakukan hal menakutkan agar kakaknya mau memasak untuknya.


"Beli bakso." Jawab Dea sambil menutup pintu rumahnya.


"Merepotkan ...." Gumam Kinan sambil berjalan ke arah dapur dan segera memasak beberapa menu makanan untuk makan malam nanti. Meski dia tau, mungkin mereka tak akan memakannya karena kebanyakan jajan di festival. Selain itu dia juga tidak bisa memastikan jam berapa mereka akan pulang.


xxx