
Setelah mendapat informasi kegagalan rencanaku, ayah langsung menelponku meski aku tak memberitaunya ... bahkan telingaku sampai gatal mendengarkan semua makiannya, nada bicaranya yang tak bisa ku dugapun keluar begitu saja. Membuatku tak ingin pulang ke rumah.
Setelah pekerjaanku selesai, harusnya aku pulang ke rumah untuk beristirahat dari duniaku yang sibuk. Sibuk menjalankan rencana ayahku tentunya. Tapi setelah mendengar makian dari ayahku sendiri, memangnya siapa yang mau menemuinya?
Ah mengingat nada bicaranya saja sudah membuatku sakit kepala. Bahkan selama semalaman mataku tak bisa terpejam.
Padahal dulu ayah sangat baik dan lembut padaku. Dia selalu tersenyum hangat dan selalu mengelus kepalaku dengan lembut, tak pernah membentak apalagi memakiku.
"Aah ... kenapa aku merindukan saat-saat itu?" Gumamku mulai merasakan panas dimataku, kemudian pandanganku semakin berbayang merasakan air mata yang hampir jatuh dipelupuk mataku.
Sejak kapan ayah berubah menjadi sosok ayah seperti ini? Kemana ayah yang dulu menyayangiku? Apa semua itu hanya mimpi belaka? Apa rasa sayangnya padaku hanya kebohongan?
Ku lihat pemandangan kota dibalik jendela mobil sambil menyeka air mataku yang sudah terjatuh itu. Tak perduli dengan gerak-gerik Dafa yang mencuri-curi pandang melalui kaca spion disela-sela kesibukannya dalam menyetir mobil.
Ku dengar hari ini adalah hari terakhir dia bekerja sebagai asisten pribadiku karena ayah sudah memecatnya kemarin malam. Mungkin karena ketauan menjadi mata-mata Kiara dan Bayu. Tapi aku tak perduli. Yang ku tau saat ini adalah hatiku sedang terluka dengan perlakuan ayahku sendiri.
Disisi lain aku merasa lega karena ada orang yang bisa menghentikanku, sejak awal aku memang tak ingin terlibat dengan permainan ayah.
Tapi disisi lainnya, hatiku masih tak rela membiarkan Kinan bersama dengan Akira ... mungkin karena perlakuannya padaku. Sandiwaranya berhasil membuatku tertipu, ku kira dia benar-benar sudah melupakan Kinan, makanya dia bersikap sedikit manis saat sedang bersamaku.
"Kita sudah sampai nona." Suara Dafa mengejutkanku.
Dengan cepat aku keluar dari dalam mobil dan bergegas masuk ke kantor tanpa banyak bicara.
Hari ini akan menjadi hari terakhirku bekerjasama dengan Akira. Aku sudah memutuskannya jauh-jauh hari jika rencanaku terbongkar. Aku juga akan kembali kerumah lamaku, negara tempat ibuku dilahirkan.
Ku lihat jam tanganku sudah menunjukan pukul 06:50 Am, lalu pandanganku beralih pada sosok Akira dan Kinan yang baru memasuki kantor dengan aura kebahagiaan mereka, membuatku merasa iri.
Melihat tingkah manja Akira pada Kinan adalah pemandangan yang cukup langka, terakhir kali aku melihatnya saat acara ulang tahun pernikahan nyonya Karina dan tuan Wira. Malam itu, sebelum aku pulang dari kediaman tuan Wira, aku melihat Akira yang memainkan rambut Kinan.
Ku lihat mereka melewatiku tanpa memperdulikan kehadiranku. Sekilas aku melihat Kinan melirik kearahku dengan pandangan yang sulit ku jelaskan, seperti ada banyak perkataan yang ingin dia sampaikan melalui tatapannya itu.
'Aku harus berterima kasih padanya karena tak menjebloskanku ke penjara. Atau mungkin ... belum.' Batinku sambil berjalan kearah lift setelah melihat pasangan itu masuk kedalam lift.
***
Pukul 10:05 Am, disebuah kafe.
Terlihat sosok Dafa yang sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita yang sudah lama dilupakannya, wanita yang pernah menampar Kinan di taman hiburan waktu itu.
Dafa tak sengaja bertemu dengannya saat sedang berjalan-jalan sebentar karena merasa bosan menunggu jam kerja Delia selesai.
"Bagaimana kabarmu sekarang?" Tanyanya, "sepertinya terlihat baik ya." Lanjutnya sambil memperhatikan wajah Dafa yang merasa tak nyaman dengan pertemuan mereka.
Pasalnya dia sudah membohongi mantannya itu dan membuat hubungannya dengan Kinan hancur. Lalu tiba-tiba dia harus bertemu dengan Manda.
"Ku dengar Kinan sudah bertunangan ...." Tutur wanita itu berusaha mencari topik pembicaraan sambil memperhatikan sekitarnya.
"Begitulah." Jawab Dafa sebelum menyeruput green tea pesanannya.
"Soal waktu itu–" Ucap manda membuat pria itu sedikit tersentak. Dengan cepat dia meletakan cangkir tehnya diatas meja dan menatap mata Manda dengan serius.
"Maafkan aku." Ucapnya membuat wanita itu terkejut.
"Ma–maaf? untuk apa?" Tanyanya sambil mengernyitkan dahinya bingung.
"Sebenarnya ...." Tutur Dafa mulai menjelaskan semuanya.
Manda yang sempat tak berkutik dengan penjelasan Dafa pun langsung melayangkan tamparan keras diwajah pria itu. Mencuri perhatian semua pengunjung yang ada di dalam kafe kala itu.
"Aku benar-benar tak habis pikir!" Ucap wanita itu sebelum meninggalkan kafe dengan mata berkaca-kacanya, mencoba untuk menahan air matanya supaya tak merembes keluar tepat didepan pria yang sudah menghancurkan persahabatannya dengan Kinan.
Dafa yang menerima tamparan keras itupun hanya bisa mematung ditempatnya, meratapi masa lalunya yang menyakiti perasaan orang-orang disekitarnya.
'Kenapa dulu aku sampai melakukan hal sejahat itu?' Batin Dafa menyesali semua perbuatannya bersamaan dengan bayangan wajah ibunya yang segera hadir dalam ingatannya.
"Apa kau yakin tidak menjelaskan situasimu saat itu?" Suara Kiara mengejutkan pria itu.
"Kiara?" Gumamnya melihat seorang wanita bertubuh tinggi berdiri disamping mejanya.
"Ah kau mengikutiku?" Lanjutnya sambil menghela napas pasrah mengingat mobil Kiara yang mengikutinya pagi tadi.
"Ku dengar tuan Danu memecatmu, makanya aku datang untuk memberikanmu perkerjaan baru." Tutur Delia sambil duduk ditempat Manda, membuat tubuhnya berhadapan dengan Dafa.
"Pekerjaan apa? Memata-matai lagi?" Tanya Dafa terlihat tak tertarik dengan tawaran baik Kiara.
"Sebaiknya tidak usah. Aku tak mau berurusan dengan hal-hal berbahaya lagi." Lanjutnya bergumam sambil kembali meraih cangkir green teanya.
"Heee... jadi kau berniat hidup damai bersama ibumu ya." Gumam Kiara terlihat menggoda pria dihadapannya.
"Sebenarnya ada hal yang menggangguku belakangan ini, tapi yah karena aku sudah dipecat. Maka aku tak memiliki hak untuk ikut campur dalam urusan keluarganya tuan Danu kan?" Ocehnya terlihat bodoh dengan wajahnya yang dipaksakan untuk tersenyum.
"Apa yang kau katakan?" Tanya Kiara sambil melihat keluar jendela kafe dan memperhatikan beberapa pejalan kaki disebrang jalan.
"Eh itu–" Jawabnya tergugup.
"Ya, terima kasih juga untuk bantuanmu dan Bayu." Balas Dafa sambil tersenyum.
'Ku kira dia akan mengatakan soal situasinya pada Manda, ternyata dia hanya menjelaskan sebagian dari kebenarannya. Padahal wanita itu terlihat masih mencintainya ... merepotkan saja.' Batin Kiara sambil memperhatikan Dafa secara diam-diam.
Disisi lain...
"Bagaimana ini? Aku sudah bersikap jahat selama ini pada Kinan, aku sudah melukai perasaannya. Meski dia menjelaskan kebenarannya, aku bahkan tak pernah mempercayainya ... tak pernah mencoba untuk mempercayainya sedikitpun." Gumam Manda didalam taxi.
Tampaknya dia merasa bersalah pada sahabat lamanya itu, sahabat yang sudah dianggapnya sebagai musuh.
***
"Makan siang yuk." Suara Akira mengejutkan Kinan yang sedang fokus mengerjakan pekerjaannya.
"Sebentar lagi." Jawab Kinan kembali fokus pada pekerjaannya setelah melirik jam tangan dipergelangan tangan kirinya.
"Cepatlah sedikit, nanti restorannya keburu penuh," ucap Akira masih tak didengar.
"Lagian ini sudah masuk jam istirahat, kenapa kau masih sibuk di depan komputermu itu?" Lanjutnya mengoceh.
"Lihat! Lihat! Itu pak Akira kan? Wah dia mau mengajak nona Kinan keluar ya?" Bisik beberapa orang mulai mengusik ketenangan gadis berambut coklat itu.
"Ayo pergi makan, matamu gak sakit apa lama-lama didepan komputer?" Bisik Akira membuat Kinan terkejut dan refleks menjauhkan dirinya dari pria berambut hitam itu. Sepertinya dia sengaja melakukan itu didepan orang-orang yang memperhatikannya secara diam-diam.
"Da–dasar tidak sabaran! pergi saja duluan, jangan mengganggu pekerjaanku." Teriak Kinan dengan wajahnya yang sudah memerah.
"Kau ini benar-benar tidak peka ya ...." Tutur Akira setelah menghela napas lelahnya.
Dia langsung menggendong tubuh Kinan dipangkuannya tanpa aba-aba. Kini wajah wanita itu semakin memerah menahan malu karena diperhatikan semua karyawan kantor yang melihatnya diperlakukan seperti itu oleh Akira.
"Apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku! Mereka semua melihatmu loh ...." Tuturnya tak diperdulikan.
"Memangnya salah siapa? Coba saja kau mau menuruti ajakanku itu. Lagipula perutmu itu juga perlu diisi, kalau aku bilang waktunya istirahat ya istirahat jangan membantah." Jelas Akira sambil berjalan meninggalkan ruang kerja karyawan, berjalan kearah lift.
"Memangnya kau siapaku? Beraninya memerintahku–" Oceh Kinan terhenti saat melihat senyum sarkas Akira yang sudah lama tak dilihatnya.
"Aku ini atasanmu loh. Kau lupa perusahaan ini milik siapa?" Jelas Akira membuat Kinan bungkam.
"Selain itu ... aku ini tunanganmu, calon suamimu. Jadi kau harus menurut padaku. Paham?" Lanjutnya membuat Kinan semakin tak berkutik dibuatnya.
"Ya–ya benar sih ...." Gumam gadis itu membenarkan perkataan Akira.
"Kau bilang sesuatu?" Tanya Akira segera mendapatkan gelengan cepat dari Kinan.
"Uwaah tadi itu tuan Akira dan tunangannya itu kan? So sweet ya, aku jadi ingin menjadi tunangannya dan digendong seperti itu ...." Suara beberapa karyawan yang berpapasan dengannya di koridor, membuat rona merah diwajah Kinan tak kunjung menghilang.
"Tidak bisakah kau turunkan aku sekarang!" Pinta Kinan masih tak didengarkan.
"Nanti kau bisa kabur." Jawab Akira sambil memasuki lift.
"Selain itu ... jarang-jarang aku bisa melihat wajah malu mu itu." Lanjutnya menggoda wanita dipelukannya.
"Ha–haaa? Me–memangnya kau tidak malu apa? Padahal mereka membicarakan kita, melihat kita juga–" Teriak Kinan terhenti saat melihat Akira tersenyum hangat padanya tepat pada saat pintu lift tertutup.
'Curang!' Lanjutnya dalam hati sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Akira.
"Lihat, bukankah kau terlihat lucu jika sedang malu-malu seperti ini?" Suara Akira kembali menggoda Kinan.
"Berisik!" Bentak Kinan sambil mendaratkan pukulan di dada bidang Akira.
"Hhahaha... tidak sakit ko." Tawa Akira belum puas menggoda calon istrinya itu.
Kinan yang mendengar tawa Akira pun tak bisa menunjukan wajah merahnya pada pria itu, dia hanya bisa membenamkan kepalanya di dada bidang Akira sambil tersenyum diam-diam.
Tak lama kemudian pintu lift pun terbuka, dengan cepat Akira membawa Kinan menuju ketempat Fino menunggu.
Fino yang menunggu majikannya di depan pintu masuk pun terlihat terkejut saat mendapati Akira yang menggendong Kinan dengan ekspresi berbunga-bunganya yang jarang diperlihatkan pada siapapun. Sayangnya Kinan tak melihat ekspresi Akira yang terlihat lebih hidup, siapa sangka wajah datar nan kakunya bisa menghilang hanya karena dia merasa puas menggoda Kinan sampai tak berdaya dalam pelukannya.
"Tu–tuan? Apa sesuatu terjadi pada nona?" Tanyanya sambil membukakan pintu mobil disampingnya.
"Tidak ada," jawab Akira sambil tersenyum lebar kearah Fino. Fino yang melihatnya pun hanya bisa mematung beberapa saat sebelum membalas senyumannya.
"Ho, syukurlah. Saya kira nona sakit." Gumam pria itu sambil menutup pintu mobilnya saat Akira sudah masuk kedalam mobil, duduk bersebelahan dibaris belakang bersama dengan calon istrinya.
"Kalau begitu saya harus mengantar tuan dan nona kemana?" Tanya Fino setelah masuk ke dalam mobilnya dan segera menyalakan mesin mobilnya.
"Restoran tempatku biasa makan saja." Jawab Akira segera mendapat anggukan cepat dari Fino.
'Jarang-jarang melihat tuan sebahagia ini, nona juga tak banyak bicara. Ada apa dengan mereka sebenarnya? Apa kepribadiannya tertukar? Tapi yah ... syukurlah tuan bisa kembali ceria seperti dulu lagi.' Batin Fino mengawasi majikannya diam-diam melalui kaca spion mobilnya sambil tersenyum sesekali.
xxx
Akhirnya bisa buka MT lagi, maaf ya buat para readers yang lama nunggu update-an Dea & Kinan. Semoga kesibukanku cepat berkurang, jadi updatenya bisa on time lagi T^T