Dea & Kinan

Dea & Kinan
10. Sifat asli Kinan



Di rumah Kinan...


"Jadi kalau saya boleh tau, kira-kira harga sewa pertahunnya berapa ya?" Tanya pria berambut hitam itu.


"Anda benar-benar tidak sopan ya." Ucap Kinan setelah meneguk teh hijau buatannya.


"Eh?" Gumam pria itu kebingungan.


"Tidak kah anda merasa harus memperkenalkan diri terlebih dulu?" Tanya Kinan menatap tajam kearah pria itu, 'Padahal dia sudah mengetahui namaku.' Lanjutnya dalam hati menahan kesal karena berhadapan dengan orang sepertinya.


"Ah itu. Tolong maafkan saya, waktu itu saya lupa memperkenalkan diri dan menutup telpon begitu saja. Perkenalkan nama saya Akira dan laki-laki diluar itu adik saya, namanya Megan." Jelasnya sambil tersenyum ramah.


"Akira ya, karena anda sudah mengetahui nama saya, jadi saya tidak perlu memperkenalkan diri lagi. Untuk harga sewa pertahun, kira-kira ...." Jelas Kinan terpotong dengan kedatangan seorang pria yang tak lain adalah Megan sang adik dari pria bernama Akira yang sekarang sedang duduk dihadapannya.


"Kau jahat sekali kakak, memintaku mengangkut semua barang-barang itu sendirian. Lelahnya ...." Tutur pria itu duduk disamping Akira dengan wajah lelahnya.


"Megan!" Ucap Akira membuat aura mengerikan disekitar tubuhnya.


"Hiii..." Teriak Megan menjauh dari kakaknya.


"Tidak apa-apa, biar aku siapkan lemon tea untuk adikmu dulu." Tutur Kinan berusaha menjauh dari situasi mengerikan itu.


"Terima kasih kakak, kau baik sekali." Puji Megan kepada Kinan yang sudah pergi dari hadapannya.


Kemudian kakak beradik itu mulai berdebat soal kedatangan Megan yang mengganggu diskusi soal harga sewa rumah yang sedang dibicarakannya dengan Kinan. Selain itu caranya masuk benar-benar tidak sopan, karena tidak mengetuk pintu terlebih dulu, seperti sudah menganggap rumah itu sebagai rumahnya sendiri.


"Ia ia maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi. Jadi berhenti menceramahiku! Kupingku sakit tau!" Oceh Megan sambil memeluk bantal sofa dan mengangkat kedua kakinya keatas sofa, sedangkan Akira mengambil sikap berdiri menatap Megan dengan mata menindasnya, membuat Megan ketakutan.


"Sudahlah tidak perlu dibesar-besarkan, anggap saja seperti rumah sendiri. Ini silahkan diminum ...." Tutur Kinan menghentikan perdebatan kakak beradik itu, 'Mereka benar-benar berisik, membuatku lelah. Ku harap Dea segera pulang. Aku lelah terus berekspresi seperti ini di depan mereka.' Lanjut Kinan dalam hati sambil melihat Megan yang sedang asik meminum lemon tea yang dibuatkan olehnya.


"Jadi bagaimana dengan harga sewanya?" Tanya Akira setelah menghela nafas dan menenangkan dirinya.


Belum sempat Kinan menjawab, terdengar suara Dea yang berteriak di luar rumah, "Aku pulang." di ikuti dengan suara pintu yang terbuka, lalu kembali tertutup.


"Si–siapa?" Gumam Akira dan Megan bersamaan sambil melihat kearah sumber suara. Tak lama kemudian mereka melihat seorang gadis berdiri di dekat anak tangga melihat kearah mereka.


"Ah jadi mereka tamu yang kau maksud ya." Tutur Dea berjalan kearah kakaknya, bermaksud memperkenalkan diri. Namun dengan cepat Kinan berlari kearah adiknya dan terjun kedalam pelukannya membuat Dea terkejut termasuk dengan kedua tamu itu.


"Dea ...." Rengek Kinan sambil melihat wajah adiknya.


"A–ada apa ini?" Tanya Dea berkeringat dingin.


"Aku cape, aku tidak mau lagi memasang tampang seperti itu. Gak mau gak mau gak mau!" Jelas Kinan memasang wajah menyedihkan dengan mata berkaca-kacanya.


"He?" Gumam Megan tak mengerti dan melirik kearah kakaknya, namun Akira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti dengan situasi yang dilihatnya.


"Tolong lepaskan aku ...." Rengen Kinan masih memeluk Dea dengan erat.


"Hha–ha..." Tawa Dea terdengar dipaksakan, melirik kearah tamu yang kebingungan dengan perubahan sifat Kinan.


"Anu ...." Ucap Akira mengundang perhatian Dea, "Apa Kinan itu adikmu?" Lanjutnya bertanya.


"Adik?" Gumam Dea sangat terkejut dan melihat kearah Kinan, 'Ya-yah wajar saja dia menganggapnya seperti itu, sikapnya saja seperti bocah ....' Lanjutnya dalam hati.


"Pantas saja, aku merasa ada yang aneh denganya. Sikapnya terlihat seperti memaksakan diri untuk terlihat dewasa dihadapan kami, ternyata adiknya toh." Tutur Megan sambil tersenyum diakhir kalimatnya.


"Sebenarnya dia ini ...." Jelas Dea terpotong saat tiba-tiba Kinan melepaskan pelukannya.


"Aku adiknya Dea, Hhehe..." Jelas Kinan melanjutkan penjelasan Dea, dengan cepat Dea menjitak kepala kakaknya itu dan memasang ekspresi menakutkannya membuat Akira dan Megan terkejut.


"Sakit tau. Kau ini selalu saja menghajar kepalaku, bagaimana kalau aku geger otak? Kau mau tanggung jawab?" Oceh Kinan merasa kesal.


"Sedang apa mereka?" Tanya Akira kepada Megan.


"Kalau diperhatikan wajah mereka mirip ya, seperti anak kembar. apa mereka kembar?" Gumam Megan membuat Akira memperhatikan kedua perempuan dihadapannya.


"Sakit ... lepaskan tanganmu dari wajahku. Kau membuat mereka ketakutan tau!" Jelas Kinan membuat Dea segera melepaskan tangannya dan segera memperkenalkan diri kepada Akira dan Megan, sedangkan Kinan, dia segera berjalan ke dalam kamarnya.


"Perkenalkan nama saya Dea, adiknya Kinan. Maaf soal keributannya, Hha–haha... dia memang selalu seperti itu, padahal aku sudah menyuruhnya untuk berhenti bersikap kekanak-kanakan seperti itu." Tutur Dea.


"He... jadi kau adiknya ...." Guman Megan sambil memakan kue ditangannya, "Lebih tinggi darinya ya. Ngomong-ngomong apa kalian kembar?" Lanjutnya sambil melihat kearah Kinan yang baru keluar dari kamarnya.


"Salam kenal, namaku Akira dan dia adikku Megan." Ucap Akira memperkenalkan diri.


"Jangan mengabaikanku!" Ucap Megan merasa kesal karena pertanyaannya tak digubris oleh Dea, dan lagi kakak nya menyela pembicaraannya.


"Ini, aku sudah mencetaknya. Kira-kira harga sewanya segini, jika kau setuju, kau bisa langsung menandatanganinya." Jelas Kinan sambil memperlihatkan berkas ditangannya dan duduk di samping Dea membuat perhatian Megan teralihkan kearah berkas yang sedang dilihat oleh kakaknya.


"Hee... ternyata tak semahal yang ku bayangkan." Gumam Akira, "Apa benar ini harga sewa pertahunnya?" Lanjutnya bertanya.


"Kau?!" Tanya Dea melirik tajam kearah Kinan.


"A–apa?" Jawab Kinan merasa takut, dengan cepat Dea merebut berkas ditangan Akira dan melihatnya.


"Ini? Kau serius memberikan harga sewa setahun segini?" Tanya Dea memelototi Kinan.


"Me–memangnya harus ku masukan berapa banyak jumlah nol nya? Lagian itu cuma harga sewanya, untuk listrik dan kebutuhan lainnya mereka bisa mengurusnya sendiri kan?" Jelas Kinan sambil memalingkan wajahnya dari Dea.


"Haaah... seperti yang anda dengar." Ucap Dea setelah menghembuskan nafas pasrah.


"Tapi kalau bisa, tolong sekalian sama listrik dan wifi nya. Soalnya aku tidak bisa mengurusnya karena sibuk, pasti akan lupa mengisikannya. Dan lagi tahun ini Megan sibuk kuliah." Jelas Akira.


"Itu sih urusan kalian, seberapa sibuk pun kalian, pasti akan ada waktu nganggur di rumah kan? Saat itu kalian bisa mengurus semuanya kan?" Jelas Kinan segera mendapat jitakan maut dari Dea sampai wanita itu harus memekik kesakitan.


"Ma–maafkan dia. Kakak ku ini memang sedikit menyebalkan, kalau begitu biar aku yang mengurus semuanya. Untuk wifi, sepertinya bisa diurus minggu depan saat aku libur sekolah sekalian dengan tukang yang akan memperbaiki keran air di kamar mandi


..." Jelas Dea segera dipotong oleh Megan.


"He... lama sekali? Harus nunggu minggu depan? Kenapa tidak besok saja? dan lagi kamar mandinya belum diperbaiki? terus nanti kami harus mandi di mana?" Tanya Megan menguji kesabaran Dea.


"Soal itu ...." Jelas Dea melirik kakaknya.


"Apa!? Aku tidak mau ya, jangan minta aku keluar rumah untuk manggil tukang, aku tidak mau menjamu tamu lagi. Merepotkan ...." Jelas Kinan memasang wajah seriusnya, "Untuk urusan mandi dimana, kalian bisa menggunakan kamar mandi dirumah kami untuk sementara waktu." Lanjutnya sambil melipat kedua tangannya di atas dada.


"Begitulah..." Ucap Dea.


"Haa ... ?" Gumam Megan dan Akira.


"Ah karena kau sudah pulang jadi sebaiknya yang lapor sama pak Rt kamu saja ya. Hari ini aku mau nonton anime lagi, Hhehem..." Jelas Kinan sambil bangkit dari posisi duduknya dan berjalan kearah meja komputernya dengan aura berbunga-bunganya.


"Oii !!" Ucap Dea membuat langkah Kinan terhenti.


"Ka–kalau begitu. Aku tidak akan mempermasalahkannya, minggu depan juga tidak apa-apa. Maaf sudah mengganggu waktunya, padahal baru pulang sekolah." Jelas Akira sambil tersenyum ramah berusaha meredakan emosi Dea yang hampir meluap karena Kinan.


"Pasti sulit ya punya kakak sepertinya." Gumam Megan memperhatikan Kinan yang masih berdiri di tempat menunggu intruksi lanjutan dari adiknya.


"Hhaha..." Tawa Dea dan Akira bersamaan, tawa paksa yang keluar dari mulut mereka untuk menutupi rasa canggung yang mereka rasakan. sedangkan Akira hanya bisa memperhatikan ekspresi mereka berdua dengan tatapan bingungnya.


xxx