
Waktu sudah menunjukan pukul 09:30 Am, cuaca semakin terik. Ku putuskan untuk mengajak anak-anak kembali ke rumah dan bermain disana.
"He mainnya udahan?" Tanya Dean dengan wajah menggemaskannya, dengan memajukan bibir bawahnya sambil melirik kesal kesembarang arah.
"Aku masih mau bermain disini," lanjut Doni yang berdiri disamping Dean, yang satu ini malah menatapku dengan tajam dan mengepalkan kedua tangannya dengan gemas di dekat perutnya.
"Ana mau bikin kue sama kak.Kinan lagi." Tutur Diana sambil menarik kaos hitam yang ku kenakan.
"Mainnya dirumah saja ya, biar om Fino sama tante ikut bermain bersama kalian juga." Jelas tante Karina membuatku terkejut.
"E-eh, tante?" Tanyaku yang langsung mendapat senyuman hangat darinya.
"I-iya biar kalian gak kepanasan, enaknya kita main apa ya?" Tutur Fino sambil melirik kearah Dean dan Doni yang ikut memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian pria itu tersenyum geli memperhatikan ekspresi menggemaskan kedua anak itu.
"Yuk Ana pergi sama tante." Ajak tante Karina sambil meraih tangan gadis kecil itu.
"Fino bereskan semuanya dan angkut kedalam mobil," lanjutnya sebelum pergi menuju kearah mobilnya terparkir.
"Mobil?" Tanya Dean dengan mata berbinarnya menatap kearah Doni yang sudah tersenyum lebar.
"Mari nona, ajak anak-anak juga." Ajak Fino sambil membawa tas jinjing dan keranjang camilan beserta tikar ditangannya.
"Bi-biar saya bantu," ucapku mencoba meraih tas jinjing ditangannya, tapi dengan gerak cepat pria itu menjauhkannya dariku dan tersenyum kearahku.
'Apa?' Batinku bertanya-tanya saat melihat ekspresinya.
"Biar saya saja yang membawanya..." Tuturnya masih memasang senyuman terbaiknya.
"Ayo kak kita naik mobil, ayo cepat!" Tutur Doni dan Dean yang langsung menarik tanganku dengan tenaga penuhnya.
Sesampainya didekat mobil, tante Karina langsung mengajak anak-anak untuk masuk kedalam. Tentu saja mereka langsung menurutinya dengan begitu antusias.
"Keren..." Teriak Doni yang lebih dulu masuk ke dalam mobil dengan ekspresi gembiranya.
"Mobilnya sangat bersih dan wangi," lanjut Diana tak kalah gembiranya.
"Iya, aku suka aromanya..." Timpal Dean yang sudah duduk manis dibangku belakang, berdekatan dengan Doni dan kembarannya.
"Ma-maaf jadi merepotkan tante," tuturku merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, lagipula mereka sangat menggemaskan. Karena hari ini kamu sedang sibuk mengasuh mereka, maka aku akan ikut membantumu. Rencana jalan-jalannya kita tunda dulu..." Tuturnya membuatku kebingungan. Maksudnya dengan rencana jalan-jalan ? Atau kenapa tante Karina mau repot-repot mengasuh mereka bersamaku ? Aku tidak tau apa yang beliau pikirkan. Yang ku tau, sepertinya dia benar-benar menyukai anak-anak.
***
Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah, akhirnya Fino memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Akira dan membiarkan anak-anak keluar dari mobilnya diikuti oleh Kinan dan Karina.
"Main monopoli aja..." Teriak Doni sambil berlari kearah pintu rumah Kinan dengan lincahnya.
"Tidak, pokoknya harus main puzzle!" Tolak Dean mengejar Doni tak kalah lincahnya.
"Mereka mulai lagi..." Gumam Kinan berusaha untuk tetap bersabar menghadapi mereka berdua.
Fino yang mendengar perdebatan merekapun langsung mendekati mereka dan menyetujui keinginan mereka untuk bermain monopoli dan puzzle. Tentu saja dengan satu syarat, entah syarat apa yang dia berikan. Tapi sepertinya dia berhasil membuat kedua bocah itu berbaikan.
Merekapun segera masuk kedalam rumah setelah Kinan membukakan kunci pintunya.
"Kak buat kue ya," ucap Diana kembali menarik lengan baju Kinan dan menatapnya dengan tatapan berbinarnya.
"Ayo lakukan!" Tutur Karina begitu bersemangat saat melihat ekspresi menggemaskan Diana.
"Padahal aku belum bilang setuju loh," gumam Kinan mulai kerepotan dengan sikap Karina dan Diana yang mulai menempel pada wanita itu.
"Ana mau kue rasa coklat." Ucap gadis itu sambil tersenyum lebar.
Dean dan Doni yang baru duduk di sofa ruang tengah pun ikut berteriak saat mendengar ucapan Diana.
"Aku mau rasa vanila." Teriak Dean sambil mengacungkan tangannya setinggi mungkin.
"Aku aku, aku mau rasa mangga!" Lanjut Doni tak mau kalah.
"Ah..." Gumam Karina sambil tersenyum gembira melihat ekspresi semua anak kecil dihadapannya, tapi bagi Kinan. Dia seperti mendapatkan masalah besar yang merepotkan dirinya. Ekspresinya juga sudah terlihat kelelahan.
"Ayo kak!" Ajak Diana sambil menarik tangan Kinan menuju dapur, sedangkan Fino dan kedua anak lainnya mulai subuk menyusun puzzle.
Gadis kecil itu langsung menarik kursi yang ada disampingnya dan segera naik keatas agar bisa melihat lebih dekat.
"Coklat..." Gumamnya hendak mencicipi coklat yang ada disamping Kinan, dengan cepat wanita itu meraih coklatnya dan menatap Diana dengan tatapan seriusnya.
"Ha?" Gumam gadis itu merasa terkejut karena dia tidak diperbolehkan menyentuh coklat itu.
"Cuci tanganmu dulu, baru boleh mencicipinya." Jelas Kinan membuatnya mengangguk paham dan tersenyum lebar sambil melompat turun dari atas kursi.
"Jangan melompat!" Ucap Kinan penuh penekanan membuat Karina tertawa.
"A-ada apa ? Kenapa tante mentertawakanku ?" Tanya Kinan merasa bingung.
"Tidak ada, hanya saja aku jadi memikirkan dirimu dan Akira setelah kalian menikah dan memiliki seorang anak. Mungkin kau juga akan memperlakukannya seperti tadi..." Jelasnya membuat Kinan tersipu.
"Ba-bagaimana bisa tante berpikiran kesana ? I-itu masih terlalu cepat, dan lagi..." Tuturnya terbata-bata membuat Karina kembali tertawa.
"Sudah ku cuci!" Ucap Diana yang sudah kembali ketempatnya sambil mengacungkan tangannya yang masih basah.
"Duh keringkan dulu tanganmu..." Ucap Kinan segera mengelap tangan Diana dengan lap baru yang dia ambil didalam lemari gantung yang berada dibelakangnya.
"Hee..." Gumam Diana sambil memajukan bibirnya dengan kesal.
"Aaa..." Ucap Karina sambil memegangi coklat ditangannya membuat Diana segera membuka mulutnya ketika coklat itu semakin mendekat.
"Eeemh... manisnya," tuturnya kembali tersenyum lebar setelah berhasil melahap coklat ditangan Karina. Karina yang melihat ekpresi imut Diana tak kuasa menahan dirinya dan kembali memeluk gadis itu dengan erat.
***
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kue yang dibuat oleh mereka bertiga, tidak, jelas-jelas Karina hanya bermain-main saja dengan Diana. Yang benar-benar membuatnya adalah Kinan, bahkan wajahnya sudah terlihat kusut. Biasanya dia akan begitu bersemangat dalam membuat kue, tapi kali ini semangatnya menghilang.
"Yeay sudah jadi!" Teriak Diana kegirangan.
"Mana mana?" Suara Doni dan Dean segera memasuki dapur sambil berlarian membuat Kinan merasa khawatir, mereka bisa saja terjatuh dan menangis seperti kemarin.
"Hati-hati," Ucap Fino yang sudah berdiri dibelakang Dean yang hendak duduk dikursi kosong dekat Diana. Dengan cepat pria itu membantu Dean dan mendudukannya diatas kursi pilihannya.
"Maaf sudah membuatmu kerepotan mengurusi mereka," tutur Kinan merasa tidak enak pada Fino.
Padahal dia tidak begitu mengenal pria itu, dia bahkan hanya melihatnya sekilas saat kejadian penculikan itu. Tapi pria itu malah mau membantunya, meski mungkin dia melakukannya dengan terpaksa karena tidak bisa membiarkan majikannya kerepotan sendiri mengurusi ketiga anak itu.
"Tidak masalah, aku banyak bersenang-senang bersama mereka. Nyonya juga terlihat bahagia..." Jelas Fino sebelum memberikan senyuman hangatnya.
Dengan cepat Kinan melirik kearah Karina yang sedang asik mengobrol dengan Doni dan si kembar Dean Diana. Tak lama kemudian mereka berempat langsung tertawa, entah apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi ekspresi Karina itu, dia terlihat begitu bahagia.
"Boleh aku mencicipinya juga?" Tanya Fino menyadarkan Kinan.
"Bo-boleh ambil saja, maaf aku malah melamun..." Jawab wanita itu sambil tersenyum kaku, terlihat bodoh dihadapan Fino.
"Wah ini," Ucapnya membuat wanita itu segera memperhatikan ekspresi Fino, "Sangat enak." Lanjutnya kembali tersenyum.
"Senang jika anda menyukainya," Balas Kinan sambil tersenyum lebar.
"Ngomong-ngomong, apa tuan Akira ada menghubungi nona?" Tanyanya membuat wanita itu tersentak.
"Ke-kenapa dia harus menghubungiku?" Jawabnya tergugup sambil memalingkan pandangannya kesembarang arah.
"Jadi belum ya?" Gumamnya semakin membingungkan Kinan.
'Apa yang dia bicarakan ? Kalau soal menghubungi, bukannya dia sudah melakukannya kemarin?' Batinnya mengoceh kesal, mengingat kekalahannya saat bermain game.
"Ayo kita main monopoli lagi om!" Teriak Doni sambil menarik lengan baju pria itu.
"Aku tidak akan kalah ya." Lanjut Dean sambil melompat turun dari kursinya dan segera berlari keluar dapur.
"Jangan mencuri start dariku!" Teriak Doni ikut melompat dan segera berlari mengejar Dean.
"Monopoli?" Gumam Diana sambil mengunyah kue didalam mulutnya.
"Mereka benar-benar bersemangat ya," gumam Karina dan Kinan bersamaan.
xxx