
"Sejak kapan aku tertidur?" Gumam Kinan yang tersadar dari tidurnya, dan segera berlari ke dapur setelah melihat waktu yang ditunjukan oleh jam dinding di kamarnya 'Pukul 04:05 Pm'.
"Kenapa aku harus ketiduran segala? Dea pasti sudah pulang dari tadi ...." Gumam Kinan sambil mencuci tangannya dan berjalan kearah kulkas untuk memilih bahan-bahan yang akan di masaknya sebagai menu makan malam hari ini.
Dea yang mendengar keributan dari arah dapur pun langsung keluar dari kamarnya untuk memastikan suara berisik itu.
"Kakak, sudah bangun?" Tanya Dea yang sudah berdiri di ambang pintu dapur dan segera masuk, berjalan ke arah meja makan, "Kenapa gak mandi dulu sih?" Lanjut Dea sambil duduk dikursi dan menopang dagunya dengan kedua tangan yang sudah berada di atas meja makan.
"Aku bisa mandi nanti." Jawab Kinan setelah selesai memotong beberapa sayuran dan mulai menyalakan kompornya.
"Bagaimana ujiannya tadi?" Tanya Kinan tanpa mengalihkan perhatiannya dari kegiatan memasaknya dan sesekali menguap kantuk, membuat tangannya refleks menutup mulutnya.
"Lumayan." Jawab Dea memasang ekspresi lelahnya.
"Apanya yang lumayan? Kau harus mengerjakannya dengan serius. Katanya mau jadi guru ...." Tutur Kinan sedikit meledek di akhir kalimatnya.
"Aku serius ko. Cuma ya gitu, ada beberapa soal yang kurang aku pahami. Dan beberapa yang diajarkan kak.Akira juga ada yang keluar loh." Jelas Dea mulai bersemangat saat mengingat kejadian kemarin malam, saat Akira membantunya belajar.
"Hee... ternyata dia hebat juga bisa mengajarimu." Guman Kinan sambil melirik kearah Dea.
"Jangan meledek ku, begini-begini aku cukup percaya diri dengan hasilnya nanti." Tutur Dea sambil melipat tangannya di atas dada membuat Kinan memalingkan wajahnya dan tersenyum geli.
"Yah semoga saja kau tidak masuk kelas remedial ...." Ejek Kinan membuat Dea memasang ekspresi kesalnya.
"Ngomong-ngomong kakak kenapa tadi tidur di meja belajar? Kan bisa tidur di kasur. Dan lagi kenapa kamarmu berantakan?" Tanya Dea diakhiri dengan nada kesalnya saat mengingat beberapa kertas yang berceceran di lantai kamar Kinan.
"Aku sedang menggambar terus tanpa sadar, aku ketiduran. Hhehe ...." Jawab Kinan terkekeh.
"Oh iya, aku baru ingat," ucap Dea menarik perhatian Kinan, "tadi saat kakak sedang tidur. Ibu menelpon, katanya kakak harus mulai serius mencari pendamping hidup dan berhenti bersikap seperti anak kecil ...." Lanjut Dea sambil menuangkan air kedalam gelas yang sudah tersedia dihadapannya.
"Lagi-lagi memintaku mencari jodoh." Gumam Kinan merasa lelah saat mendengarnya.
"Yah memang sudah saatnya kakak berhenti bersikap seperti anak kecil kan? Aku juga sudah sering mengatakannya padamu, kalau sebaiknya kau bersikap dewasa seperti kebanyakan wanita seusiamu. Jadi pikirkan masa depanmu, cari jodoh sana, dan cari pekerjaan juga tentunya." Tutur Dea setelah meminum air di dalam gelasnya.
Kinan pun mematikan kompornya dan menuangkan masakannya kedalam piring dan mangkuk. Kemudian menyimpannya di atas meja makan.
"Kalau soal pekerjaan ...." Ucap Kinan merasa ragu membuat Dea memiringkan kepalanya dengan tatapan bingung.
"Jangan khawatir. Aku sudah menemukan pekerjaan yang cocok denganku." Lanjut Kinan sambil tersenyum lebar membuat Dea semakin kebingungan.
"Yah baguslah kalau memang seperti itu," ucap Dea mencoba menahan rasa penasarannya, "tunggu! kau sedang tidak membodohiku kan? Aku tidak ingin melihatmu bermain-main lagi soal masa depanmu!" Lanjutnya tak kuasa menahan rasa kesalnya ketika dia terus melihat ekspresi kakaknya yang terlihat tidak meyakinkan.
"A–aku tidak bohong ko. Pokoknya aku akan berusaha." Ucap Kinan merasa takut dengan ekspresi yang ditunjukan oleh adiknya itu.
"Tahun-tahun kemarin juga bilangnya gitu. Aku akan berusaha, tapi yang ku lihat kau semakin menempel dengan komputermu itu. Sampai susah disuruh mandi!" Jelas Dea menatap tajam kearah kakaknya, terus mengintimidasinya tanpa ampun.
"Hha–ha ... wajahmu benar-benar menyeramkan seperti biasanya de. Tolong hentikan ekspresimu itu." Tutur Kinan berkeringat dingin.
"Kalau begitu cepat mandi sana!" Pinta Dea membuat Kinan mengangguk cepat dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Ah ya, sebelumnya tolong antarkan dua mangkuk dan piring di atas nampan itu kerumah Akira ya. Aku tidak mau mereka makan malam bersama kita hari ini." Teriak Kinan sebelum masuk ke kamar mandi, berharap Dea mendengarnya dari dapur.
"Kenapa tiba-tiba tidak mau makan malam bersama mereka?" Gumam Dea langsung mengangkat nampan berisi dua mangkuk dan satu piring yang Kinan maksud. Dan tanpa banyak berpikir, Dea pun mengantar Nugget ayam wortel, Tumis kangkung dan Ikan sarden yang sudah di masak oleh Kinan sebagai menu makan malam hari ini.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 05:40 Pm. Terlihat mobil Akira sudah memasuki halaman rumahnya, dan pria itu keluar dari mobilnya dengan menjinjing sesuatu ditangannya, sesuatu yang terlihat mahal.
"Pokoknya aku harus membawanya secara paksa." Gumam Akira sambil melihat rekaman di heandphonenya.
Tiba-tiba perhatian Akira dari layar heandphonenya teralihkan dengan suara berisik dari dalam rumah Dea.
"Pokoknya kau harus membelikanku cola. Aku ingin cola, belikan aku cola. Aku tidak akan bisa tenang sebelum meminum cola. Cepat belikan." Rengek Kinan sambil memeluk adiknya yang berusaha melepaskan pelukan Kinan.
"Sudah ku bilang besok saja. Kenapa juga aku harus membelikannya sekarang? aku harus kembali belajar, lepaskan aku!" Tutur Dea menahan rasa kesalnya berusaha melepaskan tangan Kinan yang sudah melingkar di tubuhnya.
"Aku sedang kesal dengan ibu yang terus memintaku untuk mencari jodoh, dan aku juga tidak bisa menggambar dengan baik. Aku sudah memberitaumu soal pekerjaanku, jadi belikan aku cola sebagai tanda penyemangat darimu. Ya ya ya... ayolah ...." Jelas Kinan masih dengan nada merengek dan mata berkaca-kacanya.
"Lagian itu semua salahmu sendiri, kenapa tidak menuruti kemauan ibu saja?" Tanya Dea masih sulit melepaskan Kinan yang begitu merekat ditubuhnya.
'Jadi dia sudah menceritakannya.' Batin Akira sambil memasukan heandphonenya kedalam saku celananya.
"Aku tidak mau mengikuti perjodohan bodoh yang mereka rencanakan. Aku harus fokus pada karirku dulu, jadi cepat belikan aku cola." Tutur Kinan.
"Arrgh..." Geram Dea terlihat kesal, "baiklah baik, aku akan membelikannya jadi lepaskan pelukanmu dan berhenti merengek." Lanjutnya membuat Kinan segera memasang wajah berseri-serinya dan melepaskan pelukannya dari Dea.
"Lain kali kerjakan pekerjaanmu sebelum mendekati tenggat waktunya. Dan berhenti bergadang ...." Tutur Dea mengomeli Kinan, namun omelannya tak di dengarkan oleh Kinan.
Wanita itu hanya tersenyum hangat diam-diam dibelakang Dea yang sedang mengenakan sepatunya.
"Aku pergi." Ucap Dea sambil meraih pintu dan meninggalkan Kinan sendirian dirumahnya.
"Sial kepalaku benar-benar sakit sekarang." Guman Kinan sambil memegangi kepalanya dan menyenderkan tubuhnya pada tembok dibelakangnya.
Akira yang melihat kedekatan Dea dan Kinan pun langsung memutuskan pergi dari sana, apalagi saat melihat Kinan yang kelelahan seperti itu. membuatnya tak tega jika harus memaksanya pergi ngedate dengannya, dengan langkah ringan Akira pun masuk ke dalam rumahnya.
'Jadi dia bisa bersikap seperti itu juga ....' Batin Akira mengingat rengekan manja Kinan kepada adiknya, 'Kalau sudah begini apa boleh buat.' Lanjutnya sambil mengambil kembali heandphone yang sudah disimpanya di dalam saku celananya.
Kemudian tangannya terlihat seperti sedang mencari sesuatu di dalam heandphonenya, lalu pria itu langsung mendekatkan heandphonenya ke telinganya sambil berjalan masuk kedalam kamarnya, dengan bayangan wajah lelah Kinan yang terus menghiasi kepalanya.
"Hallo..." Ucap suara seseorang disebrang sana, ternyata Akira sedang menghubungi seseorang.
"Hallo Dev, maaf sepertinya malam ini aku tidak bisa pergi. Soal double date nya kita lakukan dilain kesempatan saja." Jelas Akira tanpa basa-basi.
"He kenapa? kau kan sudah janji akan memperkenalkan pacarmu padaku. apa kau berbohong? jangan-jangan kau masih belum menemukan orang yang cocok? apa karena kau belum move on dari ...." Tanya Dev segera dihentikan oleh Akira yang sudah memasang sorot mata kesalnya.
"Tentu saja tidak, aku sudah menemukannya. hanya saja dia sedang tidak enak badan. jadi aku tidak bisa membawanya pergi hari ini, jadi lain waktu aku akan memperkenalkannya padamu." Jelas Akira berusaha menahan dirinya dengan mengepalkan tangannya pada tali tas yang masih dia genggam, kemudian pria itu langsung menutup sambungan telponnya tanpa mendengar ucapan dari orang yang dihubungi olehnya.
Mungkin karena sudah terlanjur kesal pada Dev yang sudah lancang mengungkit masa lalunya. padahal Akira sudah susah payah mengubur masa lalunya sedalam mungkin, berusaha menyembuhkan luka di dalam hatinya yang hampir kering. namun dengan lancangnya Dev mengorek luka itu, membuat ingatan itu kembali berhamburan keluar dari memorinya.
"Padahal aku sudah repot-repot membelikannya baju, tapi malah tidak jadi pergi ...." Guman Akira sambil membuang tas di tangannya ke tempat sampah di dalam kamarnya.
"Kak! Makan malamnya sudah diatar, Dea bilang hari ini kak.Kinan sedang tidak mau diganggu. Jadi kita makan dirumah, cepat makan, aku sudah menghangatkannya." Teriak Megan di depan pintu kamar Akira.
"Tidak mau diganggu ya?!" Guman Akira sambil tersenyum dingin menatap tas yang baru saja dibuang olehnya.
xxx
Teruntuk para readers yang sudah menanti Dea & Kinan sejak siang tadi, Maafkan aku karena telat update, padahal janjinya update siang. tapi malah update sore... T^T
.
.
.
Mau di lanjut gak ? kalau enggak, berarti aku update besok lagi. seperti biasanya 2X sehari, pagi dan sore hari :v
Yang suka sama ceritanya silahkan like dan vote, jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar juga. dan tambahkan ke list favorit kalian untuk mengikuti update-an terbarunya.
Tenang... selanjutnya gak akan ada basa-basi kaya gini lagi :v karena aku ingin kalian fokus pada jalan ceritanya, jadi bacanya pelan-pelan aja, nikmati saja jangan buru² 😄👍