Dea & Kinan

Dea & Kinan
45. Diantar Megan



Waktu berjalan dengan cepat. Hari ini aku kembali bersekolah seperti biasanya, sekolah yang akan terasa lebih cepat karena akan banyak ujian yang aku hadapi untuk memenuhi syarat kelulusanku.


Kakak ku juga sudah sembuh dari sakitnya, dan seperti biasanya dia sangat susah untuk disuruh mandi. Benar-benar membuatku kesal.


Hari ini aku juga berangkat sekolah bersama dengan Megan. Dia bilang ingin mengantarku, jadi aku menerima tawarannya. Sedangkan Kak.Akira, dia masih sibuk mengurusi perusahaannya di luar kota. Megan bilang dia akan pulang satu atau dua hari lagi.


Sejak hari dimana aku mengajaknya jalan-jalan, aku jadi suka menggoda pria yang satu ini. Mengajaknya bertengkar lalu tertawa sendiri saat melihat ekspresi kesalnya, kemudian Megan akan mencubit pipiku dengan gemasnya. Dan aku pun berhenti tertawa karena malu sendiri dengan perlakuannya padaku.


Wajahnya benar-benar terlihat manis jika dia sedanh marah, dan saat dia tertawa atau tersenyum. wajahnya juga tampak lebih manis. Entah sejak kapan aku mulai menyukainya, memperhatikannya dan mencari keberadaannya jika dia tidak ada disekitar rumahku. Tapi sepertinya dia masih belum bisa melupakan kakak ku dan merelakannya bersama kakaknya.


Ku dengar sejak berita soal pertunangan kak.Akira menyebar luas, dan terkuaknya soal mantan tunangannya yang memutuskan dan meninggalkan dia pada hari pernikahannya. Dia jadi sering meminta kakak untuk menemaninya ke beberapa acara penting. Tapi yah, aku sangat tau seberapa bencinya kakak menghadiri acara seperti itu, dia juga sangat mencintai rumahnya. Tentu saja kakak menolaknya. Dan untungnya saat itu kakak sedang sakit, jadi kak.Akira tidak terlalu memaksanya untuk menuruti kemauannya.


***


"Sudah sampai" Ucap Megan berhenti di depan sekolahku dan membuka kaca helmnya. Dengan cepat aku turun dari motor besarnya dan membuka helm dikepalaku, lalu memberikan helm itu padanya.


Dia bilang baru membeli motor satu minggu yang lalu. Dan pelayan dirumahnya baru mengantarnya kerumah kemarin malam. Jadi pagi ini dia menawarkan diri untuk mengantarku ke sekolah, berusaha menyombongkan dirinya didepanku. Tapi aku tak memperdulikannya karena wajahnya benar-benar menggemaskan seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru, lalu memamerkannya pada teman-teman sebayanya.


"Terima kasih" Ucapku sambil tersenyum lebar padanya.


"Pulangnya mau dijemput ?" Tanyanya sambil memasang wajah sok kerennya.


"Kalau pergi diantar ya tentu saja pulang juga dijemput dong..." Jelasku sambil berkacak pinggang.


"Ya kalau gue niat ya" Tuturnya membuatku kesal.


"Kalau gitu gak usah nawarin gue, nyebelin !" Ucapku merasa kesal dan segera berjalan kedalam sekolah meninggalkannya sendirian di depan gerbang.


"Yang rajin ya belajarnya !" Teriaknya membuatku semakin mempercepat langkahku saat semua orang mulai melihat kearahku dan sosok pria dibelakangku.


'Dasar ! malu-maluin...' Batinku sambil memegangi wajahku yang mulai memanas.


"Cie yang dianterin kak.Megan, kak.Akiranya mana nih ?" Tutur seseorang mengejutkanku.


"Fani ?" Ucapku sambil melirik kearahnya, "Tumben gak bareng si Rafa" Lanjutku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Gak usah mengalihkan pembicaraan deh. Wajah loe merah tuh, jadi beneran ya kalau loe suka sama dia" Tuturnya membuatku mempercepat langkah kakiku.


"Aduduh Dea udah gede ya. Gue bener-bener kaget waktu loe curhat soal perasaan loe kemarin malam, dan pagi ini loe dianter sang pujaan hati..." Lanjutnya dengan suara menggoda yang membuatku kesal.


"Berisik ah !" Ucapku membuatnya tertawa terbahak-bahak sambil berjalan di sampingku.


"Eh De ?" Lanjutnya membuatku melirik kearahnya saat kami baru masuk kelas.


"Nanti belajar kelompok lagi yuk. Gak lama lagi kan kita bakalan sibuk pemantapan, TO, ujian praktek, UTS, UAS, dan UN terus lulus. Abis itu ngambil ujian masuk kuliah, kepala gue bisa botak kalau belajar sendirian..." Jelasnya memasang wajah lesu mirip seperti mayat hidup.


"Kenapa gak ambil les aja ? Dari dulu kan loe ngambil les" Tanyaku sambil duduk dibangku ku dan gadis itu malah ikut duduk disebelahku sambil menghela nafas lesu. padahal tempat duduknya ada didepan mejaku.


"Tempat les nya jauh tau. Gue cape kalo harus pulang pergi kesana setiap pulang sekolah. Bisa-bisa gue pingsan di jalan. Jadi mending kita belajar kelompok aja bareng si Rafa" Jawabnya sambil tersenyum lebar saat menyebut nama kekasihnya itu.


'Ujung-ujungnya pengen ketemu Rafa setiap hari ini mah' Batinku yang mengerti soal perasaannya.


***


"Jadi paman sudah menggadaikan setengah lahan pertanian yang ayah urus pada orang lain ? dan membuat sisa lahan yang ayah urus harus dibagi-bagi pada saudaranya ?" Tanya Kinan sambil memegangi headphonenya.


"Iya. Biar bagaimana pun semua lahan pertanian kita adalah milik keluarga ayahmu, jadi kakek mewariskannya pada putra putrinya. Mau tak mau lahannya harus dibagi-bagi sebagai warisan kan ?" Suara Bu.Hanum yang terdengar dari heandphonenya Kinan.


"Jadi ayah mendapat berapa bagian dari semua lahan yang kakek punya ?" Tanyanya sambil memegangi kepalanya yang mulai berdenyut.


"Hanya 2 hektar dari semua lahan yang kakek punya. lahan yang masih tersisa dan tidak ikut digadaikan..." Jawab bu.Hanum membuat wanita itu terkejut.


"Kenapa ? padahal selama ini yang mengurus lahan pertanian kan ayah dan ibu. semua saudara ayah tidak ada yang mau mengurusnya, seharusnya ayah mendapatkan bagian yang paling besar tapi kenapa ?" Tanya Kinan merasa heran.


"Pamanmu berulah lagi" Jawab bu.Hanum membuat Kinan menggertakan giginya saking kesalnya.


"Kau tau kan dia memiliki perusahaan besar di luar kota. dan perusahaannya hampir bangkrut, jadi dia meminjam uang pada kakek dengan menggadaikan setengah lahan pertanian milik kakek, sisa lahannya dibagi pada ayahmu dan adik perempuannya. Parahnya dia masih menginginkan bagiannya juga, dan sampai sekarang pamanmu belum mengganti uang kakekmu, jadi lahan yang digadaikan belum bisa dibeli kembali. Malah dia ingin meminjam uang lagi dari kakekmu karena masih kekurangan modal..." Jelasnya segera dihentikan oleh Kinan.


"Jadi karena itu keuangan keluarga kita menurun drastis ?" Gumam Kinan merasa kecewa.


"Dan sekarang semua orang sedang bingung harus berbuat apa untuk memajukan kembali pertanian kita. kakek juga sedang berusaha untuk menahan lahan yang digadaikannya agar tidak dijual pada orang lain, tapi kami hanya diberi waktu sampai bulan depan untuk menebusnya. jika tidak bisa, maka mau tak mau kami harus merelakannya" Jelas Bu.Hamum terdengar pasrah.


"Lalu soal paman yang berencana menjodohkanku dengan Bayu dihari itu ? apa ada hubungannya dengan masalah ini ?" Tanya Kinan merasakan kembali sakit di kepalanya.


"Bayu adalah putra pertama dari tuan Darma. kakek menggadaikan lahannya pada tuan Darma..." Jawab Bu.Hanum.


"Jadi karena itu paman sangat ingin menjodohkanku dengan Bayu. Dia tidak berniat mengganti uang kakek dan malah berniat menjalin kerja sama agar bisa mendapatkan keuntugan dari perjodohan yang direncanakannya..." Gumam Kinan saat mengingat soal uang yang sudah di transfer kerekening paman oleh Bayu. Dan Akira mengembalikan uang pria itu dengan uangnya.


'Benar-benar memalukan. ini semua membuatku sakit kepala...' Batin Kinan memikirkan semua masalah dalam keluarganya.


xxx