
"Padahal aku ingin pergi ke toko kue, tapi tante Karina melarangku." Gumam Kinan sambil menghela napas dan menghempaskan tubuhnya keatas sofa diruang tengah rumahnya.
Baru saja dia sampai di rumahnya dengan diantar oleh supir pribadi Karina.
"Sekarang bagaimana? Apa yang harus ku lakukan? Main game? Nonton anime? Gambar? Atau ... cincinnya menghilang dimana ya?" Lanjutnya sambil memperhatikan jari tangan sebelah kanannya, mengacungkannya setinggi mungkin dan menatapnya dengan tatapan sedihnya.
Terdengar suara pintu rumah yang di ketuk dari luar, dengan malas Kinan pun berjalan kearah pintu rumahnya untuk memeriksa tamu yang mengunjunginya.
Sesampainya di depan pintu, wanita otu langsung mengintip dibalik jendela dan mendapati seorang pria yang tak asing sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Fino? Kenapa dia datang kesini?" Tanyanya sambil memutar kunci rumahnya dan membuka pintunya. Menampilkan sosok Fino yang sudah tersenyum ramah padanya.
"Selamat siang nona." Sapanya masih tersenyum.
"Siang ...." Balas Kinan dengan tatapan bingungnya, sudah lama pria itu tak berkunjung ke rumahnya, tapi hari ini dia datang lagi untuk menemuinya.
"Bagaimana kondisimu sekarang nona?" Tanyanya.
"Sudah lebih baik, Fino–" Jawabnya terpotong.
"Saya dikirim tuan untuk menjaga nona," jelasnya membuat Kinan terkejut.
"Menjaga?" Tanyanya.
"Ah, mari masuk dulu. Akan ku buatkan teh untukmu." Lanjutnya mempersilahkan.
Mereka pun masuk ke dalam rumah Kinan, Wanita itu membimbing Fino ke ruang tamu, lalu pergi ke dapur untuk membuatkan minum untuk Fino.
Setelah selesai membuatkan teh, dia pun segera kembali ke ruang tamu untuk menemui Fino yang sedang menunggunya disana.
"Silahkan." Ucap Kinan menyuguhkan cangkir teh kehadapan pria berambut ikal itu.
"Terima kasih." Tutur pria itu sambil tersenyum.
"Kenapa Akira memintamu untuk menjagaku? Aku sudah pulih dan lagi, bukankah Akira lebih membutuhkanmu? Aku mendengar detilnya dari tante Karina," tanyanya sambil duduk dihadapan Fino.
"Setelah kejadian kemarin malam, tuan mengira orang itu akan mencelakai nona lagi. Jadi dia ingin saya melindungi nona." Jawabnya sebelum meneguk teh ditangannya.
"Tak ada bukti yang kuat kalau dia akan mencelakaiku lagi kan? Lagipula siapa yang ingin mencelakaiku? Aku bisa menjaga diriku sendiri, kenapa dia memperlakukanku seperti ini?" Jelas Kinan dengan nada suara yang sedikit kesal.
Fino yang melihat ekspresi bingung dan kesal yang tergambar diwajah Kinan pun hanya bisa menatapnya dengan tatapan khawatir. Mengingat pagi tadi dia diminta untuk menjaga Akira oleh Kiara, tapi tiba-tiba Akira memintanya untuk pulang dan menjaga Kinan.
'Bagaimana aku menjelaskan semuanya pada nona Kiara?' Batinnya bertanya-tanya.
Disisi lain, Kiara sedang serius menerima telpon dari seseorang. Wanita itu sedang duduk di kursi kerjanya memperhatikan layar komputer di hadapannya.
"Jadi maksudmu–" Ucap Kiara terhenti saat mendengar suara di heandphonenya.
"Ya, Delia berusaha untuk menghapus ingatan Akira dengan mencampur obat penghilang ingatan dengan minumannya. Dilihat dari situasinya dia akan memberikan obat itu secara rutin selama satu minggu penuh–" Suara Dafa membuat Kiara merasa geram.
"Wanita itu!" Umpatnya ditengah-tengah pembicaraan penting dengan Dafa.
"Nona tenang saja, saya sudah menukar isi obatnya, saya yakin Delia tidak akan menyadarinya." Lanjut Dafa membuat Kiara menghela napas lega.
"Bagus. Terus awasi pergerakannya, jangan sampai lengah. Awasi juga orang-orang disekitarnya, bisa jadi dia menggunakan alibi untuk melancarkan rencananya. Aku memiliki firasat buruk mengenai hal ini." Tutur Kiara.
"Baik, nona tenang saja." Ucapnya sebelum Kiara mematikan sambungan relponnya.
"Dasar wanita licik! Sebenarnya apa yang dia rencanakan? Kenapa dia sampai ingin menghapus ingatan Akira? Berani sekali dia mencari gara-gara dengan keluarga Wira, dia pikir dia siapa? Begini-begini keluargaku dipercayai tugas penting untuk menyingkirkan orang-orang yang mengganggu kedamaian keluarga Wira." Tutur Kiara sambil meremas kertas dihadapannya tanpa sadar, lalu senyuman sarkasnya tergambar begitu saja diwajahnya dengan sorot mata tajam yang memperhatikan foto Delia di layar komputernya.
***
"Cincin nona hilang?" Tanya Fino begitu terkejut saat mendengar penjelasan dari Kinan.
"Aku menyadarinya saat bangun pagi ini, tapi seingatku ... kemarin malam cincinnya masih ku pakai," jawab Kinan sambil menghela napas lelah.
"Kalau begitu biar saya minta para pelayan untuk mencarikannya. Siapa tau terjatuh di ruang–"
"Tapi nona–"
"Tak apa, aku ... mungkin akan memberitaukannya secara langsung saat dia kembali nanti."
"Baiklah jika itu mau nona, saya tidak bisa memaksa."
Disisi lain, terlihat sosok Dea yang baru kembali ke sekolah setelah pergi ke sebuah universitas untuk mengikuti ujian masuk.
Dia datang tepat pada saat jam istirahat berdering. Tanpa membuang-buang waktu lagi, gadis itu pun langsung pergi ke kantin dengan tas sekolah yang masih dibawanya.
"Udah balik loe? gimana tadi ujiannya?" Tanya Rafa saat melihat kedatangan Dea yang langsung duduk di hadapannya dengan ekspresi lelah yang tergambar jelas diwajahnya.
"Begitulah ...." Jawabnya dengan suara lemasnya.
"Tumben banget loe selemes ini? jangan bilang loe gak bisa ngerjain soal-soalnya?" Tanya Fani yang baru datang dengan nampan berisi mangkuk bakso dan es teh manis dingin. Gadis itu langsung duduk di sebelah Rafa.
"Ha? mana mungkin gue gak bisa ngerjain soalnya? semuanya sudah pernah gue pelajari, jadi gampang." Jelasnya begitu percaya diri, masih mempertahankan nada suara lemasnya.
"Terus kenapa loe selemes itu?" Tanya Rafa setelah meneguk es teh manisnya.
"Iya, kenapa muka loe lesu gitu?" Lanjut Fani merasa penasaran sambil menusuk bakso dimangkuknya dengan menggunakan garpu.
"Gue cuma kecapean doang. Abis isi perut juga balik lagi ... gue pesen makan dulu ya." Jawab Dea segera pergi dari tempatnya dengan meninggalkan tas sekolahnya diatas kursi.
"Gue jadi khawatir sama dia ...." Gumam Fani memperhatikan punggung Dea yang berjalan kearah kantin.
"Nanti juga balik lagi jadi Dea yang biasanya," ucap Rafa sambil menepuk pembut puncak kepala Fani.
Tak lama kemudian Dea kembali ke mejanya dengan membawa nampan berisi nasi goreng, kerupuk dan es teh yang sama dengan yang dipesan oleh Fani dan Rafa.
"Gak ada bosennya ni anak, tiap hari makan nasi goreng mulu ...." Guman Rafa setelah menelan makanan di dalam mulutnya.
"Suka-suka gue lah, gue yang makan kok." Bentak Dea membuat Rafa terkejut.
"Hhaha... makanya jangan protes soal menu makanan yang dipesan Dea," tutur Fani setelah puas tertawa membuat Rafa tersenyum kaku, sedangkan Dea hanya bisa mengernyitkan dahinya sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Pokoknya jangan macem-macem sama orang yang lagi lapar." Lanjut Fani setelah menghela nafas lelahnya.
"Ngomong-ngomong, kalian gak ikut ujian masuk universitas?" Tanya Dea setelah menelan makanan di dalam mulutnya.
"Ikut ko." Jawab Rafa sambil tersenyum lebar.
"Ujian masuk kami dimulai besok ... kayanya kita bakalan pisah ya." Lanjut Fani dengan mata berkaca-kacanya.
"Mau bagaimana lagi kan?" Tanya Rafa.
"Hem, lagian gue juga bosen kalau harus ketemu kalian lagi." Lanjut Dea membuat Fani refleks mencubit pipi gadis itu dengan gemasnya.
"Seenggaknya nangis dikit kek." Ucap Fani merasa kesal dengan ucapan sahabatnya itu.
"Ampun Fan, swakit, lepwasin oii!" Pinta Dea berusaha melepaskan tangan sahabatnya.
"Hemph." Ucap Fani sambil melepaskan cubitannya.
"Dasar Fani. Kenapa juga gue harus nangis? lagian rumah loe deket sama rumah gue, kita masih bisa ketemu. Buat apa buang-buang ari mata coba?" Guman Dea membuat rasa kesal Fani memudar.
"Dea ...." Gumam Fani sambil tersenyum hangat.
"Dea punya caranya sendiri buat nenangin orang ya." Bisik Rafa membuat Fani mengangguk mantap.
"Gak usah bisik-bisik oii!" Bentak Dea membuat kedua sahabatnya tersenyum lebar.
xxx