Dea & Kinan

Dea & Kinan
72. Kepulangan Akira



Dea dan Megan masih sibuk bertengkar di dapur. Mereka meributkan soal memasak nasi goreng dan mie.


"Kalau gitu biarkan gue masak mie." Cetus Megan berusaha menyingkirkan Dea yang sedang memasak nasi goreng.


"Udah gue bilang masak mie di rumah loe aja sana!" Tutur Dea tak mau mengalah dan menghalangi pria itu agar tidak menghalanginya memasak nasi goreng.


"Gak mau, gue maunya masak disini." Jelas Megan kembali berdiri disamping Dea hendak menyalakan kompor satunya.


"Hari ini makan malamnya nasi goreng, kalau loe gak mau makan mending masak mie di rumah loe aja sana!" Ucap Dea menaikan nada bicaranya.


"Gue maunya masak disini, lagian loe masak nasi goreng buat loe doang. Minggir!" Jelas Megan berusaha mendorong Dea kesisi lainnya.


"Gak mau, loe yang minggir!" Tegas Dea tak mau mengalah.


Disisi lain...


"Pada akhirnya aku harus pegi ke kantor dulu..." Tutur Akira memasuki kediaman Kinan sambil melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 06:15 Pm.


Langkahnya terhenti di ruang tengah, matanya menatap ketiga anak kecil yang tertidur pulas didekat Kinan. Kemudian matanya melirik kearah tablet berukuran cukup besar menampilkan sebuah gambar karakter setengah jadi, di sisi lain bertebaran beberapa kertas bergambarkan pemandangan, dan manusia khas buatan anak kecil. Tak sampai disitu, bahkan Akira memperhatikan penampilan Kinan yang terlihat menyedihkan.


"Sejak kapan wajahnya seperti ini?" Gumamnya setelah berjongkok dihadapan wanita itu, memperhatikan lingkaran hitam dibawah matanya. Kemudian beralih pada ketiga anak yang tertidur di dekatnya.


Dengan cepat dia memindahkan mereka keatas sofa, menidurkan mereka disana. Kemudian menggendong Kinan kedalam kamarnya, menidurkan wanita itu diatas tempat tidurnya.


"Padahal aku ingin menggodanya, tapi dia malah sudah tidur..." Gumamnya sambil menyelimuti tubuh Kinan dengan selimut tebal yang terlipat diujung tempat tidurnya.


"Loe yang balik sana!" Teriak Dea mencuri perhatian Akira.


"Gak mau, minggir loe!" Balas Megan diiringi suara benda terjatuh, dengan cepat dia keluar dari kamar Kinan dan segera pergi ke dapur.


Di dapatinya Megan dan Dea yang masih sibuk bertengkar.


"Nasi goreng gue!" Gumam Dea merasa kesal saat melihat nasi gorengnya tumpah dilantai, "padahal perut gue udah minta makan dari tadi..." Lanjutnya mulai mengeluarkan aura mengerikannya.


"Ma-maafin gue De, serius tadi itu gak sengaja. Maaf De." Tutur Megan sambil melangkah mundur, berusaha mencari tempat aman.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Akira mengejutkan mereka berdua.


"Nasi goreng?" Lanjutnya saat melihat nasi goreng yang berceceran dilantai.


"Kakak sudah pulang toh," tutur Megan merasa terselamatkan dengan kehadirannya.


"Ini Megan yang numpahin..." Jelas Dea segera dipotong oleh Megan.


"Gak sengaja De!" Ucapnya memperjelas membuat Dea mendelik sinis kearahnya.


"Kinan gak masak?" Tanya Akira saat melihat meja makan yang kosong melompong.


"Kak.Kinan kelelahan karena mengasuh ketiga anak tetangganya selama tiga hari terakhir ini. Dia ketiduran sejak sore tadi, jadi kami memutuskan untuk memasak menu makan malam sendiri, tapi..." Lanjut Megan menjelaskan, menggantikan Dea.


"Apa loe liat-liat?! ganti nasi goreng gue!" Ucap Dea sambil memelototi Megan yang sudah melirik kearahnya lebih dulu.


"Pake mie ya!" Ucap Megan sambil menyeringai mengangkat bungkus mie ditangannya.


"Gak mau! gue maunya nasi goreng." Bentak Dea.


"Sstt... loe bisa bangunin kak.Kinan dan anak-anak bodoh!" Tutur Megan sambil menyentil kening gadis itu.


"Sakit b*go!"


"Kenapa kalian tidak pesan makanan dari luar saja?" Tanya Akira sambil mengambil sikap duduk didekat Megan yang masih berdiri disampingnya.


"Aku tidak kepikiran sampai sana." Ucap Megan memasang ekspresi polosnya membuat Dea semakin merasa kesal dan ingin menjambak rambut pria itu. Untungnya dia berhasil menahan dirinya.


Setengah jam kemudian Fino datang membawa makanan yang dipesan oleh Akira, bersamaan dengan itu Mita pun datang bersama suaminya. Berniat untuk menjemput putra putri mereka.


Dea yang mendengar kebisingan diluar rumahnya langsung bergegas memeriksanya. Didapatinya Mita yang sedang berbincang dengan Fino.


"Kak.Mita..." Tutur Dea saat melihat wanita itu tersenyum kearahnya.


"Siapa De?" Tanya Megan yang mengikutinya.


"Maaf kami terlambat menjemput si kembar dan Doni," tutur seorang pria yang tak lain adalah suaminya Mita. Wajahnya begitu mirip dengan si kecil Dean, bedanya dia mengenakan kacamata.


"Ah ya silahkan, mereka sudah tertidur dengan pulas." Jelas Dea mempersilahkan Mita masuk bersama dengan suaminya.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Akira saat melihat Fino mengekor dibelakang Dea yang mengantar Mita menuju ruang tengah rumahnya.


"Hhaha maaf tuan, tadi ada sedikit masalah dijalan. Ini pesanannya..." Tutur Fino sambil memberikan tas jinjing berukuran sedang berisi makanan. Dengan cepat Akira meraih tas jinjing itu.


"Mereka benar-benar tertidur," tutur Mita tak tega membangunkan si kembar dan Doni.


"Sepertinya mereka kelelahan setelah bermain seharian." Jelas Fino menatap ketiga anak itu secara bergantian.


"Kalau begini kalian akan kerepotan mengangkatnya." Gumam Akira terdengar ke telinga Dea.


"Kalau begitu Dea ikut bantu antar Doni ke rumah kak Mita ya." Ucap Dea menawarkan diri sambil tersenyum lebar.


"Tidak perlu repot-repot, biar saya saja yang menggendong Doni dan Dean. saya akan kembali lagi kesini setelah menjemput Dean," tolak pria berkacamata disamping Mita sambil menggendong tubuh Dean.


"Tidak apa-apa, Dea gak kerepotan ko. Mari kak..." Tuturnya sambil menggendong Doni.


Mau tak mau merekapun menerima bantuan dari Dea dan mengantarkan Doni ke rumahnya. Sesampainya di rumah mereka, Dea langsung menidurkan Doni di kamarnya dan berpamitan pada sepasang suami istri itu.


"Terima kasih ya Dea, maaf sudah merepotkanmu..." Tutur Mita sebelum gadis itu benar-benar berlalu dari hadapannya.


"Lama banget sih loe!" Suara Megan mengejutkan Dea.


"Loe ngapain disini? bikin gue jantungan aja," tanya Dea ketika mendapati sosok Megan yang sedang berdiri tegap dibawah lampu jalan dekat rumah Fani.


"Ya gue jemput loe, udah malem juga masih aja keluar rumah sendirian." Jelasnya sambil berjalan lebih dulu meninggalkan Dea dibelakangnya.


"Siapa yang keluar rumah sendirian coba ? loe gak liat apa kak.Mita sama suaminya keluar dari rumah gue bareng gue?" Jelas Dea sambil berjalan cepat mengikuti Megan.


"Ya-iya sih loe keluar bareng mereka, tapi sekarang loe sendirian kalau gue gak jemput loe!" Jelas Megan tanpa melirik kearah Dea sedikitpun.


"Loe jemput gue apa ngikutin gue?" Tanya Dea berusaha memperjelas semuanya.


"Ngi-ngikutin sih, ya pokoknya gue laper jadi jalannya cepetan!" Jawab Megan mempercepat langkah kakinya membuat Dea merasa kesal.


"Tungguin gue woii!" Teriak Dea tak didengarkan, dengan cepat dia berlari mengejar Megan. Tapi saat sampai disampingnya, langkahnya kembali tertinggal. Padahal tinggi badan dan langkah kakinya terbilang sama dengan Megan, harusnya dia bisa menyamai langkah kaki pria itu. Tapi nyatanya langkah kaki Megan lebih cepat darinya.


"Loe gak usah nyiksa gue!" Ucap Dea sambil menarik tudung jaket Megan membuat pria itu menghentikan langkahnya saat merasakan lehernya tercekik.


"Jalan dibelakang gue!" Lanjut Dea menatap tajam kearah Megan yang sudah melirik kearahnya.


Dengan berat hari pria itu pun menuruti perintah Dea, mengingat perutnya sudah meraung kembali. Bahkan untuk meladeni Dea pun, sepertinya tenaganya sudah tak cukup.


Dalam kegelapan dan hembusan angin malam, ditemani gemintang dan cahaya rembulan. Megan terus mengikuti langkah Dea, hingga dia tak sadar sudah memperhatikan perawakan Dea yang melangkah santai di depannya. Rambut pendeknya juga terus bergoyang tertiup angin.


"Ini pertama kalinya aku memperhatikan sosoknya dari belakang..." Gumamnya tak bisa berpaling dari sosok Dea yang masih berjalan dihadapannya.


xxx