
Pukul 02:15 Pm, di kediaman Akira. Terlihat sosok Akira yang sudah mengenakan setelan jas hitam yang terlihat cocok ditubuh tingginya. Pria itu sedang bersiap-siap untuk pergi menemui seseorang.
"Kakak mau pergi kemana? Rapih bener, bukannya baru pulang ngantor?" Tanya Megan yang melihat kakaknya keluar dari kamarnya dengan matanya yang fokus meperhatikan jam tangan yang sedang dia lingkarkan ditangan kirinya.
"Ibu menelpon ingin bertemu, kau mau ikut?" Jawab Akira melirik adiknya.
"Ti-tidak perlu, aku akan menemuinya lain kali." Tolak Megan kembali fokus pada televisinya.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga rumah, jangan buat keributan di rumah orang." Jelas Akira memperingati adiknya yang suka membuat keributan di rumah Kinan. Sudah sering Akira memergoki adiknya sedang sibuk bermain game di rumah Kinan saat dia baru pulang kerja.
"Iya bawel, pergi sana." Ucap Megan membuat Akira mendelik dan segera pergi untuk menemui ibunya.
***
"Kenapa paman mengajak ku ke restoran? Katanya ibu mau bertemu denganku. Kenapa tidak membawaku kerumah ibu saja?" Tanyaku sambil memperhatikan semua sudut di restoran mewah itu selagi kaki ku berjalan mengikuti langkah paman.
Satu jam yang lalu paman datang ke rumah dan memintaku ikut bersamanya, mau tak mau aku harus menuruti perkataan paman yang katanya ibu ingin bertemu denganku. Jadi dia membawaku ke pusat perbelanjaan untuk membelikan pakaian yang pantas untuk ku dan paman juga membawaku ke salon untuk mendandaniku.
'Kenapa ibu ingin bertemu denganku di tempat seperti ini ya? Dan lagi ... emangnya harus pake dandan ribet seperti ini?' Batinku mengoceh.
Biar bagaimanapun aku memang tidak suka berias, tapi untuk kondisi tertetu yang mewajibkanku untuk berias. Aku juga pasti akan berias, seperti mendatangi undangan pernikahan, pesta dan acara formal lainnya. Tapi sejauh ini acara yang ku ikuti hanya, pesta ulang tahun kerabat dan pesta pernikahan putranya paman.
"Maaf membuatmu menunggu tuan muda." Ucap Paman menyadarkanku.
"Tidak masalah, duduklah dulu." Tutur pria berambut coklat dengan setelan jas abu-abu yang dikenakannya.
"A–apa maksudnya ini?" Gumamku merasa ada yang salah dengan tindakan paman, "Ibu dimana paman? Katanya ibu ingin bertemu denganku? Kenapa?" Lanjutku bertanya.
"Duduk dulu." Ucap Paman yang sudah duduk lebih dulu dariku.
"Tapi–" Ucapku terhenti saat melihat sorot mata Paman yang mulai menajam menatap mataku, mau tak mau aku harus duduk di sebelahnya.
'Siapa pria ini? Kenapa paman terlihat dekat dengannya? Ini bukan rencana bodohnya untuk menjodohkanku dengannya kan?' Batinku merasa khawatir.
"Jadi dia ini nona Kinan ya, terlihat cantik seperti yang paman bilang." Tutur pria itu membuatku tak nyaman.
"Perkenalkan namaku Bayu." Lanjutnya mulai memperkenalkan diri, namun telingaku tak terlalu fokus mendengarkan ucapannya.
***
"Ada apa?" Tanya seorang wanita cantik yang duduk dihadapan Akira.
"Ada telpon, boleh aku mengangkatnya dulu?" Tanyanya meminta izin.
"Jika kau terlihat khawatir seperti itu mana bisa ibu melarangmu, angkatlah." Tutur wanita itu memberi izin, dengan cepat Akira mengangkat telponnya dan menjauh dari meja makannya.
"Hallo Dea, ada apa?" Ucap Akira setelah menjawab panggilannya.
"Kak Kinan, apa kakak pergi bersamanya?" Jawab Dea balik bertanya dengan suara khawatirnya.
"Bukankah biasanya dia di rumah?" Tanya Akira.
"Saat aku pulang dari rumah Fani untuk menyiapkan acara kejutan untuk kakak, pintu rumah sudah terbuka dan kakak tidak ada dimanapun. Megan ... dia juga sedang mencarinya, aku pikir kakak sedang bersama kak Akira." Jelas Dea semakin panik.
"Tenanglah, aku akan bantu mencarinya. Tenangkan dirimu." Tutur Akira segera menutup telponnya.
"Ibu." Ucap Akira yang sudah kembali ke mejanya, terlihat seorang wanita yang tak asing dimata Akira. Tapi siapa? Dia bahkan baru melihatnya, tapi wajahnya mengingatkan dia pada seseorang.
"Kenalkan dia putra pertamaku Akira." Tutur ibunya Akira memperkenalkan putranya.
"Salam kenal." Ucap Akira sedikit membungkukan tubuhnya untuk memberi salam.
"Wah tampannya, seandainya aku bisa pergi bersama putriku juga. Tapi aku tak bisa menghubunginya, padahal aku pikir Akira akan cocok dengan putriku, mereka pasti bisa berteman baik. Dan sifatnya juga tak jauh berbeda dengan nak Akira." Tutur wanita kisaran 43 tahun itu.
"Akira dia sahabat baik ibu. Namanya ibu Hanum." Jelas ibunya sambil mempersilahkan bu.Hanum untuk duduk, "tadi kau bilang putrimu tidak bisa dihubungi? Apa kalian tidak tinggal bersama?" Lanjutnya bertanya.
'Aku malah tidak bisa pergi dari sini.' Batin Akira mulai tak karuan.
"Ya. Sudah satu tahun ini kami tidak tinggal bersama, padahal aku ingin menemuinya disini. Tapi mendadak dia tak bisa dihubungi, nomor putriku yang lainnya juga tidak bisa dihubungi." Jelas bu.Hanum merasa heran.
"Anu–" Ucap Akira mengalihkan perhatian mereka berdua, "Bolehkah saya undur diri? Ada hal penting yang harus saya kerjakan. Mohon maaf karena tidak bisa menemani tante lebih lama lagi." Lanjutnya sambil melihat kearah bu Hanum setelah menatap mata ibunya.
"Urus itu nanti saja. Ada hal penting yang harus ibu sampaikan padamu." Ucap ibunya membuat pria itu bertanya-tanya.
***
'Jadi benar ya, paman berniat menjodohkanku dengan pria asing ini. Kenapa dia selalu ikut campur dalam masalah keluargaku?' Batin Kinan berusaha menahan rasa kesalnya.
"Sepertinya nona Kinan juga tidak keberatan ya, saya jadi merasa senang jika dia benar-benar mau menjalin hubungan dengan saya." Tutur pria itu semakin membuat Kinan tertekan.
"Tentu saja, seperti yang tuan muda tau. Putri pertama bu Hanum ini sangat penurut, apalagi untuk membantu memajukan pertanian keluarganya. Dia akan melakukan apapun untuk mewujudkannya." Tutur pamannya Kinan membuat wanita itu tak bisa menahan dirinya lagi dan segera menggebrak meja makan dihadapannya, membuat semua pengunjung di restoran itu melirik ke arahnya.
Disisi lain...
"Ada apa? Keributan apa itu?" Tanya bu.Hanum kepada sahabatnya.
"Akira juga belum kembali ya? Padahal dia cuma pergi ke toilet." Tutur wanita cantik yang tak lain adalah ibunya Akira.
"Itu kan ...." Ucap bu.Hanum saat melihat seorang perempuan cantik mengenakan dress berwarna biru tua dengan rambutnya yang ditata rapih sedemikian rupa, "Kinan? Sedang apa dia disana?" Lanjutnya saat melihat perempuan itu berdiri dihadapan seorang pria yang mungkin sudah membuatnya kesal karena sampai membuatnya harus menggebrak meja dihadapannya.
"Danu juga?" Ucap bu.Hanum sekali lagi saat melihat seorang pria yang mencoba menenangkan Kinan disampingnya.
"Akhirnya dia kembali juga ...." Gumam Ibunya Akira saat melihat putranya berjalan kearahnya, melewati meja Kinan.
Namun sebelum pria itu menghampiri ibunya, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seorang wanita muda di sampingnya.
"Dia–dia tunanganku!" Teriak wanita itu membuat semua orang terkejut.
"Ha?" Ucap Akira sambil melirik kearah wanita yang sudah menggandeng tangan kirinya.
***
"Dia-dia tunanganku!" Teriakku lepas kendali, rasanya wajahku benar-benar terbakar. Aku bahkan tidak bisa melihat pria yang tiba-tiba ku tarik tangannya saat dia berjalan melewati meja kami.
"Ki–kinan" Ucap paman merasa tidak enak dengan Bayu, sedangkan pria itu hanya menatap lelah padaku.
"Iya dia tunanganku, jadi jangan menjodohkanku dengan pria manapun lagi. Paman tidak perlu ikut campur dalam urusan keluargaku. Aku sendiri yang akan menyelesaikannya jadi ...." Jelasku masih menggandeng tangan pria asing disampingku dengan gemetaran.
"Jadi kau ada disini?" Suara yang tak asing di telingaku, membuatku refleks mengangkat kepalaku untuk melihat si pemilik suara itu.
"Ada apa ini?" Tanya seorang wanita cantik yang sudah berdiri diantara kami.
"A–akira." Ucapku saat menyadari pria yang ku gandeng ini adalah Akira. Mendadak wajahku benar-benar terasa panas, rasanya ingin mencari lubang dan bersembunyi disana.
"Kinan." Suara ibu yang sudah berdiri disamping wanita cantik dihadapanku, "kenapa kau?" Lanjutnya bertanya dan segera beralih pada sosok paman.
"Danu ada apa ini? Kenapa ... jangan-jangan kau?" Tutur ibu menatap tajam kearah paman.
"Ibu? kenapa ibu ...." Tanyaku merasa tak percaya dengan kehadiran ibu yang berdiri dihadapanku sekarang.
"Jadi bagaimana ini paman? Kau bilang keponakanmu itu masih sendiri. Kalau begitu bagaimana dengan bisnis kita? Aku sudah mengirimkan semua uangnya padamu. Tapi sepertinya kau harus mengembalikannya lagi padaku, dan soal lahan pertanian itu. Aku tidak akan bisa membantumu jika begini ...." Tutur Bayu yang sudah berdiri sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya, menciptakan situasi tegang diantara kami.
"Tu–tunggu dulu, aku akan meyakinkan keponakanku. Beri aku waktu untuk membujuknya." Tutur paman membuat hatiku tersayat.
"Jadi paman berniat menukarku dengan uang yang dia berikan? Ti–tidak bisa dipercaya ...." Ucapku tak kuasa menahan air mataku saking kesalnya.
"Apa yang kau pikirkan? Aku tidak pernah meminta bantuan padamu untuk mengurusi masalah keluargaku, kenapa bertindak sejauh ini Danu?" Tanya ibu.
"Bu–bukan seperti itu, aku akan menjelaskannya jadi ...." Tutur paman mulai gelagapan.
"Berapa yang kau butuhkan?" Tanya Akira mulai angkat bicara.
"Apa yang ...." Tutur Ibu tak bisa melanjutkan ucapannya saat tangan wanita cantik itu menepuk lembut bahu ibuku.
'Siapa wanita itu? Dan lagi ... apa yang Akira pikirkan? Kenapa dia mengatakan hal itu?' Batinku bertanya-tanya.
"Kenapa?" Lanjutku bertanya pada Akira.
"Sudah jelas kan?" Jawabnya masih menatap tajam kearah Bayu, "Karena kau adalah tunanganku." Lanjutnya membuatku tersentak.
"I–tu–itu..." Ucapku segera terhenti saat Akira menatap mataku dengan tajam dan tersenyum misterius membuatku merinding.
'Aku benar-benar sial karena menyeretnya dalam masalahku. Tiba-tiba mengaku-ngaku sebagai tunangannya, sudah pasti dia merasa kesal. Tapi kenapa? Kenapa dia tidak menyangkalnya? Bukankah lebih gampang untuk menyangkalnya? senyuman yang dia tunjukan benar-benar menakutkan. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu, setelah ini pasti dia akan membalas dendam padaku ....' Batinku menggerutu sambil memperhatikan kakiku mencoba untuk mengendalikan diriku yang sempat merinding melihat wajah Akira.
xxx