
Setelah berkeliling dengan Akira aku langsung pergi keruangan tante Karina dengan diatar oleh Fino.
"Ada apa dengan wajahmu nona?" Tanya Fino semakin membuatku kesal saat mengingat tatapan jahil Akira.
"Tidak ada, jangan perdulikan aku..." Jawabku sambil memberikan senyuman terbaik ku padanya.
"Wajah nona benar-benar terlihat kesal sejak tuan Akira pergi bersama nona Delia. Apa itu artinya nona-" Tutur Fino segera ku tutup mulutnya dengan kedua tanganku.
"Jangan katakan apapun lagi!" Ancamku membuat Fino segera menganggukan kepalanya.
"He kenapa mulut Fino ditutup seperti itu?" Tanya seseorang dibelakangku membuatku terkejut setengah mati, dengan cepat aku melepaskan tanganku dari mulut Fino dan segera membalikan badanku kearah sumber suara itu.
"Kiara?" Tanyaku.
"Hallo..." Sapanya sambil tersenyum manis kepadaku.
"Kenapa kau ada disini?" Tanyaku lagi.
"Aku ingin menemui Akira, tapi sepertinya dia sudah pergi bersama wanita itu. Jadi aku mencarimu saat beberapa pelayan membicarakan soal kedatanganmu dan Dea." Jelasnya sambil berkacak pinggang dengan salah satu tangannya.
"Maaf nona, tapi saya harus mengantar nona Kinan keruangan nyonya." Tutur Fino.
"Kalau begitu aku akan menemaninya, tante juga memintaku datang keruangannya..." Ucapnya sambil menarik tangan Kinan kearah ruangan Karina yang terletak dilantai dua.
***
"Ibu serius memintanya menjadi seorang model?" Tanya Megan sambil menunjuk kearah Dea membuat gadis itu merasa kesal karena wajahnya ditunjuk-tunjuk oleh pria berambut coklat itu.
"Gak usah nunjuk-nujuk muka gue!" Bentak Dea membuat Megan menjauhkan diri darinya, berpindah tempat duduk kedekat tempat duduk ibunya.
"Ibu bahkan sudah mengundang Kiara untuk mengajari dasar-dasarnya..." Jelas Karina membuat mereka berdua terkejut.
"Ba-bagaimana bisa tante meminta si tiang listrik itu mengajariku?" Tanya Dea berusaha mengendalikan dirinya.
"Sadar diri oii!" Bentak Megan membuat Dea segera menutup mulutnya dan melenpar pandangannya kesembarang arah.
"Tiang listrik?" Gumam Karina sambil tersenyum geli.
"Alasanku memintanya mengajarimu karena dia salah satu model profesional di perusahaanku, lalu tahun ini kontraknya akan berakhir. Jadi aku memintamu untuk menggantikan posisinya, tinggi badanmu juga tak jauh berbeda dengannya. Wajahmu juga cantik, dalam waktu dekat kau juga akan memiliki banyak penggemar." Lanjutnya memberikan penjelasnya diakhiri dengan senyuman manisnya.
"Tapi aku tidak begitu percaya diri didepan kamera." Tutur Dea berkeringat dingin.
"Orang-orang pasti buta kalau sampai menjadi penggemarnya," ledek Megan membuat Dea merasa geram.
"Cewe galak sepertinya gak pantes digemari kan." Lanjutnya membuat Dea habis kesabaran, tatapan tajamnya terus menatap Megan penuh ancaman. Aura membunuhnya mulai mengalir keluar membuat pria itu merinding.
"Aku datang!" Teriak Kiara sambil membuka pintu ruangan itu dengan kasar membuat Dea dan Megan terkejut dengan suara yang timbul akibat bantingan pintu itu. Dea yang hampir meledak pun mendadak kembali tenang saat melihat kedatangan Kinan dan Kiara.
"Untunglah jantungku masih berada ditempatnya..." Gumam Megan sambil menghela nafas lega dengan tangan kanannya yang sibuk mengelus dada bidangnya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup dengan cepat.
"Kenapa kalian bisa bersama?" Tanya Dea mendahului Karina.
Dengan cepat Kinan melepaskan tangannya dari genggaman Kiara.
"Soal makanan yang ingin tante buatkan..." Tutur Kinan terhenti saat melihat senyum lebar diwajah Karina mengembang.
"Ma-maafkan aku karena sudah membohongimu, sebenarnya aku mengajak kalian ke rumahku untuk alasan lain." Jelasnya.
"Aku ingin menawarkan Dea untuk menjadi model diperusahaanku dan Kiara akan melatihnya secara khusus. Lalu malam ini kami akan mengadakan acara makan malam bersama beberapa orang penting untuk merayakan keberhasilan suamiku dalam pengembangan usahanya." Jelasnya membuat Megan segera menghela nafas lelah.
"Jadi karena itu ibu menelponku? Padahal aku masih ingin bersenang-senang dikampus," guman Megan tampak menyesal karena sudah memenuhi panggilan ibunya.
"Ayolah sekali-kali kita makan malam bersama. Tak lama lagi kau juga akan memegang rumah sakit yang dipercayakan ayahmu padamu. Sebelum kalian semua semakin sibuk, ibu ingin kita berkumpul bersama malam ini." Lanjutnya menjelaskan.
"Tapi aku tidak pernah sibuk, jadi bagaimana bisa aku menjadi sesibuk yang dibayangkan oleh tante Karina ?" Gumam Kinan merasa menyesal karena mengakui kemalasan dirinya. Apalagi dia sudah mengambil libur beberapa hari, memutuskan untuk menolak semua permintaan dari para kliennya.
"Tapi aku belum bilang setuju tante..." tutur Dea segera mendapat rangkulan dari Kiara.
"Sudah tenang saja, aku akan mengajarimu sebaik mungkin. Kau pasti akan menjadi model terkenal nantinya," jelas Kiara sambil tersenyum lebar pada gadis disampingnya.
"Dia bahkan bisa menjadi lebih terkenal darimu, apa kau tidak keberatan?" Tanya Megan dengan suara mengejeknya membuat Kiara segera bangkit dari posisi duduknya dan segera mengacak-ngacak rambut pria itu dengan gemasnya.
"Katakan sekali lagi!" Ucapnya penuh penekanan.
"A-ampun, lepasin woii... rambut gue!" Oceh Megan berusaha melepaskan tangan Kiara yang benar-benar merekat diatas kepalanya.
"Mereka ngapain sih?" Guman Dea dan Kinan bersamaan.
"Kinan-" Ucap Karina mencuri perhatian Kinan dan Dea, "Aku juga ingin mempekerjakanmu disebuah toko kue keluargaku. Setelah mencicipi kue buatanmu, aku merasa harus menyerahkan toko itu padamu. Akhir-akhir ini jarang ada pelanggan, para karyawan juga tak bisa berbuat apapun. Jadi aku pikir... kau bisa memimpin mereka, membantuku dalam memajukan bisnis yang hampir bangkrut ini." Lanjutnya menjelaskan membuat Dea terkejut.
"Kue buatanku tidak sampai seenak itu, rasanya aku juga tidak pantas menerima tawaran dari tante. Aku-" tutur Kinan segera dihentikan oleh Kiara.
"Aku tidak menerima penolakan! Lagipula bulan depan kau akan menjadi tunangan Akira secara resmi. Lalu kami akan menentukan tanggal pernikahan kalian juga, jadi bagiku kau sudah menjadi putriku sendiri. Sebagai seorang ibu, aku harus membantu putriku kan?" Jelas Karina membuat Kinan tersipu.
"Meresmikan pertunangan?" Tanya Kiara sambil memegangi dagunya, "Ah, jadi kalian diam-diam bertunangan tanpa sepengetahuan orang tua ya? Tapi saat itu Akira bilang... Pertunangannya sudah diselenggarakan dengan kehadiran keluarga kedua belah pihak saja," lanjutnya bertanya-tanya.
"I-itu soal itu... tante Karina sepertinya melupakannya, dan lagi tak ada salahnya kan kami mengadakan pesta pertunangan lagi? Agar para media berhenti mempertanyakan status kami." Jelas Kinan sambil memberikan senyuman manisnya diakhir kalimat berusaha menyembunyikan keringat dingin dikeningnya.
"Aku tidak tau cerita yang satu itu. Kenapa Akira tidak menceritakan semuanya padaku? Bisa gawat jika sandiwara kami terbongkar dihadapan Kiara. Apalagi aku sangat ingin mempersatukan putraku dengan Kinan." Gumam Karina berkeringat dingin sama halnya dengan Dea dan Megan.
"Lupakan saja! Kau bilang mau melatih Dea kan? Cepat bawa dia pergi dari sini dan latih dia sebaik mungkin." Tutur Megan menyadarkan Kiara dan Dea.
Dengan cepat Kiara berpamitan pada Karina, lalu segera menggeret Dea keluar dari ruangan Karina. Meninggalkan Megan, Kinan dan Karina di dalam ruangan itu.
"Haa..." Ucap mereka bertiga menghela nafas lega ketika Kiara pergi dari ruangan itu sambil menggeret Dea.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 06:30 Pm, Akira sudah kembali ke kediaman keluarga besarnya setelah pulang ke rumah kecilnya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih bagus. Kali ini dia datang dengan mengenakan jas hitam yang menutupi kemeja putih tanpa dasi yang dikenakannya.
Mata pria itu terus memperhatikan beberapa tamu penting yang sudah berada diruang tamunya. Kemudian matanya terpaku pada sosok Kinan yang sedang berbincang dengan Kiara dan Dea.
Wanita itu mengubah gaya rambutnya dengan poni yang tersingkup keatas, memperlihatkan keningnya. Riasan wajahnya pun kembali mengejutkan Akira, padahal itu bukan pertama kalinya dia melihat sosok Kinan yang begitu cantik dengan riasan wajah.
Dibawah sorot lampu ruangan itu, sosok Kinan menjadi sangat mencolok dengan gaun berwarna biru tua dibawah lutut.
"Bagaimana bisa aku menyerah padamu?" Guman Akira sambil memegangi dada bagian kirinya dengan tangan kanannya, merasakan degupan jantungnya yang semakin berpacu ketika melihat senyuman Kinan yang terus terpancar diwajahnya.
xxx