Dea & Kinan

Dea & Kinan
92. Dibawah cahaya rembulan



Waktu sudah menunjukan pukul 08:00 Pm. Aku sudah tiba di rumah ayah sejak pukul 05:30 Pm. Sejak sore tadi ayah sibuk berbicara dengan tuan Wira, Akira, kakek dan paman di ruangan pribadinya. Sedangkan Ibu, dia sibuk dengan tante Karina dan nenek di ruangan pribadinya.


"Haa... lalu untuk apa aku dipanggil kesini?" Gumamku sambil mengeringkan rambut basahku dengan handuk di depan cermin.


'Semua orang tampak sibuk saat ini, bahkan Delia dan bibi juga ada disini. Padahal rumah mereka berada jauh di luar kota, lebih jauh dengan tempat tinggalku. Tapi kenapa mereka ada disini?' Batinku bertanya-tanya.


Setelah selesai menyisir rambut basahku, ku langkahkan kaki ku mendekati balkon kamarku. Membuka jendela kamar selebar mungkin, membiarkan udara dingin menemaniku dibawah langit berbintang malam ini.


"Akhirnya ketemu juga." Ucap Akira mengejutkanku, pria itu sedang berjongkok di dahan pohon depan kamarku, dengan lengan kemeja putih yang dilipat hingga ke siku dan kancing kerah kemejanya yang sudah terbuka. Rupanya dia belum mengganti pakaiannya sejak datang ke rumah ini, ya dia langsung dipanggil ke ruangan pribadi Ayah. Pasti tak ada waktu untuknya mengganti pakaiannya.


Mataku kembali dikejutkan oleh tindakan Akira yang melompat kearah balkon kamarku secara tiba-tiba. Tindakan cerobohnya benar-benar membuatku jantungan, bagaimana jika dia terjatuh saat sedang melompat dari dahan itu, apa yang akan orang pikirkan saat melihatnya terjatuh dari atas pohon? Apa ibu tidak melihatnya memanjat pohon? Kamar ibu tepat dibawah kamarku, dan lagi bagaimana bisa dia nekat menyusup ke kamar seorang perempuan seperti saat ini? Benar-benar pria berbahaya.


"A–apa yang kau lakukan?" Tanyaku saat melihat sosok Akira yang sudah berdiri dihadapanku.


"Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kamarmu disini." Tuturnya yang sudah berdiri dihadapanku.


"Kenapa kau ... pembicaraan dengan kakek?" Tanyaku masih tak habis pikir dengan kelakuan pria dihadapanku ini.


"Aku kabur dari sana. Lagipula pembicaraannya sudah lama selesai," jelasnya sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.


"Dan apa kau tidak merasa kedinginan dengan pakaian seperti itu?" Lanjutnya bertanya sambil memperhatikan pakaian tidurku yang terbuka dibagian lengannya, hanya dihiasi dengan seutas tali.


"Ja–jangan menatapku seperti itu!" Teriak ku sambil memeluk tubuhku sendiri sedangkan Akira refleks menutup mulutku dengan salah satu telapak tangannya, selagi tangan satunya mengacungkan jari telunjuknya ke dekat bibirnya. Memberikan isyarat agar aku memelankan suaraku.


Bagaimana tidak teriak, aku bahkan merasa malu karena mengenakan baju tidur dress pendek dengan lengan terbuka. Aku sendiri tidak pernah berpikir akan bermalam di rumah ibu, jadi aku pergi tanpa membawa baju ganti. Hanya memanfaatkan baju yang ada di dalam lemariku. Dan sekarang, aku malah memperlihatkannya pada Akira. Benar-benar memalukan.


***


Akira masih menutupi mulut Kinan dengan telapak tangannya sedangkan salah satu jari telunjuknya masih menempel dibibirnya. Lalu perlahan tangannya mulai terlepas dari mulut Kinan bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa tubuh mereka.


Akira yang masih terpaku pada sosok Kinan pun mulai merasakan degupan jantungnya yang semakin berpacu, memperhatikan baju tidur dress pendek berwarna putih yang dikenakan oleh wanita itu, lalu beralih pada wajah cantiknya. Sedangkan Kinan hanya bisa membisu memperhatikan Akira yang tiba-tiba mematung dihadapannya, tapi tatapan intensnya berhasil membuat jantung wanita itu ikut berdegup dengan cepat.


"A–akira?" Tanya Kinan berusaha menyadarkan pria itu.


"Menikahlah denganku Kinan." Ucap pria itu dengan semburat merah di wajahnya, Kinan yang mendengar ucapannya juga mulai merasakan panas di wajahnya bersamaan dengan ekspresi terkejutnya.


'A–apa yang dia katakan? Aku tidak salah dengar kan? Atau dia salah bicara?' Batinnya bertanya-tanya.


Angin kembali berhembus menerpa tubuh mereka dengan lembut. Cahaya rembulan yang sempat bersembunyi di balik awan pun mulai menampakan dirinya.


"Hha–ha... kau pasti bercanda." Ucap Kinan memaksakan tawanya sambil memegangi rambutnya yang sempat tertiup angin menghalangi pandangannya.


Wanita itu mulai berjalan kembali ke dalam kamarnya, berusaha menghindari tatapan Akira yang sudah membuat jantungnya berdegup tak karuan. Rona merah yang sempat menghilang diwajahnya pun kembali mencuat menghiasi wajah cantiknya.


Akira yang mengikuti langkah Kinan pun langsung menarik tangan wanita itu membuatnya refleks membalikan tubuhnya kearahnya, lalu pandangan mereka kembali bertemu dengan rona merah yang menghiasi wajah mereka.


"Aku serius," ucapnya menatap Kinan dengan sangat serius.


"He?" Guman wanita itu masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya, dengan cepat dia melepaskan tangan Akira dan mengambil langkah mundur untuk memberikan sedikit ruang.


"I–itu, itu ...." Lanjutnya tergugup, untuk pertama kalinya wanita itu menunjukan ekspresi malunya secara terang-terangan membuat Akira semakin terpaku padanya.


"Kinan." Suara Karina mengejutkan mereka, "Apa kau sudah tidur?" Lanjutnya membuat wanita itu segera mendorong punggung Akira ke arah balkon.


"Ce–cepat pergi dari sini. Aku tidak mau ada kesalah pahaman." Tuturnya sambil mendorong tubuh Akira sekuat tenaga.


"Bagus apanya? Jangan berpikiran bodoh, cepat pergi." Jelas Kinan saat sampai di balkon kamarnya.


"Mereka bisa menikahkan kita secepatnya kan?" Tanyanya lagi membuat Kinan kembali tersentak dengan rona merah yang kembali menghiasi wajahnya.


"Bo–bodoh! Cepat pergi dari kamarku." Ucap Kinan penuh penekanan.


"Kau ingin aku lompat dari lantai ini?" Tanya Akira membuat Kinan geram, "Kau benar-benar jahat padaku ya ...." Lanjutnya sambil menghela nafas berat.


"Apa kau tidak bisa? Lalu kenapa datang lewat pohon itu? Dasar bodoh!" Tutur wanita itu berusaha menahan amarahnya supaya tak ada orang yang mendengar suaranya.


"Kalau begitu–" Ucap pria itu terhenti sambil menarik tubuh Kinan kedalam pelukannya, membuat wanita itu terkejut setengah mati.


"A–apa yang kau–" Tanya Kinan terhenti saat menerima ciuman kedua dari pria itu. Matanya kembali membelalak terkejut saat merasakan sentuhan lembut di bibirnya.


'Apa yang ... kenapa pria ini selalu membuatku kesal?' Lanjutnya dalam hati.


"Kinan?" Suara Karina kembali mengejutkan wanita itu, dengan cepat dia melepaskan diri dari pelukan Akira.


"Aku pergi." Ucap Akira sambil menunjukan senyuman kemenangan diwajahnya membuat wanita itu merasa jengkel dengan tindakannya.


"Kau–" Ucap Kinan terhenti saat melihat Akira melompat dari balkon kamarnya dengan mulus, "Dasar pria menyebalkan! Beraninya dia melakukan hal itu lagi padaku." Lanjutnya sambil menutup jendela kamarnya serapat mungkin dengan perasaannya yang campur aduk.


'Untuk sesaat aku malah terbawa suasana, ada apa denganku? jangan bilang ... tidak, tidak mungkin begitu. Bukan seperti itu, pasti bukan.' Batinnya mulai mengoceh sambil berjalan mendekati pintu kamarnya.


"Kinan?" Suara Karina terhenti saat melihat Kinan membukakan pintu kamarnya.


"Ma–maaf tante, tadi aku ...." Jelasnya terhenti saat melihat senyuman lebar yang ditunjukan wanita itu.


"Baru selesai mandi ya. Aku kesini ingin memberitaumu soal tanggal pernikahanmu dengan Akira." Tuturnya membuat Kinan terkejut.


"He? Tanggal pernikahan?" Tanyanya langsung mendapat anggukan cepat dari wanita itu.


***


Di kediaman Kinan, terlihat Dea dan Megan sedang menikmati makan malam bersama dirumahnya.


"Lain kali kita pesan makanan dari luar saja." Tutur Megan membuat Dea kesal.


"Kalau gak enak, jangan dimakan bodoh!" Teriak Dea lepas kendali.


"Tidak-tidak, ini lumayan enak ko. Jangan khawatir ...." Tutur Megan dengan ekspresi anehnya.


"Kalau begitu berhenti memasang ekspresi bodoh seperti itu! kau benar-benar mengejek ku ya?!" Jelas Dea penuh penekanan membuat pria itu merinding merasakan aura mematikan yang terpancar dari tubuh gadis itu.


"Te–tenanglah De, i–ini masih bisa dimakan ko." Ucap pria itu sambil memaksakan senyumannya membuat Dea semakin kesal saat melihat ekspresi yang ditunjukan Megan.


"Ha?" Tanya Dea menatap pria itu dengan tatapan tajamnya.


'Ku harap kak Kinan kembali besok.' Lanjutnya dalam hati.


xxx