Dea & Kinan

Dea & Kinan
100. 14 Februari 3



Selamat pagi semuanya 🤗


Apa kabar? semoga selalu dalam keadaan baik-baik saja ya 😁


Yeay akhirnya... 🤗


Akhirnya Dea & Kinan sudah masuk 100 Eps! 😆


Tak terasa ya perjalanan mereka sudah sejauh ini T^T


Terima kasih ku ucapkan untuk para pembaca setiaku, untuk para author lain yang terus mendukungku sampai saat ini...


Tanpa kalian mungkin karya ini sudah putus di tengah jalan, tapi karena dukungan kalian semua. Karya ini bisa berjalan sampai sejauh ini :')


Sekali lagi ku ucapkan terima kasih banyak untuk kalian semua 🙆‍♀️


Langsung aja kita kembali ke cerita, biar gak kelamaan basa-basinya... 😂


Entah kenapa kalau menyapa kalian tuh, aku suka lupa waktu 🤭


Happy reading... 🤗


______________________________________________________


"Kalau begitu aku permisi dulu ...." Tutur Delia sambil berjalan melewatiku, meninggalkanku bersama dengan Akira disana.


"Jadi?" Tanyaku sambil berkacak pinggang dan kembali menghela nafas berat.


"Ada apa denganmu hari ini?" Gumamnya sambil berjalan mendekatiku, memperpendek jarak yang sengaja ku buat.


"Aku belum pernah melihat ekspresimu yang seperti ini, ada apa?" Lanjutnya kembali bertanya membuatku berbalik badan memunggunginya.


"Hey ...." Ucapnya tak ku perdulikan.


"Kenapa? Ada apa denganmu?" Lanjutnya sambil meraih bahuku dan memaksaku untuk berputar balik menghadapnya.


"Aku baik-baik saja, seperti biasanya ...." Jelasku tak ingin menatap matanya.


Lalu tiba-tiba aku mendengar helaan nafas Akira yang terdengar lelah, tak lama kemudian dia melepaskan kedua tangannya yang bertengger dibahuku.


"Apa karena masalah–itu ... kejadian kemarin malam?" Tanyanya terdengar ragu.


Ku lihat wajah Akira yang mulai memerah, tangan kirinya pun sudah menggaruk tengkuknya dengan tatapan lurus memperhatikan sesuatu disampingku.


'Matanya melihat kemana?' Batinku saat memperhatikan tatapannya.


"Ja–jam tangannya? Kenapa? Kenapa sudah ada padamu?" Lanjutku bertanya saat memperhatikan jam tangan yang dikenakannya, Akira yang sempat terkejut mendengar suaraku pun mulai menatapku dengan sinis dan tersenyum puas ketika melihat ekspresi terkejutku.


"Kenapa ya?" Jawabnya balik bertanya.


"Kau mencurinya ya? Jelas-jelas aku memberikannya pada Fino kemarin ...." Tanyaku membuat ekspresinya berubah.


"Tapi Fino bilang kau membelikannya untuk ku," jelasnya membuatku tak bisa berkutik.


"Orang itu! Kenapa dia memberitau orang bodoh ini?" Gumamku merasa kesal dengan tindakan Fino.


"Sekarang katakan!" Ucapnya membuatku melihat tatapannya.


"Apa?" Tanyaku tak mengerti.


"Apalagi? Kalau bukan ucapan selamat ulang tahun." Jawabnya sambil memutar bola matanya bosan.


"Kenapa aku harus mengatakannya?" Tanyaku membalas tatapan bosannya itu.


"Karena aku memintanya." Jawabnya sambil tersenyum.


"Setelah mengabaikan pesanku kemarin malam, menyuruhku datang kesini dan melihatmu berduaan dengan Delia ... kau masih berani meminta ucapan selamat ulang tahun dariku?" Gerutuku merasa kesal ketika mengingat kejadian kemarin malam.


"Berduaan dengan Delia?" Gumamnya, "Ah, tadi kami baru selesai membicarakan soal perjalanan bisnis untuk lusa nanti." Lanjutnya menjelaskan.


"Aku tidak perduli." Ucapku sambil memalingkan wajahku darinya, berusaha menghindari tatapan langsungnya.


"Apa ini?" Tanyanya terdengar menggoda, "Apa kau sedang cemburu?" Lanjutnya membuatku tersentak.


"Ma–mana mungkin!" Belaku merasakan degupan jantungku yang mulai berpacu saat mendengar tawa Akira yang mulai pecah, bahkan sorot matanya terlihat lebih hangat dari biasanya.


***


"Akira," suara Kinan menghentikan tawa pria itu.


Wanita itu menatap mata Akira dengan sangat serius membuat suasana disekitarnya berubah.


Hembusan angin kembali menerpa tubuh mereka, mengayun-ngayunkan rambut panjang Kinan.


Akira yang melihat tatapan Kinan merasa kebingungan saat wanita itu menghela nafas lelah dan mengakhiri tatapan seriusnya.


"Gak jadi." Lanjutnya membuat Akira terkejut.


"He? Gak jadi?" Tanyanya merasa kebingungan.


'Padahal aku bisa melihat dengan jelas dari tatapannya ... tapi kenapa aku masih ragu?' Batin Kinan mulai menundukan kepalanya, memperhatikan pijakannya dengan perasaan bimbang.


'Curang! kenapa wajahnya terlihat lebih menarik sekarang?' Batinnya masih memperhatikan wajah Akira.


'Ada apa denganku? Bukankah tadi aku merasa kesal padanya? Kenapa? Kenapa sekarang aku malah ... aku tak bisa berhenti menatapnya, jantungku semakin berdegup lebih cepat dari biasanya ... aku ....' Lanjutnya masih dalam hati sambil menarik dasi pria itu tanpa sadar, memperdekat wajahnya dengan Akira.


"Kau–" Ucap pria itu terpotong saat melihat telapak tangan kiri Kinan yang menutup matanya dengan cepat. Sedangkan tangan satunya masih mencengkram dasinya dengan erat.


'Ba–baik-baik saja? ... apa yang dia lakukan?' Lanjutnya dalam hati saat merasakan bibir Kinan yang mengecup bibirnya dengan lembut.


'Sejak kapan aku merasa tertarik padamu? Tu–tunggu! Apa yang aku lakukan?' Batin Kinan segera melepaskan Akira dan menjauhkan dirinya dari pria itu.


Akira yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Kinan pun hanya bisa mematung dengan rona merah yang sudah menghiasi wajahnya.


"Ma–" Ucap Kinan berniat meminta maaf namun segera diurungkan saat melihat senyuman Akira.


"Jadi kau bisa melakukannya juga ya ...." Tutur pria itu membuat wajah Kinan memerah.


"Ta–tadi itu tidak sengaja!" Bela Kinan, 'Sial! apa barusan aku hilang kesadaran? kenapa aku melakukan itu padanya?' Lanjutnya menggerutu dalam hati.


"Akan ku anggap sebagai hadiah ulang tahunku." Ucapnya kembali menunjukan senyuman hangatnya.


"Ah ya, soal lamaranku malam itu ...." Lanjutnya membuat Kinan terperajat dan kembali mengingat kejadian memalukan malam itu.


"Aku tidak dengar!" Teriak Kinan sambil memalingkan wajahnya dari Akira.


"He?" Gumam pria itu terlihat bingung.


"Tidak dengar! pokoknya aku tidak dengar!" Tuturnya masih memalingkan wajahnya dari Akira.


Akira yang melihat reaksi Kinan pun hanya bisa mematung, memperhatikan rona merah diwajah wanita itu. Rona merah yang berusaha disembunyikan darinya, namun reaksi salah tingkahnya benar-benar terlihat jelas dimata pria berambut hitam itu.


Senyuman Akira kembali merekah saat menyadari lirikan Kinan yang terlihat malu-malu padanya, membuat pria itu merasa gemas dan hilang kendali.


Dengan cepat dia meraih kepala Kinan, menarik kepala bagian belakangnya untuk mendekat padanya. Lalu kembali mengecup bibir wanita itu dengan lembut.


Kinan hanya bisa mematung terkejut dengan kejadian cepat yang diterimanya, merasakan sentuhan lembut dibibirnya, memperhatikan mata Akira yang terpejam menikmati ciumannya.


'I–ini?' Batinnya masih memperhatikan mata Akira yang terpejam, lalu merasakan jari tangan yang menggelitiki kepalanya.


"Balasan dariku ...." Ucap Akira setelah melepaskan ciumannya.


"Ha?" Tanya Kinan memasang ekspresi terkejutnya membuat pria itu tersenyum angkuh.


"Karena tak ada perlawanan dan makian darimu ... maka ku anggap lamaranku diterima." Lanjutnya membuat rona merah di wajah Kinan semakin mecuat.


"Ha–haaa...? Apa maksudmu? La–lamaran apa?" Tanyanya terbata-bata.


"Malam itu aku sudah mengatakannya kan? Dan saat itu ... kau juga tak melakukan perlawanan. Jadi–" Jelasnya sambil memasang ekspresi datarnya.


"Bo–bodoh! Mana bisa itu dijadikan jawaban?" Teriak Kinan malah membuat Akira tertawa.


"Jangan mentertawakanku!" Lanjutnya berusaha menghentikan tawa Akira, namun yang terjadi malah sebaliknya. Pria itu malah tertawa semakin menjadi membuat Kinan merasa kesal dan langsung mencubit pipi Akira dengan gemasnya.


"A–aw aw ... ampun, lepaskan!" Ucap pria itu meminta pengampunan dari Kinan.


"Tidak akan! ini balasakan karena tidak menemuiku kemarin malam!" Jelas Kinan membuat Akira membisu.


"Ma–maaf karena tidak datang saat kau memintaku untuk menemuimu ...." Tutur pria itu sambil meraih kedua pergelangan tangan Kinan, membuat cubitan wanita itu mengendur dan terlepas.


"Berhenti memasang ekspresi bodoh seperti itu!" Bentak Kinan sambil melepaskan tangannya yang di genggam oleh Akira.


"Ekspresi bodoh?" Gumam pria itu terlihat terkejut saat melihat reaksi Kinan.


"Kau selalu mengatakannya, tapi ... apa maksudnya?" Lanjutnya bertanya, meminta penjelasan dari perkataan yang terlontar dari mulut wanita itu.


"Seperti yang terlihat," jawab Kinan sambil melirik kearah Akira yang masih kebingungan.


"Bodoh!" Lanjutnya sambil tersenyum lebar.


"Haa?" Tanya Akira membuat tawa Kinan pecah saat itu juga.


"Tuh lihat, kau terlihat bodoh sekarang haha ...." Jelas Kinan masih belum puas tertawa, "Coba lihat dirimu di depan cermin. Kau juga akan tertawa saat melihatnya ... sial perutku, hahaha ...." Lanjutnya membuat pria itu segera meraih puncak kepala Kinan.


Saat merasakan sentuhan hangat Akira dipuncak kepalanya, Kinan pun langsung berhenti tertawa meski dia masih ingin.


"A–ada apa?" Tanya Kinan sambil menyeka air matanya yang hampir keluar karena tertawa.


"Teruslah tertawa seperti itu," ucapnya sambil tersenyum hangat dengan tatapan teduhnya.


Kinan yang melihat eskspresi langka itu hanya bisa membisu dengan rona merah yang kembali mencuat diwajahnya. Merasakan degupan jantungnya yang mulai tak terkendali.


xxx


Jangan lupa tinggalkan like dan jejak di kolom komentar ya 😊


Berikan tanggapan kalian juga untuk cerita ini, sejauh yang kalian baca menurut kalian cerita ini gimana? kritik dan saran juga terbuka lebar di kolom komentar. Dengan harapan, aku bisa menambahkan segala kekurangannya 😭🥺.


Ku tunggu tanggapan kalian di kolom komentar 😁