Dea & Kinan

Dea & Kinan
61. Kesal



Karena ada yang minta lanjut, langsung ajalah ku update malam ini 🤭


tadinya buat besok, tapi gak pa² lah ya. sama-sama diupdate ini 😆


cus kita simak kelanjutannya, biar bisa tidur nyenyak :v *lebay


.


.


.


Happy reading 🙆‍♀️


______________________________________________________


Malam ini Kinan tidak ikut makan malam bersama dengan Dea dan kedua tetangganya itu.


Semenjak berita soal klarifikasi yang diberikan Kinan dan Akira tersebar. Megan menjadi sangat pendiam dan hanya bicara jika memang ditanya.


Dea yang merasa gemas dengan sikap menyedihkan Megan pun, berusaha untuk menghibur pria itu.


Waktu masih menunjukan pukul 08:00 Pm, Megan sedang duduk di depan rumah Dea sambil telponan dengan seorang perempuan.


Dea yang mendengar pembicaraan Megan yang menggoda perempuan itu mulai merasa kesal dan mengepalkan kedua tangannya seerat mungkin.


"Kenapa dia begitu menyedihkan ?" Gumam Dea memperhatikan senyuman Megan yang menyayat hatinya.


"Hem, aku akan menemuimu besok. Dandanlah secantik mungkin..." Tutur Megan terhenti saat mendapati Dea yang sudah berdiri dihadapannya.


"Ada apa ?" Tanya Megan setelah mematikan sambungan telponnya dan fokus menatap ekspresi kesal dan sedih yang tergambar diwajah Dea.


"Berhenti mempermainkan semua perempuan itu" Ucap Dea mengingat beberapa foto perempuan yang pernah diposting diakun sosial media Megan.


"Ha ?" Tanya Megan terlihat kebingungan.


"Aku melihatmu bersama seorang perempuan kemarin sore, dan sore tadi..." Jelas Dea mengingat kejadian yang menyakitkan hatinya, ingatannya akan bayangan Megan yang mencium seorang perempuan asing disebuah gang kecil di dekat rumah Fani masih tergambar jelas dalam ingatan gadis itu.


Dan sore tadi, saat pulang sekolah bersama Fani. Dia tak sengaja melihat Megan sedang membonceng seorang wanita, bukan wanita yang dilihatnya kemarin sore tapi wanita lain. Dia sendiri tidak mengenalinya, tapi mereka tampak akrab dan terlihat seperti sepasang kekasih.


"Melihatku ?" Tanya Megan langsung bangkit dari posisi duduknya.


"Jangan menjadi orang jahat yang mempermainkan perasaan perempuan. Aku tau kau masih menyukai kakak ku, kau mencoba mencari pelampiasan tapi..." Tutur Dea segera dihentikan oleh tatapan tajam Megan, pria itu benar-benar tak menyukai pembicaraan yang dibuat oleh Dea.


"Aku tidak suka kau mencampuri urusanku ! Kau tidak ada hubungannya denganku, kenapa harus melarangku melakukan apa yang ingin ku lakukan ?" Jelas Megan menatap sinis mata Dea, membuat gadis itu merinding sekaligus merasa kesal mendengar ucapan pria itu.


'Bagaimana bisa aku tidak ikut campur ?' Batin Dea terasa sesak mengingat semua kenangan indah saat sedang bersama Megan.


"Jika kau benar-benar mencintai perempuan itu. Aku tidak akan ikut campur, tapi jika kau hanya menjadikannya sebagai pelampiasan, aku benar-benar tidak akan tinggal diam !" Tutur Dea sebelum Megan melangkah pergi meninggalkannya.


"Dasar pria bodoh !" Umpat Dea merasa kesal, "Dasar bodoh ! Harusnya aku datang untuk menghiburnya, tapi kenapa ? Kenapa aku malah mengajaknya bertengkar ?" Lanjutnya sambil menundukan kepalanya merasa bersalah dan terus mencaci dirinya.


Disisi lain...


"Arrgh... aku benar-benar kesal" Geram Kinan sambil menggigit ujung bantal yang dipeluknya, lalu langsung menghempaskan dirinya keatas kasur.


"Beraninya dia mencuri ciuman pertamaku ! Iya sih aku yang salah karena menantangnya untuk membuatku jatuh cinta dalam waktu satu minggu, tapi... tapi berani sekali dia ? Dan lagi aku tidak sampai kepikiran kesana" Lanjutnya masih mengoceh kesal setelah melepaskan gigitan dibantalnya.


Kemudian Kinan segera membangkitkan tubuhnya, berjalan kearah meja kerjanya dan mulai menggambar, mengerjakan pesanan gambar dari kliennya. Tapi sebelumnya dia menggigit salah satu ujung madu sachet yang tergeletak disudut mejanya setelah membukanya, kemudian memakannya.


"Pulang sana !" Ucapnya setelah melepaskan madu sachet yang sejak tadi digigitnya, kemudian kembali menggigitnya dan fokus pada pekerjaannya.


Akira yang melihat madu sachet dimulut Kinan pun kembali membayangkan kejadian siang tadi, saat dia mencium Kinan.


"Jadi rasa manis saat itu berasal dari madu itu ya ?" Gumamnya memperhatikan madu sachet dimulut Kinan.


"Ha ?" Tanya Kinan yang mendengar gumaman Akira langsung melirik tajam kearah pria itu sambil melepaskan madu sachet yang sengaja digigitnya.


"Madu itu-" Ucap Akira terhenti saat Kinan tiba-tiba melemparkan sebuah madu sachet kearahnya, sepertinya dia salah paham dan mengira Akira meminta madu sachet yang sedang dinikmati olehnya.


Tapi pria itu malah menangkapnya, "A-" Ucap Akira kembali dihentikan oleh Kinan.


"Apa lagi ? kau sudah mendapatkan madunya, cepat pulang sana !" Ucap Kinan penuh penekanan, tapi Akira malah membuka ujung sachet madu ditangannya dan mulai mencicipi madu itu.


'Ni orang mau apa lagi sih ?' Batin Kinan merasa was-was memperhatikan tatapan Akira yang terus memperhatikan dirinya.


"Jadi begitu ya..." Ucapnya membuat Kinan melihat kearahnya menatap pria itu dengan bingung, "Aku terus memikirkannya sejak siang tadi, tapi sekarang aku mengerti..." Lanjutnya bergumam memperhatikan madu sachet ditangannya.


"Rasa manis di bibirmu pagi tadi, kau sudah memakan madu ini kan ? dilihat dari caramu memakannya, sudah pasti madunya tertinggal di bibirmu..." Jelasnya membuat wajah Kinan memerah, mengingat kalau pria dihadapannya saat ini sudah mencuri ciuman pertamanya. sedangkan Akira hanya bisa memasang senyuman menggodanya sambil menopang dagunya dengan tangan kirinya yang sudah berada diatas palang jendela kamar Kinan.


"Ka-kau !!" Ucap Kinan terbata-bata, tak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Satu minggu, ku pastikan kau akan mencintaiku" Tutur Akira memasang senyum lebarnya membuat Kinan merasa kesal dengan sikap percaya diri yang dimiliki olehnya.


"Pria ini benar-benar-" Gumamnya sambil berjalan kearah jendela kamarnya, "Pulang sana !" Lanjutnya sedikit membentak sambil menutup jendela kamarnya. Menghilangkan sosok Akira dari pandangannya, gordennya juga sudah menghalangi pandangan Akira yang tak bisa melihat sosok Kinan didalam kamarnya.


"Manis ?" Gumam Kinan sambil memegangi bibirnya dan mengingat ucapan Akira yang membuatnya merasa malu sendiri, "Kenapa dia bisa mengatakan hal memalukan seperti itu ?" Lanjutnya sambil menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidurnya, membenamkan wajah merahnya pada bantal dihadapannya.


'Aku membencinya !' Batin Kinan sambil melirik tangan kanannya dan melihat sebuah cincin yang sudah melingkar di jari manisnya, 'Aku membenci pria sepertinya...' Lanjutnya berusaha menghilangkan bayangan wajah Akira dalam ingatannya.


***


Di kediaman keluarga Wira...


"Suamiku sayang..." Tutur Karina sambil memasuki ruang kerja suaminya.


"Kau belum tidur ?" Tanyanya saat melihat istri tercintanya berjalan mendekatinya yang sedang sibuk memeriksa beberapa berkas penting.


"Aku tidak bisa tidur" Jawabnya memasang ekspresi kesalnya, "Ah ya, kau sudah melihat beritanya ?" Lanjutnya bertanya.


"Aku benar-benar senang melihat Akira dan Kinan bersama, mereka benar-benar serasi. Dan lagi Akira... aku tidak menyangka dia bisa menunjukan senyuman terbaiknya pada semua media yang mewawancarainya. Kinan juga terlihat sangat manis..." Jelasnya begitu antusias tak memberikan kesempatan suaminya untuk berbicara.


"Dan yah, aku punya ide... kau mau tau suamiku ?" Tanyanya membuat Wira menatap mata istrinya yang sudah berbinar-binar dengan senyuman lebar yang sudah menghiasi wajah cantiknya itu.


"Satu bulan lagi kan kita akan memperingati hari pernikahan kita, bagaimana jika kita sekalian mengadakan acara pertunangan resmi Akira dan Kinan ?" Lanjutnya membuat Wira menghela nafas lelah.


"Kau yakin ini tidak terlalu cepat untuk mereka ? bukankah sebaiknya mereka melakukan pendekatan dulu ?" Tanya Wira membuat Karina murung.


"Ayolah, pendekatan bisa dilakukan setelah pertunangan juga..." Tuturnya sambil menekuk bibirnya kebawah.


"Kita bicarakan dulu hal ini dengan keluarga pak.Arya bersama dengan Akira dan Kinan. Kita harus mendengar pendapat mereka juga kan ? untuk menyelenggarakan acara pertunangan mereka, kita butuh persetujuan kedua belah pihak, jadi kita harus melibatkan keluarga pak.Arya dan anak-anak" Jelasnya membuat senyuman Karina kembali merekah.


"Kau memang paling bisa diandalkan, terima kasih... aku benar-benar mencintaimu" Tutur Karina sambil memeluk erat tubuh suaminya, membuat pria itu tak bisa melepaskan diri darinya.


xxx