Dea & Kinan

Dea & Kinan
18. Minggu Pagi



Waktupun berlalu dengan cepat, Dea yang selalu pulang sore hari kini jadi sering bertemu dengan Akira di jalan. Dan mereka sering pulang bersama dan sesekali Akira mengantarnya ke sekolah. meski hubungan mereka belum terlalu dekat, tapi sedikit-sedikit mereka mulai saling terbuka sebagai sesama tatangga.


Minggu pagi di kediaman Kinan...


"MANDI!!" Bentak Dea yang berdiri di belakang Kinan membuatnya terkejut setengah mati dan hampir melemparkan heandphone yang sedang di pegangnya.


"Selalu saja membuatku jantungan!" Ucap Kinan dengan nada kesalnya dan memutar kursi putarnya.


Rasanya sudah lama tidak melihat Dea memarahin Kinan yang susah disuruh mandi pagi.


"Cepet mandi sana sebelum mereka datang dan numpang mandi." Jelas Dea yang melihat kakaknya sudah memutar kembali kursinya dan mulai sibuk menatap layar komputernya.


"Nanti abis selesai olahraga baru mandi." Tutur Kinan diiringi suara mouse yang di klik berkali-kali.


"Olahraga?" Tanya Dea terlihat kebingungan melihat penampilan kakaknya yang masih mengenakan pakaian tidurnya.


"Ia olahraga." Jawab Kinan tak mau melirik kearah Dea sedikitpun.


"Olahraga apaan coba? Orang malas sepertimu berolahraga?" Tutur Dea bertanya-tanya sambil berjalan kearah jendela dan membuka gorden jendela dihadapannya, "Cuaca hari ini juga bagus ...." Lanjutnya sambil memperhatikan langit dari balik jendela karena merasa heran dengan sikap kakaknya, kemudian matanya kembali memperhatikan Kinan yang masih sibuk bermain komputer dengan tatapan seriusanya.


"Mukamu terlihat bodoh De, berhentilah memikirkan hal-hal tak berguna." Tutur Kinan membuat Dea terkejut.


"Bo-bodoh?" Gumam Dea, "Aku hanya sedang memikirkan olahraga apa yang bisa kau lakukan meskipun tidak pergi keluar rumah ...." Lanjutnya menjelaskan, dan Kinan segera memotong ucapan Dea yang semakin melantur.


"Olahraga apalagi coba selain olahraga mata?" Tanya Kinan sambil tersenyum bangga membuat Dea jengkel dengan perkataan kakaknya.


"Ki-naaann ...." Guman Dea merasa kesal sambil meraih bantal sofa di sampingnya, "Cepet mandi sana!!" Lanjutnya beriak sambil melempar bantal sofa yang dipegangnya kearah Kinan.


Dengan mulusnya bantal itu mendarat di samping wajah Kinan, membuat gadis itu memekik kesakitan di bagian wajah sebelah kirinya.


"Mandi gak?" Tanya Dea sambil memberikan tatapan mengancamnya saat Kinan melirik kearahnya.


Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung berlari kearah kamar mandi sambil mengusap wajahnya, meninggalkan Dea di ruang tengah.


"Benar-benar deh," guman Dea sambil meraih bantal sofa yang sempat di lemparnya dan mengembalikannya ke tempat semula, 'olahraga mata apaan coba?' Lanjutnya mengoceh dalam hati.


Tak lama kemudian Akira dan Megan pun datang untuk meminjam kamar mandi di rumah Dea. Namun karena masih dipakai oleh Kinan, merekapun harus menunggu dan bersabar.


Sambil menunggu Kinan selesai mandi, Akira memutuskan untuk membaca berita di heandphonenya. Sedangkan Megan, dia meminjam komputer Kinan dan mulai bermain game.


'Pemandangan macam apa ini?' Batin Dea yang melihat dua pria tampan berada di hadapannya. Meski mereka belum mandi, penampilan Akira tetap terlihat rapi dengan kaos putih polos berlengan pendek dengan celana treningnya. Sedangkan Megan, pria itu mengenakan kaos polos berwarna merah maroon dengan celana jeans diatas lutut, dan ada sebuah kalung yang menghiasi lehernya, kalung yang tak pernah dilepasnya.


Saat Dea sedang asik melamun, tiba-tiba saja Megan berteriak kegirangan mengejutkan Akira dan dirinya.


"Yeah akhirnya menang juga ...." Tutur pria itu terlihat sumringah di depan layar komputernya.


"Jangan membuat keributan di rumah orang lain." Tutur Akira membuat Megan melirik kearahnya dan kembali fokus pada game di hadapannya.


"Mengejutkan ...." Guman Dea sambil mengelus dadanya, 'Kenapa dia mandinya lama sekali ya? Tumben ... biasanya kalau mandi cepet banget kaya bebek. Apa jangan-jangan ....' Lanjutnya dalam hati sambil berjalan kearah pintu kamar mandi untuk memeriksa kecurigaannya.


"Tidak terdengar suara air mengalir ...." Guman Dea mulai kesal dan segera menggebrak pintu kamar mandi membuat Kinan terperajat, "Jangan tidur di kamar mandi." Lanjut Dea berteriak membuat Akira dan Megan terkejut.


"Ia ia aku tau." Jawab Kinan sambil menguap dan segera membersihkan tubuhnya setelah tersadar dari rasa kantuknya.


"Dasar." Umpat Dea yang sudah berjalan kearah ruang tengah.


"Dia tidur lagi ya?" Tanya Megan yang sudah memutar meja putarnya menghadap kearah Dea berdiri.


"Yah begitulah, malas-malasan setiap waktu, membuatku kesal saja." Jawab Dea sambil menghempaskan dirinya keatas sofa di belakangnya.


"Ngomong-ngomong, kak.Kinan kerja apa? Sepertinya aku tidak pernah melihatnya keluar dari rumah. Apa dia seorang freelance?" Tanya Megan yang merasa penasaran membuat Akira ikut memasang telinga selagi tatapannya fokus pada layar heandphonenya.


"Aku harap sih begitu, sayangnya dia hanya seorang pengangguran" Jawab Dea sambil melihat pemandangan di luar jendela.


"Hee... aku kira dia punya pekerjaan." Guman Megan merasa kecewa.


"Tentu saja punya." Ucap Kinan yang sudah berdiri di belakang Dea mengejutkan mereka semua.


"Jangan bohong." Ucap Dea sambil melirik kearah kakaknya.


"Beneran ko, aku punya pekerjaan," jelas Kinan sambil membalas lirikan meremehkan sang adik, membuat Dea jengkel, "kerjaanku kan ngasih makan kalian." Lanjutnya sambil membuang muka saat bertatapan dengan Akira, lalu berjalan ke arah dapur dengan perasaan jengkelnya.


"Awas kau ya." Teriak Dea yang sudah berlari mengejar kakaknya.


"Masih saja berisik seperti biasanya ...." Tutur Megan sambil tersenyum.


"Aku duluan." Ucap Akira yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Oiii !!" Teriak Megan merasa dibodohi, "Janjinya kan aku dulu yang mandi ...." Lanjutnya sambil berlari kearah kamar mandi


***


Setelah selesai mandi, mereka semua berkumpul di dapur dan menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh Kinan.


Dengan terpaksa kini Kinan menjadi juru masak mereka bertiga setelah kejadian tempo hari yang membuat Megan dan Dea menjadi syok.


Hari itu Megan merengek datang kerumah Kinan dan meminta dibuatkan makanan karena sudah tak tahan lagi dengan menu masakan yang dibuat oleh Akira.


Akira yang mencoba membuatkan menu masakan baru untuk Megan malah mendapat penolakan dari adiknya saat masakannya sudah dicicipi oleh Megan.


"A–asiiin..." Teriak Megan setelah memuntahkan makanan di dalam mulutnya.


Lalu di hari berikutnya Akira kembali memasakan menu baru, dan lagi-lagi rasanya berkebalikan dengan hasil luarnya yang terlihat menggiurkan. bahkan Dea pun sampai tergoda dengan masakan yang dibuat oleh Akira, dan saat mencobanya...


"Emm ... enak, benar-benar enak, sungguh..." Tutur Dea berusaha menelan makanan di dalam mulutnya.


"Ja–jangan memaksakan dirimu, nanti sakit perut loh. muntahkan saja, muntahkan ... demi kesehatanmu ...." Oceh Megan yang terlihat panik dan segera mendapatkan pukulan keras di atas kepalanya yang dilayangkan oleh Akira.


Kinan yang penasaran dengan rasanyapun ikut mencicipi masakannya.


"Hem, buruk." Ucap Kinan langsung mengenai hati Akira.


"Oii." Bentak Dea saat melihat Akira tak bergerak sedikitpun, saking tercengangnya.


"Kalau rasanya seperti ini tinggal diberi gula merah atau gula pasir saja, dan tambahkan sedikit air lagi." Jelas Kinan sambil membawa sayur sup buatan Akira ke dapurnya. Saat itu posisi mereka sedang berada di rumah Akira.


Setelah mengolahnya kembali, gadis itupun langsung menghidangkanya lagi dan meminta mereka untuk mencicipinya lagi.


"Uwaaahh..." Ucap Dea dan Megan bersamaan sambil memasang wajah berseri-serinya, setelah mencicipi kuah sup itu.


"Lebih enak dari yang tadi." Lanjut Megan mulai mengambil nasi dan menuangkan sayur sup kedalam piringnya. sedangkan Akira hanya membisu meratapi dirinya.


'Gadis ini benar-benar sudah mengambil perhatian Megan dariku, adik ku satu-satunya ....' Batin Akira sambil melirik kesal kearah Kinan.


Untuk pertama kalinya Akira menunjukan rasa kesalnya pada seorang perempuan.


"Selanjutnya tolong masakan untuk kami lagi ya." Tutur Megan membuat Kinan tersenyum jengkel, dan ucapannya berhasil mendatangkan pikiran jahil ke kepala Akira.


"Yah. masakan untuk kami, aku akan membayarnya juga. seperti aku menyewa rumah ini ...." Tutur Akira dengan nada suara merendahkan dan tersenyum angkuh, membuat Kinan semakin jengkel.


"Aku belum pernah melihat sifatnya yang satu ini." Gumam Dea setelah menelan makanan di dalam mulutnya sambil memperhatikan Akira yang masih tersenyum angkuh kepada kakaknya.


"Haa? kau ingin membayarku untuk menjadi juru masak kalian? meski dibayar segunung pun aku tidak akan sudi memasak untukmu, kalau Megan sih lain lagi ceritanya." Tutur Kinan berapi-api, membuat keributan di meja makan.


"Kak Kinan ...." Gumam Megan merasa terharu.


"Hee... jadi kau mau mengistimewakan adik tersayangku ya, benar-benar tidak adil." Tuturnya dengan tatapan tajam dan senyuman dinginnya.


"Hemph... siapa suruh membawa-bawa uang dalam percakapanmu." Jelas Kinan sambil membuang wajah dari Akira.


'Ah dia memang membenci orang kaya ....' Batin Dea menatap kakaknya dengan pasrah.


"Kalau begitu bagaimana jika ku bayar dengan ini?" Tanya Akira sambil menunjukan sebuah foto di heandphonenya, membuat Kinan terkejut setengah mati saat melihat foto dirinya yang sedang sibuk menggambar di dalam kamarnya, "Aku akan merahasiakannya jika kau setuju." Lanjutnya berbisik membuat Kinan merinding.


"Dasar pria kurang ajar, beraninya mengancamku." Guman Kinan merasa kesal dan mengalah demi keamanan dirinya.


Sejak hari itu Kinan jadi tidak begitu akrab dengan Akira, memang sejak awal mereka tidak terlalu dekat. malah bisa di bilang, mereka seperti bertukar adik, bagaimana bisa? lihat saja kedekatan Akira dengan Dea dan Kedekatan Megan dengan Kinan.


Soal foto itu, Akira diam-diam mengambilnya saat jendela kamar Kinan terbuka, meski dia memanggil wanita itu berkali-kali, tetap saja Kinan tak mendengar panggilannya. jadi dia hanya bisa mengambil fotonya diam-diam sambil memperhatikan kamar Kinan dan berakhir pada sebuah lukisan yang menarik perhatiannya sejak pertama kali datang kerumahnya.


Dan secara tidak sengaja Akira mendengar suara Kinan yang berbicara melalui telponnya, membahas soal pekerjaan dan orang tuanya dengan seseorang yang menghubunginya. Lalu diakhiri dengan kalimat, "Rahasiakan dari Dea". Tentu saja kalimat terakhir itu bisa membuat Akira begitu penasaran dengan alasan Kinan yang merahasiakan soal orang tua dan pekerjaannya dari Dea.


Namun pria itu tidak bisa menanyakannya secara langsung kan? Apalagi posisinya saat ini adalah sebagai seseorang yang menguping dan mengintip.


xxx