Dea & Kinan

Dea & Kinan
86. Megan



Waktu sudah menunjukan pukul 05:55 Pm, aku masih harus menunggu motor Megan di perbaiki oleh pekerja bengkel. Entah kapan motornya selesai diperbaiki, tak ada tanda-tanda mereka akan cepat menyelesaikannya.


Perutku mulai meraung minta makan sekarang, hujan sudah berhenti setengah jam yang lalu. Udara dingin mulai mengusik ku lagi, bahkan hidungku mulai berair.


"Dasar cowo nyebelin! Tau gini jaketku gak usah dikasihin ke dia." Umpatku merasa kesal sambil memeluk tubuhku sendiri.


"Nona Dea baik-baik saja? Mau saya panggilkan taxi saja?" Tanya Fino yang sudah berdiri dihadapanku, membuatku harus menengadah melihat wajahnya.


"Tunggu sampai motornya selesai diperbaiki saja." Jawabku ketus.


"Tapi nona, sepertinya anda kedinginan–" Tuturnya mengkhawatirkanku.


"Kalau begitu minta mereka bekerja dengan cepat! Lagipula jalanan masih macet, akan lama sampai dirumah." Jelasku sambil menopang daguku dengan telapak tangan kananku, dan mengubah posisi duduk ku dengan menumpangkan salah satu kaki ku kekaki yang lainnya.


"Kalau begitu, tolong kenakan ini untuk menghangatkan tubuh nona," ucapnya sambil memberikan jas hitam yang sudah dilepasnya padaku. Bahkan pria ini sampai memasangkan jas nya dipundak ku.


"Eh? Tapi–" Ucapku tak didengarkan, Fino malah melengos pergi untuk menemui seseorang yang sedang sibuk menangani motor Megan.


"Arrgh... aku gak tahan lagi, cari makan dulu deh." Gumamku saat merasakan sakit diperutku, dengan cepat aku pergi dari sana. Meninggalkan Fino yang sedang sibuk dengan pekerja bengkel.


Ku langkahkan kaki ku menuju ke arah minimarket, berniat membeli beberapa roti manis disana.


***


Fino kembali ketempat Dea menunggu dengan wajah berseri-serinya setelah mendengar motornya akan selesai dalam waktu lima belas menit.


Namun ekspresinya berubah saat tak mendapati Dea di tempat duduknya. Yang tertinggal hanya jas hitam Fino yang sempat dipakaikan pada tubuh Dea.


"No–nona Dea kemana?" Gumamnya kebingungan.


"Apa dia pulang duluan ya? Tapi dia bilang mau menunggu ...." Lanjutnya sambil memperhatikan sekelilingnya. Berharap bisa menemukan sosok Dea.


Tid... tid...


Suara klakson mobil mengejutkan Fino, dengan cepat dia melihat kearah mobil yang mengejutkannya.


"Tuan muda?" Gumamnya saat melihat sosok Megan yang keluar dari dalam mobilnya.


Pria itu mulai berjalan mendekati Fino yang masih mematung di tempatnya.


"Ke–kenapa tuan muda ada disini? Maksud saya ... bukankah tadi tuan sudah pulang?" Tanyanya membuat Megan menghela nafas berat.


"Jalanannya terlalu macet, jadi aku putar balik. Tapi sepertinya motorku belum selesai diperbaiki ya." Jawabnya sambil memperhatikan motornya yang sedang diperbaiki.


"Ngomong-ngomong dimana gadis galak itu?" Lanjutnya bertanya.


"Gadis galak?" Tanya Fino.


"Itu–perempuan yang menggeretmu pergi." Jawabnya membuat Fino ber"oh" ria.


"Nona Dea? Tadi dia masih disini, tapi waktu saya tinggal sebentar ... dia menghilang entah kemana." Jawab Fino membuat Megan menggaruk kepalanya dengan kesal.


"Dasar merepotkan!" Umpatnya sambil melempar kunci mobil ketangan Fino, "Aku akan mencarinya, kau tunggu saja disini. Kalau dia kembali segera hubungi aku." Lanjutnya sambil melengos meninggalkan Fino sendirian.


'Pergi ke arah mana dia? Jangan sampai dia pergi ke arah persimpangan jalan ...' Batinnya bertanya-tanya sambil mengingat beberapa orang mencurigakan yang berkeliaran disekitar persimpangan jalan.


***


"Akhirnya bisa makan." Ucap Dea setelah keluar dari minimarket dengan membawa beberapa roti di dalam kantung kresek berukuran sedang yang dijinjingnya.


Saat sedang asik berjalan, tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat mendapati sosok pria bertubuh tinggi menghadangnya. Dea yang terkejut pun segera melihat wajah pria mencurigakan itu.


"Dea," ucapnya membuat gadis itu tersentak.


"Kau? Ba–bagaimana bisa kau ada disini?" Tanya Dea tergagap saat menyadari sosok pria berambut merah dengan anting hitam disalah satu telinganya.


"Aku menyesal sudah meninggalkanmu, aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," pintanya sambil meraih tangan Dea, memasang ekspresi menyedihkan yang bisa meluluhkan hati gadis itu.


'Ba–bagaimana bisa dia ada dihadapanku? Kenapa dia tau aku ada disini? Bukankah rumahnya berada jauh di luar kota? A–apa aku sedang bermimpi?' Batin gadis itu terus betanya-tanya.


"Dea!" Ucapnya menyadarkan gadis itu.


"A–aku ...." Ucap Dea tak berani melanjutkan perkataannya. Pikirannya semakin melayang jauh, mengingat semua kejadian saat pria dihadapannya pergi meninggalkannya dengan alasan bosan, alasan yang begitu konyol.


"Beri aku kesempatan Dea ...." Pintanyanya lagi sambil memegangi bahu Dea dan sedikit mengguncang-guncangkan tubuh gadis itu, berusaha menyadarkan dirinya akan kehadirannya.


"Faris," ucap Dea membuat pria itu berhenti mengguncangkan tubuhnya.


"Hentikan! Perasaanku sudah lama hilang, jadi ku mohon–" Lanjutnya terhenti saat pria itu menarik tubuhnya masuk kedalam pelukannya, membuat kantung kresek yang dipegangnya terlepas dan jatuh ketanah.


"Lepaskan aku!" Teriak Dea berusaha melepaskan diri dari pelukannya Faris.


"Aku sangat mencintaimu Dea, ku mohoh padamu berikan aku kesempatan kedua Dea." Ucapnya terus berulang tak memperdulikan gadis yang mulai kehabisan nafas dalam pelukannya itu.


'Sialan kenapa aku harus bertemu dengannya lagi? Se–sesak sekali..." Batin Dea mencoba mendorong Faris.


Disisi lain, terlihat sosok Megan yang berlari dengan cepat ke arah Dea yang masih dipeluk oleh Faris.


"Le–paskan!!" Ucap Dea bersamaan dengan bogem mentah yang dilayangkan Megan kewajah pria berambut merah itu.


"Haa..." Ucap Dea sambil menghirup nafas sebanyak mungkin, memperhatikan semua roti yang sudah berceceran di tanah.


"Siapa kau?! Jangan ikut campur dalam urusanku!" Teriak pria itu sambil memegangi pipinya yang terkena tinju oleh Megan.


Dea langsung merapat ke arah Megan, menyembunyikan dirinya dibelakang tubuh pria itu. Tangan kanannya langsung menarik ujung jaket yang dikenakan oleh Megan, lalu meremasnya seerat mungkin.


"Ba–bawa aku pulang ...." lirih Dea mencoba menahan isak tangisnya.


"Dea! Dengarkan aku ...." Suara Faris kembali membuatnya ketakutan.


"Siapa laki-laki itu Dea? Apa dia pacar barumu? Jadi karena itu kau tidak mau memberiku kesempatan kedua?" Lanjutnya bertanya-tanya.


"Ha?" Tanya Megan menatap tajam ke arah Faris setelah melihat tubuh Dea yang menggigil.


"Minggir!" Ucap Faris berusaha mendorong Megan ke sisi lainnya, namun sayangnya tenaga pria itu tak cukup untuk menjatuhkan sosok Megan.


"Jangan sentuh dia!" Ancam Megan menepis tangan Faris yang hampir menyentuh tangan Dea.


"Maaf Faris," Suara Dea menarik perhatian kedua pria itu.


"Aku tidak bisa memberikan kesempatan pada orang yang sudah menyia-nyiakan cintaku." Lanjutnya membuat pria berambut merah itu tersentak.


"Ayo pulang!" Ucap Megan sambil menggeret tangan Dea membuat gadis itu terkejut setengah mati.


"Tunggu Dea!" Teriak Faris membuat langkah mereka terhenti.


"Aku tidak akan menyerah!" Ucapnya sambil memaksakan senyumannya.


"Kalau begitu aku yang akan membuatmu menyerah!" Tutur Megan menatap tajam mata Faris membuat pria itu merinding saat merasakan aura mengerikan yang keluar dari tubuh Megan.


"Jika kau berani mengganggunya lagi. Kau akan tau akibatnya!" Ancam Megan kembali menarik tangan Dea.


'Apa yang dia katakan?' Batin Dea terus memperhatikan punggung Megan yang berjalan dihadapannya sambil menarik tangan kirinya dengan erat, kemudian menengok kearah belakang, memperhatikan sosok Faris yang masih mematung di tempatnya dengan wajah murungnya.


'Maafkan aku Faris...' Batin Dea merasa bersalah, 'Tapi biar bagaimanapun hubungan kita berakhir, semuanya karena salahmu sendiri!' Lanjutnya kembali memperhatikan punggung Megan dan beralih pada tangannya yang masih setia menggenggam tangan kirinya.


xxx