
Hari ini adalah hari ke tiga aku bersama Akira, pekerjaan kami akan selesai dalam waktu empat hari lagi paling lama.
Dan yang lebih penting, rencanaku untuk menghapus ingatan Akira tentang Kinan masih berlanjut sampai kami kembali ke kantor utama di dalam kota.
Setelah acara ulang tahun Akira malam itu, Ayah menelponku untuk melakukan sesuatu supaya rencana pernikahan Akira dan Kinan bisa dibatalkan. Lalu Ayah menyarankanku untuk melakukan penghapusan ingatan Akira dengan memberikan obat penghilang ingatan secara rutin selama satu minggu penuh. Aku tau itu hal gila yang seharusnya tidak ku lakukan, tapi saat mengingat ancaman ayah ... aku merasa harus melakukannya.
Aku juga tidak pernah tau kenapa ayahku begitu tergila-gila dengan harta dan jabatan, bahkan dia sampai setega ini menjadikan putrinya sebagai pion.
Soal obat penghilang ingatan itu, selama tiga hari ini aku berusaha keras untuk menghilangkan semua bukti kedekatan Akira dengan Kinan, aku bahkan sampai mencuri cincin tunangan Kinan, menghapus beberapa foto wanita itu di galeri heandphonenya Akira, bahkan sampai menghapus nomor pribadinya juga.
"Sayang," suara Akira menyadarkanku, kini pria itu sudah duduk di hadapanku.
"Maaf ... aku melamun." Ucapku sambil tersenyum memperhatikan tatapannya.
"Kalau kau terus melamun seperti itu, makanannya akan cepat dingin." Jelasnya sebelum meminum milk coffee pesanannya.
"Aku akan memakannya ko, tenang saja," tuturku segera menyantap nasi goreng spesial yang ku pesan.
"Wah ini benar-benar enak." Lanjutku sambil memberikan senyuman terbaik ku pada sosok pria dihadapanku.
"Nafsu makanmu ini, mengingatkanku pada seseorang. Tapi siapa ya?" Tanyanya membuatku tersentak.
Sejujurnya aku juga membuat Akira melupakan semua kejadian beberapa bulan terakhir ini. Membuatnya lupa soal tempat tinggalnya yang berdekatan dengan rumah Kinan, lalu membuatnya melupakan wajah Dea dan Kinan.
Pada hari pertama pemberian minuman bercampur obat, rencanaku sempat digagalkan oleh asisten pribadiku yang diam-diam mengganti minuman untuk Akira. Sejak saat itu aku berusaha untuk memecah perhatiannya, memancingnya untuk terus memperhatikan gerak-gerik ku selagi pelayan kantor memberikan minuman untuk Akira.
Ya, minuman yang sudah ku campur dengan obat penghilang ingatan tentunya. Awalnya aku merasa ragu dengan pengkhianatan Dafa, tapi semakin diselidiki, pria itu benar-benar sudah berpihak pada Kinan. Jadi aku mengubah rencanaku dan membuatnya kebingungan dengan semua gerak-gerik yang ku lakukan.
"Del?" Suara Akira kembali mengejutkanku.
"Ada apa? Apa kau sakit? Wajahmu terlihat pucat ...." Lanjutnya membuat perhatianku teralihkan.
"Ti–tidak, aku baik-baik saja." Jelasku berusaha untuk terlihat baik-baik saja dihadapannya.
***
"Huwaaa...." Rengek Dea di meja makannya.
"Berisik! cepat habiskan makanannya." Bentak Kinan tak di dengarkan.
"Masih nangisin soal hasil ujiannya ya?" Tanya Megan yang baru datang memasuki dapur.
"Kalau gak keterima kan masih bisa ikut ujian masuk di kampus lain, masih ada waktu kan sebelum ujian nasional? kalau masih gagal, bisa dicoba lagi tahun depan." Lanjutnya dengan ekspresi menjengkelkan, membuat gadis itu semakin kesal.
"Lupakan saja, Dea tidak akan mendengarkanmu." Tutur Kinan membuat Megan menghela napas pasrah dan melirik tajam kearah Dea.
"Padahal aku sudah mengajarimu dengan ketat, mengorbankan waktu bersantaiku untukmu. Tapi kau tidak bisa lulus ujian?" Tutur pria berambut coklat itu memanas-manasi Dea.
"Padahal hanya kurang satu poin ... kenapa mereka tidak meluluskanku saja?!" Gumam gadis itu semakin bermalas-malasan diatas meja makan dihadapannya.
"Satu poin." Gumam Megan berusaha untuk menahan tawanya.
"Pokoknya cepat habiskan makananmu, minum obatnya dan istirahat sana. Ujian nasionalmu tinggal menghitung hari kan? kau harus segera pulih." Tutur Kinan dengan tegas.
"Baik ...." Jawab Dea dengan nada lesunya.
"Wah ini?" Tanya Kinan langsung melihat alamat yang tertulis di kertas itu.
"Alamat kantor kak Akira, bisa ditempuh dalam waktu empat sampai lima jam perjalanan. Cukup jauh ... kakak yakin ingin menemuinya?" Jawab Megan membuat mata Kinan berbinar-binar.
"Ku harap kau tidak perlu mengunjunginya, kau akan membuat keributan dan merepotkan kak Akira nantinya ...." Tutur Dea setelah menelan makanan di dalam mulutnya.
"Ti–tidak akan!" Ucap Kinan dengan wajah malu-malunya.
"Terakhir kali kau pergi ke kantor ayah, kakak juga membuat keributan disana." Jelas Dea sambil mengingat wajah polos kakaknya yang mendadak berubah menjadi mengerikan ketika melihat seorang OB yang diperlakukan tidak baik oleh karyawan di kantor ayahnya.
Gadis itu langsung memaki karyawan itu habis-habisan dan memberikan ceramah yang cukup panjang.
"Itu kan waktu usiaku baru menginjak sembilan tahun!" Ucap Kinan berusaha membela dirinya.
"Pft..." Ucap Megan sambil menutup mulutnya, mencoba menahan dirinya agar tak tertawa, tapi lain lagi dengan Dea. Gadis itu malah tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar suara Megan yang mencoba untuk tak tertawa.
"Hha–hahaha... tapi lucu juga sih kalau harus mengingatnya kembali." Jelas Dea setelah puas tertawa sambil menyeka air mata yang hampir terjatuh disudut matanya.
"Bagaimana perasaan karyawan itu ya? diberikan ceramah oleh anak berusia sembilan tahun ...." Gumam Megan berusaha menahan tawanya membuat wajah Kinan semakin memerah.
"Bwahahaha..." Tawa Megan dan Dea pun kembali pecah membuat keributan di dalam dapur rumah Kinan.
"Berisik!" Teriak Kinan tak berhasil meredam tawa mereka.
Disisi lain, Kiara sedang sibuk menerima telpon dari Dafa. Mereka membicarakan soal rencana Delia yang sudah mereka ketahui kebenarannya.
"Terus awasi pergerakannya, sisanya biar aku yang urus." Ucap Kiara sebelum mematikan sambungan telponnya.
"Bagaimana?" Tanya Bayu yang sejak tadi duduk di sofanya sambil memegangi cangkir teh ditangan kanannya.
"Seperti yang kita duga ... untunglah kita mengirimkan banyak orang untuk menangani kasus ini. Delia pasti sedang kebingungan sekarang," jawab Kiara masiu berdiri di dekat jendela ruang kerjanya.
"Dia tak akan menyadarinya secepat ini, tenanglah." Tutur Bayu setelah meneguk teh dicangkirnya.
"Yah, selama mereka tak bertemu dengan Kinan. Ku pikir rencana ini cukup bagus untuk membongkar semua kejahatan tuan Danu dan putrinya itu." Gumam Kiara setelah menghela nafas lelahnya.
***
Terlihat sosok Akira yang sedang duduk di hadapan meja kerjanya, memperhatikan layar komputer dihadapannya dengan tatapan lesunya.
Waktu juga sudah menunjukan pukul 04:47 Pm, Semua karyawannya mulai meninggalkan kantornya satu persatu. Tapi nampaknya pria itu masih betah berlama-lama dikantornya.
Matanya beralih pada sebuah email yang baru masuk ke komputernya, dengan cepat dia membukanya dan membacanya dengan seksama.
"Jadi permainannya memang harus dilakukan sampai selesai ya?" Gumamnya setelah menghela nafas lelah.
"Padahal aku ingin segera pulang dan bertemu dengan Kinan, kenapa mereka malah memintaku untuk melakukan permainan bodoh seperti ini?" Lanjutnya menggerutu kesal.
'Yah lagipula aku sudah tau niatan Delia yang ingin menghapus ingatanku, berkat informasi yang diberikan Bayu, aku jadi bisa mengantisipasinya. Tapi ... tak ku sangka wanita ini memiliki nyali untuk mencari gara-gara denganku.' Batin pria itu sambil menatap tajam foto Delia yang terpampang di layar komputernya.
"Kita lihat sampai sejauh mana kau akan memainkan permainan ini." Gumamnya lagi.
xxx