Dea & Kinan

Dea & Kinan
53. Minggu pagi



Hay hay 👋😁


Aku kembali...


Maaf ya kemarin gak update, baru dapat inspirasi ini juga 😆


Maaf juga kalau banyak yang typo, buru² soalnya, takut kabur lagi isnpirasinya :v


tapi tenang aja nanti ku perbaiki ko 😊👍


Happy Reading...


______________________________________________________


"Masih pagi juga udah berisik aja loe ! Pulang sana !" Teriak Dea kepada Megan yang sedang asik bermain gitar diruang tengah.


Gadis itu masih betah berdiri dianak tangga sambil sesekali menguap dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


"Gue kesini mau sarapan, masa udah disuruh balik lagi sih ?" Jelasnya masih asik bermain gitar membuat Dea segera turun dan mendekati tempat duduk Megan.


"Sarapan pagi tuh pukul enam pagi. Jangan buat kakak gue bangun sepagi ini bodoh !" Ucap Dea yang sudah berdiri dibelakang Megan dan segera mendaratkan bogem mentah diatas kepala pria itu.


"Aw !" Pekik Megan, "Apaan sih loe ? Sakit tau, jadi cewe kasar banget sih loe..." Lanjutnya menggerutu kesal sambil mengusap kepalanya yang tak bersalah.


"Masalah buat loe ?" Tanya Dea sambil menatap tajam penuh ancaman, membuat pria itu segera memalingkan wajahnya. Menghindari tatapan langsung gadis itu.


"Lagian kak.Kinan juga gak masalah gue dateng sepagi ini..." Jawab Megan.


"Tapi masalah buat gue, loe juga ganggu jam tidur gue !" Bentak Dea merasa kesal, "Mana semalam gue belajar sampai larut lagi..." Lanjutnya bergumam dan kembali menguap.


"Salah sendiri pake begadang" Ucap Megan sambil meraih heandphonenya.


Setelah melihat Megan sibuk dengan heandphonenya, Dea pun segera pergi mandi untuk membersihkan dirinya.


Disisi lain, Kinan sedang sibuk memasak nasi goreng di dapur. Rambut panjangnya sudah dia ikat dua dibawah, lengan kemeja putihnya pun sudah dia lipat hingga kesiku, dan celemek merah muda yang dikenakannya sudah melindungi pakaian bersihnya.


"Sarapannya sudah siap, kau bisa sarapan sekarang" Tutur Kinan kepada Megan saat mendapatinya berdiri diambang pintu dapur.


"Wah nasi goreng..." Ucap pria itu dengan mata berbinarnya sambil berjalan cepat kearah meja makan.


"Kak.Kinan gak makan ?" Tanya Megan sebelum menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.


"Ya, aku nunggu Dea dulu..." Jawab Kinan sambil membuka celemek ditibuhnya dan langsung melipatnya.


Tak lama kemudian Dea datang dan segera duduk di samping Megan.


"Dimana kak.Akira ? Biasanya kalian selalu datang bersama, tapi akhir-akhir ini dia jarang sarapan pagi dan makan malam bersama" Tanya Dea sebelum menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Ah dia, pagi-pagi buta sudah pergi. Pulang-pulang sudah tidur nyenyak..." Jawab Megan setelah menelan makanan didalam mulutnya.


"Ah ini benar-benar enak..." Lanjutnya memuji Kinan.


"Kalau masih kurang, kau boleh ambil bagian kakakmu. Dia tidak akan datang kan ?" Tutur Kinan membuat Megan segera mengambil bagian Akira.


"Rakus bener ni anak" Gumam Dea memperhatikan Megan secara diam-diam.


"Ah ya kak, hari ini jadwal beres-beres rumah..." Jelas Dea terhenti saat melihat ekspresi malas kakaknya yang tergambar jelas diwajahnya.


"Sudah waktunya ya... malasnya..." Gumamnya dengan suara lesu sambil mengaduk-ngaduk nasi goreng yang tersisa dipiringnya.


"Kalau begitu pergi ke pasar sana !" Ucap Dea penuh penekanan.


"Hee.. sudah masuk mode iblis lagi ? Dea wajahmu benar-benar bisa cepat tua loh kalau sering marah-marah. Berhenti memasang ekspresi menakutkan seperti itu... kau tidak akan bisa mendapatkan pacar baru nantinya" Tutur Kinan sambil membuang muka dari adiknya, berusaha menghindari tatapan langsung sang adik.


"Benar benar, nanti kau kesulitan cari pacar loh kalau sifatmu terus seperti itu..." Lanjut Megan menyetujui ucapan Kinan.


Dea yang mendengar ejekan dari mereka berdua pun tak kuasa menahan kesal sampai menggebrak meja makan dihadapannya. Sontak membuat Kinan dan Megan terperajat.


"Dengar ya, urusan mencari pacar dan sifatku ini... semuanya itu tak ada hubungannya !" Jelas Dea mengeluarkan aura menakutkan membuat Kinan dan Megan mengangguk paham mengiyakan ucapan gadis itu.


***


"Melelahkan..." Gumam Kinan hendak duduk di sofa, namun aksinya terhenti saat mendengar suara pintu yang diketuk dari luar.


Dengan cepat dia berlari menuju kearah pintu, namun dengan cepat menghentikan langkahnya. Lalu memeriksa tamu itu dari balik jendela, jangan sampai dia membukakan pintu untuk orang yang sedang dia hindari.


'Sudah ku duga... kenapa dia tidak mendengarkanku ? Padahal kemarin aku memintanya untuk tidak menjemputku' Batin Kinan menggerutu kesal.


"Kak aku" Ucap Dea menuruni anak tangga membuat Kinan segera berlari mendekatinya sambil memasang mata berkaca-kacanya.


"A-ada apa ?" Tanya Dea saat kakaknya sudah menggelayuti tangan kanannya dengan manja.


"Tolong usir pria diluar itu untuk ku. Kalau dia bilang mencariku, beritau saja aku tidak ada dirumah. Atau apapun terserah padamu saja, tapi tolong buat dia pergi. Aku tidak mau kemana-mana hari ini..." Jelas Kinan membuat Dea berekspresi bingung.


"Ha-" Ucap Dea segera terhenti saat Kinan mendorong tubuh gadis itu kearah pintu, karena suara pintu rumahnya sudah diketuk berkali-kali.


Dengan cepat Dea membukakan pintu rumahnya, sedangkan Kinan berlari memasuki kamarnya dan segera menutup jendela kamarnya rapat-rapat.


'Pria ini kan...' Batin Dea saat mendapati Bayu di depan rumahnya, menatap tajam mata pria asing itu.


"Selamat pagi..." Sapa Bayu sambil tersenyum.


"Mau cari siapa ya ?" Tanya Dea tak bersahabat.


"Apa yang kau katakan ? Aku datang untuk menjemputmu lagi..." Jawab pria itu menatap bingung kearah Dea.


'Ah, wajah kami... dia tidak bisa membedakannya ya. Padahal aku sudah potong rambut, warna rambut dan tinggi badan kami juga berbeda jauh. dia tidak menyadarinya ?' Batin Dea menyadari kekeliruan pria itu.


"Ha ? Menjemputku ? Aku tidak salah dengar ?" Tanya Dea menaikan nada bicaranya.


"Ada apa denganmu Kinan ?" Tanya Bayu benar-benar kebingungan.


'Dia benar-benar tidak sadar ya...' Batin Dea sambil menghela nafas berat, 'Bagaimana kalau sekalian aku kerjai saja ?' Lanjutnya langsung memasang wajah berseri-serinya.


"Hhaha... kau benar-benar terlihat bodoh ya. Maafkan aku..." Tutur Dea membuat Bayu semakin bingung, "Maaf aku tidak bisa pergi keluar, hari ini aku harus membersihkan rumah. Tapi aku juga harus pergi kepasar, bagaimana ya..." Lanjutnya sambil memegangi dagunya, dan melirik kearah Bayu.


"Kalau begitu, bagaimana jika kamu yang menggantikanku pergi kepasar ? Ini aku sudah menuliskan semua bahan yang harus kamu beli, tolong ya..." Lanjutnya sambil memberikan selembar kertas ketangan Bayu, pria itu hanya bisa menatap bingung tak bisa berkata apapun.


Bahkan Dea sudah mendorong pria itu sampai keluar dari halaman rumahnya. Mau tak mau pria itupun harus pergi ke pasar dan membelikan semua bahan makanan yang tertulis didalam kertas itu.


"Nanti ku ganti uangnya dirumah ya ! Hati-hati dijalannya..." Teriak Dea sebelum Bayu masuk kedalam mobilnya.


"Yang tadi itu apa ? Kamu ? Kinan memanggilku dengan sebutan kamu ? Apa aku tidak salah dengar ?" Gumam Bayu sambil menyalakan mesin mobilnya.


Disisi lain...


"Bagaimana ?" Tanya Kinan yang berlari kearah Dea saat gadis itu kembali masuk kedalam rumahnya.


"Sudah pergi" Jawab Dea membuat Kinan menghela nafas lega.


"Terus kenapa kau tidak pergi ke pasar ?" Tanya Kinan sambil melirik kearah Dea yang sudah meraih sapu yang menyender dibelakang sofa.


"Aku meminta pria itu untuk pergi kepasar menggantikanku" Jawab Dea sambil tersenyum lebar.


"Ha-haaa ?!" Teriak Kinan merasa terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh adiknya itu.


"Ba-bagaimana bisa kau memintanya pergi kepasar ? Dan lagi, itu artinya dia akan balik lagi kesini dong ? Kenapa ? Kenapa malah membuat situasi seperti ini ?" Lanjutnya mengoceh.


"Sudahlah, setelah dia kembali. Aku akan mengganti uangnya dan mengusirnya, sekarang kita beres-beres rumah saja. Cuciannya tinggal dijemur, kakak yang jemur ya..." Jelas Dea sibuk menyapu lantai.


Mau tak mau Kinan pun pergi menjemur pakaian di lantai atas.


"Cuaca pagi ini benar-benar cerah..." Gumam Kinan saat sampai di lantai atas disambut oleh hembusan angin yang menyejukan.


Mata Kinan langsung terfokus pada sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari rumahnya.


"Kalau tidak salah, itu kan mobil yang semalam... kenapa masih terparkir disana ? Seingatku tak ada tetangga yang memiliki mobil seperti itu, benar-benar mencurigakan..." Tutur Kinan sebelum menjemur pakaiannya.


xxx