
Pagi ini Akira terbangun dari tidurnya cukup siang dari biasanya, padahal dia tau ada acara penting yang harus dihadirinya pagi ini. Ya, acara ulang tahun pernikahan orang tuanya yang diselenggarakan pagi ini, mulai dari pukul 09:00 Am sampai pukul 08:00 Pm.
"Tubuhku rasanya remuk semua," gumanya sambil duduk diatas tempat tidurnya sambil memijat bahunya.
"Ya wajar saja, kemarin aku lembur sampai tengah malam." Lanjutnya sambil berjalan kearah meja kerjanya dan meraih heandphone pintar miliknya.
Matanya terus mencari nomor Fino untuk dihubungi, namun dengan cepat dia memeriksa pesan masuk yang dikirim oleh Fino kemarin malam.
Matanya membelalak terkejut saat melihat foto Kinan yang tertidur di meja dengan ditemani kue dan hadiah dihadapannya. Lalu matanya mulai membaca pesan dari Fino.
Tuan apa anda masih di kantor? Bisakah anda pergi ke toko kue nyonya sekarang juga? Nona Kinan menunggumu sejak tadi.
"Jadi ... kenapa dihari sepenting itu aku malah menjauhkan heandphoneku dari pandanganku?!" Ucapnya terdengar kesal saat mengingat kelakuannya kemarin malam.
Saat heandphonenya terus berdering ketika dia sedang fokus bekerja agar bisa mengambil libur hari ini. Karena tidak tahan dengan kebisingannya, pria itu sampai mematikan heandphonenya dan menguncinya dalam laci.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya barulah dia mengambil kembali heandphonenya, namun dia lupa tidak mengaktifkannya kembali. Lalu pulang dengan heandphone yang dimatikan itu.
"Ah, padahal dia menungguku ... kenapa aku malah mengecewakannya?" Gumamnya sambil menggaruk tengkuknya dengan rona merah diwajahnya.
"Kak!" Suara Megan menyadarkan pria berambut hitam itu.
"Mau berangkat ke rumah ibu bersama?" Lanjutnya bertanya dibalik pintu kamar Akira.
"Duluan saja." Jawab Akira sambil membukakan pintu kamarnya, menampilkan sosok Megan yang sudah siap dengan setelan jas abu dan kemeja putih dengan dasi hitam yang melingkar dikerah bajunya.
"He? Ku kira kakak sudah siap ...." Gumam Megan memasang wajah terkejutnya saat memperhatikan perawakan Akira yang terlihat acak-acakan dengan celana berbahan dan kemeja putih yang terlihat kusut.
"Sepertinya semalam kakak kelelahan sampai tak ada waktu untuk mengganti pakaianmu sebelum pergi tidur." Lanjutnya sambil menghela nafas lelah.
"Ya aku memang kelelahan, kalau bisa hari ini aku ingin beristirahat di rumah seharian." Jelas Akira sambil berjalan kearah kamar mandi.
"Kau ingin dikutuk ibu?" Tanya Megan sambil memperhatikan punggung Akira.
"Kalau begitu aku pergi duluan, jangan sampai terlambat datang ya." Lanjut Megan sambil berjalan kearah pintu keluar.
"Kita lihat saja nanti." Ucap Akira menghentikan langkah pria berambut coklat itu.
"Ku pastikan kau akan menyesal karena melewatkan acara pentingnya." Jelas Megan penuh penekanan dan segera meninggalkan Akira yang masih mematung di depan pintu kamar mandi.
"Ha? Acara penting apa? Memangnya ada acara yang lebih penting dari sambutan yang diberikan oleh ayah dan ibu?" Gumamnya sambil mengingat semua acara perayaan ulang tahun pernikahan orang tuanya selama beberapa tahun terakhir ini.
"Berbagi coklat valentine?" Lanjutnya sambil melengos masuk ke dalam kamar mandi.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 08:45 Am, Kinan dan Dea sedang sibuk dirias oleh beberapa pelayan pribadi Karina. Kedua gadis itu sedang di dandani secantik mungkin dengan pakaian yang dirancang khusus untuk mereka oleh Karina.
"Tante? Kenapa harus menggunakan pakaian adat sunda?" Tanya Dea setelah pelayan wanita disampingnya melepaskan wajahnya yang sedang dirias.
"Karena hari ini Dea akan memainkan kecapi kan? Alat musik tradisional yang berasal dari sunda, jadi pakaiannya juga harus menyesuaikan dong." Jelas Karina yang sudah berpenampilan cantik dengan gaun berwarna hitam bercorak bunga mawar dengan panjang lengan baju hingga kesiku.
Tok... Tok...
Terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar, dengan cepat Karina meminta salah satu pelayan untuk membukakan pintu kamarnya.
"Silahkan tuan." Ucap pelayan itu menarik perhatian Dea dan Kinan.
"Sudah siap?" Tanyanya memperhatikan Karina.
"Uwah... bahkan om Wira juga tidak terlihat seperti seorang ayah. Om Wira benar-benar keren, Apa-apaan keluarga ini?" Gumam Dea yang terpukau dengan penampilan Wira yang sudah mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan dasi merah yang di sesuaikan dengan pakaian yang dikenakan oleh istrinya.
"Dea benar-benar membuatku malu ...." Tutur Karina terlihat malu-malu.
"Semua tamu undangan sudah tiba, kita harus segera turun untuk menyambut mereka." Lanjut Wira mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa malunya karena mendapat pujian dari Dea.
"Ah kau benar sayang, kalau begitu aku pergi duluan ya. Setelah selesai kalian turunlah kebawah, aku akan menantikan penampilan kalian." Jelas Karina mulai menggandeng tangan suaminya dan berjalan kearah pintu kamarnya, meninggalkan Dea dan Kinan yang masih sibuk diurusi oleh para pelayan.
"Tapi tante? Pakaian ini?" Tanya Dea tak di dengarkan.
"Sudahlah, kita hanya perlu mengenakannya sampai penampilan kita selesai." Jelas Kinan mulai angkat bicara.
"Tapi yang lain pakai baju formal loh, kita juga kan gak nyanyi lagu daerah juga. Kenapa harus pake kebaya?" Tanya Dea mulai panik.
"Sudah selesai nona." Ucap seorang pelayan yang sejak tadi menyisir rambut Kinan.
"Kau yakin mau pakai sepatu itu Dea?" Tanya Kinan memperhatikan sepatu biru muda yang dikenakan oleh adiknya.
"Kenapa? Aku menyukainya." Jawab Dea sambil melipat kedua tangannya diatas dada dan memalingkan wajahnya kesembarang arah.
"Tapi ...." Ucapnya terhenti saat mendengar suara pintu yang kembali diketuk dari luar. Dengan cepat seorang pelayan membukakan pintu kamar itu, menampilkan sosok Fino dan Megan yang sudah mematung memperhatikan penampilan kakak beradik itu.
"Ini?" Tanya Megan yang terpaku pada sosok Dea yang mengenakan kebaya berwarna biru muda berlengan pendek sesiku dan rok pendek yang dikenakannya. Lalu beralih pada sosok Kinan yang mengenakan kebaya berwarna merah muda berlengan pendek sesiku dengan selendang yang terikat dipinggangnya dan rok panjang selutut, rambut coklatnya pun sudah terikat rapi menyisakan poni panjangnya yang menjuntai hingga kebahu.
"Jadi kenapa loe kesini?" Tanya Dea memperhatikan pernampilan Megan yang lebih rapi dari biasanya.
"Ma–maaf nona, saya diminta untuk menjemput kalian. Acaranya sudah dimulai, nyonya ...." Jelas Fino terhenti saat Megan mengacungkan tangannya ke wajah pria itu.
"Jangan basa-basi lagi, cepat turun." Ucap Megan sambil berbalik badan dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan mereka.
"Ini juga mau turun!" Teriak Dea merasa kesal dengan sikap Megan yang tiba-tiba berubah seperti itu.
"Mari nona." Ajak Fino kepada kakak beradik itu.
"Ayo Dea." Ucap Kinan mulai melangkah lebih dulu membiarkan adiknya mengekor dibelakangnya bersama dengan Fino.
'Uwah... kenapa jantungku berdebar-debar seperti ini?' Batin Megan sambil meremas jas abu dibagian dada kiri yang dikenakannya, lalu gambaran wajah Dea yang dilihatnya di depan pintu kamar ibunya tadi mulai terbayang lagi, membuat pria itu segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha untuk menghilanglan bayangan Dea yang mulai mengganggunya.
xxx