
Ku buka mataku perlahan meringis merasakan denyutan hebat di kepalaku.
"Ada apa denganku?" Gumamku saat merasakan denyutannya mulai menghilang, lalu ku lihat sekeliling. Memperhatikan setiap sudut ruangan yang tak ku kenali.
'Kamar siapa ini? Kenapa aku ....' Batinku tak mengingat apapun, bahkan pakaianku sudah berubah. Sepertinya para pelayan wanita itu yang menggati pakaianku dengan pakaian tidur.
Tok... tok... tok...
Suara pintu yang diketuk dari luar, lalu seseorang masuk ke dalam setelah membuka pintunya dari luar.
"Kau sudah bangun," ucap tante Karina yang berjalan mendekatiku.
"Apa yang sudah terjadi padaku tante?" Tanyaku saat wanita itu sudah duduk di sampingku.
"Semalam kamu pingsan, seseorang sudah menaruh obat di cangkir teh mu. Bagaimana kondisimu sekarang?" Jelasnya membuatku terkejut.
"Obat?" Gumamku langsung mendapatkan anggukan cepat dari tante Karina.
'Siapa yang berani melakukan hal itu? Kenapa ada orang sejahat itu ... apa yang dia inginkan?' Batinku bertanya-tanya sambil memegangi kepalaku yang kembali berdenyut.
"Dimana Dea? Apa dia sudah pulang?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Dea sudah pulang sejak semalam, Megan mengantarnya pulang karena hari ini dia akan mengikuti ujian masuk kuliah kan?" Jawabnya membuatku menghela nafas lelah.
"Maaf ... seandainya pengamanan di rumahku diperketat, mungkin tak akan ada orang yang berani menaruh obat di cangkir teh mu." Lanjutnya terlihat kecewa.
"Tidak apa-apa tante, aku baik-baik saja ko. Tante tidak perlu khawatir, hari ini aku akan kembali bekerja di toko kue jadi–" Tuturku terhenti saat melihat ekspresi tante Karina yang terlihat kesal.
"Aku tidak akan mengizinkannya, hari ini kamu hanya boleh beristirahat di rumah. Untuk urusan toko biar para karyawanku yang mengurusnya." Tuturnya membuatku tak berkutik.
***
"Jadi pada akhirnya Akira pergi dengan Delia ya, apa perjalanan bisnisnya tak bisa diwakilkan oleh si Fino saja?" Oceh Kiara yang sedang duduk di ruang kerjanya bersama dengan Bayu.
"Tapi si Fino juga ikut kan, jadi berhenti mengoceh gak jelas. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan si Dafa juga akan menghubungi kita kan?" Jelas Bayu sambil meletakancangkir teh ditangannya.
"Iya ada si Dafa, tapi kejadian kemarin malam itu ... ku rasa ada yang janggal. Kenapa pelayan itu sampai memasukan obat ke dalam cangkir teh Kinan?" Tanyanya sambil menyenderkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Hebatnya lagi dia tidak mau buka mulut dan malah menerima hukuman dari Akira, ku rasa memecatnya bukan cara penyelesaian yang tepat." Tutur Bayu setelah menghela nafas lelahnya.
"Karena Dafa sedang bertugas mengawasi Delia, maka kau yang akan mengurus soal pelayan itu kan?" Tanya Kiara langsung mendapat tatapan tajam dari Bayu.
"Ayolah kau ahlinya membuat orang-orang berkata jujur, jangan menatapku seperti itu." Lanjutnya membuat Bayu kembali menghela nafas pasrah.
"Kalau begitu kau urus pekerjaan kantorku, aku pergi dulu." Ucapnya membuat Kiara terkejut.
"He–heee...?! Kenapa harus aku? Tunggu, Bayu!" Teriaknya tak didengarkan.
Pria itu langsung pergi menuju kearah lift dan memeriksa heandphonenya, memikirkan rencana apa yang akan dia buat untuk membuka mulut pria itu.
"Akhirnya mereka berhasil mengumpulkan data dirinya." Lanjutnya saat mendapati email masuk yang diterima heandphonenya.
Disisi lain, Fino sedang sibuk membantu Akira menyelesaikan beberapa pekerjaannya.
"Sabarlah tuan, hanya satu minggu. Setelah itu anda bisa bertemu dengan nona Kinan lagi." Hibur Fino yang sibuk memilih beberapa berkas yang harus diperiksa olehnya.
"Setelah kau selesai mengerjakan tugasmu, pulanglah dan jaga Kinan untuk ku. Aku tak mau orang-orang seperti pelayan itu melakukan hal buruk terhadap calon istriku." Jelas Akira terlihat kesal saat mengingat kejadian semalam.
Setelah acara ulang tahunnya selesai, dia langsung mecari tau siapa pelaku yang berani mencampur teh Kinan dengan obat yang membuatnya tak sadarkan diri.
"Tapi tuan–" Ucap pria berambut ikal itu terhenti saat melihat tatapan majikannya.
"Baiklah sesuai dengan perintah tuan, saya akan kembali setelah menyelesaikan pekerjaan saya, kalau begitu saya permisi dulu." Lanjutnya tak bisa membantah keinginan Akira.
Disisi lain Delia sedang sibuk membuatkan kopi untuk Akira sambil bersenandung.
"Dalam waktu satu minggu, aku akan membuatmu melupakan Kinan." Tuturnya sambil memasukan sesuatu ke dalam kopi buatannya.
"Maafkan aku Kinan, tapi kali ini aku tidak akan kalah darimu lagi." Lanjutnya sambil tersenyum sinis memperhatikan sebuah cincin yang dipegangnya.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 09:00 Am, Kinan baru selesai bersiap dengan celana jeans putih dengan sweater hitam berlengan panjang yang disiapkan oleh seorang pelayan, atau lebih tepatnya dialah yang meminta pelayan itu untuk menyiapkan pakaian yang dikenakannya saat dia tangan kerumah Karina kemarin pagi.
"Hem ...." Gumamnya sambil mengikat rambut panjangnya di depan cermin.
'Kira-kira siapa yang sudah mencampur teh ku dengan obat ya? Kenapa dia melakukannya?' Lanjutnya bertanya-tanya dalam hati sambil menyimpan sisir ditangannya ke dalam laci meja disamping cermin itu.
"He?!" Ucapnya dengan matanya yang membelalak terkejut saat melihat jari manis ditangan kanannya yang telanjang tanpa cincin.
"Cincinnya? seingatku aku mengenakannya kemarin malam, dan lagi aku belum pernah melepaskannya sejak hari itu." Lanjutnya mengingat hari dimana Akira memberikan cincin untuknya.
"Apa yang terjadi? bagaimana bisa cincinnya hilang? apa terjatuh disuatu tempat ya? kenapa aku tidak menyadarinya ...." Ocehnya terlihat panik sambil mencari cincinnya di dalam kamar mandi dan kembali ke kamar Akira.
"Tidak ada." Ucapnya sambil mencari diatas tempat tidur Akira.
'Bagaimana ini? aku tidak bisa menemukannya, jika memang terjatuh ... harusnya terjatuh di kamar ini kan? jika tidak pasti ada di kamar mandi. Sebelum kesadaranku hilang ....' Batinnya berusaha mengingat kembali kejadian semalam.
Sebelum wanita itu hilang kesadaran, dia masih sempat melihat cincin yang melingkar dijari manisnya. Tapi setelah itu dia tak mengingat apapun.
"Bagaimana caraku menjelaskan semuanya pada Akira? ... dulu aku sangat ingin melepaskan cincin itu, tapi sekarang ... tau-tau aku sudah menyukai cincin itu. Tapi cincinnya ...." Ocehnya terlihat murung.
"Kinan." Suara Karina menyadarkan lamunan wanita itu, dengan cepat dia berlari kearah pintu kamar Akira dan membukakan pintu untuk Karina.
"Kau sudah selesai? supirku sudah menunggu, dia akan mengantarmu pulang. Padahal aku sangat ingin kau tinggal disini, tapi hari ini aku ada janji dengan klien ...." Tuturnya terlihat sedih membuat Kinan refleks tersenyum.
"Maaf sudah merepotkan tante, seandainya aku bisa berhati-hati mungkin–" Jelas Kinan terhenti saat merasakan pelukan hangat yang diberikan oleh Karina.
"Tidak merepotkan, tante senang ko kamu baik-baik saja. lagipula kamu sendiri tidak tau kalau teh yang kamu minum sudah dicampur dengan obat. Hari ini kamu harus istirahat penuh, jangan memikirkan soal toko kue dulu ya ...." Tutur Karina sambil melepaskan pelukannya dan menunjukan senyuman hangatnya.
"Terima kasih tante." Ucap Kinan membalas senyuman Karina.
xxx