
Setelah kepergian Fino dan Delia, kini Bayu dan Kiara segera berpamitan kepada Kinan dan Dea tepat pada saat kedatangan dokter yang dipanggil oleh Bayu.
"Terima kasih sudah menolongku Kinan." Tutur Kiara sambil memegangi tangan kanan Kinan.
"Kalau begitu kami permisi dulu, dokternya juga sudah datang." Lanjut Bayu membuat Kiara segera bangkit dari posisi duduknya.
"Terima kasih..." Ucap Dea kepada Bayu, biar bagaimanapun pria itu sudah memanggilkan dokter untuk memeriksa kakaknya.
Merekapun segera keluar dari dalam rumah Kinan dengan diantar oleh Dea.
"Bagaimana dok?" Tanya Akira terlihat mengkhawatirkan kondisi Kinan.
"Semuanya akan membaik selama dia beristirahat dengan cukup. Dan jangan lupa habiskan obatnya supaya rasa nyerinya cepat reda..." Jelas Dokter itu sambil memberikan beberapa tips untuk menghilangkan rasa nyeri yang mungkin bisa kembali dirasakan oleh Kinan suatu waktu.
Kini gantian Megan yang mengantar dokter itu keluar rumah. Dea yang masih berdiri di depan rumahnya pun segera menemui dokter itu untuk berterima kasih padanya.
Di dalam rumah Kinan...
"Kenapa kau begitu bodoh sampai terlibat dalam masalah orang lain?" Tanya Akira sambil meraih handuk diatas lutut Kinan, lalu memasukannya kedalam air hangat dan memerasnya sebelum kembali dikompreskan pada lutut wanita itu.
"Hentikan ekspresi bodohmu itu! Aku baik-baik saja..." Tutur Kinan sambil memalingkan wajahnya kearah lain, menyembunyikan rona merah diwajahnya.
'Kenapa dia selalu memasang ekspresi seperti itu? Saat aku demam, hari dimana dia menyelamatkanku dari Bayu dan saat ini juga... ada apa dengan orang bodoh ini?' Lanjutnya dalam hati sambil merasakan degupan jantungnya.
"Ekspresi bodoh apa yang kau maksud?" Tanya Akira menatap bingung kearah Kinan yang masih tak mau melihat wajahnya.
Dengan cepat wanita itu menghela nafas pasrahnya dan segera melirik kearah Akira.
"Kau bertemu dengan Delia dimana?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Dia rekan kerja baru ku dalam projek pembuatan game yang sedang kami garap tahun ini, berkat dia pekerjaan kami jadi lebih cepat selesai." Jawab Akira sambil duduk disamping Kinan, menyenderkan tubuhnya pada senderan sofa dibelakangnya. Lalu membuka kancing jas yang dikenakannya, kemudian tangannya juga segera melonggarkan dasi dilehernya sebelum membuka kancing kerah kemeja putih yang dikenakannya.
"Yah kau memang terlihat sibuk akhir-akhir ini..." Tutur Kinan kembali melihat layar heandphonenya membuat Akira tersenyum jahil kearah Kinan.
"Apa itu artinya kau merindukanku?" Tanya pria itu membuat Kinan terperajat.
"Ma-mana mungkin! Aku malah senang melihatmu begitu sibuk, dengan begitu perjanjian membuatku jatuh cinta dalam waktu satu minggu bisa terlewat begitu saja. Dan aku akan terlepas dari permainan bodohmu itu." Jelas Kinan sedikit tergugup karena melihat wajah Akira yang begitu dekat dengan wajahnya.
"He? Ku kira kau juga akan merencanakan sesuatu untuk membuatku jatuh cinta. Ku pikir saat itu kau juga mengatakannya kan?" Tanya Akira menjauhkan wajahnya dari Kinan.
"Itu tidak perlu, dengan sendirinya kau sudah jatuh cinta padaku." Jawab Kinan kembali memainkan heandphonenya.
"Kau sangat peka ya. Tapi ucapanmu itu benar-benar membuatku sedih..." Tutur Akira terlihat murung.
Sementara itu diluar rumah Kinan...
"Masih gak mau masuk ke dalam?" Tanya Megan yang berjalan menuju ke rumahnya.
Tiba-tiba saja Dea berlari menjauhi rumahnya membuat Megan segera melihat kearah kepergian gadis itu.
"Mau pergi kemana dia malam-malam begini?" Tanya Megan sambil menggaruk kepalanya.
***
"Maaf, aku benar-benar harus menyuruhmu berhenti dan menyerah..." Jelasku sambil menyimpan heandphoneku ke atas meja dihadapanku.
"Aku benar-benar tidak akan bisa jatuh cinta padamu secepat itu dan-" Lanjutku kembali terhenti saat melihat tatapan Akira yang sudah melirik tajam kearahku.
"Itu berarti masih ada kemungkinan kau akan jatuh cinta padaku kan? Meski bukan dalam waktu satu minggu, aku tidak akan pernah menyerah padamu!" Jelasnya membuatku tersentak.
"Jangan main-main denganku, kau tidak berhak mempermainkanku hanya karena kau anaknya tuan Wira. Soal rahasia yang kau pegang Dea sudah mengetahuinya, jadi tak ada alasan lagi untuk aku menuruti keinginanmu." Tuturku sambil memijat keningku yang mulai berdenyut.
Aku bahkan tidak tau ekspresi apa yang sudah ditunjukannya padaku. Yang jelas aku merasa lelah dengan semua permainan yang dia mainkan. Aku juga tak berani menatap wajahnya.
Aku tau perkataanku ini sangat menyakitkan untuknya tapi saat ini aku harus menyelamatkan hatiku sebelum dia berhasil mencurinya. Karena aku tau, Akira sedang mempermainkan perasaanku.
Mungkin saja selama ini aku juga sudah menyukainya, tapi... dia masih labil dengan perasaannya. Tak mungkin dia bisa melupakan perasaannya pada Kiara begitu saja, secara dia perempuan yang hampir menikah dengannya.
Perempuan yang dulu begitu penting baginya, lalu bagaimana bisa aku masuk kedalam hidupnya? Menggantikan posisi Kiara begitu saja, menjadi pelarian Akira yang tidak serius mencintaiku. Menjadikanku sebagai tamengnya untuk melindungi reputasi keluarganya. 'Aku benar-benar tidak mau jatuh cinta padanya...' Batinku.
"Kenapa kau tak mau memberikanku satu kesempatan untuk membuktikan perasaanku padamu? Padahal kau tau aku sudah menyukaimu-" Tanyanya menyadarkan lamunanku.
***
Dea sedang berdiri di depan rumah Mita memberitau kondisi kakaknya yang tak bisa mengasuh anak-anaknya lagi. Jadi Dea meminta maaf pada wanita itu dan memintanya untuk mencari orang lain untuk mengasuh si kembar Dean Diana dan Doni.
Setelah menjelaskan situasinya Mita pun mengerti dan ikut meminta maaf pada gadia itu karena sudah merepotkan kakaknya.
"Kalau begitu aku permisi dulu ya kak..." Tutur Dea berpamitan pada wanita itu.
"Hati-hati dijalannya ya De!" Teriak Mita memperhatikan kepergian Dea.
"Haa..." Suara helaan nafas Megan yang sudah berdiri dibawah lampu penerangan jalan mengejutkan Dea.
"Kenapa loe hobi banget buat gue jantungan?" Ucap Dea nyaris berteriak.
"Loe kalau mau pergi bilang-bilang dulu ke. Udah malem juga, hobi banget keluyuran..." Tutur Megan membuat Dea merasa kesal.
"Berisik, jalan dibelakang gue!" Ucap Dea segera memimpin perjalanan pulang mereka.
"Gue baru tau kalau cedera kak.Kinan separah itu..." Tutur Megan mengikuti langkah Dea.
"Loe gak perlu mengkhawatirkannya seperti itu, cederanya juga udah lama sembuh." Jelas Dea tanpa melambatkan langkah kakinya.
"Emang kalau udah sembuh dia bisa merasakan sakit seperti itu lagi?" Tanya Megan membuat Dea menghentikan langkah kakinya.
"Apa orang sehat ada jaminan dia tidak akan sakit?" Jawab Dea balik bertanya.
"Ya-ya enggak juga..." Jawab Megan kembali melangkahkan kakinya saat Dea meninggalkannya.
Kali ini mereka berjalan tanpa banyak bicara, hanya ditemani hembusan angin malam yang menyapa tubuh mereka. Sinar bulan pun ikut menghantarkan langkah Dea dan Megan yang sudah berjalan berdampingan.
Diam-diam Dea mencuri-curi pandang dari sosok Megan yang berjalan disampingnya. Rona merah diwajahnya pun mulai mencuat saat dia memikirkan sosok Megan yang menjadi kekasihnya di masa depan.
xxx