
Waktu sudah menunjukan pukul 11:00 Am, pertemuanku dengan beberapa staf perusahaan pun telah berakhir.
Rasanya begitu nyaman saat keluar dari ruangan itu, kepalaku terasa penat saat melakukan rapat dadakan dengan mereka.
'Hem ... jadi gamenya tinggal memasuki tahap akhir ya, habis itu baru perilisan?' Batinku bertanya-tanya sambil melangkah kearah lift.
"Tadi Fino bilang dia menunggu di luar ya." Gumamku sebelum pintu lift terbuka.
Ku lihat beberapa wanita yang mengenakan setelan di dalam lift itu, salah satunya melirik mataku dengan sinis sambil membisikan sesuatu pada wanita di sampingnya.
'Yah, kenapa aku perduli?' Batinku segera masuk ke dalam lift.
"A–anu ...." Suara seorang wanita berkacamata yang berdiri disampingku sambil menyentuh tanganku dengan jari telunjuknya.
"Ya?" Tanyaku melirik kearahnya.
"A–anda ini? Apa benar tunangannya bos?" Tanyanya membuatku mengernyitkan keningku saking bingungnya.
'Siapa yang dia sebut bos? Tunangan?' Batinku bertanya-tanya.
"Ah jadi benar ya dia itu orang yang mengaku-ngaku sebagai tunangannya bos Akira?" Tutur seseorang dibelakangku dengan suara sarkasnya membuatku sedikit terkejut saat mendengar nama Akira keluar dari mulutnya.
"Dilihat darimana pun dia memang mengada-ngada, mana mungkin bos bertunangan dengan wanita sepertinya?" Lanjut yang satunya.
"Tolong jangan dengarkan mereka, mereka memang–" Tutur wanita berkacamata disampingku berusaha menenangkanku, meski aku tak begitu kesal mendengar perkataan mereka.
"Diam kau! Kenapa kau menenangkannya? Bukankah kau setuju jika bos bertunangan dengan Delia? Dia lebih cocok dengan bos karena kebaikan dan keramahannya pada semua orang." Bentak seorang wanita yang memakai nada sarkas sebelumnya.
Entah siapa mereka, aku bahkan tak mengenal mereka dan aku juga tak begitu perduli dengan perkataan mereka. Tak ada gunanya aku membela diri di hadapan mereka.
Tapi saat mendengar nama Delia yang mereka sebut, mungkin saja ini adalah ulahnya. Selain itu, aku benar-benar tak menyangka bisa masuk ke dalam perusahaan game sebesar ini. Dan perusahaan ini adalah perusahaan Akira? Aku bahkan tidak tau kalau dia punya perusahaan sebesar ini di luar kota. Ya, bertanya juga tidak.
'Sebenarnya dia memiliki berapa perusahaan? Apa mengurus satu saja tidak cukup? Padahal dia kerepotan seperti itu ....' Batinku bertanya-tanya dengan perasaan khawatir yang menyelimutiku, entah kenapa perasaan khawatir itu muncul begitu saja. Mengingat aktifitasnya yang padat, sudah pasti dia merasa lelah bukan?
"Lihat jarinya, dia bahkan tak mengenakan cincin. Bisa-bisanya dia mengaku sebagai tunangannya bos!" Suara sarkas itu mengejutkanku, ingin rasanya ku sumpel mulutnya dengan dasi yang dikenakan olehnya.
Aku langsung berbalik badan dan berkacak pinggang menghadap kedua wanita yang terus mengoceh dibelakangku sejak tadi. Kini aku bisa melihat wajah sinis mereka, tatapan tajam dan senyuman sarkas yang ditunjukannya padaku secara terang-terangan.
Ku sibak rambutku kebelakang dan membalas tatapan tajam mereka lengkap dengan senyuman sarkasku, untuk sesaat wajah mereka berubah menjadi pucat dengan tatapan terkejutnya.
"Memangnya aku perduli dengan ocehan kalian? Apa dengan melakukan hal itu kalian bisa memancing emosiku?" Tuturku sesaat sebelum pintu lift terbuka.
"Ha?" Ucap kedua wanita itu.
Dengan cepat aku pergi dari sana menuju pintu keluar, berusaha menenangkan diriku agar tak hilang kendali saat mendengar dedas-desus menjengkelkan itu.
Ya, aku tak terlalu ambil pusing. Toh awalnya aku memang berpura-pura menjadi tunangannya kan? Dan cincinku hilang, sudah pasti mereka tak mempercayaiku. Meski cincinnya ada pun, tak ada jaminan mereka akan percaya kan?
***
"Selamat siang ... Kinan." Suara Delia menghentikan langkah kaki wanita itu.
"Delia?" Gumam wanita itu begitu terkejut memperhatikan senyuman misterius yang ditunjukan wanita berambut pirang itu.
"Bagaimana kabarmu hari ini? ... terlihat baik ya." Tanyanya sambil memainkan rambutnya, dengan sengaja menunjukan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Itu kan?" Ucap Kinan langsung mendapat lirikan tajam dan senyum angkuh dari Delia.
"Ah ini ... Akira memberikannya padaku." Jelasnya sambil tersenyum manis yang terkesan memaksakan.
Kinan yang mendengar ucapan wanita itu pun hanya bisa mematung saking terkejutnya.
"Bagaimana bisa dia memberikan cincin milik ku? Maksudku ... cincin itu diberikan Akira untuk ku, dan cincin itu hilang. Tapi kenapa ada padamu?" Tutur Kinan tampak kebingungan.
"Sudah ku katakan kan? Akira memberikannya padaku." Tegasnya.
"Dimana pria bodoh itu?" Tanya Kinan mulai kesal.
"Dia? Tidak datang, aku menggantikan pertemuan hari ini untuknya. Tapi sepertinya aku terlambat datang ...." Jelasnya sambil memainkan cincin dijari manisnya.
'Tidak bisa dipercaya, bagaimana bisa Akira memberikan cincin itu padanya? Tapi dihari itu ... dia tak ada saat aku sadarkan diri. Dan lagi aku juga telat menyadari kehilangan cincin dijari manisku, tapi kalau memang benar dia memberikannya pada Delia ... apa alasannya? Apa yang dia rencanakan sampai melepas cincin di jari manisku dan memberikannya pada wanita ini?' Batin Kinan bertanya-tanya sambil mengingat kejadian di hari ulang tahun Akira.
"Padahal dia melarangku untuk tidak melepas cicinnya, apa-apaan dia?" Lanjutnya bergumam.
"Sepertinya kau sedang kesal ya," tutur Delia kembali menunjukan senyuman manisnya.
"Sudah ku bilang, aku tak akan membiarkanmu bahagia bersama Akira. Jadi–" Lanjutnya terpotong.
"Yah, aku tak perlu ambil pusing soal masalah ini. Aku bisa menanyakan kebenarannya pada Akira setelah dia kembali dari pekerjaannya, dan lagi aku merasa kasihan padamu," tutur Kinan sambil berkacak pinggang dengan salah satu tangannya.
"Ternyata kau menyukai pemberian bekas pakai ku ya, padahal cincin itu sudah di berikan padaku. Tapi Akira memberikannya padamu, apa kau tak bisa meminta cincin baru darinya?" Lanjutnya membuat wanita berambut pirang itu terkejut dan merasa kesal sekaligus malu.
"Kau!" Ucapnya terhenti saat melihat sosok Fino yang berjalan menghampiri mereka dari arah parkiran.
"Terserah kau saja." Lanjutnya sambil masuk ke dalam perusahaan, meninggalkan Kinan di depan pintu masuk.
"Pertemuannya sudah selesai nona?" Tanya Fino segera mendapat anggukan dari Kinan.
"Kenapa kau tidak bilang kalau ini perusahaan game Akira?" Tanya Kinan membuat Fino terkejut.
"Ma–maafkan saya, saya tidak bermaksud–" Tuturnya terhenti saat melihat Kinan menghela nafas lelah.
"Aku harus mencari tempat tinggal sementara dan membeli beberapa pakaian." Tutur Kinan terlihat lesu saat mengingat dia harus tinggal di kota asing itu selama beberapa hari, padahal dia pikir dia bisa kembali ke rumahnya dan fokus pada pekerjaan di toko kue yang dipercayakan padanya oleh Karina.
Tapi Kinan harus menyelesaikan projek akhir pembuatan karakter game yang diminta oleh atasannya, orang yang memimpin rapat pagi ini. Jadi mau tak mau dia akan datang ke kantor selama beberapa hari ini, sampai pekerjaannya selesai.
"Kalau begitu kita pergi ke rumah tuan saja, tuan juga memiliki rumah di sekitar sini. Nona bisa membeli pakaian dulu dalam perjalanan pulang." Tutur Fino begitu antusias membuat wanita itu terkejut.
"Orang itu juga memiliki rumah? di kota ini?" Gumam Kinan dengan ekspresi terkejutnya, sedangkan Fino malah tersenyum lebar ketika melihat reaksi Kinan yang terlihat lucu dimatanya.
xxx