Dea & Kinan

Dea & Kinan
76. Delia 2



"Jadi kakak menolongmu? Tidak bisa dipercaya..." Teriak Dea merasa terkejut dengan penjelasan yang diberikan Kiara dan Bayu.


"Kak.Kinan bisa berkelahi?" Gumam Megan berkeringat dinging.


"Tapi darimana asal kedua preman itu? Biasanya dikompleks sini aman-aman saja. Dan lagi kenapa kalian berkeliaran disekitar kompleks sini?" Tanya Dea membuat Kiara dan Bayu saling melempar pandangan.


Fino baru kembali dari dapur dengan membawa beberapa cangkir teh diatas nampan.


"Silahkan diminum." Tutur pria berambut ikal itu sambil tersenyum.


"Kau benar-benar cocok menjadi pelayan disini ya..." Ejek Megan menahan tawanya membuat Fino tersenyum kesal kearahnya. Meski rasa kesalnya tak terlalu jelas tergambarkan diwajahnya.


"Aku akan kembali ke dapur," tutur Fino segera melangkah pergi meninggalkan Megan dan yang lainnya di ruang tamu.


"Aku sudah menyerahkan mereka berdua pada anak buahku, mereka akan mengintrogasinya saat aku sudah mengetahui identitas mereka dan motif mereka menyerang Kiara. Aku akan langsung menghubungi Kinan juga." Jelas Bayu sambil meraih cangkir teh dihadapannya.


"Kenapa harus menghubungi kak.Kinan?" Tanya Megan merasa bingung.


"Karena sekarang kami sudah berteman." Jawab Kiara sambil tersenyum lebar mewakili Bayu.


"Ha?" Tanya Dea kembali terkejut.


***


Setelah lama memasak banyak menu makanan, Kinan pun meminta Fino kembali keruang tamu untuk memberitau Dea dan yang lainnya bahwa makan malam sudah siap. Dengan cepat mereka semua pergi keruang makan diikuti Akira san Delia.


"Kalau begitu kalian makan saja dulu, aku akan makan belakangan..." Tutur Kinan saat melihat semua kursi sudah terisi penuh.


"Wah sepertinya ini sangat enak ya," ucap Delia sambil memasukan sebuah pangsit kedalam mulutnya.


"Kalau begitu saya juga makannya belakangan saja." Tutur Fino mengekori Kinan yang sudah berjalan keluar dapur.


"Mendadak rumahku jadi berisik..." Gumam Dea memperhatikan setiap orang yang sudah lupa diri karena terlalu menikmati masakan Kinan.


Bahkan mereka sampai tidak sadar dengan kepergian wanita itu, kecuali Dea dan Megan.


"Jadi tanganmu itu kenapa?" Tanya Delia memperhatikan tangan kiri Bayu yang sudah dibalut dengan perban.


"Ini, Hhaha tadi aku bertindak ceroboh dengan berlari kearah seorang preman bersenjata..." Jelasnya kembali berkeringat dingin saat merasakan dirinya ditatap tajam oleh Akira.


"Bodoh!" Ejek Akira kembali menyantap makanannya.


"Tapi jika Bayu terlambat satu detik saja, maka wanita bodoh itu yang akan terluka," jelas Kiara membuat semua orang menatap kearahnya.


"Ke-kenapa kalian menatapku seperti itu?" Lanjutnya bertanya.


"Siapa wanita bodoh yang kau maksud?" Tanya Dea mulai mengkhawatirkan kakaknya.


"Dia... Ki-kinan," jawab Kiara melirik kearah Dea.


"Apa kau tidak mendengarkan penjelasanku dengan baik tadi?" Tanya Bayu berusaha mengingatkan Dea.


"Aku bahkan tidak mendengar penjelasanmu yang satu ini," tutur Megan sambil meraih gelas dihadapannya


"Jadi dia masih suka berkelahi seperti dulu ya..." Tutur Delia kembali menyantap makanan dihadapannya.


'Jadi dia benar-benar bisa berkelahi? Ku kira ajakan berkelahi waktu itu hanya sebuah candaan...' Batin Akira mengingat kejadian saat dia meminta izin untuk menjadikan Dea sebagai kekasih bohongannya.


"Dia sampai menendang preman itu dengan keras loh-" Jelas Kiara terhenti saat mendengar Dea terbatuk akibat tersendak makanan didalam mulutnya.


"Pelan-pelan bodoh!" Ucap Megan sambil mengusap punggung gadis itu dengan lembut.


"Apa kau bilang? Dia menendang preman itu?" Tanya Dea setelah meneguk habis air didalam gelasnya.


"Iya." Jawab Kiara sambil menganggukan kepalanya.


"Caranya menghindari serangan mereka juga membuatku kagum, ya meski aku datang terlambat." Lanjut Bayu memuji kemampuan Kinan.


"Aku selesai!" Ucap Dea segera bangkit dari tempat duduknya.


Gadis itu langsung membawa handuk kecil yang tersimpan didalam lemari gantung, lalu menuangkan air hangat kedalam mangkuk berukuran sedang ditangannya.


Tanpa banyak bicara dia segera meninggalkan dapur membuat semua orang melempar pandangan satu sama lain.


***


Tampak sosok Kinan yang sedang duduk disofa ruang tengah sambil bermain game diheandphonenya. Disisi lain Fino juga sedang memainkan heandphonenya.


"Angkat kakimu!" Ucap Dea mengejutkan Fino dan Kinan.


"Cepat angkat!" Lanjut Dea sambil meletakan mangkuk dan handuk ditangannya keatas meja.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kinan saat kaki kanannya diangkat paksa keatas meja.


'A-aw ini...' Batinnya saat merasakan linu dilututnya.


"Sakit kan? Makanya jangan bertindak bodoh! Sudah tau kakimu ini-" Oceh Dea mulai mengomeli Kinan.


"No-nona..." Tutur Fino berusaha menenangkan Dea, tapi tak berhasil. Bahkan matanya membelalak terkejut saat mendapati bekas jahitan di kaki Kinan ketika Dea menarik celana legging Kinan keatas pahanya.


"Tapi aku sudah bisa berlari, soal berkelahi juga harusnya sudah tak masalah dong." Jelas Kinan membela dirinya.


"Meski kakak bisa berlari lagi, itu juga tidak bisa seenaknya. Harusnya dokter sudah memberitaumu soal batas waktu saat kau berlari kan? Dan lagi soal menendang para preman itu, pasti kakak menggunakan tenaga penuh kan?" Oceh Dea sambil memeras handuk kecil ditangannya lalu melipatnya dan menyimpannya diatas lutut Kinan.


"Obatmu disimpan dimana?" Lanjutnya bertanya.


"Di kamar, dibawah laci meja kerjaku..." Jawab Kinan masih fokus pada layar heandphonenya.


Megan yang baru selesai makan pun kembali keruang tengah bersama dengan Bayu dan Kiara, sedangkan Akira sedang membersihkan semua piring kotor bersama dengan Delia.


"Jadi kau sepupunya Kinan dan Dea ya..." Tutur Akira memecahkan keheningan di dalam dapur.


"Ya begitulah, sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. Setelah lulus sekolah, aku langsung pergi keluar negri untuk melanjutkan pendidikanku. Tapi tak ku sangka kalau rumah ini masih sama seperti dulu, dan lagi pak.Akira menyewa rumah utama Kinan." Jelasnya sambil mengeringkan piring ditangannya.


"Sepertinya hubungan kalian kurang baik ya," guman Akira.


"Begitulah, tapi aku harap suatu hari nanti kami bisa kembali seperti dulu lagi. Lagipula Kinan dan Dea itu, mereka orang yang menyenangkan..." Jelas Delia menunjukan senyuman terbaiknya.


Di tengah-tengah perbincangan mereka, suara keributan terdengar dari ruang tengah. Dengan cepat Akira dan Delia segera pergi keruang tengah, mengusaikan pekerjaan mencuci piringnya.


"Ada apa?" Tanya Akira terhenti saat melihat Dea mengomeli Kinan, Fino dan Megan juga tampak seperti orang bodoh yang tak bisa menenangkan gadis berambut hitam itu. Sedangkan Kiara, wanita itu baru saja pergi kedapur untuk mengambil sesuatu.


"Ada apa ini De?" Tanya Delia tak didengarkan.


"Aku sudah memanggil dokter keluargaku," tutur Bayu yang baru kembali ke ruang tengah.


"Dokter?" Tanya Akira.


"Aku tau, berhenti mengomeliku!" Teriak Kinan berusaha menghentikan ocehan adiknya itu, "Sudah ku bilang tidak perlu memanggil dokter, belikan saja obatnya diapotik" Lanjutnya.


"Kakimu harus diperiksa bodoh!" Ucap Dea merasa gemas dan langsung mencubit pipi Kinan tanpa ampun.


Kiara yang hendak memberikan air minum untuk Kinan pun segera dihalangi oleh Akira.


"Apa yang terjadi?" Tanya pria itu menatap serius mata Kiara.


'Dia benar-benar mengkhawatirkan Kinan ya... tatapannya juga berbeda dari biasanya.' Batin Kiara merasa sedih.


"Kakinya-" jawab Kiara terhenti saat mendengar teriakan Kinan.


Rupanya Dea bersikap jahil dengan menepuk lutut wanita itu saat mengambil handuk kecil di atas lututnya.


"Kalau kau bersikap bodoh lagi, aku sendiri yang akan mematahkan kakimu!" Tutur Dea penuh penekanan sambil meremas handuk ditangannya.


"Luka jahit?" Gumam Akira melihat bekas jahitan dikaki Kinan.


Delia yang diam-diam memperhatikan Akira pun tiba-tiba meremas kedua tangannya dengan gemas, lalu pandangannya beralih pada sosok Kinan yang masih bertengkar dengan Dea.


"Sebaiknya aku pergi dulu, kita lanjutkan pembicaraannya besok saja." Tutur Delia menyadarkan Akira.


"A-ah ya, kita bahas bersama saat dikantor saja," ucap Akira menyetujui ucapan Delia, "Fino antar Delia pulang." Lanjutnya membuat Fino bergegas.


xxx