
Setelah selesai makan malam, Dea dan Megan kembali keruang tengah tanpa banyak bicara. Sedangkan Kinan, dia sibuk mencuci piring dibantu oleh Akira.
Karina yang melihat pemandangan itu tak bisa tinggal diam, dia langsung mengambil heandphonenya dan mengambil foto mereka secara diam-diam.
Akira dan Kinan bahkan tidak menyadari kehadiran Karina yang sedang asik memperhatikan pertengkaran mereka.
"Jadi ingin kembali muda ya..." Guman Karina sambil senyam-senyum memperhatikan layar heandphone ditangannya, lalu mulai mengambil gambar Akira yang mulai nempel-nempel pada Kinan.
"Menjauh dariku !" Bentak Kinan tak diperdulikan oleh Akira.
"He ? Kenapa ? Bukankah kau merasa senang ? Apa jantungmu berdegup dengan cepat sekarang ?" Goda Akira dengan ekspresi datarnya.
"Kenapa jantungku harus berdegup cepat ?" Guman Kinan menahan kesal dengan kelakuan Akira yang mulai menyenggol tangan kanannya.
"Cepat keringkan piringnya..." Lanjutnya berusaha menyadarkan Akira, tapi pria itu malah memperhatikan Kinan memikirkan sesuatu yang akan membuat wanita itu merasa jatuh cinta padanya.
'Apa yang dia pikirkan ?' Batin Kinan segera menyelesaikan pekerjaannya.
"Haa... kalian benar-benar membuatku bernostalgia ya" Ucap Karina mulai angkat bicara membuat Kinan dan Akira terkejut.
"Aku jadi ingin segera menikahkan kalian saja" Lanjutnya sambil tersenyum lebar membuat mereka berdua tersipu.
"Me-menikah ?" Gumam Kinan merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Karina.
"Ya nikahkan kami saja secepatnya" Ucap Akira membuat Kinan dan Karina terkejut.
"Sembarangan !" Ucap Kinan sambil menepuk bahu Akira dengan kesalnya.
"Ibu tidak salah dengar kan ? Kalau kalian mau ibu bisa atur semuanya" Tutur Karina membuat Kinan segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ja-jangan terburu-buru tante, aku..." Tutur Kinan segera dihentikan oleh senyuman lebar Karina.
"Tenang saja, tante cuma bercanda ko. Biar bagaimanapun kalian harus saling mengenal satu sama lain dulu-" Jelas Karina segera dipotong oleh Akira.
"Perkenalan bisa dilakukan setelah menikah juga kan bu ?" Tanya Akira sambil melirik kearah Kinan dan memberikan senyuman angkuhnya, membuat wanita itu merasa kesal.
'Ni orang mau ngajak berantem ya ?' Batin Kinan menahan rasa kesalnya.
"Wah wah putra ibu sudah ngebet pengen nikah ya..." Goda Karina sambil tersenyum membuat Akira tersipu.
'Se-seriusan dia bisa berekspresi seperti itu ?' Batin Kinan merasa terkejut saat melihat semburat merah diwajah Akira.
***
"Apa loe liat-liat ?" Tanya Dea merasa risih saat ditatap diam-diam oleh Megan.
"Si-siapa yang liatin loe ?" Jawab Megan kembali fokus pada konsol game ditangannya.
Seperti biasanya dia selalu menyempatkan dirinya untuk bermain game setelah selesai makan malam. Sedangkan Dea, gadis itu selalu menyempatkan dirinya untuk membaca novel sebelum kembali belajar.
"Jelas-jelas mata loe liatin gue, pake ngelak lagi..." Tutur Dea kembali fokus pada buku ditangannya.
"Harus banget gue liatin loe ?" Tanya Megan tak mau mengakui ucapan Dea, tapi sepertinya gadis itu sudah tenggelam dalam imajinasinya sendiri. Membaca novel ditangannya dengan serius, dan sesekali mengembangkan senyumannya. Entah novel romantis apa yang sedang dia baca sekarang. Tapi ekspresi yang dikeluarkannya benar-benar membuat Megan penasaran.
'Jarinya ganggu banget !' Batin Megan mulai kesal, 'Tunggu, kenapa aku jadi penasaran dengan apa yang dibacanya ?' Lanjutnya sambil memalingkan wajahnya kelayar komputer dihadapannya dan kembali fokus bermain game.
"De ?" Ucap Megan tiba-tiba, membuat gadis itu melirik kearahnya yang masih sibuk dengan konsol game ditangannya.
"Gue minta maaf soal kejadian malam itu-" Lanjutnya terhenti saat mendengar langkah kaki Dea yang mulai menjauhi tempatnya. Ya, gadis itu langsung bangkit saat mendengar ucapan Megan dan mulai melangkah menuju anak tangga.
"Oii gue lagi ngomong, dengerin dulu napa !" Teriak Megan merasa kesal dengan reaksi Dea dan segera melihat kepergian gadis itu yang mulai melangkahkan kakinya menyusuri anak tangga menuju kamarnya.
"Cih" Ucap Dea berdecih membuat Megan merasa semakin kesal dengan sikap aneh Dea.
"Woii !!" Ucap Megan memasang ekspresi kesalnya membuat Dea menghentikan langkahnya dan segera melihat kearah pria itu, membalas tatapan Megan dengan tajamnya.
"Gue masih gak terima dengan kelakuan loe yang rebut tempe gue tadi, gak usah banyak ngomong dulu sama gue !" Jelas Dea kembali melangkahkan kakakinya menyusuri anak tangga menuju kamarnya.
"Ha ? Haaa..." Ucap Megan merasa terkejut dengan ucapan gadis itu, "Ja-jadi gara-gara itu dia bersikap dingin seperti itu ? cuma karena makanannya gue rebut ?" Lanjutnya merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
***
Waktupun berlalu dengan cepat, malampun berganti pagi, telihat sosok Kinan yang sedang memasak sarapan pagi dengan wajah kantuknya. Sepertinya dia bergadang lagi.
"Kak... tolong buatkan bekal untuk ku, hari ini aku mau belajar kelompok dirumah Indri bersama Fani" Tutur Dea berdiri diambang pintu dapur dan kembali berlari kearah kamarnya.
"Kenapa dia sibuk sekali ?" Gumam Kinan yang memperhatikan kepergian adiknya.
Setelah mendengar permintaan adiknya, Kinan pun mempersiapkan bekal untuk Dea dengan wajah berseri-serinya. Mengingat kemarin pagi Dea begitu kesal padanya tapi sekarang, sepertinya perasaan gadis itu mulai membaik.
Sepuluh menit kemudian Dea kembali kedapur dengan terburu-buru disusul oleh kedatangan Megan dan Akira yang mengekori langkah Dea menuju dapur.
"Sudah siap ?" Tanya Dea membuat Kinan melirik kearahnya.
"Di atas meja makan, pulangnya jangan terlalu malam ya" Jawab Kinan sambil mematikan kompor gasnya.
"Ya, kalau begitu aku pergi dulu" Ucapnya sambil bergegas.
"Kenapa dia sangat terburu-buru ?" Gumam Megan sambil duduk dikursinya.
"Hari ini nasi goreng lagi ?" Tanya Akira membuat Kinan menghela nafas lelah dan berjalan kearah meja makan untuk ikut serta dalam sarapan pagi mereka.
"Memangnya makanan apa yang harus ku masak pagi-pagi begini ?" Tanya Kinan sambil meraih gelas berisi air dihadapannya.
"Apa saja selain nasi goreng, tiga hari ini kau terus memasak nasi goreng. Aku mulai bosan memakannya" Jelas Akira membuat wanita itu merasa kesal.
"Sudahlah yang penting rasanya masih enak seperti biasanya" Tutur Megan berusaha menengahi mereka berdua dan kembali menikmati sarapan paginya.
"Rasanya emang enak, tapi kalau setiap hari memakan makanan yang sama, rasa enaknya juga perlahan memudar" Oceh Akira tak mau mengalah.
"Dengar ya, aku sendiri mulai malas memasak makanan untuk kalian. kalau kalian tidak suka, maka berhenti datang kesini dan masak sendiri..." Tutur Kinan berusaha mengatakannya setenang mungkin, "Mengurus Dea saja sudah menbuatku kerepotan, kenapa juga aku harus mengurus mereka juga ?" Lanjutnya bergumam sambil memijat kepalanya yang mulai berdenyut.
"Sepertinya kau bergadang lagi ya..." Gumam Akira yang memperhatikan wajah pucat Kinan.
xxx