Dea & Kinan

Dea & Kinan
28. Mabuk Darat



Hari yang dinantikan Dea dan Megan pun tiba. Mereka bersiap-siap untuk pergi ke taman hiburan dengan perasaan gembira. Dea juga sampai mengajak Fani dan Rafa untuk ikut bersenang-senang dengannya.


Sedangkan Kinan, mendadak dia tidak ingin pergi dan membuat Dea merasa kesal padanya. Lalu menggeretnya keluar dari rumah sambil mengomelinya yang mudah sekali berubah pikiran.


"Ayolah kak Kinan, kita akan menaiki beberapa wahana yang memicu adrenalin. Aku yakin kau akan menyukainya, jadi mari kita bersemangat." Tutur Megan benar-benar bersemangat.


"Aku tidak ingin pergi." Gumam Kinan yang masih di pegangi oleh Dea.


Wanita berusia 21 tahun itu benar-benar tidak niat pergi. Lihat saja pakaian yang dikenakannya, Dia mengenakan celana legging selutut dengan celana olahraga sepaha dan kaos putih yang tertutupi jaket berwarna biru muda setara dengan warna celana yang di kenakannya.



Sedangkan Dea, dia memakai rok dan baju berwarna hitam dengan pita di bagian kerahnya, rambutnya sengaja di ikat satu kebawah. Gadis itu juga mengenakan sepatu berwarna merah.



"Pagi kak Kinan." Sapa Fani yang memasuki halaman rumah Dea sambil tersenyum lebar.


"Fani?" Tanya Kinan merasa bingung dengan kehadirannya.


"Loe udah datang, dimana pacar loe?" Tanya Dea masih setia memegangi kakaknya dan beralih memeluknya dari belakang membuat Kinan sesak.


"Dia baru berangkat, paling bentaran lagi sampe. Rumahnya juga gak jauh dari sini." Jawab Dea sambil memperhatikan kedua bersaudara itu.


"Ngaret seperti biasanya ya ...." Gumam Dea.


"Ngomong-ngomong De, seriusan dia mau mengenakan pakaian seperti itu?" Tanya Fani kepada Dea sambil memperhatikan pakaian yang di kenakan oleh Kinan.


"Sebenarnya mendadak dia tidak ingin pergi. Padahal kemarin bilangnya mau pergi, meski aku memintanya untuk mengganti pakaiannya, dia terus menolaknya dan bilang dia tidak jadi ikut. Benar-benar labil." Jelas Dea sambil menghela nafas berat saat mengingat kejadian itu.


"Lepaskan aku, aku ingin pergi menemui pacarku." Teriak Kinan bersamaan dengan Akira yang baru keluar dari rumahnya dan hendak menguncinya.


"Pacar?" Ucap semua orang bersamaan kecuali Dea.


"Pacarku, aku tidak bisa meninggalkanya sendirian di rumah." Rengek Kinan sambil meronta, berusaha melepaskan dirinya dari Dea.


"Berisik! Dan jangan panggil komputermu dengan sebutan aneh. Dasar jomblo!" Bentak Dea benar-benar menusuk hati Kinan, dan Fani bersama yang lainnya malah tersenyum aneh saat mendengar ucapan Dea.


"Sudah kumpul semua?" Tanya Akira ikut bergabung bersama mereka.


"Satu orang lagi." Jawab Megan.


"Oh iya ibuku menitipkan ini. Saat aku bilang akan pergi bersama kalian, ibu jadi bersemangat dan membuatkan makanan ini. Apalagi saat mendengar kak.Kinan ikut pergi bersamaku, ibu benar-benar kegirangan." Tutur Fani memberikan tas berisi makanan kepada Dea sambil tersenyum hangat.


"Kenapa ibumu sampai kegirangan?" Gumam Megan bertanya-tanya, membuat Fani melirik kearahnya karena gumamannya cukup keras sampai terdengar ketelinga Fani.


"Ibu sudah menganggap kak.Kinan dan Dea sebagai putrinya sendiri. Apalagi semenjak orang tua mereka pulang kampung untuk mengurusi pertanian mereka." Jelas Fani membuat mulut Megan melingkar sempurna sambil mengelurkan suara 'Oh...'


"Aku benar-benar tidak ingin pergi." Ucap Kinan yang sudah dilepaskan oleh Dea sejak tadi, dengan cepat Akira meraih tangan Kinan saat dia lolos dari pengawasan Dea dan hendak masuk kembali ke dalam rumahnya yang sudah dikunci oleh Dea.


Kinan yang tersentak dengan tindakan Akira langsung membalikan badannya menghadap ke arah pria itu sambil menatapnya kesal.


"Jangan mengingkari janjimu!" Ucap Akira dengan tatapan seriusnya membuat Kinan mematung dan beralih menatap Dea yang sempat terkejut dan memasang wajah sedihnya.


Dengan cepat Kinan menepis tangan Akira dan memasukannya ke dalam saku jaketnya dan melirik ke sembarang arah mencari kata-kata untuk membalas ucapan Akira, namun tak ada kalimat yang terlintas di kepalanya.


Sampai akhirnya Rafa datang sambil memarkirkan motornya dan cengengesan kepada Fani karena sudah datang terlambat.


"Kebiasaan deh, telat mulu." Ucap Fani memasang wajah kesalnya.


"Tau loe, ngaret mulu." Timpal Dea yang sudah mengalihkan perhatiannya dari Kinan, sedangkan Akira masih kebingungan melihan tingkah Kinan yang seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Kalau begitu sebaiknya kita berangkat sekarang." Ucap Megan begitu bersemangat.


"Ya." Ucap Dea dan Fani bersamaan tak kalah semangatnya.


"Loe duduk di depan aja sana." Ucap Megan mendorong Dea ke pintu depan mobil.


"Ha?" Ucap Dea yang merasa terkejut sekaligus bingung dengan tingkah pria itu, 'Yang benar saja? Aku duduk di samping kak.Akira gitu?' Lanjutnya dalam hati dengan perasaan campur aduk.


"Kalau begitu aku duduk di belakang bersama Rafa, kak.Kinan dan kak.Megan duduk di barisan tengah." Tutur Fani sambil masuk ke dalam mobil Akira di ikuti oleh Rafa dan Kinan, lalu berakhir dengan Megan yang sudah menutup pintu mobilnya.


"Oii gak naik loe?" Tanya Megan kepada Dea yang masih mematung diluar mobil, dengan cepat gadis itu masuk ke dalam mobil dan segera mengenakan sabuk pengamannya.


"Kak Kinan ayo kita main game lagi, aku baru saja download game baru yang di rekomendasikan kakak tempo lalu." Tutur Megan saat Akira baru menancap mobilnya.


"Ya." Jawab Kinan singkat sambil mengeluarkan heandphone di dalam saku jaketnya, dan mulai membuka aplikasi game yang Megan maksud.


Megan yang melihat ekspresi tak bersemangat Kinan membuatnya bertanya-tanya. Baru pertama kalinya dia melihat Kinan seperti itu, Dea yang menengok kakaknya pun ikut kebingungan dan merasa bersalah karena memaksanya untuk ikut. Meskipun awalnya Kinan yang mau pergi sendiri.


Akira hanya bisa melihat wajah Kinan dari pantulan kaca spion mobilnya dan kembali fokus pada kemudinya. Sedangkan Rafa dan Fani, mereka sibuk sendiri di belakang. Entah game apa yang mereka mainkan sampai cekikikan seperti itu.


10 menit kemudian...


"Kak Kinan?" Tanya Megan saat melihat ekspresi Kinan yang semakin aneh membuat Fani, Rafa dan Dea ikut memperhatikan wanita itu.


"Ja–jangan bilang." Ucap Dea merasa terkejut saat melihat ekspresi kakaknya.


"Aku baik-baik saja." Jelas Kinan sambil menutup mulutnya berusaha menahan makanan yang hampir keluar dari mulutnya, yah bisa dibilang Kinan mabuk darat sekarang.


"He?" Gumam Fani ikut terkejut, "obat obat ambilkan obat di tas ku. Cepat ambil, sama airnya juga." Tutur Fani kepada Rafa dengan begitu paniknya.


"Kantong plastik kantong plastik ...." Ucap Dea ikut panik sambil mengobrak ngabrik isi tasnya, sedangkan Akira hanya bisa fokus mengemudi.


"Aku gak bawa." Jawab Megan ketularan panik.


"Aku juga gak bawa, gimana ini?" Lanjut Fani tak kalah paniknya.


"A–aku baik-baik sa–" Ucap Kinan terhenti, "He–hentikan mobilnya, hentikan seka–" Lanjutnya terhenti dan kembali menutup mulutnya saat merasa isi perutnya akan benar-benar keluar dari mulutnya.


Akira yang sibuk mengemudi pun terpaksa menepikan mobilnya dan keluar dari dalam mobilnya, lalu membukakan pintu mobil di samping Kinan dan membantunya keluar dari dalam mobil dan menuntunnya kepinggir jalan.


Kinan pun memuntahkan semuanya selagi Akira mengusap punggungnya dengan hati-hati.


"Ku kira kau tidak bisa mabuk darat." Ucap Dea yang ikut turun dan menghampiri mereka berdua di pinggir jalan.


"Jangan ditahan, muntahkan saja semuanya." Tutur Akira membuat Kinan kesal.


Setelah puas memuntahkan semuanya, Kinan pun kembali ke dalam mobil dan menerima tisu beserta obat dan air minum yang di berikan oleh Fani.


"Kau membuatku takut saja." Ucap Megan mengingat wajah aneh Kinan membuat mereka semua mentertawakan wanita itu.


"Kalau mau muntah lagi, bilang saja ya." Ejek Akira mulai mengemudikan kembali mobilnya membuat Kinan tambah kesal padanya.


"Tidak akan. Itu akan menjadi yang pertama dan terakhir untuk ku." Bentak Kinan setelah meminum obatnya.


"Ini pertama kalinya kak.Kinan mabuk darat ya." Tutur Fani sambil tersenyum.


"Wajar saja, dia kan sudah lama mengurung diri di rumah. Pergi ke pasar saja jalan kaki." Jelas Dea sambil tertawa.


"Tapi saat bersamaku, kami naik bus loh ...." Ucap Megan dengan wajah polosnya.


"Berisik!!" Teriak Kinan yang sudah mendapatkan rona merah di wajahnya, berusaha menahan malu karena harus muntah di hadapan Akira yang bahkan membantunya mengusap punggungnya.


"Hhaha.. dia malu tuh." Tawa Dea saat melihat kakaknya memakai tudung jaketnya membuat semua orang ikut tertawa bersamanya, sedangkan Akira hanya bisa melihatnya dari kaca spion dan tersenyum simpul memperhatikan Kinan barang sesaat sebelum fokus kembali pada kemudinya.


xxx