Dea & Kinan

Dea & Kinan
116. Pulang



Pagi hari di kediaman Kinan. Terlihat sosok Dea yang sudah duduk manis didepan meja makan yang penuh dengan masakan kesukaannya.


"Jadi ayah dan ibu akan tinggal disini?" Tanya Dea dengan mata berbinarnya.


"Sampai acara pernikahan kakakmu selesai." Jawab pak.Arya setelah menelan makanan di dalam mulutnya.


"Hee..." Gumam Dea kembali memasang wajah murungnya, dalam sekejap kebahagiaannya runtuh saat mengetahui kedua orang tuanya akan kembali ke kediamannya di rumah nenek dan kakeknya.


"Ayah dan ibu harus kembali kerumah nenek dan kakek, kamu sendiri tau kan kalau paman dan bibimu itu tinggal diluar kota. Mereka tak memiliki waktu untuk mengurus nenek dan kakek, selain itu ibu suka dengan suasana disana. Mengingatkan ibu pada kalian saat kalian masih kecil dulu." Jelas bu Hanum membuat gadis berambut pendek itu menghela napas pasrah setelah mengingat beberapa kejadian tak terduga secara kebetulan.


'Dari sekian banyak kejadian, kenapa aku harus mengingat kejadian saat itu?' Batinnya ketika mengingat soal dirinya yang menghajar beberapa anak nakal karena sudah mengganggu Delia.


"Ya tapi kan Dea juga disini sendirian." Lanjutnya bergumam sambil melahap kerupuk dihadapannya.


"Kalau begitu setelah lulus nanti ... bagaimana kalau kamu tinggal bersama ayah dan ibu di rumah nenek. Disana juga ada kampus yang bisa kamu masuki kan?" Saran sang ibu berusaha menghibur putri bungsunya.


"Yah kalau itu ... sebenarnya Dea berniat melanjutkan kuliah ditahun berikutnya. Soalnya aku udah membuat kontrak dengan tante Karina perihal pekerjaanku yang menjadi modelnya." Jelas Dea setelah mengingat ujian masuknya yang gagal.


"Kamu bekerja dengan Karina?" Tanya pak Arya setelah menyimpan cangkir minumnya keatas meja dihadapannya.


"Dea belum cerita ya? Hhehe..." Ucapnya merasa bersalah dan berusaha menutupinya dengan tawa garingnya.


"Cerita?" Gumam bu Hanum setelah menelan makanan didalam mulutnya.


Gadis itu pun mulai menceritakan soal masa depan yang dipilihnya, mengenai cita-citanya yang berubah haluan dan soal rencana jangka panjang yang akan dia pilih.


Belakangan ini Dea memang sedang memperdalam beberapa bahasa asing yang sedang dipelajarinya, dia berniat untuk melanjutkan kuliahnya di luar negri setelah kontraknya dengan Karina usai.


Siapa sangka gadis kecil yang dilindungi Kinan sejak kecil itu mulai bisa memilih jalannya sendiri untuk meraih impiannya.


Bahkan dia sudah mulai berani mengambil keputusan untuk menceritakan pilihannya pada kedua orang tuanya tanpa bantuan dari sang kakak yang sampai saat ini belum juga kembali dari pekerjaannya.


Dea yang dulu akan menggeret kakaknya untuk menemaninya berbicara dengan kedua orang tuanya. Dan jika orang tuanya tak menyetujui keputusannya atau salah paham karena penjelasannya, maka Dea akan meminta Kinan untuk membujuk orang tuanya atau menjelaskan ulang maksud dari perkataannya.


Tapi sekarang, tanpa bantuan Kinan pun dia bisa menjelaskannya dengan baik. Gadis ini benar-benar sudah tumbuh. Kira-kira bagaimana tanggapan Kinan jika dia mengetahui keberanian adiknya untuk menceritakan semua keputusannya pada orang tuanya?


"Kamu yakin dengan keputusanmu itu nak?" Suara bu Hanum membuat gadis itu tersenyum dengan tatapan penuh percaya dirinya.


"Kalau ayah ... ayah akan selalu mendukung keputusanmu. Ayah senang putri kecil ayah sudah berpikir sejauh ini untuk masa depannya." Tutur pak Arya membuat istrinya tersenyum lega saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut suaminya itu.


"Memang benar sih ... ternyata putri ibu yang satu ini juga sudah tumbuh ya." Tutur bu Hanum membalas senyuman Dea.


"Kalau ayah bilang begitu, maka ibu juga akan mendukungmu." Lanjutnya membuat perasaan Dea campur aduk antara haru dan bahagia.


"Kalau begitu Dea akan berusaha untuk menjadi putri yang bisa dibanggakan ayah dan ibu. Dea akan menjadi seorang dokter yang hebat." Tuturnya sambil tersenyum lebar setelah berhasil menahan air matanya yang hampir menetes karena tak kuasa menahan perasaan bahagianya.


"Padahal dulu kamu ingin menjadi pelari untuk menggantikan kakakmu, siapa sangka kamu memiliki cita-cita sebesar ini." Tutur bu Hanum menggoda putri bungsunya membuat gadis itu merasa malu saat mengingat hari itu. Dia benar-benar sudah bekerja keras untuk menyamai kemampuan kakaknya. Meski pada akhirnya dia berhenti karena perkataan kakaknya.


"Ayah juga ingat saat dia bilang mau menjadi seorang guru ... tapi siapa sangka dia malah merubah mimpinya menjadi seorang dokter." Lanjut pak Arya ikut menggoda putrinya.


"Duh ibu sama ayah ini kenapa kompakan banget sih?" Tutur Dea dengan rona merah diwajahnya membuat kedua orang tuanya tak kuasa menahan tawanya.


'Tapi yah ... aku tidak menyesal karena pernah memimpikan hal yang diimpikan oleh kakak. Aku juga sudah berjuang dengan keras sampai kakak mau melihatku dan mulai memperhatikanku sampai detik ini.' Lanjutnya dalam hati sambil tersenyum saat mengingat kejadian saat Kinan masuk kedalam kamarnya dan mengejek cara berlarinya yang payah.


***


Fino segera menepikan mobilnya di depan rumahku, membiarkanku turun dari dalam mobilnya.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang." Tuturku setelah turun dari dalam mobil dan sedikit membungkukan tubuhku untuk melihat wajah pria yang masih duduk didalam mobil sambil memegangi setir mobilnya.


"Bukan masalah nona, lagipula tuan yang meminta saya untuk mengantar nona pulang. Jadi tidak perlu berterima kasih seperti itu." Jelas pria berambut ikal itu sambil tersenyum ramah.


Ya, dia memang tidak ikut turun. Katanya dia hanya akan mengantarku sampai depan rumah karena dia harus menjemput tante Karina di bandara. Ku dengar dia akan sampai siang ini, akira memberitauku sebelum aku pergi dari sana.


"Tidak mau mampir dulu?" Tanyaku.


"Terima kasih atas tawarannya, tapi saya harus segera menjemput nyonya di bandara." Jawabnya sambil tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, aku tidak bisa memaksa. Emh... tolong sampaikan salamku pada tante Karina ya." Tuturku membalas senyumannya.


"Baik akan saya sampaikan, nyonya pasti senang mendengarnya. Kalau begitu saya pamit dulu." Ucapnya sebelum menutup kaca jendela mobil dihadapanku.


Fino pun pergi bersama mobilnya, meninggalkanku sendiri di halaman rumahku.


'Pada akhirnya tante Karina pulang lebih cepat ya.' Batinku seger berjalan menuju pintu rumah yang sudah menarik perhatianku sejak aku baru turun dari dalam mobil itu.


***


"Aku pulang." Teriak gadis berambut coklat itu sambil menutup pintu rumahnya dan segera melepaskan alas kakinya.


"Kakak sudah datang?" Teriak Dea sambil berlari menuruni anak tangga dengan kecepatan penuh.


Matanya benar-benar berbinar terlihat begitu bahagia saat melihat sosok yang dirindukannya telah kembali.


Tanpa pikir panjang gadis itu langsung terjun kedalam pelukan Kinan dan memeluk tubuh wanita itu seerat mungkin.


"De–dea, ini se–sak." Ucap Kinan tak didengarkan.


"Aku benar-benar merindukanmu kakak." Oceh Dea membuat kedua orang tuanya segera mendatangi gadis itu.


"Dea, lepaskan kakakmu nak. Dia kehabisan napas De ...." Suara bu Hanum menarik perhatian Kinan, dengan kekuatan penuh wanita itu pun menyingkirkan Dea dari tubuhnya.


"Ibu? Ayah juga ...." Gumam Kinan tak percaya dengan kehadiran kedua orang tuanya.


"Mereka akan tinggal disini sampai acara pernikahanmu selesai." Jelas Dea berusaha memeluk kakaknya lagi, namun dengan cepat Kinan menghindari adiknya dan membuat gadis itu hampir tersungkur karena tak bisa memeluk kakaknya.


"Benarkah?" Tanya Kinan segera mendapat anggukan dari kedua orang tuanya satu paket dengan senyuman hangat mereka.


Disisi lain, Akira tampak tak bersemangat setelah melihat calon istrinya pergi dengan Fino pagi ini.


Pria itu tak henti-hentinya menghela napas lelah dan mengeluh ingin segera kembali ke rumahnya yang sekarang. Rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Kinan, wajahnya benar-benar terlihat lesu sekarang.


xxx