
Akira sudah mengirimkan sejumlah uang pada rekening Bayu. Ibu juga sedang berbicara empat mata dengan paman Danu di dalam mobilnya. Sedangkan aku, aku harus terjebak ditengah-tengah Akira dan wanita cantik yang terus tersenyum padaku.
"Kinan kan? Ternyata kau memang putrinya bu.Hanum ya, wajahmu mirip sekali dengan ayahmu tapi warna rambutmu itu mirip dengan rambut ibumu. Sekilas kau juga mirip dengan bu Hanum." Tutur wanita itu membuatku tersipu.
'Ya lagipula aku kan memang putri kandungnya. Sudah pasti mirip dengan orang tuaku kan.' Batinku.
"Perkenalkan Nama tante adalah Karina, ibunya Akira. Senang bisa bertemu denganmu." Lanjutnya memperkenalkan diri sambil tersenyum lebar.
"Ah salam kenal tante." Ucapku membalas senyumannya setelah sempat terpaku memperhatikan kecantikan wanita dihadapanku, 'Jadi dia ini ibunya Akira? Cantik sekali ... tidak terlihat seperti seorang ibu, kira-kira berapa ya usianya?' Lanjutku dalam hati.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu." Ucap Ibu yang baru kembali.
"Ibu? Bagaimana dengan paman?" Tanyaku penasaran.
"Ibu sudah membicarakannya, kamu tenang saja." Jawab Ibu sambil tersenyum.
Kemudian Ibu mulai asik berbincang dengan ibunya Akira. Melupakan keberadaanku dan Akira.
"Untuk yang tadi, terima kasih ...." Tuturku sambil meraih cangkir teh dihadapanku.
"Sama-sama. Tapi yang tadi itu tidak gratis." Jelas Akira membuatku tersentak dan segera menengok ke arahnya.
"Ya, aku akan mengganti uangmu secepatnya. Tenang saja." Ucapku merasa kesal pada wajah angkuh yang ditunjukannya.
"Aku tidak membutuhkan uang." Ucapnya membuatku bingung, "tadi kau berteriak mengaku-ngaku sebagai tunanganku kan? Dihadapan para pengunjung dan pelayan. Mereka juga pasti menganggapnya serius karena aku mengiyakannya. Sebagian dari para pengunjung disini adalah orang-orang penting yang menjalin kerja sama dengan perusahaanku. Cepat atau lambat akan ada gosip heboh di kantor, para pelayan juga mulai membicarakannya ...." Lanjutnya menjelaskan setelah meneguk teh pada cangkir yang dipegangnya.
"Apa yang ingin kau katakan? Jangan berbelit-belit!" Ucapku mulai tak sabaran.
"Kau harus memenuhi peranmu sebagai tunanganku." Jelasnya membuatku tersentak, "tentu saja bohongan." Lanjutnya membuatku semakin jengkel.
"Padahal dulu kau menolak dengan keras permohonanku untuk menjadi pacar bohonganmu, meminjam adikmu juga tidak diperbolehkan. Tapi hari ini, kau mengaku-ngaku sebagai tunanganku. Tak bisa dipercaya ...." Lanjutnya kembali mengoceh membuatku semakin jengkel.
"Iya iya aku minta maaf, lagipula kejadian tadi itu benar-benar diluar dugaan. Siapa sangka aku bakal bertemu denganmu di tempat ini dan mengaku-ngaku sebagai tunanganmu. Anggap saja aku sedang berhutang, jadi aku akan membayarnya nanti." Tuturku dengan suara cukup keras membuat Ibuku dan ibunya Akira melirik kearahku.
"Benar-benar berisik." Bisik Akira mengejekku yang sudah merasakan panas diwajahku saking malunya.
"Putrimu ini lucu sekali ya, aku jadi menyukainya ...." Tutur tante Karina sambil tersenyum.
"Hhaha kau bisa saja." Lanjut ibu sambil tertawa dengan tangan kanan yang menutupi mulutnya.
***
Setelah makan bersama dengan ibu dan tante Karina. Kamipun berpisah di parkiran, ibu kembali kerumahnya yang berada di luar kota bersama dengan supir pribadinya. Sedangkan tante Karina, dia kembali ke kediamannya yang tak jauh dari restoran tempat kami berkumpul ini.
"Kau bilang akan membayar hutangmu kan?" Tanya Akira sambil memasang sabuk pengamannya saat kami baru masuk ke dalam mobilnya.
"Kalau begitu bayar hari ini juga." Lanjutnya membuatku terkejut.
"Apa maksudmu?" Tanyaku.
"Kita akan pergi ketempat Kiara, dan kau akan berpura-pura menjadi pacarku." Jawabnya mulai menancap gas.
"Ha?" Tanyaku benar-benar terkejut dengan ucapannya.
"Masih sempat jika aku mengebut." Lanjutnya setelah melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 06:30 Pm.
"Tu–tunggu ...." Ucapku tak didengarkan, 'Dia benar-benar sudah gila. Bagaimana bisa mengemudikan mobil seperti ini? Dan lagi kenapa dia sangat ingin menemui mantannya? Hanya ingin menunjukan kebahagiaannya bersama pacar barunya? Dia sudah bodoh ya?' Lanjutku menggerutu dalam hati.
"Kau pasti lebih pandai berakting dari Dea kan?" Tanyanya tiba-tiba, "jadi berperanlah sebaik mungkin." Lanjutnya sambil menunjukan senyuman angkuhnya membuatku merasa kesal.
"Kau benar-benar tau caranya membuatku kesal ya." Tuturku membalas senyuman angkuh itu dengan senyuman sinis dan tatapan tajamku. Hal sama yang pernah aku lakukan padanya saat dia mengancamku dihari itu, saat dia memintaku untuk menemaninya ngedate bersama temannya (double date), lalu saat aku menolaknya ... dia malah meminta izin untuk membawa Dea bersamanya.
Tak lama kemudian kami pun sampai disebuah gedung mewah.
"Sudah sampai." Ucap Akira melepaskan sabuk pengamannya.
Setelah turun dari dalam mobilnya, tanpa aba-aba pria itu langsung menggandeng tanganku. Membuatku kesal dengan tindakan lancangnya, ya aku juga melakukannya saat di restorannya. anggap saja kami impas.
'Sebenarnya dia memang anak orang kaya kan? Aku juga baru menyadarinya saat semua pelayan restoran itu bersikap begitu sopan dan penuh hormat pada tante Karina dan Akira.' Batinku mengingat beberapa kejadian di restoran mewah itu.
"Akira." Sapa seorang pria saat melihat kami memasuki gedung itu.
"Kau datang? Tidak bisa di percaya, aku benar-benar ...." Lanjut pria itu tampak kegirangan dan ucapannya langsung terhenti saat melihatku.
"Dia?" Tanyanya.
"Pacarku yang ku ceritakan waktu itu." Jawab Akira membuatku harus bersabar sebanyak mungkin.
"Benar-benar cantik, apa dia yang bersamamu di taman hiburan itu?" Tanyanya lagi.
"Tentu saja." Jawab Akira.
"Ko rasanya lebih pendek ya? Yang waktu itu kalau tidak salah, dia sepantaran denganmu kan?" Guman pria itu mulai curiga.
"Mungkin anda salah lihat. Lagipula ini pertama kalinya saya bertemu dengan tuan, perkenalkan nama saya Kinan." Tuturku memperkenalkan diri sambil memberikan senyuman terbaikku.
"Kinan? Bukankah yang waktu itu namanya Dea?" Tanyanya lagi membuatku kesal karena harus mengingat Akira yang melibatkan adikku dalam permainannya.
"He? Dea?" Tanyaku saat memiliki pikiran jahil untuk menggoda Akira, 'Akan ku tunjukan seberapa pandainya aku berakting, tidak bukan itu. tapi sifat asliku yang sudah lama ku sembunyikan ....' Lanjutku dalam hati.
"Mungkin saat itu dia salah menyebutkan nama. Dea itu nama adik ku, dan lagi kami sedang membicarakannya saat itu ...." Jelasku kembali memasang senyumanku, senyuman yang membuat wajahku pegal.
"Dan lagi sayang, kau yakin tidak salah menyebutkan status kita?" Lanjutku sambil melihat kearah Akira yang memasang ekspresi anehnya, mungkin karena baru saja aku memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.
"Salah?" Tanya Akira mengernyitkan dahinya bingung.
"Bukankah aku ini tunanganmu? Kau tidak lupa kan?" Jawabku sambil mendekatkan tubuhku padanya dengan tangan yang masih menggandengnya.
"He? Tu–tunangan? Kenapa tidak memberitauku?" Tanya pria yang sejak tadi berdiri dihadapanku dan Akira.
"I–itu ... Dev ...." Ucap Akira berusaha menjelaskannya, "kau!" Lanjutnya menatapku dengan kesal.
***
"Wanita ini benar-benar ...." Gumam Akira memperhatikan wajah Kinan yang tersenyum manis kearahnya sambil menggelayuti tangan kirinya dengan manja.
"Ya–ya Kinan adalah tunanganku, kami tidak membuat pesta besar untuk merayakannya. Hanya pihak keluarga saja yang menghadiri pertunangan kami." Jelas Akira merasa geli saat menjelaskan situasi yang tidak dialaminya. Sedangkan Kinan hanya bisa memasang ekspresi kemenangannya, tanpa merasa malu sedikitpun.
"He... sayang banget, padahal aku juga ingin menghadiri acara pertunanganmu." Tutur pria itu.
"Sayang? Apa kita tidak akan masuk? Kau kan ingin bertemu dengan mantanmu dan memberikan ucapan selamat datang padanya. Dia baru pulang dari paris kan? Ku harap dia senang melihatku." Tutur Kinan membuat keringat dingin membasahi kening Akira.
'Apa yang dia rencanakan? Awas saja kalau sampai mengacau. Padahal niatnya cuma memperkenalkannya sebagai pacarku saja, tapi dia malah mengaku-ngaku sebagai tunanganku. Apa ini akan baik-baik saja?' Batin Akira merasa cemas.
"Benar juga. Sebaiknya kita masuk, Kiara pasti akan senang melihat kalian datang. Ayo ayo kita masuk." Tutur Dev memimpin perjalanan Kinan dan Akira menuju ruang penyambutan Kiara di lantai dasar.
"Uwaah... hiasannya benar-benar cantik." Gumam Kinan saat melihat seluruh ruangan yang dihias sedemikian rupa dengan berbagai bunga, balon, pita dan lampu terang. Matanya benar-benar berbinar menggemaskan seperti anak kecil.
Akira yang melihat tingkah Kinan pun hanya bisa menghela nafas lelah karena Dev sahabatnya, dia baru saja pergi untuk menemui kekasihnya yang berdiri di dekat Kiara.
"Hey." Ucap Kinan menyadarkan Akira, "dia berjalan kesini loh, Aku tidak akan membuatmu terlihat bodoh dihadapannya. Jadi jawab semua pertanyaannya dengan benar. Berbicalah setegas mungkin, buat dia percaya kalau aku adalah tunanganmu." Lanjutnya membuat pria itu tersentak.
"Kau benar-benar membuat situasi yang sulit untuk ku ya ...." Gumam Akira sambil meraih tangan kanan Kinan dan kembali di gandeng olehnya.
"Sejak awal kan aku menganggapmu sebagai tunanganku saat di restoran. Jika gosip disana dan disini saling berlawanan, kau sendiri yang akan kerepotan. Jadi ikuti saja alur yang ku buat sekarang, lagipula ini semua salahmu karena ingin pergi menemuinya. Jangan buat ekspresi bodoh dihadapannya." Jelas Kinan panjang lebar membuat Akira tak berkutik.
Tak lama kemudian Kiara, Dev dan kekasihnya sudah berdiri di hadapan mereka berdua. Dengan cepat Kinan memberikan senyuman terbaiknya.
"Aku senang kau datang." Ucap Kiara memberikan senyuman pada Akira dan mengabaikan Kinan yang berdiri di sampingnya.
"Uwaah benar-benar menggemaskan. Dia beneran tunanganmu kan Akira?" Tanya Wulan kekasihnya Dev begitu antusias.
"Iya, namanya Kinan." Jawab Akira sambil melirik ke arah Kinan yang masih memasang ekspresi terbaiknya.
"Loh bukannya saat di taman hiburan kau bilang namanya Dea ya?" Tanya Kiara yang merasa curiga.
"Kalian pasti salah dengar, namaku Kinan." Jelas wanita itu kembali tersenyum.
"Tapi yang waktu itu lebih tinggi kan? Dan lagi ...." Tutur Kiara semakin ragu.
"Baiklah akan ku jelaskan, saat itu aku sedang kesal padanya dan mengaku-ngaku sebagai pacarnya Dea. Dea adalah adiknya Kinan." Jelas Akira terpotong.
"Adiknya? Kesal? Kenapa kau kesal pada tunanganmu?" Tanya Wulan.
'Mereka malah mengintrogasinya.' Batin Kinan mulai habis kesabaran.
"Aku kesal karena dia jarang memperhatikanku, dan aku ingin membuatnya cemburu dengan memperkenalkan adiknya sebagai pacarku pada kalian. Hhaha... aku benar-benar bodoh ya." Lanjutnya menjelaskan.
"Padahal aku sudah melarangnya untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya, jadi malu." Tutur Kinan memasang ekspresi tersipunya.
"Kyaaa... dia benar-benar menggemaskan." Teriak Wulan tak kuasa menahan rasa gemasnya dan langsung meraih kedua tangan Kinan, "ah iya saat itu kalau tidak salah ... berarti kau berhasil membuatnya cemburu ya. Wah dia benar-benar mencintaimu ya." Lanjutnya saat mengingat seorang wanita berambut coklat dengan jaket biru muda yang tiba-tiba menarik seorang gadis disamping Akira, lalu menatap kesal pada pria itu.
"Dia memang kekanak-kanakan kan? Tapi aku menyukainya." Tutur Kinan sambil mencubit pipi Akira dengan gemas, setelah melepaskan tangannya dari Wulan, dan Akira berhasil dibuat tersipu oleh tindakannya.
Untuk pertama kalinya ada wanita yang bersikap tidak sopan sepertinya. Padahal sejak berpacaran dengan Kiara, dia tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu. Semua yang dia inginnya bisa di dapat dengan mudah hanya dengan memberikan barang-barang mewah pada Kiara.
"Jadi sayang?" Tanya Kinan menatap mata Akira, "Mantanmu itu yang mana?" Lanjutnya membuat Kiara tersentak.
"Ha–hallo namaku Kiara, mantannya Akira." Sapa Kiara sambil memaksakan diri untuk tersenyum, dan hasilnya malah terlihat kaku.
"Ah jadi kau, senang bertemu denganmu. Bagaimana kehidupanmu di paris? Apa menyenangkan?" Tutur Kinan sambil menjabat tangan Kiara dan tersenyum manis padanya. membuat perbedaan besar antara Kiara dan dirinya yang terlihat lebih bersinar sebagai seorang tamu undangan, benar-benar terbalik.
'Benar-benar topeng yang sempurna.' Batin Akira terus memperhatikan sikap Kinan yang berlawanan dari biasanya. Terlihat sempurna dan sama persis dengan apa yang diceritakan oleh Dea padanya.
xxx