Dea & Kinan

Dea & Kinan
90. 11 Februari



Pagi ini Fino kembali menjemputku untuk menemui tante Karina. Selama tiga hari terakhir ini aku memang sibuk membantu mempersiapkan semua persiapan untuk acara penting keluarga tante Karina. Karena beliau yang memintaku untuk membantu semua persiapannya, jadi mau tak mau aku mengiyakannya. Ya, karena merasa tak enak jika aku menolaknya. Lagipula tante Karina meminta bantuanku dengan cara yang tak bisa ku tolak, meski usianya hampir memasuki kepala empat, wajah cantiknya masih terlihat begitu muda dan dia masih pantas untuk memasang wajah memelasnya yang menggemaskan. Jadi bagaimana aku bisa menolaknya?


Hari ini rencananya aku akan pergi ke toko kue yang tante Karina katakan, toko yang nantinya akan ku urus. Bukan tanpa alasan aku dibawa kesana oleh tante Karina.


Dalam acara ulang tahun pernikahan yang jatuh pada hari kasih sayang dan bersamaan dengan hari kelahirannya Akira, tentu saja harus menghadirkan sebuah kue kan? Ya, aku diminta untuk mempersiapkan kue yang cukup besar dan cantik.


Aku bahkan belum pernah membuat kue berukuran besar, paling besar hanya kue berdiameter 25 cm. Dan sekarang aku diminta untuk membuat kue bertingkat yang cukup besar. Karena ulang tahun pernikahan tante Karina bertepatan dengan hari kasih sayang, maka harus identik dengan coklat kan?


'Hem... kira-kira aku harus menghabiskan berapa banyak waktu untuk membuat kue yang diinginkan oleh tante Karina ya?' Batinku terus bertanya-tanya sambil memperhatikan foto kue di heandphoneku, sebagai referensi.


"Ada apa?" Tanya tante Karina mengejurkanku.


"Tidak ada." Jawabku sambil tersenyum dan memasukan heandphoneku ke dalam saku celana jeansku.


"Kita sudah sampai, ayo turun." Ucapnya saat mobil yang kami tumpangi berhenti di depan parkiran toko kue tante Karina.


"I–iya ...." Balasku ikut membuka pintu mobil dan keluar dari dalam sana.


Sesampainya di dalam toko, tante Karina langsung memperkenalkanku pada beberapa pegawai disana. Dan mereka menyambutku dengan baik, entah kenapa itu bisa membuatku merasa baik juga. Jadi aku bisa meminta bantuan mereka tanpa ragu.


"Kalau kamu merasa kesulitan untuk membuat kue yang aku inginkan, kamu bisa menghubungiku. Nanti aku cari bentuk kue yang lebih sederhana." Tutur tante Karina sambil tersenyum lebar kearahku.


"Ti–dak perlu khawatir tante, aku akan berusaha sebaik mungkin supaya tidak mengecewakan tante." Jelasku sedikit tergugup.


'Uh padahal aku sudah sering bertemu dengan tante Karina, tapi kenapa masih kesulitan berkomunikasi dengannya? Dasar payah!' Batinku mulai mengoceh, memaki diriku sendiri.


"Baiklah kalau begitu aku pamit dulu ya, kalau mau pulang hubungi Fino saja. Biar nanti Fino menjemputmu dan mengantarmu pulang," jelasnya setelah melihat jam tangan yang melingkar ditangan kanannya.


"Emh ... atau kamu hubungi Akira saja, aku akan sangat senang jika melihat kalian semakin dekat." Lanjutnya kembali tersenyum lebar kearahku, membuatku merasa malu saat mendengar perkataannya.


Setelah berpamitan dengan semua pegawai, tante Karina pun pergi bersama Fino. Meninggalkanku di toko kue bersama para pegawai yang baru ku temui.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 12:05 Pm, semua siswa si sekolah berbondong-bondong pergi ke kantin saat mendengar bel istirahat berdering.


Dea bersama Fani pun ikut berlomba dengan siswa siswi lainnya. Mereka berebut tempat antrean dan tempat duduk, Fani yang mengantre dan Dea yang menjaga tempat duduk mereka.


Setelah bolak-balik membawa menu pesanannya dan menu pesanan Dea, gadis itu pun langsung duduk dihadapan Dea. Menghempaskan tubuhnya dengan helaan nafas lelahnya.


"Gila antreannya ...." Gumam Fani terlihat lesu.


"Lain kali gue yang jaga tempat, loe yang ngantre. Capek gue desak-desakan sama siswa lainnya." Tutur Fani masih mempertahankan suara kesalnya.


"Ya–ya nanti gue yang ngantre deh, udah ah makan basonya sana. Kalau enggak nanti gue embat loh." Jelas Dea berusaha menenangkan Fani.


Gadis itupun kembali menghela nafas lelahnya dan mulai menyantap baso dihadapannya.


"Tapi gue gak habis pikir sama cerita loe. Emang iya si Megan itu ngambil jurusan kedokteran?" Tutur Fani mengalihkan pembicaraan, membuat suasana hati Dea berubah.


"Gue juga gak nyangka sama tu anak. Masa iya sih dia ngambil jurusan kedokteran? Padahal waktu kak Akira sakit, dia keliatan sangat panik sampai mencariku dan kak Kinan untuk melihat kondisinya. Kalau dia calon dokter kan harusnya dia bisa menangani kakaknya sendiri." Jelas Dea dengan suaranya yang naik turun sambil mengingat perdebatannua dengan Megan pagi tadi.


"Dia juga keliatan lebih santai, gue pikir dia anak dari jurusan seni." Gumam Fani langsung mendapat anggukan setuju dari Dea.


"Tapi ya ... gue lebih terkejut sama loe. Kok bisa ya loe mau jadi seorang dokter?" Tanya Fani setelah menelan makanan di dalam mulutnya.


"Yah itu, datang tiba-tiba saja ...." Jawab Dea sambil memperhatikan baso di dalam mangkuknya, lalu dengan cepat dia menggelengkan kepalanya, "Gak gak gitu sih, sebenernya gue pernah ketemu sama anak kecil di rumah sakit waktu nganterin kakak gue cek up. Ibunya bilang anak itu mengalami kelainan jantung, entah kenapa tiba-tiba hati gue jadi tergerak dan simpati padanya. Setiap kali mengantar kakak ke rumah sakit, gue pasti sempetin jenguk anak itu dan nemenin dia main. Ternyata di sana juga banyak anak yang mengalami sakit serius, padahal mereka masih kecil. Tapi mereka sudah menanggung beban hidup seberat itu ...." Lanjutnya menjelaskan semua alasannya lalu membisu beberapa detik kemudian.


"Jadi karena itu loe pengen jadi seorang dokter." Gumam Fani membuat Dea menganggukan kepalanya lesu.


"Alasan yang gak masuk akal kan?" Tanya Dea sambil tersenyum hambar setelah mengingat kejadian menyedihkan itu. Apalagi saat anak itu dinyatakan meninggal karena tak sanggup bertahan lagi.


"Gak juga," ucap Fani mengejutkan Dea, "berjuanglah dan jadilah seorang dokter yang bisa menyelamatkan semua orang, Aku akan selalu mendukungmu." Lanjut Fani sambil tersenyum lebar membuat Dea ikut tersenyum.


"Terus rencananya loe mau minta bantuan si Megan?" Tanya Fani membuat senyuman Dea luntur.


"Harus banget minta bantuan tu anak ya?" Gumam Dea merasa kesal.


"Ya gak ada salahnya loe coba," ucap Fani sebelum menyantap basonya.


"Gue pikirin dulu deh ...." balas Dea sambil menyantap baso digarpunya.


"Minta bantuan aja pake mikir dua kali. Gengsi loe gede banget sih?" Ejek Fani membuat Dea geram dan segera menusuk baso berukuran sedang dimangkuk gadis itu dengan garpu ditangannya. Fani yang melihat basonya di curi juga merasa kesal dan mengambil pangsit yang ada dimangkuk Dea.


"Pangsit gue!" Ucap Dea tak terima dengan tindakan Fani.


"Salah siapa loe ambil baso gue?" Balas Fani yang juga tak terima dengan tindakan Dea yang mencuri baso terakhirnya.


"Loe yang buat gue kesel duluan!" Timpa Dea tak mau kalah.


xxx